<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1411556838748479078</id><updated>2011-07-15T07:28:18.272-07:00</updated><title type='text'>Rahasia</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Tante Kesepian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14713038125543777221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/-FZxK7b8lVNc/ThmHlk6Uv2I/AAAAAAAAAAY/ioSmfPbY4Yw/s220/248197_1629217110192_1829537763_1083242_4655990_n.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>29</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1411556838748479078.post-6640226341839411264</id><published>2011-07-15T07:28:00.001-07:00</published><updated>2011-07-15T07:28:18.288-07:00</updated><title type='text'>Cerita Seks dengan Mbok Rasmiani.</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; Mungkin &lt;a href="http://www.myinfo-net.com/category/kumpulan-cerita-dewasa-cerita-panas-dan-cerita-mesum" target="_blank"&gt;&lt;strong&gt;cerita seks dewasa&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt; pembantu sudah jadi &lt;a href="http://www.myinfo-net.com/" target="_blank"&gt;&lt;strong&gt;cerita&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt; umum, tapi &lt;strong&gt;cerita &lt;/strong&gt;ini berbeda, karena pembantunya adalah seorang &lt;strong&gt;mbok-mbok&lt;/strong&gt;.  seorang pria berumur 36 tahun beristri seorang arsitek Kehidupan  keluarga kami tidak ada permasalahan sama sekali kami hidup sangat  harmonis dengan empat orang anak dua putra dan dua putri . Sekitar bulan  Oktober 2001 karena merasa sudah cukup berhasil dalam bisnis aku mulai  lengah ingin bermain main sejenak melepas ketegangan hidup ku dengan  mulai &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD3"&gt;routine&lt;/span&gt; minum alcohol bier  setiap hari bahkan mulai memberanikan diri mendatangi panti panti pijat  walau alasannya hanya ingin sekedar meremas remas payudara mengeluti  tubuh pemijat tanpa ada niatan menyetubuhinya sama sekali sampai kadang  kalau tidak tahan di onani dengan tangan atau dihisap oelh sipemijat dan  kebiasaan itu terus berlanjut berulang ulang berpuluh kali artinya aku  telah mulai menyimpan ketegangan tersembunyi sampai ……………………………………&lt;span id="more-982"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika punggungku merasa nyeri sehingga membutuhkan dipijat kala  dirumah saat itu yang ada hanya pembantuku mbok rasmiani dari jember  seorang janda satu anak berumur sekitar 30 tahun yang sangat montok  tetek gede pantat gede bodan moleg rambut panjang yang sudah bekerja  denganku sejak tahun 1994 jadi hampir 9 tahun. Baru kusadarai bahwa ada  sesuatu yang harus kunikmati kugarap dirumah takala istriku tidak  dirumah .&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mulai saat Kala itu setiap  ada kesempatan kosong langsung aku menyergapnya yang dimulai dari sofa  dilantai atas pada awalnya aku hanya berhasil meremas teteknya dari luar  dan mendapat perlawanan yang sangat sengit. Tapi usahaku berlanjut  sampai tanganku berhasil menyelinap masuk kedalam kausnya berhasil  menyentuh payudaranya didalam cukup sampai disitu dengan perlawan keras  tidak bia mencapai bagian bawahnya. Perjuangan dilanjutnya selalu ada  kemajuan sampai kugapai putting susunya disana langsung perlawanannya  melemas walau hanya boleh sampai disitu meremas remas dari dalam.  Perjuangan dilanjutkan sampai aku berhasil dan diijinkan membuka  mengeluar payudaranya dari baju kaosnya dan diijinkan menjilat jilat  menghisap putting susunya nya sepuasnya , sampai cukup lama aku  menikmati progress ini tanpa berhasil mengutak atik bagian bawahnya .&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disuatu hari diakhir bulan November 2001 seperti biasa hal routine Mbok Rasmi masuk kekamarku membawa baju untuk dirapikan didalam lemari pakaian ku, aku mempunyai akal &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD10"&gt;taktik&lt;/span&gt;  jitu untuk bisa mulai mengutak atik vaginanya , pada hari itu aku tidak  mulai dari atas atau dari payudara tapi langsung berlutut menciumi  pantatnya dan meremas remas pantatnya dari bawah dan belakang ternyata  strategi serangan bawah ini cukup jitu, dia lengah tanapa disadari  tanganku merayap dari bawah mulai betis naik kepaha dan berhasil  menyelusup masuk kecelana dalamnya tanpa bisa dihalangi karena tangannya  tidak cukup jauh &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD5"&gt;bias&lt;/span&gt;  menghalangi merintangi tanganku yang bergerak dari bawah dan itulah hari  pertama aku berhasil menggosok gosok vaginanya dan disana pulalah awal  dari keterangsanga Mbok Rasmi yang tidak dapat terbendung baginya  semuanya sudah diserahkan kecuali bersetubuh .&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sampai  diawal januari 2002 saat akau pulang kantor kudapati dia sedang bersih  di kamar makan karena ruma kosong kutarik dia kekamar kulucuti celana  dalamnya selagi berdiri langsung kujilati vaginannya sampai dia menjerit  jerit keeenakan setelah itu keadaan berubah lebih fatal dan tidak  kusangka sampai aku terkejut sekali ………………………………&lt;br /&gt;Diawal Februari  2002 kembali saat aku pulang dari kantor dan rumah kosong cuman ada dia  di ruang makan ketika aku duduk tiba tangan ku ditarik dan diajak  kelantai atas selanjutnya dia masuk kekamarnya langsung membuka celana  dalamnya dan keluar langsung berbaring sambil mengangkangkan pahanya dan  langsung berkata “ cepat masukin “ dan aku menjawab “benar nich” dan  dia menjawab “ ya cepat aku sudah biasa kok” aku malah jadi &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD11"&gt;panic&lt;/span&gt;  dan lemas namun aku ingat persiapan yang pernah kupersiapkan , aku  turun kelantai bawah dan mengambil kondom memasangkannya ke penisku dan  naik kelantai atas. Terlihat kekecewaan yang sangat mendalam di wajah  mbok rasmi “ loh kok pake begituan” aku diam saja dan menyodorkan  penisku untuk dimasukan kedalam vaginanya namun yang terjadi penisku  lemas malah terjadi ejakulasi dini tanpa sempat penetrasi dan aku pergi  meninggalkannya begitu saja .&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak  saat itu terjadi perubahan sikap pada mbok rasmi dia sengaja berpakai  seksi didepanku bahkan pernah suatu pagi saat dia membersihkan kolam  ikan dengan sengaja celana jeans yang dipakainya sengaja dibuka  kancingnya sehingga setiap dia menunduk membungkuk celananya jeansnya &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD2"&gt;lolos&lt;/span&gt;  turun merosot kebawah maka terlihatlah seluruh pantatnya dengan celana  dalam merahnya yang sengaja dipamerkan diumbar didepanku karena aku bisa  melihatnya dari tangga atas hal tersebut terjadi berulang ulang , yang  ternyata hal itu malah membuat ku panic.&lt;br /&gt;Dan diakhir Februari 2002  terjadilah mala petaka itu disuatu sore ketika rumah kosong namun ada  putraku no 2 yang sedang pergi bermain kerumah tetangganya, kukira ini  kesempatan emas maka seperti biasa kusergap dia dari belakang dan  kukeluarkan payudaranya dari kaosnya maunya kujilati namun tepat saat  itu anak ku nomor 2 datang dan melihat semua kejadian itu. Aku panic  bingung depresi memikirkan kemungkinan pengaduannya pada ibunya yang  masih belum pulang kerja malam itu. Langsung saja dia kuajak keluar  makan mie kesukaannya dan menyewa &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD12"&gt;film&lt;/span&gt; &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD4"&gt;video&lt;/span&gt; kesukaaannya sepuasnya maksudku agar dia melupakan apa yang dia lihat .&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun  kecemasanku sudah tidak bisa dihindari mengarah pada depresi sementara  libidoku makin memuncak sampai terasa saraf internalku terkena aku  kehilangan orientasi bingung mual panic &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD1"&gt;stress&lt;/span&gt;  cemas ketakutan tegang sekali , sampai suatu hari aku tidak bisa  berfikir lagi penisku seperti mau meledak ngilu sampai rumah kupangggil  mbok rasmi kusuruh kocok penisku sampai ejakulasi sambil kukocok  vaginanya, permasalahan berlanjut mungkin sudah diatur nasib malamnya  terjadilah keanehan suatu hal yang tidak pernah terjadi istriku menarik  ku ketempat tidur mengajak ku berhubungan badan hal yang belum pernah  terjadi bahkan dia merangsang ku sampai menghisap dan penisku sama  sekali tidak bisa bangun , …….. aku impotent lengkaplah kepanikan ku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak  saat itu aku mengalami depresi berat takut ketahuan pengaduan dari  anakku no 2 impotent libido , sementara mebok rasmi semamakin atraktif  berpakaian benar benar mencemaskanku . puncaknya aku merasa mual yang  tidak terkira sampai akhirnya ………………………………………. Aku mengambil keputusan  nekat aku mengaku ……………. Didepan istriku dengan harapan dapat  melonggarkan depresiku malah terjadi luar biasa &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD6"&gt;parah&lt;/span&gt; ,&lt;br /&gt;Istriku sangat terkejut menangis marah dan langsung minta cerai dia  meninggalkanku ke Jakarta tidak tahu kapan kembali, disinilah perjuangan  ku untuk mengembalikan keharmonisan keluargaku menyembuhkan depresiku  waktunya cukup lama sampai Januari 2004 sekitar 2 tahun lamanya aku  berobat ke dokter &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD8"&gt;jiwa&lt;/span&gt; setiap  bulan selama 2 tahun habis biaya cukup banyak juga berobat keparanormal  pendeta dan Tuhan Maha Pengampun istriku telah kembali kepelukanku dan  mengampuni yang sudah lewat .&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun  ada sesuatu yang kusesali sebetulnya kalau aku bisa lebih rapi dan  bersabar hal diatas tidak perlu terjadi aku bisa mengakhirinya dengan  happy &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD9"&gt;ending&lt;/span&gt; every body happy  istriku tidak perlu tahu hubunganku dengan mbok rasmi berlanjut tapi  tidak perlu terlalu intens. Maka kumulai lagi usaha ku kali ini menjadi  jauh lebih sulit karena mbok rasmi sudah sangat takut dengan ancaman &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD7"&gt;ultimatum&lt;/span&gt;  istriku terjadilah perlawanan yang sangat dasyat berbulan bulan  kegagalan yang kudapati sekedar menyentuh mencolek saja dia langsung  bereaksi sampai aku hamper putus asa .&lt;br /&gt;Sampai dipertengahan Januari  2003 sekitar pk 10 00 pagi kudengar salah seorang pembantuku yang lain  keluar membeli makanan dan pembantuku yang lain cuti jadi berarti  tinggal kami berdua suatu kesempatan yang sangat langka , langsung  kucari dia ternyata da didapur dari belekang langsung kusergap dengan  sasaran menelanjangi dadanya dan mengulum putingnya ada perlawanan namun  kuselesaikan dengan alasan tidak ada siapa siapa apa yang kau takutkan ,  terjadilah episode lama berulang lagi aku menikmati dadanya sambil  kusodorkon penisku dia tidak menolak gayung bersambut kami saling  meremas sampai pembantuku yang lain datang dari membeli makanan. Aku  menang aku berhasil perjuanganku tidak sia sia selanjutnya hanya  bagaimana bisa menyentuh vaginanya .&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sampai  disuatu sore istriku sedang kerja dirumah lengkap, aku panggil dia  kusuruh dia kekebun dengan alasan membuka gerbang , kutanya mana simarni  pembantu lainnya dijawab sedang mandi artinya aman, langsung kutarik  dia lemas menurut saja kebelakang pagar sudah tidak ada perlawaan  teteknya diserahkan bebas sebebasnya padaku namun pinggang kebawah masih  dijaga. Aku tenang kujilati kuhisap kuremas habis habisan payudaranya  samapi kelihatan dia sudah sanhat terangsang tanganku merayap kebawah  kubuka kancing jeans dan tanganku langsung menyelinap memasuku celana  dalamnya menggapai vagina dengan bulu lebatnya malah dia meregangkan  kaki mengangkang membiarkan agar tangan ku semamkin leluasa bermain  dalam vaginannya artinya Mission Complete Happy Ending . Kusudahi sampai  disana sudah Cukup Enough sampai hari ini sudah minggu ke 5 atau 35  hari aku sama sekali tidak menyentuh dia sehingga terjadilah Cooling  Down. Yang penting nanti kapan saja aku membutuhkannya rumah kosong  tidak ada seorang anakku dirumah aku punya stok Payudara Besar Montohk  Kencang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;TAMAT&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1411556838748479078-6640226341839411264?l=janda-kesepian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/feeds/6640226341839411264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cerita-seks-dengan-mbok-rasmiani.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/6640226341839411264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/6640226341839411264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cerita-seks-dengan-mbok-rasmiani.html' title='Cerita Seks dengan Mbok Rasmiani.'/><author><name>Tante Kesepian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14713038125543777221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/-FZxK7b8lVNc/ThmHlk6Uv2I/AAAAAAAAAAY/ioSmfPbY4Yw/s220/248197_1629217110192_1829537763_1083242_4655990_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1411556838748479078.post-2906349953472958245</id><published>2011-07-15T07:27:00.001-07:00</published><updated>2011-07-15T07:27:22.590-07:00</updated><title type='text'>cerita Dewasa Mbak suli Wanita Setengah baya.</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;a href="http://www.myinfo-net.com/category/kumpulan-cerita-dewasa-cerita-panas-dan-cerita-mesum" target="_blank"&gt;&lt;strong&gt;Cerita dewasa&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;. &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD2"&gt;Siang&lt;/span&gt;  itu aku agak cepat pulang kuliah, bukan karena malas ikut kuliah yang  masih ada, tetapi karena kakiku sakit (mungkin terkilir) dan ada bagian  yang membiru sedikit. lagi-lagi karena main sepak bola yang kurang  hati-hati, dengan teman sekampus tadi pagi. Dengan naik &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD1"&gt;motor&lt;/span&gt;, aku ingin secepatnya pulang dan memberi obat (minyak urut), terus istirahat di rumah.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;15  menit kemudian aku sudah tiba di rumah, dan agak sepi kalau jam segini,  karena semua pada kerja dan kuliah atau sekolah. Hanya ada pembantu,  yang usianya sekitar 35 tahun, biasa dipanggil Mbak Suli. Tapi jangan  kaget lho.., badannya terawat dan masih kencang, walaupun kulitnya agak  hitam (hitam manislah menurutku). Agak kaget juga aku, setelah dibukakan  pintu, kulihat dia mengenakan baju kaos yang agak ketat dan rok putih  yang selutut. Tetapi tonjolan di dadanya itu, membuat darahku berdesir  cepat.&lt;span id="more-987"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Kok pulangnya cepat, Mas..?” katanya menyapa.&lt;br /&gt;Aku memang dipanggil Mas olehnya, singkatan dari Dimas.&lt;br /&gt;“Iya Mbak, kakiku agak sakit, tadi jatuh waktu main sepak bola..” kataku membalas.&lt;br /&gt;Spontan matanya melirik ke kakiku dan berkata, “&lt;span class="IL_AD" id="IL_AD9"&gt;Coba&lt;/span&gt;  Mbak lihat, dia pun menarik celana panjangku agak ke atas, “Sakit  nggak..?” tambahnya sambil agak menekan bagian yang membiru dan mulai  berjangkok.&lt;br /&gt;“Lumayan juga sih..” kataku ssdikit memelas sambil melirik bagian betisnya yang mulus.&lt;br /&gt;Setelah aku berganti pakaian menjadi celana pendek, dia membalur kakiku  dengan minyak urut. Saat itu dia duduk di depanku dan kulihat pahanya  karena roknya tersingkap. Karena posisiku &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD7"&gt;yang yang&lt;/span&gt;  duduk dan kaki agak ditekuk, dia tidak tahu bahwa kejantananku sudah  mulai bangkit. Dia pun mengurut-ngurut dan memijit bagian kakiku yang  sakit. Mataku juga tidak lepas dari dadanya yang menonjol sebesar  mangga.&lt;br /&gt;Dengan perlahan, kuberanikan memegang pahanya di bagian yang  tersingkap. Dia agak kaget dan berkata, “Mas, kamu mulai nakal, ya..?”  ucapnya sambil melirikku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Nggak pa-pa kan..? Cuma dikit kok..!” balasku seadanya.&lt;br /&gt;&lt;span class="IL_AD" id="IL_AD12"&gt;Lama&lt;/span&gt; kelamaan tanganku mulai bergerak lebih ke atas dan sampai di pangkal pahanya.&lt;br /&gt;“Jangan nakal lho, ntar ada yang lihat..!” katanya mencoba memindahkan tanganku dari pahanya.&lt;br /&gt;“Nggak ada orang kok Mbak, cuma kita berdua kok..!” ucapku terus membujuknya.&lt;br /&gt;Dia masih mengurut kakiku dan kucoba untuk menampakkan celana dalamku lewat celah celana pendekku.&lt;br /&gt;Dengan keberanian yang menggebu, aku berkata, “Boleh kulihat yang di balik roknya Mbak..?” kataku menggoda lagi.&lt;br /&gt;“Jangan Mas, Mbak &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD8"&gt;malu&lt;/span&gt;..” katanya sedikit ragu.&lt;br /&gt;“Ayo dong Mbak, sekali aja..!” ucapku sedikit membujuk.&lt;br /&gt;Mula-mula dia ragu, dan akhirnya dia berbicara, “Jangan &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD6"&gt;bilang&lt;/span&gt; siapapun ya..?” katanya sambil mengedipkan mata.&lt;br /&gt;Kujawab, “Aku janji deh, ini menjadi rahasia kita aja..”&lt;br /&gt;Perlahan dilepaskannya roknya, dan wow.., terlihatlah pahanya yang mulus dengan celana dalam merah muda. Agak lama  kupandangi, karena itu benar-benar pemandangan yang indah, dan  kejantananku mulai membengkak di celanaku. Perlahan kupegang celana  dalamnya, dan kudekatkan wajahku ke arah celana dalamnya. Wow.., baunya  wangi sekali, mungkin dia baru &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD11"&gt;mandi&lt;/span&gt; tadi.&lt;br /&gt;“Sudah cukup kan..?” katanya sambil menjauhkan wajahku dari pahanya dan mencoba memakai roknya lagi.&lt;br /&gt;Tetapi hal itu dengan cepat kucegah, “Ntar dulu Mbak, saya pingin lihat di balik celana itu, boleh ya..?” kataku membujuk.&lt;br /&gt;“Yee.., sudah dikasih hati malah minta jantung..!” ucapnya sedikit menyindirku.&lt;br /&gt;“Mbak tau nggak, jantungku debar-debar nih.., dan aku terangsang..” kataku mencoba menyatakan bahwa aku benar-benar terangsang.&lt;br /&gt;Sambil bercanda dia menjawab, “Masak gitu aja terangsang, Mbak nggak  percaya, kamu pasti cuma iseng, mau mempermainkan Mbak, ya..?” katanya  membalas ucapanku.&lt;br /&gt;“Kalau nggak percaya, coba lihat nih..!” kataku sambil menurunkan celana pendekku.&lt;br /&gt;Dia agak kaget karena celana dalamku seperti penuh dan menonjol besar di bagian penisku.&lt;br /&gt;“Bener juga, kamu nggak boong.., kamu terangsang ya..?” katanya melirikku nakal sambil tersemyum.&lt;br /&gt;Agak lama dia melihatnya, kemudian mengelus dan mengusap-usap, dan mendekatkan wajahnya ke dekat celana dalamku.&lt;br /&gt;“Sekarang kita sama-sama buka, gimana Mbak..?” kataku memberi tawaran &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD3"&gt;gila&lt;/span&gt; (he-he-he).&lt;br /&gt;Mungkin karena sudah terangsang dan sangat ingin melihat penisku,  akhirnya dia mengangguk. Perlahan dia menurunkan celanaku, dan tampaklah  kejantananku berdiri tegak dan siaga.&lt;br /&gt;“Wow.., hmm.., punyamu lebih  besar dari yang Mbak bayangkan, tapi Mbak suka yang besar seperti ini.”  katanya sambil mengelus, menyentuh kepala penisku dengan jarinya dan  kemudian mengocoknya.&lt;br /&gt;“Aahh.., ouch.., ouch..” aku mengerang nikmat, sementara dia terus mengocok sampai penisku terlihat memanjang maksimal.&lt;br /&gt;Mungkin dia sudah tidak tahan, dia mulai mengulum dan meghisap penisku.&lt;br /&gt;“Ouch.., ouch.., ah.. ah.., nikmat sekali..!” aku mendesis kenikmatan, sementara tanganku sudah membuka celana dalamnya.&lt;br /&gt;Dan wow.., benar-benar pemandangan yang indah, bulu-bulu halus di  sekitar vaginanya yang kemerahan sangat merangsang birahiku. Jariku  menyentuh dan menggesek bibir vaginanya.&lt;br /&gt;“Oh.., ahh.., ahh.., terus Mas, gesekin terus..! Ahh.., ahh..!” suaranya mendesah-desah.&lt;br /&gt;Kudekatkan wajahku ke vaginanya, menciuminya dan menjilatnya. Celahnya  mulai agak basah, mungkin dia sudah terangsang hebat, sementara  kemaluanku terus dikulumnya, bahkan sekarang lebih dahsyat sampai ke  pangkalnya. Aku merasakan hangat mulutnya, dan kemaluanku seperti panas  sekali dan mau mengeluarkan sesuatu. Tanpa dapat kutahan, spermaku  muncrat di mulutnya untuk pertama kali.&lt;br /&gt;“Ohh.., ahh.., kamu udah  keluar Mas.., ahh.., enakk.., gurih..!” katanya sambil menjilat sperma  yang keluar dari mulutnya, sementara lidahku terus bergerilia di celah  vaginanya, bahkan lidahku berusaha masuk lebih ke dalam dan terus  menyeruak di seluruh dinding vaginanya.&lt;br /&gt;“Ouch.., ahh.., ahh.., lebih dalam, Mas..!” pintanya sambil mendesis-desis.&lt;br /&gt;Aku mendengar dia mendesis dan menyerocos tidak karuan, dan mulai  mengocok kemaluanku lagi sehingga membesar kembali. Hanya dalam hitungan  menit, punyaku sudah membesar lagi dan mencapai ukuran yang maksimal.&lt;br /&gt;“Sekarang saya masukin ke vagina Mbak aja, oke..?” kataku sudah tidak sabaran.&lt;br /&gt;“Ehe.., ya Mas, Mbak juga sudah nggak tahan nich..!” katanya sambil  membuka kedua pahanya lebar-lebar, sehingga vaginanya tampak membelah  dan merekah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Oouh.. ss.., darahku berdesir semakin cepat melihat vagina yang merekah seperti itu.&lt;br /&gt;Sambil memegang kemaluanku yang tegang, kuarahkan ke lubang tersebut.  Sesaat kepala penisku kugesekkan ke bibir vaginanya, kemudian dengan  sedikit ditekan, dan, “Bless..!” masuk seluruhnya ke dalam liang  vaginanya.&lt;br /&gt;“Ouh.., och.., ahh.., terus Mas, lebih dalam..! Ahh.., ahh..!” desisnya mengikuti gerakan masuknya batang kejantananku.&lt;br /&gt;Aku pun semakin bersemangat menggenjotnya dan memaju-mundurkan  kemaluanku di dalam vaginanya. Sementara tanganku tidak lepas memegangi  puting payudaranya yang mengencang.&lt;br /&gt;“Terus, terus Mas, enak.., nikmatt.., ah.., ah..!” ucapannya sudah terdengar tidak karuan.&lt;br /&gt;Sekitar 10 menit dengan posisi tersebut, aku mengeluarkan kemaluanku yang masih menegang.&lt;br /&gt;“Mbak, sekarang kita rubah posisi ya..? Pasti lebih nikmat..!” kataku ingin mencoba gaya &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD5"&gt;lain&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;“Posisinya gimana Mas..?” dia bertanya balik.&lt;br /&gt;“Mbak menungging &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD10"&gt;saja&lt;/span&gt;, kakinya diangkat sebelah dan letakkan di meja, dan Mbak membelakangi saya..!” saranku memberi penjelasan, dia menurut saja.&lt;br /&gt;Aku tertawa dalam hati (soalnya ini seperti anjing pipis, he-he-he).  Dia sudah mengambil posisi seperti itu dan aku dapat melihat celah  vaginanya mengintip dari belakang. Dengan memegang kemaluanku yang  tegang, kuarahkan ke celah itu. Dengan sedikit tekanan, kepala penisku  masuk, dan masuknya terasa lebih sempit dari yang tadi. Sengaja tidak  kumasukkan seluruhnya dan kutanya kepadanya, “Gimana..? Lebih enak  kan..?” kataku.&lt;br /&gt;“Ehe.., ahh.., lebih enak dari yang tadi, ahh.., oh.., enak.., ahh..!” suaranya mendesah lagi.&lt;br /&gt;“Ini belum seluruhnya lo Mbak, baru sebagian..!” aku mencoba menggodanya lagi.&lt;br /&gt;“Masukin semua dong, Mas..! Biar terasa lebih enak lagi..!” pintanya.&lt;br /&gt;Dengan menekan lebih kuat, maka kemaluanku masuk seluruhnya. Dan oh.., betapa nikmatnya, serasa berada di awang-awang.&lt;br /&gt;“Ah.., oh.., aah.., nikmat sekali, tekan lebih kuat Mas.., lebih dalam, ahh, ahh..!”&lt;br /&gt;Sesekali dia menggoyang pinggulnya, dan ohh.., benar-benar luar biasa  goyangan pinggulnya, punyaku seperti ditarik dan diurut-urut di dalam  vaginanya.&lt;br /&gt;“Oh.., ah.., aku tak ingin berhenti capat-cepat, goyangin terus Mbak..!” kataku.&lt;br /&gt;Sekitar 10 menit aku memaju-mundurkan kemaluanku ke vaginanya, rasanya aku sudah berada di puncak dan mau memuntahkan lahar.&lt;br /&gt;“Mbak, aku sudah mau keluar nich..!” kataku.&lt;br /&gt;Dia membalas, “Aku juga mau keluar nich. Kita keluar sama-sama ya..?” pintanya.&lt;br /&gt;Dengan menggenjot lebih kuat agar cepat sampai ke puncak kenikmatan,  maka kumulai menekan lagi lebih cepat. Dan akhirnya, “Ouc.., ah.., ah..”  dengan erangan panjang, aku memuntahkan spermakau di vaginanya.&lt;br /&gt;Bersamaan dengan itu Mbak juga mengerang panjang, “Ouh.., ouc.., ah.., ah.., nikmat.. ah..”&lt;br /&gt;Sementara di vaginanya aku merasakan punyaku disemburi cairan vaginanya, terasa begitu hangat.&lt;br /&gt;Perlahan kutarik punyaku keluar, terlihat sudah mulai mengecil. Kami tergolek di tempat tidur dan saling berpandangan.&lt;br /&gt;“Mbak.., nggak menyesal kan..?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Ah.. nggak, kamu bandel dan bisa memuaskan Mbak.” dia membalasku.&lt;br /&gt;“Tapi saya khawatir Mbak, soalnya tadi keluar di dalam.” tanyaku sedikit khawatir.&lt;br /&gt;“Nggak pa-pa, Mbak tidak dalam masa subur kok, Mbak tidak akan hamil..!” jelasnya.&lt;br /&gt;Wajahku sedikit lega setelah mendengar perkataanya.&lt;br /&gt;Dengan sedikit menggoda aku berkata, “Aku suka melihat wanita  menggunakan celana dalam putih atau merah muda (karena dia memang banyak  punya celana dalam putih dan merah muda).”&lt;br /&gt;“Idih..! Kamu suka mengintip Mbak ya..?” dia bertanya balik.&lt;br /&gt;“Kadanga-kadang aja, pas Mbak lagi tidur atau mandi..” kataku menggoda nakal.&lt;br /&gt;“Kamu nakal sekali..!” katanya sambil mencoba mencubitku.&lt;br /&gt;“Tapi Mbak suka kan..?” godaku lagi.&lt;br /&gt;Dia hanya tersenyum tersipu-sipu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah  kejadian itu, aku merasa ketagihan dengan Mbak Suli. Aku tidak tahu  apakah dia ketagihan juga. Sering kali di waktu malam aku menyelinap ke  kamarnya yang sengaja tidakdikuncinya, lalu kami pun bergumul di situ  sampai kelelahan dan aku pun sering tertidur di situ. Tapi sebelum subuh  aku sudah balik ke kamarku, maksudnya biar tidak ketahuan. Lihat juga &lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.myinfo-net.com/category/kumpulan-cerita-dewasa-cerita-panas-dan-cerita-mesum" target="_blank"&gt;cerita seks dewasa&lt;/a&gt; &lt;/strong&gt;kami yang lain di link &lt;strong&gt;cerita dewasa &lt;/strong&gt;ini, selamat menikmati.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1411556838748479078-2906349953472958245?l=janda-kesepian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/feeds/2906349953472958245/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cerita-dewasa-mbak-suli-wanita-setengah_15.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/2906349953472958245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/2906349953472958245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cerita-dewasa-mbak-suli-wanita-setengah_15.html' title='cerita Dewasa Mbak suli Wanita Setengah baya.'/><author><name>Tante Kesepian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14713038125543777221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/-FZxK7b8lVNc/ThmHlk6Uv2I/AAAAAAAAAAY/ioSmfPbY4Yw/s220/248197_1629217110192_1829537763_1083242_4655990_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1411556838748479078.post-5762901384687946232</id><published>2011-07-15T07:26:00.002-07:00</published><updated>2011-07-15T07:26:49.937-07:00</updated><title type='text'>Cerita Seks Dalam Mobil Travel.</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;a href="http://www.myinfo-net.com/category/kumpulan-cerita-dewasa-cerita-panas-dan-cerita-mesum" target="_blank"&gt;&lt;strong&gt;Cerita dewasa&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt; tak mengenal tempat, mungkin itulah yang pantas di gambarkan pada &lt;strong&gt;cerita seks&lt;/strong&gt; berikut ini, dimana seorang pria yang dalam perjalanan menggunakan &lt;strong&gt;mobil travel &lt;/strong&gt;beruntung karena bareng bersama seorang wanita dalam mobil tersebut dan terjadi &lt;strong&gt;hubungan seks &lt;/strong&gt;diantara mereka, berikut &lt;strong&gt;cerita&lt;/strong&gt; selengkapnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inilah pengalaman saya yg pernah saya alami kira2 diawal bulan Januari , saat saya pulang rapat dari &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD3"&gt;Jakarta&lt;/span&gt; ke Smg naik mobil travel.  Saat itu saya selesai rapat pk 17.00 dan sampai hotel satu jam  kemudian, saya ingin langsung pulang sebab hari itu Sabtu malam minggu,  tapi saat itu sudah tak ada pesawat lagi sebab terakhir adalah pk 17.00  Lalu aku coba2 cari travel yg lagi musim ditahun itu.&lt;span id="more-990"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kebetulan  aku masih bisa mendapat tempat duduk yg tinggal satu yaitu diujung  belakang yaitu no. 8. Kira2 jam 19.30 aku dijemput pertama sebab mobil  masih kosong, kemudian jemputan kedua di Jl.Radio Dlm disebuah kantor  seorang cewek kira umur 25 th kelihatan masih pakaian kantor yaitu baju &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD2"&gt;model&lt;/span&gt; jas warna biru dgn &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD6"&gt;kaos&lt;/span&gt;  putih didlmnya dan rok bawahan warna biru juga. Cewek itu duduk  dideretan bangku belakang no 7 jadi sebalah saya. Warna kulitnya agak  coklat dan wajahnya biasa &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD4"&gt;saja&lt;/span&gt;  hanya yg menarik perhatian bibirnya yg agak tebal dan basah itu yg  menggairahkan bagiku. Kemudian sopir menjemput lagi 2 orang rupanya  pembantu rumah tangga duduk disebelah sopir, lalu 2 orang lagi yg  seorang ibu2 agak tua dgn cucunya mungkin. Siibu duduk dideretan tengah  sedang cucunya dibelakang sebelah cewek tadi, karena menurut sopir  tempat duduk deretan tengah yg 2orang sdh dipesan utk suami istri dari  Bekasi nanti.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dlm perjalanan keluar  Jkt menuju Bekasi sicewek menyapaku:”Mau kemana koh?”. “Oh, ke Smg dan  adik mau kemana? jawabku. “Saya mau pulang ke Salatiga” sahutnya. “Adik  asli Salatiga dan cuti pulang kampung ya” tanyaku. “Saya tidak cuti,  tapi minta ijin sebab anak saya sakit dan masuk R.S di Salatiga”  sahutnya. “Oya, sakit apa?” tanyaku. “Katanya ibu sebab anak saya ikut  ibu saya sakitnya muntah dan berak jadi sampai diinfus segala”. “Suami  adik nggak ikut?” tanyaku lagi. Dia menggelengkan kepala, lalu bercerita  demikian : Dia aslinya asal desa Tutang dekat Salatiga. Namanya Sumiati  tapi panggilan akrabnya &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD8"&gt;Mia&lt;/span&gt;. Org  tuanya petani. Ia hanya lulusan SMEA jurusan akutansi saat umur 20 th.  Setelah kerja ditoko Salatiga 2 th lalu menikah dgn seorang pemuda yg  usianya 1 th lebih &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD12"&gt;muda&lt;/span&gt; juga kerja diperusahaan &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD5"&gt;tekstil&lt;/span&gt;  besar di Sltg. Baru 2 th menikah dan saat ia hamil 6 bulan, suaminya  kena masalah keuangan diperusahaan dan harus urusan dgn polisi segala  dan dipecat dari pabrik textilnya. Karena itu suaminya sangat malu utk  tinggal didesanya sebab keluarganya kebanyakan orang2 yg taat beragama.  Sebab itu suaminya tak mau lagi tinggal didesa dan pergi merantau ke Jkt  dgn bekal uang hasil penjualan gelangnya Mia dan akan tinggal ditempat  yg masih ada hubungan saudara di Tanjun Priok. Tapi sejak berangkat  sampai saat ini suaminya tak pernah memberi kabar maupun kirim uang utk Mia  yg tinggal didesa. Padahal saatnya melahirkan sudah tiba juga suami tak  ada kabar, akhirnya segala perhiasan yg ia punya dijual utk biaya  kelahiran putrinya dan membiayainya sampai putrinya berusia 6 bulan. Mia  menceritakan dirinya itu dgn serius dan dgn nada yg penuh haru sampai  air matanya kulihat mengalir dipipinya. Aku pun jadi ikut terharu. Air  matanya diusap dgn tangannya, aku jadi ikut diliputi dgn penuh keharuan  juga lalu tangannya yg basah dgn air mata itu aku pegang erat2.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mia  tak bereaksi dan membiarkannya. “Sekarang anak saya sakit lagi dan  menurut ibu biaya utk menebus R.S sekitar 300.000 rph, pada hal tabungan  saya pas tinggal 250.000,-. Saya mau pinjam kantor lagi sulit sebab bos  nya juga lagi sakit dirumah sakit” ceritanya sambil terus air matanya  jatuh ketanganku. Keharuanku membuat aku mengambil keputusan utk ikut  memberi bantuan pd Mia, aku berbisik:”Dik MIa, memang berat rasanya buat Mia, saya saat ini masih ada uang tersisa sedikit dlm dompet mungkin dik Mia  mau menrimanya” sambil aku membuka dompet dan aku menghitungnya  ternyata masih ada 170.000 rph dgn menyisakan 20.000 rph uang yg 150.000  rph kuambil dan kuserahkan dlm genggaman tangannya Mia. “Koh, Mia pinjam ya , nanti Mia angsur tiap bulannya” katanya. “Mia mau angsur kemana, saya tinggal di Smg dan Mia di Jkt, jadi uang itu pakai saja utk meringankan Beban dik Mia”kataku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Terima kasih sekali koh, koko belum mengenal Mia tapi sudah begitu besar budinya menolong Mia” katanya sambil duduknya merapat kelenganku dan kepalanya disandarkan dibahuku. “Saya percaya kalau Mia ber-sungguh2 tidak berbohong, jadi saya ikut terharu juga” sahutku. “Koh bagaimana Mia harus membalasnya?. Apakah koko sering ke Jkt?”. “Saya jarang ke Jkt”sahutku. Lalu Mia menyimpan uang itu kedompetnya dan &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD10"&gt;memberikan&lt;/span&gt; kartu nama kantornya padaku sambil pesan: “Koh, ini nomor telpon kantorku, kalau koko ke Jkt lagi sendirian nanti kalau malam Mia mau menemaninya. Mia kost dikampung belakang kantor jadi jalan saja, tapi koko tak perlu ke kost sebab kostnya jelek lagi tak ada nomor rumahnya serta kompleknya memang orang2 taat agama”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mendengar ucapan Mia itu hatiku merasa greng walaupun Mia  tak cantik tapi bibirnya menggairahkan dan saya yakin pasti isapannya  enak, selain itu tampaknya buah dadanya juga cukup besar yg menjadi  kesukaan saya. Lengannya yg berhimpitan dgn lengan saya ku-pijit2 dr  bawah ketiak sampai telapak tangannya, Mia diam saja malah wajahnya di-usap2kan kebahuku. Saat itu travel  sampai di Bekasi dan menjemput 2 penumpang terakhir, ternyata kedua  suami istri itubatal berangkat sebab istrinya mendadak sakit muntah2.  Karena kedua kursi tengah kosong maka sicucu itu pindah duduk disebelah  eyangnya.Walaupun tempat duduknya sudah kosong satu, tapi Mia tetap duduk merapat terus ketubuhku. Setelah mobil berjalan kembali dan Mia tetap merapat ketubuhku, tanganku kurangkulkan kelengannya dan kutarik tubuhnya makin erat ketubuhku dan Mia  pun meresponsnya dgn merapatkan juga paha dan kakinya kepahaku dan  kuberanikan utk mengusap wajahnya yg masih basah sedikit dari sisa air  mata.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mia diam saja dan merelakan aku melakukan itu semua. Tanganku kucoba utk membuktikan apakah benar2 buah dadanya besar atau tidak sebab Mia pakai baju rangkap, maka tanganku kupindahkan kesela bawah ketiaknya dan tanganku kurabakan kesamping buah dadanya. Mia  tahu perbuatanku itu,lalu ia malah agak merebahkan tubuhnya  kepangkuanku dgn maksud agar tanganku bisameraba buah dadanya sebelah  kiri. Walapun masih pakai baju dan ada BH nya segala kucoba pegang2  ternyata memang buah dadanya cukup besar dan cukup merangsang nafsu sex  ku. Karena Mia diam ganti &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD7"&gt;tangan&lt;/span&gt; kananku yg bekerja kususupkan tangan kananku kedlm kaos  dan bawah BH nya sehingga tanganku sekarang bisa meraba dan meng-usap2  buah dadanya yg masih cukup kencang itu dan putingnyanya juga terasa  cukup besar. Karena buah dadanya yg ku-pegang2 itu rasanya makin hangat saja maka tanganku makin nakal, sekarang aku mulai remas2 per-lahan2 dan lama2 agak keras. Saat itu Mia lalu bangun dr rebahannya dan tanganku yg meremas dipegangnya lalu membisikiku: “Koh jangan keras2 kalau meremas buah dada Mia, sebab air susunya masih keluar banyak tadi Mia belum sempat memompanya keluar jadi nanti keluar semua kalau diremas”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mendengar  air susunya masih keluar banyak, nafsuku langsung makin naik karena  minum air susu cewek itu kesukaaan khusus bagiku. “Masak Mia banyak air  susunya? tanyaku. “Betul sebab seharusnya anakku masih menyusu sebab  sekarang kan baru berumur 1 th, saat saya tinggal umur 6 bl dan saya  barubekerja 6 bulanini di Jkt. Jadi tiap kali penuh saya &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD9"&gt;pompa&lt;/span&gt; utk dibuang” cerita Mia. “Waah Mia buang?” tanyaku. “Iya koh, kalau tidak ya sakit sekali buah dadanya” jelas Mia. “Pada hal ASI itu saya paling suka” kataku. “Yg bener koh, mas suka ASI?” tanya Mia. “Betul” sahutku dan Mia kemudian menjatuhkan kepalanya kebahuku lagi. Baru beberapa saat lalu travel berhenti di satu rumah &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD11"&gt;makan&lt;/span&gt; utk makan malam. Setelah penumpang turun semua saya masuk kerumah makan dan Mia ikut dgn memegang tangan saya. Mia dan saya duduk disatu meja, tetpi Mia tak mau makan sebab sudah makan jadi kita berdua pesan kopisusu saja sambil ngobrol2.Lalu Mia  bilang:”Kalau koko memang suka ASI, nanti kalau mobil sudah jalan koko  bisa minumnya”. Aku pura2 nyahut:”Dalam mobil apa nggak susah Mia?”. “Yaaah nanti dicoba saja dan harus bisa, kan koko lihai dlm hal begituan ” katanya sambil ketawa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu  Mia pamit sebentar utk ketoilet sedang aku beli dodol dgn sisa uang dan  masih dpt 4 dos, jadi 2 utk rumah dan 2 biar utk Mia. Karena Mia juga  belum keluar dr toilet, maka aku tunggu dipintu. Tak lama Mia datang dgn  membawa tas plastik hitam, aku sapa:”Beli oleh2 ya?”. “Nggak” sambil  ketwa2 kecil. “Ini saya beli dodol dan 2 dos utk Mia, lalu itu bawa  apa?” kataku. Mia merapatkan tubuhnya ketubuhku dan berbisik:” nanti dlm  mobil Mia kasih tahu” sambil menggandeng aku utk masuk kemobil. Saat  itu masih kosong penumpang baru kami bergua yg masuk, lalu Mia  berkata:”Katanya koko suka ASI, ini Mia sudah lepas BH nya supaya nanti  mudah utk meneteknya”. Aku jadi greng juga dgn kata2-nya Mia karena  mobil masih kosong maka tanganku langsung merogoh kedalam baju kaosnya  dari arah perut dan ternyata benar sekali tanganku langsung bisa  memegang buah dadanya yg hangat rasanya. “Jangan diremas dulu koh nanti  ASI nya muncrat keluar” kata Mia.”Juga CD Mia sudah tak lepas koh”  sambil menarik tanganku yg sebelah dan disusupkan kedlm roknya dan  langsung saja tanganku meraba rambut yg agak keriting tapi agak kaku dan  kuteruskan ternyata kemaluannya benar2 sdh tanpa dilindungi CD. Karena  buah dadanya masih kencang penuh dgn ASI, maka sementara tanganku  berkarya dulu didaerah kemaluannya dgn menggelitik itilnya dan  menusuk-nusukan kedua jariku kelubang kemaluannya apalagi kesempatan blm  ada penumpang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hanya beberapa  menit kupermainkan kemaluannya lubangnya sdh terasa mulai dibasahi oleh  lendir, aku pikir Mia ini mestinya besar nafsunya. Pekerjaan tanganku  terhenti saat semua penumpang mulai masuk mobil. Begitu mobil mulai  melaju ke Cirebon dan semua penumpang bersiap utk tidur, maka akupun  mengambil posisi tidur dgn kepala dipangkuannya Mia, sedang Mia membuka  kancing jasnya seraya menaikkan kaos putihnya dan mengambil posisi  tanganya berpegang pd sandaran kursi depannya dan tubuh serta kepalanya  menunduk agar puting buah dadanya agak turun untuk dekat dgn mulutku.  Dgn sedikit mengankat kepalaku putingnya kuisap dan buah dadanya mulai  kuremas dan suuuur…suuuuur ASI nya mengucur keluar dan terus buah  dadanya kuremas sampai ASI nya benar2 habis baru aku pindah kebuah dada  sebelahnya yg kuremas-remas sampai benar2 habis ASI nya. Dgn ASI dari  kedua buah dadanya Mia itu aku benar2 dibuat kenyang, rasa ASI nya manis  dan bercampur asem2 sedikit, tapi benar-benat eeenack theeenann……&lt;br /&gt;Setelah selesai menetek, Mia menutup buah dadanya dgn kaosnya lagi serta  mengancingkan kemabli bajunya. Kemudian tanganku ganti operasi disela2  pahanya, itilnya ku-sentuh2 dan ku tekan2 terus dgn jaruku sambil lubang  kemaluannya ku-tusuk juga dgn dua jariku. Rupanya Mia juga bernafsu  tangannya langsung menggosok terus kemaluanku walaupun masih dlm celana,  lama2 tangannya membuka retsluiting dan kancing celanaku dan tangan  menyusup dlm celana terus kebalik celana dalamku dan merogoh kemaluan yg  sudah mulai tegang utk ditongolkan keluar celana dan terus dikocok  sampai tegang sekali. Mia berbisik pelan2:”Koh, Mia tak naik diatas  kemaluanya, tapi koko diam saja jangan goyang2 ya?”. Lalu kepalaku  dilepas dari pangkuannya lal dgn hati2 dan pelan2 spy penumpang lain tak  mendengar Mia pindah tempat dan duduk diatas kemaluanku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena  lubangnya Mia sdh basah maka dgn mudah kemaluanku melesat masuk  kedalamnya. Setelah masuk kulihat Mia diam dan tangannya mulai mengosok  itilnya sendiri. Setelah beberapa saat kemaluanku mulai merasakan  nyut..nyut dari didnding kemaluannya Mia. Lama2 denyutan itu mulai  berirama dan berjalan dari mulai kepala kemaluanku turun kebawah lalu  mulai balik dari bawah keatas dan denyutannya makin lama makin terasa  keras dan cepat, sunguh2 luar biasa rasa nikmatnya. Aku belum pernah  menemukan dan merasakan nyut nyut lubang kemaluan wanita yg semacam ini.  Jadi kemaluanku seperti dikocok, kulit kemaluan seakan ditekan  kepangkalnya kemudian ditarik lagi keatas tapi dgn denyutan kemaluannya.  Benar2 luar biasa hingga maniku tak dpt kutahan terlalu lama yg  akhirnya nyemprot kedlam lubang kemaluannya Mia. Walaupun sdh nyemprot  kemaluaku masih dienyut terus oleh kemaluannya hingga rasanya geli  sekali. Baru setelah beberapa saat denyutnya mulai mengendor dan  dikeluarkannya batang kemaluanku dr lubang kelaminnya.Lalu kemaluanku  dibersihkan dgn sapu tangannya setelah itu baru aku duduk tegak lagi  danMia duduknya merapat ketubuhku sambi tanya pelan2:”Enak koh?”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Terus  terang baru sekali ini aku merasakan yg spt punya mu MIa” sahutku. Mia  berkata:” Koh, kamu adalah laki2 ketiga yg pernah menjamah bagian2  terlarang dari tubuhku dan memasukkan kemaluannya kedlm kemaluanku serta  menyemprotkan maninya, laki2 pertama adalah suamiku, yg kedua adalah  bosku dan yg ketiga adalah koko”. Mia bercerita, saat masih masa  percobaan dulu suatu saat ketika lembur dia diminta masuk kekamar bosnya  dan bosnya minta dipijit punggungnya karena sakit sekali. Saat itu dia  bingung tapi karena nanti tak lolos masa percobaan dia mau melakukannya.  Saat dia mijit tangannya bos mulai berkeliaran meraba paha kiri kanan  dan terus kedaerah terlarangnya, bahkan tangannya terus melorotkan CD  nya. Saat itu bosnya langsung minta dilayani nafsu sexnya. Ketika dia  bilang katanya bos sakit, maka si bos minta Mia yg diatas seperti yg  tadi dilakukan pada saya. Semenjak bosnya merasakan itu selanjutnya  hampir setiap minggu bosnya minta terus kenikmatan yg diberikan Mia itu  dan Mia mengakui dgn memberikan pelayananya itu dia bisa mendapat hasil  yg lebih sekitar 200.000 sebulanya. Dari situlah Mia bisa mencukupi  biaya hidupnya dia dan anak serta ibunya didesa. Mia menambahkan memang  dia termasuk wanita dgn nafsu sex yg besar, saat masih ada suaminya  hampir tiap malam suaminya diminta utk menidurinya. Lalu saat suaminya  pergi, dia mulai merasakan akan kebutuhannya iitu tapi keluarganya orang  taat semua. Jadi dia coba membeli ketimun yg kecil2 lalu mulai  dicobanya utk dimasukkan sedikit kelubang kemaluannya lalu itilnya  di-gosok2 sendiri sambil membayangkan ditiduri oleh suaminya dan  ternyata dinding kemaluannya bisa ber-denyut2 dan ketimun tersedot masuk  kedalam kemudian ditariknya keluar lagi dan dienyut lagi hingga kesedot  kedalam lagi dan begitu seterusnya sampai dia mencapai puncak nafsunya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sampai  sekarangpun kalau nafsunya timbul dan bosnya lagi belum memanggilnya  maka ia terpaksa melakukan yg demikian dan kadang2 menggunakan pisang  masih mentah sebab kalau sudah masak gampang putus. Mia menceritakan  semuanya dgn polos tanpa malu. Karena jam sdh pk 01.00 lebih maka Mia  kusuruh tidur dgn kepala dipangkuanku dan aku sendiri juga tertidur  akhirnya. Kira2 pk 03.30 aku terbangun saat mobil berhenti isi solar di  Pekalongan saat itu spt biasanya pd jam2 tsb kemaluanku juga bangun.  Karena ada beberapa penumpang yg turun ketoilet maka mobil istirahat  sisitu agak lama dan Mia juga ketoilet juga. Saat penumpang sdh naik  lagi dan Mia juga naik dia duduk dulu bersandar ditubuhku lalu  berbisik:”Koh, anaknya bangun lagi nanti Mia isapnya yaa?” “Terserah Mia  mau diapain yg penting maninya bisa keluar dan puas” sahutku pelan2.  Setelah mobil jalan lagi dan penumpang mulai tertidur lagi maka Mia juga  tidur lagi dgn kepalanya dipangkuanku dan langsung tangannya melepas  hak celana dan retsluiting nya, kemudian tangannya dirogohkan kedlm  celana utk menarik keluar kemaluanku yg sudah tegang itu. Langsung Mia  mulai memasukkan kemaluanku kemulutnya dan menjilatai kepalanya serta yg  kurasakan hebat ujung lidahnya bisa bergetar dilubang kemaluanku. Ini  yg membuat kemaluanku tambah keras dan besar hingga membuat Mia senang2  dan gemas kadang2 diciumi kemaluanku dgn birahinya. Memang betul  dugaanku kalau cewek punya type bibir tebal dan basah terus pasti  isapannya enak sekali dan ahli secara alami.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kira2  15 menit Mia mempermainkan kemaluanku dgn bibir, mulut dan lidahnya yg  akhirnya membuat kemaluanku mencapai puncak kekerasan dan besarnya  hingga terasa saluran mani mulai membuka dan sesaat lagi air maniku  langsung menyembur keluar langsung masuk kedlm mulutnya Mia. Mia dgn  handal langsung menyucup lubang kemaluanku hingga sisa2 mani yg ada  disaluran terus tersedot keluar utk dinikmatinya. Setelah puas menikmati  air maniku dan membersihkan kemaluanku dgn lidahnya Mia tertidur lagi  dgn pipinya menindihi kemaluanku. Kira2 jam 5.30 mobil sdh mulai masuk  Smg, maka Mia kubangunkan dan kubetulkan celanaku yg masih terbuka tadi.  Sebelum sampai rumahku aku beri telepon ku kantor siapa tahu aku ada  kesempatan lagi utk menikmati lagi nyut nyut dinding kemaluannya Mia yg  luar biasa rasanya itu. Mia berjanji akan menelpon aku spy aku dpt  kesempatan menikmatinya lagi disuasana yg lebih santai tak dlm goyangan  mobil.Karena aku yg diantar duluan ,maka aku siap2 utk turun dulu sedang  Mia akan turun diterminal utk terus ke Tuntang Salatiga. Bye Mia !.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Cerita cinta &lt;/strong&gt;mungkin wajar terjadi dalam bis antar kota, tapi jika &lt;strong&gt;cerita seks &lt;/strong&gt;terjadi dalam bis antar kota atau &lt;strong&gt;mobil travel &lt;/strong&gt;memang agak langka.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1411556838748479078-5762901384687946232?l=janda-kesepian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/feeds/5762901384687946232/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cerita-seks-dalam-mobil-travel.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/5762901384687946232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/5762901384687946232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cerita-seks-dalam-mobil-travel.html' title='Cerita Seks Dalam Mobil Travel.'/><author><name>Tante Kesepian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14713038125543777221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/-FZxK7b8lVNc/ThmHlk6Uv2I/AAAAAAAAAAY/ioSmfPbY4Yw/s220/248197_1629217110192_1829537763_1083242_4655990_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1411556838748479078.post-9175651999097845025</id><published>2011-07-15T07:26:00.000-07:00</published><updated>2011-07-15T07:26:17.837-07:00</updated><title type='text'>Cerita Dewasa Gairah Liar Tante Girang.</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.myinfo-net.com/category/kumpulan-cerita-dewasa-cerita-panas-dan-cerita-mesum" target="_blank"&gt;Cerita dewasa&lt;/a&gt; &lt;/strong&gt;yang lumayan &lt;a href="http://www.myinfo-net.com/category/cerita-lucu-dan-humor" target="_blank"&gt;lucu&lt;/a&gt;, di bilang lucu karena semakin lama dibaca semakin asik dan konyol nih &lt;strong&gt;cerita&lt;/strong&gt;, gak percaya? langsung aja baca &lt;strong&gt;cerita &lt;/strong&gt;lengkapnya yang penuh dengan &lt;strong&gt;sensasi seks dari gairah liar seorang tante&lt;/strong&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jam  beker dimeja kamarku berdering pada jam 09.00 pagi, memang aku  mensetting pada jam itu, karena tadi sampai terdengar adzan subuh aku  masih belum bisa memejamkan mata untuk tidur. Aku menggeliatkan tubuhku  terdengar kerotokan pada pinggangku, dengan malas aku bangkit dari  tempat tidur… ups.. aku &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD8"&gt;lupa&lt;/span&gt; kalo aku tadi tidur dengan tubuh telanjang bulat… kulihat tubuhku dari pantulan cermin besar.. mmm… &lt;span id="more-992"&gt;&lt;/span&gt;dalam  usia hampir kepala 4, kulihat tubuhku masih bagus dilihat… buah dadaku  yang berukuran bra 36 B masih cukup kenyal, pinggangku masih ramping tak  berlemak, pinggul dan pantatku kata mas Seno, almarhum suamiku adalah  bagian yang terindah dari tubuhku, sangat seksi dan serasi dengan  sepasang kakiku yang panjang… wajahku…? kata mas Seno lagi, katanya  wajahku lebih pantas dibilang seksi daripada cantik… entahlah penilaian  lelaki memang susah dijabarkan oleh perempuan….Sssssshhh… ooohhh… &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD9"&gt;gila&lt;/span&gt;, lagi-lagi gairah birahiku meletup dengan tiba-tiba… di depan cermin besar itu aku meremasi buah dada montokku sendiri yang &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD2"&gt;kian&lt;/span&gt; mengencang… ammpuuuun… sudah 2 hari 2 malam ini aku sangat menderita karena birahi gila ini… entah berapa &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD10"&gt;belas&lt;/span&gt; kali selama 2 hari 2 malam ini aku bermasturbasi…sampe tubuhku benar-benar loyo.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahkan  pada hari pertama aku sempat melakukan masturbasi di belakang kemudi  mobil di tengah keramaian jalan tol, saking ngga ketahan… Semalam,  dengan diiringi adegan-adegan syur film bokep koleksi almarhum mas Seno…  aku melampiaskan hasrat birahiku secara swalayan, mungkin lebih dari 10  kali sampai pagi menjelang…Maka betapa jengkelku, sekarang belum  setengah jam mataku terbuka, gelegak birahi itu meletup lagi… kali ini  aku melawan, aku masuk kamar mandi, kuguyur tubuhku dengan &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD4"&gt;shower air&lt;/span&gt;  dingin… agak menggigil juga tubuhku…. Aku memang wanita berlibido  tinggi. Sejak ABG aku sudah kenal masturbasi… menjelang lulus SMU aku  mengenal persetubuhan dan berlanjut menjadi doyan disetubuhi… Masa  kuliahku adalah masa euphoria sex, karena aku kuliah di &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD1"&gt;Bandung&lt;/span&gt;  sementara orang tuaku di Jakarta… pada awal masa kuliahku, aku pantas  dijuluki Pemburu Seks… beberapa kali aku diusir dari tempat kost yg  berbeda, dengan sebab yg hampir sama… yang aku ingat, sore pulang kuliah  diantar teman kuliahku, aku lupa namanya… pokoknya keturunan &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD7"&gt;Arab&lt;/span&gt;… aku lupa bagaimana awal mulanya, aku bisa nyepong kemaluan Arab  ganteng itu di dalam kamarku dalam keadaan pintu ngga terkunci dan Ipah  pembantu ibu kost yg nyinyir itu nyelonong masuk kamarku utk menaruh  pakaianku yg habis diseterikanya… aku tengah terkagum-kagum dengan  volume batang kemaluan Arab ganteng yang lebih besar dari lenganku dan minta ampun panjangnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malam itu juga aku disidang dan harus keluar dari rumah kost itu. Tapi buatku ga ada masalah karena malam itu si Arab ganteng memberikan tumpangan sementara di rumah kontrakannya… tentu saja gairah birahiku yang binal dimanjakan oleh Arab ganteng itu… sepanjang hari… bahkan sampai beberapa hari aku tinggal di rumah kontrakan si Arab  ganteng yang berantakan… Kejadian yg lain pernah juga tengah malam,  lagi seru-serunya ML sama cowok baruku… tiba-tiba pintu didobrak petugas  &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD12"&gt;ronda&lt;/span&gt; yg rupanya sudah lama  memperhatikan kebiasaanku masukin cowok malam-malam… cowokku dengan  tengilnya berhasil kabur… sementara aku lagi-lagi terpaksa harus cari  kost baru lagi… Satu lagi yang ga bakal aku lupa, affairku dengan bapak kost, biar sudah tua tapi ganteng dan &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD6"&gt;handsome&lt;/span&gt;..  dan yang membuatku bertekuk lutut… mmm… aksi ranjangnya boo’… selalu  membuatku bangun kesiangan esoknya… sayang aku menikmati kencan ranjang  dengan bapak kost baru tiga kali keburu ketangkap basah sama istrinya…  abis &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD5"&gt;siang&lt;/span&gt; bolong bapak itu  ngajakin naik ranjang… apesnya lagi aku ga akan mampu menolak, kalo  tetekku sudah kena diremasinya… baru mau dua kali aku mendapatkan  orgasme… eeh…pintu di ketok-ketok dari luar dan terdengar suara ibu kost  memanggil namaku… mendengar itu bapak kost yg sedang memainkan batang  kemaluannya di liang sanggamaku, jadi gugup dan efeknya justru  membuatnya orgasme, untung gak telat nyabut… pejunya berhamburan di atas  perutku banyak sekali…. bisa ditebak endingnya… aku harus angkat kaki  dari rumah kost saat itu juga…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nasihat  sahabat-sahabatku, banyak merubah perilaku seksualku yang liar… Dengan  susah payah aku berhasil menekan hasrat birahiku yang memang luar biasa  panas dan aku mengumbarnya… awalnya mana sanggup aku menahan seminggu  tanpa aktivitas seksual… bakal uring-uringan dan kepala terasa pecah…  Sampai akhirnya aku ketemu dengan mas Seno aktivis mapala kakak kelasku…  ngga hanya sosoknya yang jantan… permainan ranjangnyapun luar biasa…  permainannya yang agak kasar, mampu membuatku mengerang-erang histeris…  Aku ga nyesel, harus married dengan mas Seno karena keburu hamil.  Buktinya aku berhasil menyelesaikan kuliah, walaupun sambil mengasuh  Astari buah cintaku dengan mas Seno. Status ekonomi kamipun tergolong  bagus… Sampai akhirnya 5 tahun yg lalu, kecelakaan mobil di jalan tol  merenggut mas Seno dari kami berdua… Selama 5 tahun menjanda, mungkin  karena kesibukanku mengurus dan melanjutkan usaha mas Seno yang sedang  menanjak pesat dan keberadaan Astari anak tunggalku sudah menginjak usia  gadis remaja, aku hanya 2 kali terlibat affair dengan lelaki yg  berbeda, itupun juga hanya &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD3"&gt;having fun&lt;/span&gt;  semata, penyegaran suasana disela-sela kesibukan bisnis… Kehidupan  seksualku datar, tanpa gejolak… sesekali aktivitas masturbasi cukup  memuaskanku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah tubuh terasa segar, kukenakan &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD11"&gt;kimono&lt;/span&gt; dan keluar kamar…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”  Heee… Ron kamu disini..? kok ga sekolah..?” Kudapati Ronie di belakang  komputer Astari. Ronie adalah kakak kelas Astari yang hampir setahun ini  akrab dengan anak gadisku itu. Anak muda yang sopan dan pandai cerminan  produk dari keluarga yang cukup baik dan mapan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”  Iya tante, saya hari ini kebetulan banyak pelajaran kosong jadi bisa  pulang lebih awal dan tadi Tari minta tolong saya nungguin tante yg lagi  sakit.. kali aja butuh apa-apa” Sahut Ronie sopan, membuatku terharu…  Lumayan ngobrol dengan Ronie, penderitaanku agak berkurang…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”  Ron, kamu bisa mijit ga..? tolongin pijitin tante dong bentar… leher  tante kaku…” pintaku ke Ronie tanpa canggung, karena memang kami sudah  akrab sekali, bahkan buatku Ronie kaya anakku sendiri. Ronie duduk  menghadap punggungku pijatan demi pijatan kurasakan… tanpa kusadari  sentuhan tangan lelaki muda itu terasa nikmat selayaknya sentuhan lelaki  yang tengah membangkitkan birahi perempuan… aku mulai mendesah resah…  percikan api birahi dengan cepat membakarku tanpa ampun…. sementara  tanpa kusadari kimonoku sudah semakin melorot, terdesak tangan Ronie  yang kini memijit daerah pinggangku, atas permintaanku sendiri untuk  memijit lebih turun…. uuuhh… dadaku terasa sesak.. akibat tete’ku yang  semakin mengencang…. aku ingin ada yang meremasinya… Sssshhh.. ooohhh…  gilaaa… ngga tahaann… kupegang kedua tangan Ronie, tangan kiriku  memegang tangan kirinya dan tangan kananku memegang tangan kanannya  kutarik kedepan melingkari tubuhku dan kutangkupkan di buah dadaku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;” Eehh… tante…?” bisik Ronie bingung dari belakang tubuhku&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”  Ron… tolong remasi tete’ tante…” desisku resah… merasakan sentuhan  tangan lelaki pada buah dadaku yg tengah mengencang…. Benar-benar hilang  sosok Ronie yg sehari-hari adalah pacar Astari anakku.. yang ada  dibenakku saat itu Ronie adalah lelaki muda bertubuh tegap… Ooouuh…  Ronie mulai meremasi kemontokan buah dadaku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”  Yaaaaahh.. hhh…hhh… enaaaak Ronn.. ulangi lagi sayaaang.. oooohhh….”  tubuhku menggeliat resah… kugapai kepala Ronie dan kutarik ke arah  tengkukku yang terbuka karena rambutku kusanggul keatas… Ronie tak  menolak dan melakukan permintaanku untuk menciumi tengkukku..&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”  Ciumi leher tante… hhhmmm..sssshhh.. yaaahh.. kecupin sayaaang..  aaaaccchh… sssshhh..” bisikan dan desah mesraku menuntun Ronie melakukan  apa yg kuminta…Aku makin gemas, tubuhku gemetaran hebat… baju kimonoku  tinggal menutupi tubuh bawahku karena tali pinggangnya masih terikat.  Kubalikkan tubuhku, sejenak kupandangi wajah ganteng Ronie yang matanya  terbelalak liar menatap nanar tubuh bagian depanku dengan mimik ngga  karuan. Kulingkarkan kedua lenganku di lehernya dan dengan penuh gairah  kusosot bibir manisnya… anak muda ini gelagapan menghadapi liarnya  bibirku yang mengulum bibirnya dan nakalnya lidahku yang menggeliat  menerobos masuk rongga mulutnya… Tapi insting lelakinya segera  mengantisipasi, segera dapat mengatasi seranganku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Baju  seragam Ronie dengan cepat kulolosi dan… ooohh… dada yg gempal dan  bidang dari salah satu tim inti basket di sekolahnya ini membuat  gairahku semakin binal… Kudorong tubuh Ronie untuk rebah disofa… nafas  jantannya mulai tak beraturan.. Mmm… pejantan muda ini mulai  mengerang-erang dan tubuhnya menggelepar, tatkala bibir dan lidahku  menjelajahi permukaan kulit dadanya, bungkahan dada jantannya kuremas  dengan gemas.. Aksi bibir dan lidahku terus melata sampai ke pusarnya…  Sssshhh… celananya tampak menggembung besar.. entah ada apa  dibaliknya..? jantungku berdegup semakin kencang melihatnya… dan mataku  terbelalak dibuatnya, sampai aku harus menahan nafas, ketika retsluiting  celana abu-abu itu terbuka… kepala kemaluan jantan menyembul keluar  dari batas celana dalamnya…. aku dengan tergopoh-gopoh karena tak sabar  melorotin celana seragam sekalian dengan celana dalam putihnya sampai ke  lutut Ronie… Ooooohhh my God..! teriakku dalam hati… menyaksikan batang  kemaluan Ronie yang mengacung di antara pahanya… begitu macho, begitu  gagah, begitu indah bentuknya… dengan kepala kemaluannya yang besar  tampak mengkilat…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tanganku terasa  gemetaran ketika hendak menyentuh nya… Kembali tubuh Ronie menggerinjal  kecil ketika tanganku bergerak mengocok batang kemaluannya… aku makin  binal, kudekatkan wajahku untuk mengulum kepala kemaluan yang  menggemaskan itu, sambil tetap tanganku bergerak mengocok batang  kemaluannya… mendadak tubuh tegap itu meregang hebat diiringi erangan  keras… dan bibirku yang setengah terbuka dan tinggal beberapa sentimeter  dari kepala kemaluan itu merasakan semburan cairan hangat dengan  menyebarkan aroma khas yg sangat kukenal dan kurindukan… apalagi kalo  bukan peju lelaki… tanganku refleks mengocok batang kemaluan Ronie makin  cepat sambil tanganku yang lain mengurut lembut kantung pelirnya…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara  kubiarkan peju yang sangat kental itu menyembur wajahku…. sesekali  kusambut dengan lidahku… mmmm… rasa khas itu kembali dikecap oleh  lidahku…Terus terang aku sempat kecewa, dengan bobolnya peju Ronie….Tapi  beberapa saat batang kemaluan yang masih dalam genggamanku, kurasakan  tak menyusut sedikitpun masih tetap keras… tanpa buang waktu, aku  merangkak diatas tubuh Ronie yang menggelosoh di sofa… dengan posisi  tubuhku jongkok mengangkangi tubuh Ronie, di atas kemaluan Ronie…  kutuntun batang kemaluan perkasa yang masih belepotan peju itu kearah  liang sanggamaku yang sudah basah kuyub dari tadi… wooohh… ternyata  kepala kemaluan itu terlalu besar untuk masuk ke liang sanggamaku…  Akhirnya dengan sedikit menahan perih, akibat otot liang sanggama yang  dipaksa membuka lebih lebar.. kujejalkan dengan sedikit memaksa ke liang  sanggamaku yang sudah tak sabar untuk segera melahap mangsanya….&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”  Iiiiihhh… bantu dorong sayang…. Oooooowwwwww…” Aku merengek panjang  ketika sedikit demi sedikit amblas juga batang kemaluan Ronie menembus  liang sanggamaku.. diiring rasa perih yang menggemaskan…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;” Sssshhh… mmmhh… ayun pinggulmu keatas sayaaang..” kembali aku menuntun pejantan muda ini untuk memulai persetubuhan…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”  Aaaww… aahh… ooww.. pelahan duluuu sayaaang… burung kamu gede banget…  perih tauuk..” aku ngedumel manja… ketika Ronie mengayun pinggulnya kuat  sekali… Terasa tubuhku bagaikan baterai yang baru dicharge… aliran  energi aneh itu mengalir menyebar ke seluruh tubuhku… membuat aku  semakin binal memainkan goyangan pinggulku… sementara Ronie ternyata  cukup cerdas menyerap pelajaran, bahkan mampu segera mengembangkan…  dengan posisi tubuhku diatas, membuatku sangat cepat mencapai orgasme…  entahlah atau karena besarnya batang kemaluan Ronie yang menyungkal  rapat liang sanggamaku, sehingga seluruh syaraf dinding liang sanggamaku  rata dibesutnya… Luar biasa..! dalam waktu kurang dari lima menit  setelah orgasmeku yg pertama, kembali aku tak dapat menahan jeritku  mengantar rasa nikmatnya orgasme yang kedua… dan… hhwwwoooo….  aaaammmpppuuunnn..!!!! Rupanya Ronie tak mampu menahan lebih lama  bobolnya tanggul pejunya… tubuhku dihentak-hentaknya kuat sekali… seakan  ingin memasukkan seluruh batang kemaluan sepeler-pelernya ke liang  sanggamaku… diiringi erangan mirip suara binatang buas sekarat…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku  menangis menyesal setelahnya, berkali-kali Ronie memohon maaf atas  kejadian yang terjadi siang itu…Tapi anehnya gairah seksualku yang  meletup-letup tak terbendung itu, mereda setelah kejadian siang itu…  Aktivitas berjalan normal kembali, tapi sudah hampir seminggu ini, aku  tak pernah melihat Ronie datang ke rumah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”  Dia lagi sibuk Ma… dapat tugas antar jemput saudara sepupunya yang  masih SD…” Jawab Astari ketika aku menanyakan tentang Ronie yang tak  pernah muncul… Terus terang saja, sejak kejadian itu… pikiranku sangat  kacau, disisi aku sebagai Mama Astari aku sangat menyesal dan sedih atas  kejadian itu, tapi disisi aku sebagai seorang wanita yang masih punya  hasrat dan naluri betina yang utuh… aku tak ingin melupakan kejadian  itu… bahkan aku berharap kejadian itu terulang lagi….&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hampir  sebulan lamanya Ronie tak muncul ke rumah, akupun maklum, Ronie sebagai  remaja hijau, tentu mengalami shock dengan kejadian itu… disitulah  muncul rasa berdosaku kepada Ronie dan Astari anakku… Tapi jujur  sejujurnya ada terselip rasa rinduku memandang wajah anak muda itu… Aku  sering mengintip dari balik gordiyn jendela, saat Astari turun dari  boncengan Ronnie… kenapa hatiku berdebar-debar dan sedikit desiran  birahiku menggelegak…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pikiranku makin  kacau… setelah beberapa kali kulihat Ronnie mulai nongkrong lagi  dirumah… kulihat Ronnie masih salah tingkah di depanku, walaupun aku sdh  berusaha menetralisirnya.. iiihhh tapi buat aku… otakku jadi ngeres  begitu melihat wajah Ronnie yg innocent… betapa tidak… terbayanglah  ekspresi wajahnya ketika tengah menyetubuhiku beberapa waktu yang lalu…  ekspresi wajahnya yang begitu sensual dimataku pada saat dia melepas  semburan spermanya… suara erangan dan nafas birahinya seakan nempel  ditelingaku… maka kekacauan inilah yang mendorongku menerima tawaran  Adrian seorang rekan bisnisku untuk makan siang di sebuah hotel  berbintang dan setelahnya akupun tak menolak ketika ia mengajakku  memasuki sebuah president suite di hotel itu, dengan alasan untuk  mencari ketenangan membicarakan pekerjaan… walaupun yang terjadi  kemudian adalah rayuan-rayuan mautnya yang kusambut positif… dari  remasan tangan… kecupan bibir… jilatan lidahnya yang nakal pada leherku…  desah resahku… remasan gemasku… dan… lolosnya pakaian kami satu  persatu… payudaraku yang mengencang akibat remasan tangan dan cumbuan  bibirnya… hhmmm… jilatannya pada clitorisku… batang kemaluannya yang  berbentuk indah, perkasa… memaksa bibirku untuk mengulumnya… ooowww…  nikmat hentakan tubuhnya menekan tubuhku… sodokan kejantanannya pada  liang sanggamaku mengantarkan kenikmatan orgasmeku dua kali  berturut-turut… 2 jam kami melewatkan waktu untuk making love siang itu,  kekaguman Adrian atas permainan ranjangku yang begitu hot dan lihay…  beberapa kali aku berkencan ranjang dengan Adrian lelaki tinggi besar  berstyle dandy… kepuasan sex kuraih dengan sempurna dengan kelihayannya  dia memperlakukan perempuan di atas ranjang… tapi bayangan sensual wajah  bocah innocent bernama Ronnie itu tak juga sirna…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sampai  pada suatu malam hujan turun dengan deras… rupanya malam itu Ronnie  sedang dirumah, berbincang dengan Astari di ruang tamu… sedangkan aku  nonton TV diruang belakang…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;” Ma, mas Ronnie mo pulang tuh…” terdengar suara Astari dari belakangku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”  Eh… pulang..? hujannya gede banget, tunggu reda aja.. jauh lagi rumah  Ronnie..” jawabku spontan sambil bangkit dari dudukku berjalan ke ruang  depan… kulihat jam memang sudah terlalu malam untuk bertamu…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”  Ronn… ujan begini lebat, udah malem lagi… ntar ada apa-apa di jalan…  sudah deh Mama kasih kamu nginep disini, tidur di kamar atas, besok  subuh Mama bangunin kamu…” ujarku, terdorong rasa sebagai orang tua yg  khawatir kepada anaknya… Ronnie menunduk salah tingkah ga berani  menolak..&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;” Tapi Ronnie harus telpon  rumah dulu tante…” sahutnya pelan… dan akhirnya justru aku yang menelpon  kerumah Ronnie memintakan ijin orang tua Ronnie, yang ternyata  menyambut baik…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malam semakin larut,  sementara hujan semakin hebat diserta guntur dan kilatan petir… Aku  tergolek di ranjang, tak dapat memicingkan mata… Siang tadi kembali Aku  melewati kencan ranjang dengan Adrian…. tapi… entah kenapa kali ini…  susah sekali aku mencapai orgasme… sampai 2 kali Adrian menumpahkan  spermanya… sedangkan aku tak sekalipun.. Gilaaa… kenapa justru sekarang  wajah bocah itu yang terbayang-bayang di malam dingin ini… iiihhh…  birahiku meletup- letup gila… ampuuunn… sekarang bocah itu ada dilantai  atas… tunggu apa lagi..??? mmmm… bisikan setan.. aku tak mampu menahan  tubuhku yang berjalan manapaki tangga… dan kini aku di depan pintu  kamarnya… tanpa mengetuk kubuka pintu… ternyata Ronniepun masih belum  tidur…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;” Ronnie kamu belum tidur..?” tanyaku gagap… kenapa aku jadi salah tingkah sekarang…?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”  Tante juga belum tidur…?” sahutnya… iiihh… jawabannya begitu tegas…  aahh… siapa yg menuntunku duduk diranjangnya… mmm… darahku berdesir  ketika tahu mata Ronnie menatap dada montokku yg memang tak mengenakan  bra, sehingga puting susuku tercetak menonjol dibalik gaun tidurku yg  memang berbahan tipis, sehingga semburat kecoklatan aura puting  susukupun nampak jelas, kembali aku kehilangan kontrol… dan entahlah  bagaimana awalnya dan siapa yang mengawali…. bibirku sudah dalam lumatan  bibir Ronnie… sergapan nafsu birahiku tak dapat kuelakkan dan remasan  lembut tangan lelaki muda pada buah dadaku melambungkan gairah  seksualku… gelitikan lidah nakalnya pada puting susuku membuat tubuhku  menggeliat erotis disertai erangan manjaku… satu demi satu pakaian  beterbangan meninggalkan tubuh kami… aku begitu hot dan bergairah  mencumbui tubuh pacar anakku itu… tapi aku sudah melupakan siapa Ronnie,  yang aku tahu Ronnie adalah lelaki muda yang siap memenuhi kebutuhanku  ooowww… aku tak menyangka kali ini Ronnie lebih lihay dan lebih  berinisiatip melakukan serangan, sampai aku hampir tak percaya ketika  Ronnie menyurukkan wajahnya di selangkanganku dan mencumbui bibir  kemaluanku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;” Ronnn…. sssshhh…. kamu  piiiinteer sekarangg… ooohh.. ammpuunn nikmaaaatnyaa…” desahku merasakan  nikmat cumbuan lidahnya pada clitorisku, membuat Ronnie tambah  semangat… Ketika permainan yang sesungguhnya berjalan… sebagai wanita  dewasa yang telah berpengalaman menghadapi gairah lelaki… aku dibuat  megap-megap menghadapi serangan pejantan muda ini… hajaran batang  kemaluannya yang perkasa pada liang sanggamaku tak kenal ampun… membuat  aku mengerang merintih bahkan menjerit setengah histeris… untung suara  hujan yang lebat di timpa suara guruh meredam suaraku…. luluh lantak  tubuhku dihajar aksi ganas Ronnie… tapi buatku adalah sebuah sensasi  seksual yg sangat luar biasa.. yang mengantarku meraih dua kali  kenikmatan orgasme…. tubuh telanjang kami terkapar lunglai di ranjang  yang kusut spreinya, tak ada sesal kali ini…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ronnie jujur sama Tante… setelah waktu itu kamu maen sama perempuan mana…?” tanyaku datar dg nada dingin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;” Aaah… nggak, sekali-sekalinya cuma sama Tante Arsanti..” jawab Ronnie agak gugup menyebut namaku..&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”  ga mungkin, kamu mendadak bisa begitu canggih mencumbu Tante…?”  desakku… dan akhirnya Ronnie menceritakan pengalaman setelah pengalaman  seksualnya yang pertama, Ronnie banyak nonton blue film dan otak  cerdasnya banyak menyerap gaya dan cara bercinta dari film-film biru  yang ditontonnya…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Mmmmm… kaciaaan…  kamu tentunya kangen mencumbu Tante ya sayaang…?” bisikku sambil  kudaratkan kecupanku ke bibirnya, tubuhku bergerak menindih tubuh  atletis Ronnie, tubuhku direngkuh dan tubuh kami menempel ketat…  kuajarkan permainan lembut… mmmm… anak pintar ini dengan cepat menguasai  permainan baru yg kuajarkan… dengan telaten setiap inchi tubuhku  dirambahnya dengan remasan, gerayangan tangannya yang nakal… jilatan dan  kecupannya merambah setiap bagian tubuhku yang sensitif… tubuhku  menggeliat erotis… kadang menggelepar liar… rintihanku mulai terdengar…  tak dapat kutahan desah gelisahku… diselingi jeritan gemas…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”  Ayo sayaang…hh..hhh… Tante udah ga tahan…” bisikku lembut, setelah aku  nggak tahan lagi merasakan kuluman dan jilatan Ronnie pada clitorisku…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”  Aoooouuuhhh… Roooonnn….hhh…hhhh…” suaraku terdengar bergetar memelas…  mataku meredup sayu menatap wajah imut Ronnie, manakala liang sanggamaku  untuk kesekian kalinya ditembus batang kemaluan bongsor milik Ronnie,  namun kali ini Ronnie menekan pelan sekali, sehingga terjadi gesekan  nikmaaaaat yang lama sekali… sehingga kedua kakiku yang melingkari  pinggangnya seakan mengejang, tak tahan menahan kenikmatan yang luar  biasa…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Enaaak Tante..?” bisiknya  lembut sambil tersenyum manis, ketika liang sanggamaku sudah tak ada  tempat lagi bagi batang kemaluannya… iiih… menggemaskan bibirnya… aku  menjawab dengan mengangkat alis… bibirku kembali menyambar bibir yang  menggemaskan itu… ciuman dan kuluman panjang dimulai, dorongan gelegak  birahi kami memang luarbiasa, permainan semakin panas dan semakin liar,  ekspresi kami total menyembur tanpa kendali…kembali tubuhku  dihentak-hentak oleh tenaga perkasa Ronnie dengan garangnya… jeritan dan  rintihanku silih berganti ditimpa dengus nafas birahi ronnie yang  mengeros buas…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Aaaahhhkkk…. Roonnnie  ssaayaang…. aammppuuunn…ooowww… ssshhh… niiikmaaat banggeet ssiih…???”  rengekku dengan suara memelas, namun tarian pinggulku dengan gemulai  masih dengan sengit mengcounter rajaman batang kemaluan Ronnie di liang  sanggamaku sehingga terdengar bunyi berceprotan di selangkanganku…  gillaaa.. susah untuk kuceritakan sensasi malam itu…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Tante…hhh…hh..  Ronnie ampiir… sssshhh..” desis ronnie dengan suara bergetar… matanya  garang menatapku… iiihhh mengerikan, tapi aku sngat menyukai ekspresi  ini&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;” Ayoooo sayaanggg…. semburkan  bareng Tante… ooouuuuhhhh….!!” Ya ammppuuun… mengerikan sekali… tubuhku  terguncang-guncang hebat, akibat hentakan tubuh Ronnie menghajar liang  sanggamaku pada detik puncak… mulutku menganga lebar tanpa suara,  tanganku mencengkeram erat pinggiran ranjang…. dan entah apa yang  terjadi, karena pada saat itu orgasmekupun meletus dahsyat…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Entah  berapa lama suasana hening, hanya suara nafas kami terengah-engah yg  terdengar…. hujan di luar rupanya sudah berhenti juga….&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;” Tante… boleh Ronnie pulang sekarang, hujan kayanya sudah berhenti…” suara Ronnie memecah keheningan…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”  Hmmm… sebenernya Tante masih pingin meluk kamu, pingin cumbuin kamu  sayaaang… ini ditinggal buat Tante aja yah..?” sambil kuremas batang  kemaluan yg masih sembab…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Titit kamu  buat Tante aja ya sayaang… jangan buat orang lain… apalagi buat Astari…  awas Tante bisa marah besar..” sambungku dengan nada serius… Ronniepun  mengangguk tegas. Kuantar Ronnie ke garasi tempat motornya diparkir,  kubiarkan tubuhku bugil, telanjang bulat…. Gila… digarasi masih sempat  kulakukan oral sex… kutelan habis peju segar yg menyembur di dalam  mulutku…. Capek yang luar biasa kurasakan setelahnya, badan rasanya  lengket-lengket dan bau gak jelas…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada yang bilang kalo &lt;strong&gt;wanita setengah baya &lt;/strong&gt;lebih banyak atau lebih kuat &lt;strong&gt;gairah seks &lt;/strong&gt;mereka, seperti isliah puber kedua, &lt;strong&gt;seks wanita &lt;/strong&gt;yang berumur atau &lt;strong&gt;tante tante &lt;/strong&gt;banyak yang sulit terkendali sehingga menjadi &lt;strong&gt;tante girang&lt;/strong&gt;. tamat.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1411556838748479078-9175651999097845025?l=janda-kesepian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/feeds/9175651999097845025/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cerita-dewasa-gairah-liar-tante-girang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/9175651999097845025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/9175651999097845025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cerita-dewasa-gairah-liar-tante-girang.html' title='Cerita Dewasa Gairah Liar Tante Girang.'/><author><name>Tante Kesepian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14713038125543777221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/-FZxK7b8lVNc/ThmHlk6Uv2I/AAAAAAAAAAY/ioSmfPbY4Yw/s220/248197_1629217110192_1829537763_1083242_4655990_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1411556838748479078.post-1734679197328763402</id><published>2011-07-15T07:25:00.001-07:00</published><updated>2011-07-15T07:25:20.583-07:00</updated><title type='text'>Cerita Seks dengan sopir.</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Percintaan antara sopir dengan majikan sudah sering menjadi bahan &lt;a href="http://www.myinfo-net.com/category/kumpulan-cerita-dewasa-cerita-panas-dan-cerita-mesum" target="_blank"&gt;&lt;strong&gt;cerita dewasa&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;, tak hanya isteri majikan yang menjadi &lt;strong&gt;teman seks&lt;/strong&gt;, anak majikan yang masih &lt;strong&gt;abg bahkan perawan &lt;/strong&gt;pun bisa menjadi &lt;strong&gt;&lt;span class="IL_AD" id="IL_AD1"&gt;skandal&lt;/span&gt; seks antara sopir dan majikan&lt;/strong&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kisah  ini terjadi ketika aku masih SMU, ketika umurku masih 18 tahun, waktu  itu rambutku masih sepanjang sedada dan hitam (sekarang sebahu lebih dan  sedikit merah). Di SMU aku termasuk sebagai anak yang menjadi incaran  para cowok. Tubuhku cukup proporsional untuk seusiaku dengan buah &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD9"&gt;dada&lt;/span&gt;  yang sedang tapi kencang serta pinggul yang membentuk, pinggang dan  perutku pun ukurannya pas karena rajin olahraga, ditambah lagi kulitku  yang putih mulus ini. Aku pertama mengenal seks dari pacarku yang tak  lama kemudian putus, pengalaman pertama itu membuatku &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD10"&gt;haus&lt;/span&gt;  seks dan selalu ingin mencoba pengalaman yang lebih heboh. Beberapa  kali aku berpacaran singkat yang selalu berujung di ranjang. Aku sangat  jenuh dengan kehidupan seksku, aku menginginkan seseorang yang bisa  membuatku menjerit-jerit dan tak berkutik kehabisan tenaga.&lt;span id="more-994"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika  itu aku belum diijinkan untuk membawa mobil sendiri, jadi untuk  keperluan itu orang tuaku mempekerjakaan Bang Tohir sebagai sopir  pribadi keluarga kami merangkap pembantu. Dia berusia sekitar 30-an dan  mempunyai &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD2"&gt;badan&lt;/span&gt; yang tinggi &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD12"&gt;besar&lt;/span&gt;  serta berisi, kulitnya kehitam-hitaman karena sering bekerja di bawah  terik matahari (dia dulu bekerja sebagai sopir truk di pelabuhan). Aku  sering memergokinya sedang mengamati bentuk tubuhku, memang sih aku  sering memakai baju yang minim di rumah karena panasnya iklim di kotaku.  Waktu mengantar jemputku juga dia sering mencuri-curi pandang melihat  ke pahaku dengan rok seragam abu-abu yang mini. Begitu juga aku, aku  sering membayangkan bagaimana bila aku disenggamai olehnya, seperti apa  rasanya bila batangnya yang pasti kekar seperti tubuhnya itu  mengaduk-aduk kewanitaanku. Tapi waktu itu aku belum seberani sekarang,  aku masih ragu-ragu memikirkan perbedaan status diantara kami.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Obsesiku  yang menggebu-gebu untuk merasakan ML dengannya akhirnya benar-benar  terwujud dengan rencana yang kusiapkan dengan matang. Hari itu aku baru  bubaran pukul 3 karena ada ekstra kurikuler, aku menuju ke tempat parkir  dimana Bang Tohir sudah menunggu. Aku berpura-pura tidak enak badan dan  menyuruhnya cepat-cepat pulang. Di mobil, sandaran kursi kuturunkan  agar bisa berbaring, tubuhku kubaringkan sambil memejamkan mata. Begitu  juga kusuruh dia agar tidak menyalakan AC dengan alasan badanku tambah  tidak enak, sebagai gantinya aku membuka &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD5"&gt;dua&lt;/span&gt; kancing atasku sehingga bra kuningku sedikit tersembul dan itu cukup menarik perhatiannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Non gak apa-apa kan? Sabar ya, bentar lagi sampai kok” hiburnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Waktu  itu dirumah sedang tidak ada siapa-siapa, kedua orang tuaku seperti  biasa pulang malam, jadi hanya ada kami berdua. Setelah memasukkan mobil  dan mengunci &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD7"&gt;pagar&lt;/span&gt; aku memintanya untuk memapahku ke kamarku di lantai dua. Di &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD11"&gt;kamar&lt;/span&gt;,  dibaringkannya tubuhku di ranjang. Waktu dia mau keluar aku mencegahnya  dan menyuruhnya memijat kepalaku. Dia tampak tegang dan berkali-kali  menelan ludah melihat posisi tidurku itu dan dadaku yang putih agak  menyembul karena kancing atasnya sudah terbuka, apalagi waktu kutekuk  kaki kananku sehingga kontan paha mulus dan CD-ku tersingkap. Walaupun  memijat kepalaku, namun matanya terus terarah pada pahaku yang  tersingkap. Karena terus-terusan disuguhi pemandangan seperti itu  ditambah lagi dengan geliat tubuhku, akhirnya dia tidak tahan lagi  memegang pahaku. Tangannya yang kasar itu mengelusi pahaku dan merayap  makin dalam hingga menggosok kemaluanku dari luar celana dalamku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sshh.. Bang” desahku dengan agak gemetar ketika jarinya menekan bagian tengah kemaluanku yang masih terbungkus celana dalam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Tenang  Non.. saya sudah dari dulu kesengsem sama Non, apalagi kalau ngeliat  Non pake baju olahraga, duh tambah gak kuat Abang ngeliatnya juga”  katanya merayu sambil terus mengelusi bagian pangkal pahaku dengan  jarinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tohir mulai menjilati pahaku  yang putih mulus, kepalanya masuk ke dalam rok abu-abuku, jilatannya  perlahan-lahan mulai menjalar menuju ke tengah. Aku hanya dapat  mencengkram sprei dan kepala Tohir yang terselubung rokku saat kurasakan  lidahnya yang tebal dan kasar itu menyusup ke pinggir celana dalamku  lalu menyentuh &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD4"&gt;bibir&lt;/span&gt; vaginaku. Bukan hanya bibir  vaginaku yang dijilatinya, tapi lidahnya juga masuk ke liang vaginaku,  rasanya wuiihh..gak karuan, geli-geli enak seperti mau pipis. Tangannya  yang terus mengelus paha dan pantatku mempercepat naiknya libidoku,  apalagi sejak sejak beberapa hari terakhir ini aku belum melakukannya  lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesaat kemudian, Tohir menarik  kepalanya keluar dari rokku, bersamaan dengan itu pula celana dalamku  ikut ditarik lepas olehnya. Matanya seperti mau copot melihat  kewanitaanku yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi dari balik rokku  yang tersingkap. Dia dekap tubuhku dari belakang dalam posisi berbaring  menyamping. Dengan lembut dia membelai permukaannya yang ditumbuhi  bulu-bulu halus itu. Sementara &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD3"&gt;tangan&lt;/span&gt;  yang satunya mulai naik ke payudaraku, darahku makin bergolak ketika  telapak tangannya yang kasar itu menyusup ke balik bra-ku kemudian  meremas daging kenyal di baliknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Non,  teteknya bagus amat.. sama bagusnya kaya memeknya, Non marah ga saya  giniin?” tanyanya dekat telingaku sehingga deru nafasnya serasa  menggelitik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku hanya menggelengkan  kepalaku dan meresapi dalam-dalam elusan-elusan pada daerah sensitifku.  Tohir yang merasa mendapat restu dariku menjadi semakin buas,  jari-jarinya kini bukan hanya mengelus kemaluanku tapi juga mulai  mengorek-ngoreknya, cup bra-ku yang sebelah kanan diturunkannya sehingga  dia dapat melihat jelas payudaraku dengan putingnya yang mungil.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku  merasakan benda keras di balik celananya yang digesek-gesek pada  pantatku. Tohir kelihatan sangat bernafsu melihat payudaraku yang montok  itu, tangannya meremas-remas dan terkadang memilin-milin putingnya.  Remasannya semakin kasar dan mulai meraih yang kiri setelah dia  pelorotkan cup-nya. Ketika dia menciumi leher jenjangku terasa olehku  nafasnya juga sudah memburu, bulu kudukku merinding waktu lidahnya  menyapu kulit leherku disertai cupangan. Aku hanya bisa meresponnya  dengan mendesah dan merintih, bahkan menjerit pendek waktu remasannya  pada dadaku mengencang atau jarinya mengebor kemaluanku lebih dalam.  Cupanganya bergerak naik menuju mulutku meninggalkan jejak berupa air  liur dan bekas gigitan di permukaan kulit yang dilalui. Bibirnya  akhirnya bertemu dengan bibirku menyumbat eranganku, dia menciumiku  dengan gemas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada awalnya aku  menghindari dicium olehnya karena Tohir perokok jadi bau nafasnya tidak  sedap, namun dia bergerak lebih cepat dan berhasil melumat bibirku.  Lama-lama mulutku mulai terbuka membiarkan lidahnya masuk, dia menyapu  langit-langit mulutku dan menggelikitik lidahku dengan lidahnya sehingga  lidahku pun turut beradu dengannya. Kami larut dalam birahi sehingga  bau mulutnya itu seolah-olah hilang, malahan kini aku lebih berani  memainkan lidahku di dalam mulutnya. Setelah puas berrciuman, Tohir  melepaskan dekapannya dan melepas &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD6"&gt;ikat&lt;/span&gt;  pinggang usangnya, lalu membuka celana berikut kolornya. Maka  menyembullah kemaluannya yang sudah menegang daritadi. Aku melihat  takjub pada benda itu yang begitu besar dan berurat, warnanya hitam  pula. Jauh lebih menggairahkan dibanding milik teman-teman SMU-ku yang  pernah ML denganku. Dengan tetap memakai &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD8"&gt;kaos&lt;/span&gt;  berkerahnya, dia berlutut di samping kepalaku dan memintaku mengelusi  senjatanya itu. Akupun pelan-pelan meraih benda itu, ya ampun tanganku  yang mungil tak muat menggenggamnya, sungguh fantastis ukurannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ayo Non, emutin ****** saya ini dong, pasti yahud rasanya kalo diemut sama Non” katanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kubimbing  penis dalam genggamanku ke mulutku yang mungil dan merah, uuhh.. susah  sekali memasukkannya karena ukurannya. Sekilas tercium bau keringat dari  penisnya sehingga aku harus menahan nafas juga terasa asin waktu  lidahku menyentuh kepalanya, namun aku terus memasukkan lebih dalam ke  mulutku lalu mulai memaju-mundurkan kepalaku. Selain menyepong tanganku  turut aktif mengocok ataupun memijati buah pelirnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Uaahh..  uueennakk banget, Non udah pengalaman yah” ceracaunya menikmati  seponganku, sementara tangannya yang bercokol di payudaraku sedang asyik  memelintir dan memencet putingku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah  lewat 15 menitan dia melepas penisnya dari mulutku, sepertinya dia  tidak mau cepat-cepat orgasme sebelum permainan yang lebih dalam. Akupun  merasa lebih lega karena mulutku sudah pegal dan dapat kembali  menghirup udara segar. Dia berpindah posisi di antara kedua belah pahaku  dengan penis terarah ke vaginaku. Bibir vaginaku disibakkannya sehingga  mengganga lebar siap dimasuki dan tangan yang satunya membimbing  penisnya menuju sasaran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Tahan yah Non, mungkin bakal sakit sedikit, tapi kesananya pasti ueenak tenan” katanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penisnya  yang kekar itu menancap perlahan-lahan di dalam vaginaku. Aku  memejamkan mata, meringis, dan merintih menahan rasa perih akibat  gesekan benda itu pada milikku yang masih sempit, sampai mataku berair.  Penisnya susah sekali menerobos vaginaku yang baru pertama kalinya  dimasuki yang sebesar itu (milik teman-temanku tidak seperkasa yang satu  ini) walaupun sudah dilumasi oleh lendirku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tohir  memaksanya perlahan-lahan untuk memasukinya. Baru kepalanya saja yang  masuk aku sudah kesakitan setengah mati dan merintih seperti mau  disembelih. Ternyata si Tohir lihai juga, dia memasukkan penisnya  sedikit demi sedikit kalau terhambat ditariknya lalu dimasukkan lagi.  Kini dia sudah berhasil memasukkan setengah bagiannya dan mulai  memompanya walaupun belum masuk semua. Rintihanku mulai berubah jadi  desahan nikmat. Penisnya menggesek dinding-dinding vaginaku, semakin  cepat dan semakin dalam, saking keenakannya dia tak sadar penisnya  ditekan hingga masuk semua. Ini membuatku merasa sakit bukan main dan  aku menyuruhnya berhenti sebentar, namun Tohir yang sudah kalap ini  tidak mendengarkanku, malahan dia menggerakkan pinggulnya lebih cepat.  Aku dibuatnya serasa terbang ke awang-awang, rasa perih dan nikmat  bercampur baur dalam desahan dan gelinjang tubuh kami.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Oohh.. Non Citra, sayang.. sempit banget.. memekmu.. enaknya!” ceracaunya di tengah aktivitasnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan  tetap menggenjot, dia melepaskan kaosnya dan melemparnya. Sungguh  tubuhnya seperti yang kubayangkan, begitu berisi dan jantan,  otot-ototnya membentuk dengan indah, juga otot perutnya yang seperti  kotak-kotak. Dari posisi berlutut, dia mencondongkan tubuhnya ke depan  dan menindihku, aku merasa hangat dan nyaman di pelukannya, bau badannya  yang khas laki-laki meningkatkan birahiku. Kembali dia melancarkan  pompaannya terhadapku, kali ini ditambah lagi dengan cupangan pada leher  dan pundakku sambil meremas payudaraku. Genjotannya semakin kuat dan  bertenaga, terkadang diselingi dengan gerakan memutar yang membuat  vaginaku terasa diobok-obok.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ahh.. aahh.. yeahh, terus entot gua Bang” desahku dengan mempererat pelukanku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku  mencapai orgasme dalam 20 menit dengan posisi seperti ini, aku  melepaskan perasaan itu dengan melolong panjang, tubuhku mengejang  dengan dahsyat, kukuku sampai menggores punggungnya, cairan kenikmatanku  mengalir deras seperti mata air. Setelah gelombang birahi mulai mereda  dia mengelus rambut panjangku seraya berkata, “Non cantik banget waktu  keluar tadi, tapi Non pasti lebih cantik lagi kalau telanjang, saya  bukain bajunya yah Non, udah basah gini”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku  cuma bisa mengangguk dengan nafas tersenggal-senggal tanda setuju.  Memang badanku sudah basah berkeringat sampai baju seragamku seperti  kehujanan, apalagi AC-nya tidak kunyalakan. Tohir meloloskan pakaianku  satu persatu, yang terakhir adalah rok abu-abuku yang dia turunkan lewat  kakiku, hingga kini yang tersisa hanya sepasang anting di telingaku dan  sebuah cincin yang melingkar di jariku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dia  menelan ludah menatapi tubuhku yang sudah polos, butir-butir keringat  nampak di tubuhku, rambutku yang terurai sudah kusut. Tak henti-hentinya  di memuji keindahan tubuhku yang bersih terawat ini sambil  menggerayanginya. Kemudian dia balikkan tubuhku dan menyuruhku  menunggingkan pantat. Akupun mengangkat pantatku memamerkan vaginaku  yang merah merekah di hadapan wajahnya. Tohir mendekatkan wajahnya ke  sana dan menciumi kedua bongkahan pantatku, dengan gemas dia menjilat  dan mengisap kulit pantatku, sementara tangannya membelai-belai punggung  dan pahaku. Mulutnya terus merambat ke arah selangkangan. Aku mendesis  merasakan sensasi seperti kesetrum waktu lidahnya menyapu naik dari  vagina sampai anusku. Kedua jarinya kurasakan membuka kedua bibir  vaginaku, dengusan nafasnya mulai terasa di sana lantas dia julurkan  lidahnya dan memasukkannya disana. Aku mendesah makin tak karuan,  tubuhku menggelinjang, wajahku kubenamkan ke bantal dan menggigitnya,  pinggulku kugerak-gerakkan sebagai ekspresi rasa nikmat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di  tengah-tengah desahan nikmat mendadak kurasakan kok lidahnya berubah  jadi keras dan besar pula. Aku menoleh ke belakang, ternyata yang  tergesek-gesek di sana bukan lidahnya lagi tapi kepala penisnya. Aku  menahan nafas sambil menggigit bibir merasakan kejantanannya menyeruak  masuk. Aku merasakan rongga kemaluanku hangat dan penuh oleh penisnya.  Urat-urat batangnya sangat terasa pada dinding kemaluanku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Oouuhh.. Bang!” itulah yang keluar dari mulutku dengan sedikit bergetar saat penisnya amblas ke dalamku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dia  mulai mengayunkan pinggulnya mula-mula lembut dan berirama, namun  semakin lama frekuensinya semakin cepat dan keras. Aku mulai menggila,  suaraku terdengar keras sekali beradu dengan erangannya dan deritan  ranjang yang bergoyang. Dia mencengkramkan kedua tangannya pada  payudaraku, terasa sedikit kukunya di sana, tapi itu hanya perasaan  kecil saja dibanding sensasi yang sedang melandaku. Hujaman-hujaman yang  diberikannya menimbulkan perasaan nikmat ke seluruh tubuhku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku  menjerit kecil ketika tiba-tiba dia tarik rambutku dan tangan kanannya  yang bercokol di payudaraku juga ikut menarikku ke belakang. Rupanya dia  ingin menaikkanku ke pangkuannya. Sesudah mencari posisi yang enak,  kamipun meneruskan permainan dengan posisi berpangkuan membelakanginya.  Aku mengangkat kedua tanganku dan melingkari lehernya, lalu dia  menolehkan kepalaku agar bisa melumat bibirku. Aku semakin intens  menaik-turunkan tubuhku sambil terus berciuman dengan liar. Tangannya  dari belakang tak henti-hentinya meremasi dadaku, putingku yang sudah  mengeras itu terus saja dimain-mainkan. Gelinjang tubuhku makin tak  terkendali karena merasa akan segera keluar, kugerakkan badanku sekuat  tenaga sehingga penis itu menusuk semakin dalam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengetahui  aku sudah diambang klimaks, tiba-tiba dia melepaskan pelukannya dan  berbaring telentang. Disuruhnya aku membalikan badanku berhadapan  dengannya. Harus kuakui dia sungguh hebat dan pandai mempermainkan  nafsuku, aku sudah dibuatnya beberapa kali orgasme, tapi dia sendiri  masih perkasa. Dia biarkan aku mencari kepuasanku sendiri dalam gaya  woman on top. Kelihatannya dia sangat senang menyaksikan payudaraku yang  bergoyang-goyang seirama tubuhku yang naik turun. Beberapa menit dalam  posisi demikian dia menggulingkan tubuhnya ke samping sehingga aku  kembali berada di bawah. Genjotan dan dengusannya semakin keras,  menandakan dia akan segera mencapai klimaks, hal yang sama juga  kurasakan pada diriku. Otot-otot kemaluanku berkontraksi semakin cepat  meremas-remas penisnya. Pada detik-detik mencapai puncak tubuhku  mengejang hebat diiringi teriakan panjang. Cairan cintaku seperti juga  keringatku mengalir dengan derasnya menimbulkan suara kecipak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tohir  sendiri sudah mulai orgasme, dia mendesah-desah menyebut namaku,  penisnya terasa semakun berdenyut dan ukurannya pun makin membengkak,  dan akhirnya.. dengan geraman panjang dia cabut penisnya dari vaginaku.  Isi penisnya yang seperti susu kental manis itu dia tumpahkan di atas  dada dan perutku. Setelah menyelesaikan hajatnya dia langsung terkulai  lemas di sebelah tubuhku yang berlumuran sperma dan keringat. Aku yang  juga sudah KO hanya bisa berbaring di atas ranjang yang seprei nya sudah  berantakan, mataku terpejam, buah dadaku naik turun seiring nafasku  yang ngos-ngosan, pahaku masih mekangkang, celah vaginaku serasa terbuka  lebih lebar dari biasanya. Dengan sisa-sisa tenaga, kucoba menyeka  ceceran sperma di dadaku, lalu kujilati maninya dijari-jariku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak  saat itu, Tohir sering memintaku melayaninya kapanpun dan dimanapun ada  kesempatan. Waktu mengantar-jemputku tidak jarang dia menyuruhku  mengoralnya. Tampaknya dia sudah ketagihan dan lupa bahwa aku ini nona  majikannya, bayangkan saja terkadang saat aku sedang tidak ‘mood’ pun  dia memaksaku. Bahkan pernah suatu ketika aku sedang mencicil belajar  menjelang Ebtanas yang sudah 2 minggu lagi, tiba-tiba dia mendatangiku  di kamarku (saat itu sudah hampir jam 12 malam dan ortuku sudah tidur),  karena lagi belajar aku menolaknya, tapi saking nafsunya dia nekad  memperkosaku sampai dasterku sedikit robek, untung kamar ortuku letaknya  agak berjauhan dariku. Meskipun begitu aku selalu mengingatkannya agar  menjaga sikap di depan orang lain, terutama ortuku dan lebih  berhati-hati kalau aku sedang subur dengan memakai kondom atau membuang  di luar. Tiga bulan kemudian Tohir berhenti kerja karena ingin  mendampingi istrinya yang TKW di Timur Tengah, lagipula waktu itu aku  sudah lulus SMU dan sudah diijinkan untuk membawa mobil sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perjalanan &lt;strong&gt;seks sopir &lt;/strong&gt;mungkin belum berakhir, namun dari &lt;strong&gt;cerita &lt;/strong&gt;diatas bisa kita ambil hikmah, bahwa hati-hati dalam memberikan ruang gerak terhadap orang asing yang ada disekitar kita, &lt;strong&gt;seks sopir dan majikan &lt;/strong&gt;diatas salah satu contoh dari keteledoran orang tua.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1411556838748479078-1734679197328763402?l=janda-kesepian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/feeds/1734679197328763402/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cerita-seks-dengan-sopir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/1734679197328763402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/1734679197328763402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cerita-seks-dengan-sopir.html' title='Cerita Seks dengan sopir.'/><author><name>Tante Kesepian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14713038125543777221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/-FZxK7b8lVNc/ThmHlk6Uv2I/AAAAAAAAAAY/ioSmfPbY4Yw/s220/248197_1629217110192_1829537763_1083242_4655990_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1411556838748479078.post-8101093078400374294</id><published>2011-07-15T07:24:00.001-07:00</published><updated>2011-07-15T07:24:19.630-07:00</updated><title type='text'>Cerita dewsaku dengan wanita setengah Baya.</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; Berikut ini &lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.myinfo-net.com/category/kumpulan-cerita-dewasa-cerita-panas-dan-cerita-mesum" target="_blank"&gt;cerita dewasa&lt;/a&gt; &lt;/strong&gt;yang dikirim dari seorang yang mengaku bernama &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD7"&gt;reno&lt;/span&gt;, mungkin hanya inisial saja, yang pasti ceritanya seru, akibat sendirian di rumah dia kedatangan sosok &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD2"&gt;tante&lt;/span&gt; berumur 40 tahun. yang kebetulan kesasar. berikut cerita nya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  Peristiwa ini berlangsung beberapa bulan yang lalu di awal 2006. Di  Sabtu malam yang cerah aku terpaksa menunggu rumah sendirian. Keluarga  semua pergi ke &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD5"&gt;Jakarta&lt;/span&gt; menghadiri acara pernikahan saudara sepupuku.&lt;span id="more-999"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku perkenalkan diri dulu. Namaku Reno, 28 tahun. Tampangku biasa-biasa &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD9"&gt;aja&lt;/span&gt;  dengan kulit sawo matang. dengan tinggi 170 cm dan berat 70 kg. Pembaca  mungkin menyangka aku gendut. Itu sama sekali tidak tepat karena aku  rajin &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD3"&gt;fitness&lt;/span&gt; hingga otot2ku pun  terbentuk walaupun tidak sekekar Ade Rai . Aku bekerja di satu  perusahaan swasta di kotaku. Aku tinggal di kota kecil di bagian Barat  pantura &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD6"&gt;Jawa&lt;/span&gt; Tengah. Dan sekarang aku masih menyandang predikat jomblo. Namun aku selalu enjoy menjalaninya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sabtu  malam itu tidak seperti biasanya. Teman-temanku yang sebagian jomblo  juga (mungkin aku perlu bikin perkumpulan Jomblo Merana, hehehe…) tidak  keliatan batang hidungnya. Aku yang nungguin rumah sendirian akhirnya  cuma bisa duduk sambil mengisap rokok putih di teras depan rumah sambil  cuci mata pada cewe-cewe yang lewat di jalan depan rumahku. Tak terasa  jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD11"&gt;Rasa&lt;/span&gt;  kantuk sudah mulai menyerang. Aku pun bergegas masuk ke rumah. Begitu  tanganku hendak meraih gagang pintu, aku dikejutkan suara becak yang  direm mendadak. Spontan aku liat ada yang terjadi. Ternyata seorang  wanita kira2 berumur 40 tahunan turun dari becak kemudian membayar  ongkos ke abang becak. Aku masih terpaku melihat apa yang akan dilakukan  oleh wanita dengan kulit sawo matang dan berwajah &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD1"&gt;sensual&lt;/span&gt;  itu. Tingginya kira-kira 160 cm dan beratnya mungkin 60 kg dengan  payudara yang besar kira2 36C dan pantat yang besar pula serta perut  yang sudah tidak rata lagi. Wanita itu memakai baju terusan dengan  rambut digelung ke atas menambah kesensualannya. Tanpa dikomando penisku  lagi berdiri tegang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Permisi…”, suara lembutnya membuyarkan lamunanku. “Eh…iya, Bu…”, jawabku sekenanya. “Pak Atmonya ada?”&lt;br /&gt;Aku jadi bingung karena nama orang tuaku bukan Atmo. Dengan cepat aku  baru sadar kalo rumah yang aku tempati sekarang dulu adalah milik Pak  Atmo yang sekarang sudah pindah di kota di provinsi Jawa Tengah bagian Selatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya  aku jelaskan padanya tentang keadaan saat ini. Dia pun bingung hendak  ke mana karena tidak ada sanak sodara di kota ini. Kemudian aku  persilakan masuk wanita itu ke dalam ruang tamu. Setelah melalui  percakapan singkat dapat kuketahui kalo wanita itu bernama Tuminah,  sepupu Pak Atmo dari Boyolali dan aku tahu kalo dia telah hidup menjanda  selama 10 tahun semenjak kematian suaminya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Dik Reno,  ibu saat ini bingung mau tidur di mana. Lha wong sudah malam begini.  Mau melanjutkan perjalanan sudah tidak ada bis lagi,” kebingungan  meliputi dirinya.&lt;br /&gt;“Sudahlah Bu Minah…Ibu sementara bermalam di sini  dulu. Besok Ibu bisa ke tempat Pak Atmo,” aku coba menenangkannya sambil  mataku mencuri-curi pandang ke arah gundukan di dadanya yang membusung  itu. Mengetahui hal itu Bu Minah jadi salah tingkah sambil tersenyum  penuh arti. Akhirnya Bu Minah setuju untuk bermalam di rumahku. Aku  persiapkan kamarku untuk tidur Bu Minah. Tak lupa aku buatkan teh panas  untuk menyegarkan tubuhnya. Kemudian aku persilakan Bu Minah untuk  membersihkan badan dulu di kamar &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD12"&gt;mandi&lt;/span&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku  menunggu dengan menonton tivi di ruang tengah. Bayangan tubuh montok Bu  Minah menjadikan burungku jadi makin berdiri keras. Ditimpali suara  kecipakan air di kamar mandi terdengar dari tempatku.&lt;br /&gt;“Mas Reno…” aku dikejutkan panggilan Bu Minah dari kamar mandi. “Iya Bu… Ada apa?” aku bergegas menuju ke kamar mandi. “Ibu lupa tidak bawah handuk. Ibu boleh pinjem handuk mas Reno?” terdengar suara Bu Minah dari balik pintu kamar mandi. “Boleh kok, Bu. Saya ambilkan sebentar, Bu”, aku ambil handukku di jemuran belakang.&lt;br /&gt;“Ini Bu handuknya” perlahan pintu kamar mandi dibuka oleh Bu Minah. Aku sodorkan handuk ke &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD8"&gt;tangan&lt;/span&gt;  Bu Minah yang menggapai dari balik pintu. Tak kusangka sodoran tanganku  terlalu keras sehingga mendorong pintu terbuka lebar hingga badanku  terhuyung ke depan ikut masuk ke kamar mandi. Aku menubruk badan Bu  Minah. Aku peluk tubuh bugil Bu Minah agar aku tidak jatuh. Bu Minah pun  memeluk tubuhku erat-erat agar tidak terpeleset. “Aahhh…”, Bu Minah  menjerit kecil. Aku rasakan buah dada bu Minah yang besar itu dalam  pelukanku. Penisku langsung tegang mengenai perus Bu Minah. Beberapa  detik kami terdiam.&lt;br /&gt;“Ih, mas Reno kok meluk aku sih…” katanya manja  tanpa melepas pelukannya padaku. Wajahku merah padam. Aku tidak bisa  menyembunyikan hasratku yang meletup-letup. “Kaalauu…akkuu lepass  …nantii akku liat ibu Minah telaanjaang donggg..”, jawabku terbata-bata  dengan nafas tersengal menahan gejolak birahi. Aku tekan-tekan penisku  yang masih terbungkus celana ke perutnya. “Aacchh…sungguh nikmat  sekali,” batinku karena aku baru pertama kali ini memeluk wanita dalam  keadaan telanjang bulat. “Burung mas Reno nakal…” katanya manja sambil tangannya merogoh penisku dari balik celana &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD4"&gt;training&lt;/span&gt; yang aku pakai. Dielus dan dikocoknya perlahan penisku. “Ouuugghhh…” aku hanya bisa mendesah. “Burung Mas Reno  besar sekali…” Aku tidak tahu apakah dengan panjang 16 cm dan diameter 4  cm itu penisku termasuk besar, entahlah mungkin Bu Minah sebelumnya  hanya tahu penis dibawah ukuranku. Dan aku pun tidak tinggal diam. aku  remes-remes teteknya yang gede itu sambil aku emut putingnya. “Mmmhhh…  enak banget mas…”&lt;br /&gt;Tangan kiriku langsung turun ke vaginanya yang mulai basah itu. Aku gesek-gesek dengan jariku dan aku mainkan klitorisnya…&lt;br /&gt;“Mas….” hanya itu yang bisa Bu Minah ucapkan dengan mata sayu sementara tangannya masih mengocok penisku dengan pelan.&lt;br /&gt;“Mas…Mas Reno….aku wis ora kuat….” suaranya parau “Masukin sekarang ya, Mas….”&lt;br /&gt;Aku jadi bingung karena belum pernah ml sebelumnya. Dengan malu-malu  aku pun beranikan diri bertanya, “Bu, caranya gimana?” Bu Minah  tersenyum genit. “Oh mas Reno masih bujang tong-tong to?” Kemudian Bu Minah membalikan badannya dengan berpegangan pada bak mandi  Bu Minah mengambil posisi nungging. Aku yang udah gak sabar langsung  mengarahkan penisku ke vagina yang merah merekah dengan rambut kemaluan  yang tercukur rapi tapi gagal karena aku tidak tahu lubang kenikmatan  itu. “Sini mas Reno biar aku bantu…” Bu Minah yang mengerti keadaanku langsung menyamber batang penisku kemudian diarahkannya ke lubang vaginanya.&lt;br /&gt;Kepala penisku menyentuh bibir vaginanya. Oouugghhh… sungguh kenikmatan  yang luar biasa yang baru aku rasakan. Kemudian aku dorong penisku ke  dalam vagina Bu Minah. Agak susah memang. “Mas…pelan-pelan. Aku udah  lama tidak kaya gini…” suara Bu Minah terdengar lirih tertahan. Aku  majukan lagi penisku hingga tinggal setengahnya yang belum masuk ke  lubang kenikmatan. Bu Minah memaju mundurkan pantatnya berulang-ulang.  Dan… Slleeepppp…. penisku seperti tertelah semuanya oleh vagina Bu  Minah. Aku maju mundurkan penisku dengan cepat seperti yang aku liat di  BF.&lt;br /&gt;“Ooohhhh….masss….mmmhhhh.. ..” hanya itu yang keluar dari mulut Bu Minah. Aku merasakan sensasi yang sangat luar biasa…&lt;br /&gt;Dan belum ada 30 kocokan aku merasakan akan memuntahkan spermaku.”Bu….  aku mau keluar…” Aku percepat sodokan-sodokan penisku ke vagina Bu  Minah. Dengan gerakan yang luwes Bu Minah memutar-mutar pantatnya  mengimbangi sodokanku. Melihat goyangan pantat Bu Minah yang erotis itu  aku semakin tidak sanggup menahan laju spermaku. Aku percepat  sodokanku…. dan… “Ooouuugggghhhh…..” aku tekan kuat2 penisku hingga  menyentuh dasar rahim Bu Minah. “Crrootttt…..ccrrrooottt…. cccrrottt….”  penisku menyemburkan sperma sebanyak 15 kali ke vagina Bu Minah.  Goyangan-goyangan erotis pantat Bu Minah mengiringi siraman spermaku.  “Oooohhhhh….” Aku terkulai lemas. Aku peluk tubuh Bu Minah dari belakang  dengan tangan meremas2 tetek Bu Minah yang besar walopun sudah agak  kendur. Sementara penisku yang masih tegang tenggelam dalam vagina Bu  Minah yang enak itu. Nafas kami masih tersenggal-senggal. Lama kami  terdiam meresapi sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dilalui.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Mas  Reno….” Bu Minah lirih memanggilku. “Udahan dulu ya Mas.., aku capek  banget. Aku mau istirahat dulu”. Aku bisa memahami kondisi tubuh Bu  Minah setelah melakukan perjalanan panjang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya kami berdua menghabiskan waktu dikamarku, kami tidur berdua dikamar dengan &lt;strong&gt;adegan-adegan seks &lt;/strong&gt;yang pasti anda sudah tau, walau kondisi fisik bu minah sudah letih karena capek dalam perjalanan, tapi permaianan &lt;strong&gt;seks &lt;/strong&gt;nya luar biasa membuat aku puas.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1411556838748479078-8101093078400374294?l=janda-kesepian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/feeds/8101093078400374294/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cerita-dewsaku-dengan-wanita-setengah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/8101093078400374294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/8101093078400374294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cerita-dewsaku-dengan-wanita-setengah.html' title='Cerita dewsaku dengan wanita setengah Baya.'/><author><name>Tante Kesepian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14713038125543777221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/-FZxK7b8lVNc/ThmHlk6Uv2I/AAAAAAAAAAY/ioSmfPbY4Yw/s220/248197_1629217110192_1829537763_1083242_4655990_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1411556838748479078.post-3953120652252532025</id><published>2011-07-15T07:23:00.001-07:00</published><updated>2011-07-15T07:23:39.635-07:00</updated><title type='text'>Cerita Bu Guru Netty Yang Montok.</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;a href="http://www.myinfo-net.com/category/kumpulan-cerita-dewasa-cerita-panas-dan-cerita-mesum" target="_blank"&gt;&lt;strong&gt;Cerita Dewasa&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;.  namaku Priambudhy Saktiaji, teman-teman memanggilku Budhy. Aku tinggal  di Bogor, sebelah selatan Jakarta. Tinggiku sekitar 167 cm, bentuk  wajahku tidak mengecewakan, imut-imut kalau teman-teman perempuanku  bilang. Langsung saja aku mulai dengan pengalaman pertamaku ‘&lt;strong&gt;make love’ (ML) atau bercinta dengan seorang wanita&lt;/strong&gt;. Kejadiannya waktu aku masih kelas dua SMA (sekarang SMU).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat itu sedang musim ujian, sehingga kami di awasi oleh guru-guru &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD11"&gt;dari&lt;/span&gt; kelas yang &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD6"&gt;lain&lt;/span&gt;.  Kebetulan yang mendapat bagian mengawasi kelas tempatku ujian adalah  seorang guru yang bernama Ibu Netty, umurnya masih cukup muda, sekitar  25 tahunan. Tinggi badannya sekitar 155 cm. Kulitnya putih bersih,  hidungnya mancung, bentuk wajahnya &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD2"&gt;oval&lt;/span&gt; dengan rambut lurus yang di potong pendek sebatas leher, sehingga memperlihatkan lehernya yang jenjang.&lt;span id="more-996"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang membuatku sangat tertarik adalah tonjolan dua bukit payudaranya yang cukup &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD10"&gt;besar&lt;/span&gt;,  bokongnya yang sexy dan bergoyang pada saat dia berjalan. Aku sering  mencuri pandang padanya dengan tatapan mata yang tajam, ke arah meja  yang didudukinya. Kadang, entah sengaja atau tidak, dia balas menatapku  sambil tersenyum kecil. Hal itu membuatku berdebar-debar tidak menentu.  Bahkan pada kesempatan lain, sambil menatapku dan memasang senyumnya,  dia dengan sengaja menyilangkan kakinya, sehingga menampakkan paha dan  betisnya yang mulus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di waktu yang lain  dia bahkan sengaja menarik roknya yang sudah pendek (di atas lutut,  dengan belahan disamping), sambil memandangi wajahku, sehingga aku bisa  melihat lebih dalam, ke arah selangkangannya. Terlihat gundukan kecil di  tengah, dia memakai celana dalam berbahan katun berwarna putih. Aku  agak terkejut dan sedikit melotot dengan ‘show’ yang sedang  dilakukannya. Aku memandang sekelilingku, memastikan apa ada  teman-temanku yang lain yang juga melihat pada pertunjukan kecil  tersebut. Ternyata mereka semua sedang sibuk mengerjakan soal-soal ujian  dengan serius. Aku kembali memandang ke arah Ibu Netty, dia masih  memandangku sambil tersenyum nakal. Aku membalas senyumannya sambil  mengacungkan jempolku, kemudian aku teruskan mengerjakan soal-soal ujian  di mejaku. Tentu saja dengan sekali-kali melihat ke arah meja Ibu Netty  yang masih setia menyilangkan kakinya dan menurunkannya kembali,  sedemikian rupa, sehingga memperlihatkan dengan jelas selangkangannya  yang indah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekitar 30 menit sebelum  waktu ujian berakhir, aku bangkit dan berjalan ke depan untuk  menyerahkan kertas-kertas ujianku kepada Ibu Netty. “Sudah selasai?”  katanya sambil tersenyum. “Sudah, bu….” jawabku sambil membalas  senyumnya. “Kamu suka dengan yang kamu lihat tadi?” dia bertanya  mengagetkanku. Aku menganggukkan kepalaku, kami melakukan semua  pembicaraan dengan berbisik-bisik. “Apa &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD7"&gt;saya&lt;/span&gt;  boleh melihatnya lagi nanti?” kataku memberanikan diri, masih dengan  berbisik. “Kita ketemu nanti di depan sekolah, setelah ujian hari ini  selesai, ok?” katanya sambil tersenyum simpul. Senyum yang menggetarkan  hatiku dan membuat tubuhku jadi panas dingin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Siang itu di depan gerbang sekolah, sambil menenteng tasnya, bu Netty mendekati tempatku berdiri dan berkata, “Bud, kamu ikuti saya dari belakang” Aku mengikutinya, sambil menikmati goyangan pinggul dan pantatnya yang aduhai. Ketika kami sudah jauh dari  lingkungan sekolah dan sudah tidak terlihat lagi anak-anak sekolah di  sekitar kami, dia berhenti, menungguku sampai di sampingnya. Kami  berjalan beriringan. “Kamu benar-benar ingin melihat lagi?” tanyanya  memecah kesunyian. “Lihat apa bu?” jawabku berpura-pura lupa, pada  permintaanku sendiri sewaktu di kelas tadi pagi. “Ah, kamu, suka  pura-pura…” Katanya sambil mencubit pinggangku pelan. Aku tidak berusaha  menghindari cubitannya, malah aku pegang telapak tangannya yang halus  dan meremasnya dengan gemas. bu Netty balas meremas tanganku, sambil  memandangiku lekat-lekat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya kami sampai pada satu rumah kecil, agak jauh dari rumah-rumah lain.  Sepertinya rumah kontrakan, karena tidak terlihat tambahan ornamen  bangunan pada rumah tersebut. Bu Netty membuka tasnya, mengeluarkan  kunci dan membuka pintu. “Bud, masuklah. Lepas sepatumu di dalam, tutup  dan kunci kembali pintunya!” Perintahnya cepat. Aku turuti permintaannya  tanpa banyak bertanya. Begitu sampai di dalam rumah, bu Netty menaruh  tasnya di sebuah meja, masuk ke kamar tanpa menutup pintunya. Aku hanya  melihat, ketika dengan santainya dia melepaskan kancing bajunya,  sehingga memperlihatkan BH-nya yang juga terbuat dari bahan katun berwarna putih, buah dadanya yang putih dan agak besar seperti tidak tertampung dan mencuat keluar dari  BH tersebut, membuatnya semakin sexy, kemudian dia memanggilku. “Bud,  tolong dong, lepasin pengaitnya…” katanya sambil membelakangiku. Aku  buka pengait tali BH-nya, dengan wajah panas dan hati berdebar-debar.  Setelah BH-nya terlepas, dia membuka lemari, mengambil sebuah kaos  T-shirt berwarna putih, kemudian memakainya, masih dengan posisi  membelakangiku. T-shirt tersebut terlihat sangat ketat membungkus  tubuhnya yang wangi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian dia  kembali meminta tolong padaku, kali ini dia minta dibukakan risleting  roknya! Aku kembali dibuatnya berdebar-debar dan yang &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD9"&gt;paling&lt;/span&gt; &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD4"&gt;parah&lt;/span&gt;,  aku mulai merasa selangkanganku basah. Kemaluanku berontak di dalam  celana dalam yang rangkap dengan celana panjang SMA ku. Ketika dia  membelakangiku, dengan cepat aku memperbaiki posisi kemaluanku dari luar  celana agar tidak terjepit. Kemudian aku buka risleting rok ketatnya.  Dengan perlahan dia menurunkan roknya, sehingga posisinya menungging di  depanku. Aku memandangi pantatnya yang sexy dan sekarang tidak  terbungkus rok, hanya mengenakan celana dalam putihnya, tanganku meraba  pantat bu Netty dan sedikit meremasnya, gemas.&lt;br /&gt;“Udah nggak &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD5"&gt;sabar&lt;/span&gt; ya, Bud?” Kata bu Netty.&lt;br /&gt;“Maaf, bu, habis bokong ibu sexy banget, jadi gemes saya….”&lt;br /&gt;“Kalo di sini jangan panggil saya ‘bu’ lagi, panggil ‘teteh’ aja ya?”&lt;br /&gt;“Iya bu, eh, teh Netty”&lt;br /&gt;Konsentrasiku buyar melihat pemandangan di hadapanku saat ini, bu Netty  dengan kaos T-shirt yang ketat, tanpa BH, sehingga puting susunya  mencuat dari balik kaos putihnya, pusarnya yang sexy tidak tertutup,  karena ukuran kaos T-shirt-nya yang pendek, celana dalam yang tadi pagi  aku lihat dari jauh sekarang aku bisa lihat dengan jelas, gundukan di selangkangannya membuatku menelan ludah, pahanya yang putih mulus dan &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD8"&gt;ramping&lt;/span&gt; membuat semuanya serasa dalam mimpi.&lt;br /&gt;“Gimana Bud, suka nggak kamu?” Katanya sambil berkcak pinggang dan meliuk-liukkan pinggulnya.&lt;br /&gt;“Kok kamu jadi bengong, Bud?” Lanjutnya sambil menghampiriku.&lt;br /&gt;Aku terdiam terpaku memandanginya ketika dia memeluk leherku dan mencium bibirku, pada awalnya aku kaget dan tidak bereaksi, &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD12"&gt;tapi&lt;/span&gt;  tidak lama. Kemudian aku balas ciuman-ciumannya, dia melumat bibirku  dengan rakusnya, aku balas lumatannya. “Mmmmmmmmmhhhhhhhhhhh….” Gumamnya  ditengah ciuman-ciuman kami. Tidak lama kemudian &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD3"&gt;tangan&lt;/span&gt; kanannya mengambil tangan  kiriku dan menuntun tanganku ke arah payudaranya, aku dengan cepat  menanggapi apa maunya, kuremas-remas dengan lembut payudaranya dan  kupilin-pilin putingnya yang mulai mengeras. “Mmmmhhhh….mmmmmhhhhh” Kali  ini dia merintih nikmat. Aku usap-usap punggungnya, turun ke  pinggangngya yang tidak tertutup oleh kaos T-shirtnya, aku lanjutkan  mengusap dan meremas-remas pantatnya yang padat dan sexy, lalu  kulanjutkan dengan menyelipkan jari tengahku ke belahan pantatnya,  kugesek-gesek kearah dalam sehingga aku bisa menyentuh &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD1"&gt;bibir&lt;/span&gt; vaginanya dari  luar celana dalam yang dipakainya. Ternyata celana dalamnya sudah  sangat basah. Sementara ciuman kami, berubah menjadi saling kulum lidah  masing-masing bergantian, kadang-kadang tangannya menjambaki rambutku  dengan gemas, tangannya yang lain melepas kancing baju sekolahku satu  per satu. Aku melepas pagutanku pada bibirnya dan membantunya melepas  bajuku, kemudian kaos dalam ku, ikat pinggangku, aku perosotkan celana  panjang abu-abuku dan celana dalam putihku sekaligus. Bu Netty pun  melakukan hal yang sama, dengan sedikit terburu-buru melepas kaos  T-shirtnya yang baru dia pakai beberapa saat yang lalu, dia perosotkan  celana dalam putihnya, sehingga sekarang dia sudah telanjang bulat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tubuhnya  yang putih mulus dan sexy sangat menggiurkan. Hampir bersamaan kami  selesai menelanjangi tubuh kami masing-masing, ketika aku menegakkan  tubuh kembali, kami berdua sama-sama terpaku sejenak. Aku terpaku  melihat tubuh polosnya tanpa sehelai benangpun. Aku sudah sering melihat  tubuh telanjang, tetapi secara langsung dan berhadap-hapan baru kali  itu aku mengalaminya. Payudaranya yang sudah mengeras tampak kencang,  ukurannya melebihi telapak tanganku, sejak tadi aku berusaha meremas  seluruh bulatan itu, tapi tidak pernah berhasil, karena ukurannya yang  cukup besar. Perutnya rata tidak tampak ada bagian yang berlemak  sedikitpun. Pinggangnya ramping dan membulat sangat sexy.  Selangkangannya di tumbuhi bulu-bulu yang sengaja tidak dicukur, hanya  tumbuh sedikit di atas kemaluannya yang mengkilap karena basah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tubuh  telanjang yang pernah aku lihat paling-paling dari gambar-gambar porno,  blue film atau paling nyata tubuh ABG tetanggaku yang aku intip  kamarnya, sehingga tidak begitu jelas dan kulakukan cepat-cepat karena  takut ketahuan. Kebiasaan mengintipku tidak berlangsung lama karena pada  dasarnya aku tidak suka mengintip.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara  bu Netty memandang lekat kemaluanku yang sudah tegang dan mengeras,  pangkalnya di tumbuhi bulu-bulu kasar, bahkan ada banyak bulu yang  tumbuh di batang kemaluanku. Ukurannya cukup besar dan panjangnya  belasan centi. “Bud, punyamu lumayan juga, besar dan panjang, ada  bulunya lagi di batangnya” katanya sambil menghampiriku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jarak  kami tidak begitu jauh sehingga dengan cepat dia sudah meraih  kemaluanku, sambil berlutut dia meremas-remas batang kemaluanku sambil  mengocok-ngocoknya lembut dan berikutnya kepala kemaluanku sudah  dikulumnya. Tubuhku mengejang mendapat emutan seperti itu. “Oooohhhh….  enak teh….” rintihku pelan. Dia semakin bersemangat dengan kuluman dan  kocokan-kocokannya pada kemaluanku, sementara aku semakin blingsatan  akibat perbuatannya itu. Kadang dimasukkannya kemaluanku sampai ke dalam  tenggorokannya. Kepalanya dia maju mundurkan, sehingga kemaluanku  keluar masuk dari mulutnya, sambil dihisap-hisap dengan rakus. Aku  semakin tidak tahan dan akhirnya…, jebol juga pertahananku. Spermaku  menyemprot ke dalam mulutnya yang langsung dia sedot dan dia telan,  sehingga tidak ada satu tetespun yang menetes ke lantai, memberiku  sensasi yang luar biasa. Rasanya jauh lebih nikmat daripada waktu aku  masturbasi.&lt;br /&gt;“Aaaahhhh… ooooohhhhh…. teteeeeehhhhh!” Teriakku tak tertahankan lagi.&lt;br /&gt;“Gimana? enak Bud?” Tanyanya setelah dia sedot tetesan terakhir dari kemaluanku.&lt;br /&gt;“Enak banget teh, jauh lebih enak daripada ngocok sendiri” jawabku puas.&lt;br /&gt;“Gantian dong teh, saya pengen ngerasain punya teteh” lanjutku sedikit memohon.&lt;br /&gt;“Boleh…,” katanya sambil menuju tempat tidur, kemudian dia merebahkan  dirinya di atas ranjang yang rendah, kakinya masih terjulur ke lantai.  Aku langsung berlutut di depannya, kuciumi selangkangannya dengan  bibirku, tanganku meraih kedua payudaranya, kuremas-remas lembut dan  kupilin-pilin pelan puting payudaranya yang sudah mengeras. Dia mulai  mengeluarkan rintihan-rintihan perlahan. Sementara mulutku menghisap,  memilin, menjilat vaginanya yang semakin lama semakin basah. Aku  permainkan clitorisnya dengan lidahku dan ku emut-emut dengan bibirku.&lt;br /&gt;“Aaaaaahhhhh… ooooohhhhhh, Buuuuddddhyyyyy…, aku sudah tidak tahan,  aaaaauuuuuhhhhhh!” Rintihannya semakin lama semakin keras. Aku sedikit  kuatir kalau ada tetangganya yang mendengar rintihan-rintihan nikmat  tersebut. Tetapi karena aku juga didera nafsu, sehingga akhirnya aku  tidak terlalu memperdulikannya. Hingga satu saat aku merasakan tubuhnya  mengejang, kemudian aku merasakan semburan cairan hangat di mulutku, aku  hisap sebisaku semuanya, aku telan dan aku nikmati dengan rakus, tetes  demi tetes. Kakinya yang tadinya menjuntai ke lantai, kini kedua pahanya  mengapit kepalaku dengan ketat, kedua tangannya menekan kepalaku supaya  lebih lekat lagi menempel di selangkangannya, membuatku sulit bernafas.  Tanganku yang sebelumnya bergerilya di kedua payudaranya kini  meremas-remas dan mengusap-usap pahanya yang ada di atas pundakku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Bud,  kamu hebat, bikin aku orgasme sampai kelojotan begini, belajar  darimana?” Tanyanya. Aku tidak menjawab, hanya tersenyum. Aku memang  banyak membaca tentang hubungan sexual, dari majalah, buku dan internet.  Sementara itu kemaluanku sudah sejak tadi menegang lagi karena  terangsang dengan rintihan-rintihan nikmatnya bu Netty. Akupun berdiri,  memposisikan kemaluanku didepan mulut vaginanya yang masih berkedut dan  tampak basah serta licin itu.&lt;br /&gt;“Aku masukin ya teh?” Tanyaku, tanpa menunggu jawaban darinya, aku melumat bibirnya yang merekah menanti kedatangan bibirku.&lt;br /&gt;“Oooohhhh…” rintihnya,&lt;br /&gt;“Aaaahhhh…” kubalas dengan rintihan yang sama nikmatnya, ketika  kemaluanku menembus masuk ke dalam vaginanya, hilanglah keperjakaanku.  Kenikmatan tiada tara aku rasakan, ketika batang kemaluanku masuk  seluruhnya, bergesekan dengan dinding vagina yang lembut, hingga ke  pangkalnya. Bu Netty merintih semakin kencang ketika bulu kemaluanku  yang tumbuh di batang kemaluanku menggesek bibir vagina dan clitorisnya,  matanya setengah terpejam mulutnya menganga, nafasnya mulai  tersenggal-senggal.&lt;br /&gt;“Ahh-ahh-ahh auuuu!” Kutarik lagi kemaluanku  perlahan, sampai kepalanya hampir keluar. Kumasukkan lagi perlahan,  sementara rintihannya selalu di tambah teriakan kecil, setiap kali  pangkal batang kemaluanku menghantam bibir vagina dan clitorisnya.  Gerakanku semakin lama semakin cepat, bibirku bergantian antara melumat  bibirnya, atau menghisap puting payudaranya kiri dan kanan.  Teriakan-teriakannya semakin menggila, kepalanya dia tolehkan kekiri dan  kekanan membuatku hanya bisa menghisap puting payudaranya saja, tidak  bisa lagi melumat bibirnya yang sexy.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara  itu pinggulnya dia angkat setiap kali aku menghunjamkan kemaluanku ke  dalam vaginanya yang kini sudah sangat basah, sampai akhirnya,  “Buuudddhhyyyyyy…. aku mau keluar lagiiiiii… oooohhhhhh… aaahhhhh”  teriakannya semakin kacau.&lt;br /&gt;Aku memperhatikan dengan puas, saat dia  mengejan seperti menahan sesuatu, vaginanya kembali banjir seperti saat  dia orgasme di mulutku. Aku memang sengaja mengontrol diriku untuk tidak  orgasme, hal ini aku pelajari dengan seksama, walaupun aku belum pernah  melakukan ML sebelum itu. Bu Netty sendiri heran dengan kemampuan  kontrol diriku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah dia melambung  dengan orgasme-orgasmenya yang susul- menyusul, aku cabut kemaluanku  yang masih perkasa dan keras. Aku memberinya waktu beberapa saat untuk  mengatur nafasnya. Kemudian aku memintanya menungging, dia dengan senang  hati melakukannya. Kembali kami tenggelam dalam permainan yang panas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekali  lagi aku membuatnya mendapatkan orgasme yang berkepanjangan seakan  tiada habisnya, aku sendiri karena sudah cukup lelah, kupercepat  gerakanku untuk mengejar ketinggalanku menuju puncak kenikmatan.  Akhirnya menyemburlah spermaku, yang sejak tadi aku tahan, saking  lemasnya dia dengan pasrah tengkurap diatas perutnya, aku menjatuhkan  diriku berbaring di sebelahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak  kejadian hari itu, aku sudah tidak lagi melakukan masturbasi, kami ML  setiap kali kami menginginkannya. Ketika aku tanya mengapa dia  memilihku, dia menjawab, karena aku mirip dengan pacar pertamanya, yang  membuatnya kehilangan mahkotanya, sewaktu masih SMA. Tapi bedanya,  katanya lagi, aku lebih tahan lama saat bercinta (bukan GR lho). Saat  kutanya, apa tidak takut hamil?, dengan santai dia menjawab, bahwa dia  sudah rutin disuntik setiap 3 bulan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tamat gan!!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1411556838748479078-3953120652252532025?l=janda-kesepian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/feeds/3953120652252532025/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cerita-bu-guru-netty-yang-montok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/3953120652252532025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/3953120652252532025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cerita-bu-guru-netty-yang-montok.html' title='Cerita Bu Guru Netty Yang Montok.'/><author><name>Tante Kesepian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14713038125543777221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/-FZxK7b8lVNc/ThmHlk6Uv2I/AAAAAAAAAAY/ioSmfPbY4Yw/s220/248197_1629217110192_1829537763_1083242_4655990_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1411556838748479078.post-4548298399925359427</id><published>2011-07-15T07:22:00.000-07:00</published><updated>2011-07-15T07:22:17.754-07:00</updated><title type='text'>Cerita Dewasa Pembantu Yang Lugu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;. &lt;a href="http://www.myinfo-net.com/category/kumpulan-cerita-dewasa-cerita-panas-dan-cerita-mesum" target="_blank"&gt;&lt;strong&gt;Cerita Dewasa&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt; dari seorang &lt;strong&gt;pembantu yang lugu&lt;/strong&gt;, diraba dan &lt;strong&gt;digerayangi kakak majikan&lt;/strong&gt;.  berikut cerita lengkapnya. Namanya Tinah, dari Banjarnegara. Suaminya  meninggal di Kalimantan tahun kemarin, hampir berbarengan dengan salah  satu anaknya juga. Kini satu – satunya anaknya tinggal dengan ibunya di  desa. Tinah berwajah cukup manis; lumayan tinggi untuk ukuran perempuan  kita; rambut sepundak lebih; hampir seumur adikku. Ia sebagian besar  bertugas mengasuh anaknya adikku yang masih di bawah &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD6"&gt;balita&lt;/span&gt;,  walau juga membantu satu temannya bersih – bersih rumah. Kondisi  psikologisnya yang seperti itu membuatnya sering terlihat diam dan  kurang dapat memahami apa yang diperintahkan adikku, kasihan memang.&lt;span id="more-1004"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku  termasuk cukup sering berkunjung ke rumah adik. Karena suaminya sering  ke luar kota, sehingga aku terkadang diminta untuk menemani atau bila  mereka sedang ke luar kota bersama maka aku yang menjaga rumah. Sikapku  terhadap Tinah dan temannya biasa &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD8"&gt;saja&lt;/span&gt;, tidak ada yang khusus. Mereka pun demikian. Tinah berpakaian biasa – biasa saja  bila di rumah adikku. Berkaos dan bercelana selutut, kadang memakai  rok. Terkadang kaos yang dipakai Tinah sedikit longgar. Sehingga jika ia  menundukkan badan, sedikit terlihat belahan dada bahkan gunung  kembarnya yang masih tertutup BH. Wajar jika aku kadang – kadang mataku  mencuri – curi kesempatan itu. Ukurannya biasa saja, 32 mungkin.&lt;br /&gt;Saat itu aku sedang diminta menjaga rumah adik, karena keluarganya akan  pergi hingga sore dan Tinah tinggal di rumah, karena kondisi perutnya  yang kurang baik. Menjelang keberangkatan keluarga adik, aku sudah  datang di &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD10"&gt;sana&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;“Mas..Tinah  di rumah, perutnya agak kurang beres. Mis yang tak bawa“, adikku memberi  tahu. “Oo..ya“, jawabku. Tak berapa lama mereka telah berangkat. Aku  bergegas memasukkan sepeda &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD1"&gt;motor&lt;/span&gt; ke dalam rumah. Tinah lalu mengunci pagar. Aku masuk rumah lalu cepat – cepat duduk di depan &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD9"&gt;komputer&lt;/span&gt;,  browsing, karena suami adikku memasang internet untuk mendukung  pekerjaannya. Mengecek email; cari info ini itu dan..tentunya get into  DS..he3x. 10menit kemudian Tinah menyajikan segelas es teh untukku.  “Makasih ya Tin“, ucapku. “Iya Pak..silakan diminum“, kata Tinah.  Pembantu – pembantu adikku memang dibiasakan memanggil “Pak“ pada  saudara – saudara majikannya, padahal terdengar sedikit asing di  telinga. Tinah lalu kembali ke dapur, aku lalu meminum es tehnya,  “Hah..segernya“, cuaca sedikit panas walau agak mendung.&lt;br /&gt;Tinah kembali memasuki ruang keluarga, merapikan mainan – mainan anak adikku. Posisi meja komputer dan mainan yang bertebaran di lantai selisih dua kotak. Semula aku belum ngeh akan hal itu. Semula mataku menatap layar komputer  di situs DS. Saat Tinah mulai memasukkan kembali mainan – mainan ke  keranjang, baru aku menyadarinya. Sesekali aku meliriknya. “Sedikit  putih ternyata anak ini. Bodynya biasa &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD11"&gt;aja&lt;/span&gt;  sih, langsing dan kayaknya masih padat. Wah..ini gara – gara masuk  situs DS jadi mikir macem – macem..hi3x“, pikiranku berkata – kata.  Karena jarak kami yang lumayan dekat, maka ketika Tinah bersimpuh di  lantai merapikan mainan di keranjang, otomatis kaosnya yang sedikit  longgar memperlihatkan sebentuk keindahan yang terbungkus penutup warna  biru. Tinah jelas tidak tahu kenakalan mataku yang sedang menatap  sebagian keindahan tubuhnya. “Andaikan aku…uhh..ngayal nih“. Tak terasa  penisku mulai membesar, “Ke kamar &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD12"&gt;mandi&lt;/span&gt; mbetulin posisi penis nih..sambil kencing“. Komputer kutinggal dengan layar bergambar &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD3"&gt;Maria Ozawa&lt;/span&gt; sedang disetubuhi di kamar mandi. Aku lalu masuk kamar mandi,  membuka jins dan cd lalu mengeluarkan penis. Agak susah juga kencing  dengan penis yang sedikit tegang. “Lah..pintu lupa tak tutup“, aku  terkejut. “Terlanjur..gak ada orang lain kok“, aku mendinginkan diri.&lt;br /&gt;Aku keluar dari kamar mandi dan kembali duduk di depan komputer,  melanjutkan ngubek – ubek DS. “Cari camilan di meja makan ah..jadi  lapar“. Aku mencari apa yang bisa dimakan untuk menemani kesibukan nge –  net. “Ada roti sama biskuit nih..asyik“. Roti kusemir mentega dan selai  kacang dan diatasnya kulapis dengan selai &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD2"&gt;blueberry&lt;/span&gt;,  “Hmm..enaknya. Nanti bikin lagi ah..masih banyak rotinya“. Rumah adikku  tipe agak kecil, jadi jarak antar ruangan agak dekat. Letak meja makan  dengan kamar pembantu hanya 3meter – an. Kulihat dengan ujung mata,  Tinah sedang di kamarnya entah beraktifitas apa. Selesai menyelesaikan  semiran roti, aku kembali ke ruang keluarga yang melewati kamar pembantu  dan kamar mandi mereka. 2detik aku dan Tinah bertatapan mata, tidak ada sesuatu, biasa saja. Kumakan roti sambil n – DS lagi.&lt;br /&gt;Terdengar gemercik air di belakang. Mungkin Tinah sedang mencuci perabotan dapur atau sedang mandi.  “Belum ambil air putih nih..“, tak ada maksud apa – apa dengan suara  air tersebut. Hanya kebetulan aku belum minum air putih, walau telah ada  es teh. Aku ke ruang makan lagi dan mengambil gelas lalu menuju  dispenser. Mata dan pikiran hanya tertuju pada air yang mengucur dari  dispenser. Baru setelah melewati kamar mandi pembantu ada yang special di sana. ”Lah..pintunya kok sedikit mbuka. Tin lupa dan sedang apa di dalam..moga gak mandi. Bisa dilaporin ngintip aku”. Masih tak terlihat kegiatannya, setelah &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD5"&gt;tangan&lt;/span&gt; yang sedang menggapai gayung dan kaki yang diguyurnya baru aku ngeh..Tinah sedang mandi.  ”Duhh..kesempatan sangat – sangat langka ini..tapi..kalo dia teriak dan  nanti lapor adikku..bisa gawat bin masalah. Berlagak gak liat aja ahh”. Aku menutup pintu kaca ruang makan dan melewati kamar mandi Tinah. Tiba – tiba ”Ahh..ada kecoak..Hush..hush..Aduhh..gimana nih”, terdengar keributan di sana. ”He3x..ternyata dia takut kecoak toh”, aku tersenyum sambil pegang gelas saat melewati kamar mandi.&lt;br /&gt;”Pak..Pak”, Tinah memanggilku. ”Walah..malah panggil aku. Gimana nih”.  ”Tolong ambilkan semprotan serangga di gudang ya Pak..cepet ya  Pak..atau..”, tidak terdengar lanjutan kalimatnya. Sejak Tinah bersuara,  aku sudah berhenti dan diam di dekat pintu kamar mandi. ”Atau..Bapak  yang masuk pukul kecoaknya..mumpung masih ada”, lanjutnya.  Deg..”Ini..antara khayalan yang jadi nyata dan ketakutan kalo  dilaporkan”, aku berpikir. ”Cepet Pak..kecoaknya di dekat kloset. Bapak  masuk aja..nggak pa – pa. Nggak saya laporin ke Bapak sama Ibu”, Tinah  tahu keraguanku. ”Jangan ah..nanti kalo ada yang tau atau kamu laporin  bisa rame”, jawabku. ”Nggak Pak..bener. Aduh..cepet Pak..dia mau pindah  lagi”, Tinah kembali meyakinkanku dan meminta aku cepat masuk karena  kelihatannya si kecoak mau lari lagi. ”Ya udah kalo gitu. Bentar..ambil &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD4"&gt;sandal&lt;/span&gt; dulu”. Sambil tetap menimbang, take it or &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD7"&gt;leave it&lt;/span&gt;. Aku menaruh gelas di meja makan lalu mengambil sandal  untuk membunuh kecoak nakal itu. Entah rejeki atau kesialan bagiku  tentang kemunculannya. ”Aku masuk ya Tin”, masih ragu diriku. ”Masuk aja Pak”, Tinah tetap membujukku. Kubuka pintu kamar mandi  sedikit, lalu kuintip letak kecoaknya, belum terlihat. Pintu dibuka  lebih lagi oleh Tinah. Kepalanya sedikit terlihat dari balik pintu dan  tangannya menunjuk letak kecoak, ”..tuh Pak mau lari lagi”. Aku  melihatnya dan mulai masuk. Tinah berdiri di balik pintu dengan menutupi  sedikit bagian tubuhnya dengan handuk. Terlihat paha; pundak dan daging  susunya. Serta rambut yang diikat di belakang kepalanya, walau hanya  sedikit semua. Handuknya menutupi bagian paha ke atas, perut hingga  bagian dada, warna biru, yang disangga tangan kirinya. Semua hal itu  dari ekor mataku, karena fokusku pada sang kecoak. ”Memang mulus dan  cukup putih”, masih sempat aku memikirkannya. Bagaimana tidak, jarak  kami hanya 2 – 3 langkah, tidak ada orang lain lagi di rumah.&lt;br /&gt;”Plak..plak”, kecoak pun mati dengan sukses. Aku guyur dengan air agar  masuk ke lubang pembuangan. Tanpa memikirkan lebih lanjut, aku lalu  melangkah ke luar kamar mandi. ”Terima kasih ya Pak..sudah nolongin”. ”Oh..iya..”, sambil kutatap dia dan Tinah tersenyum. ”Bapak nggak cuci tangan sekalian..di sini saja”, tawar Tinah. ”Wah..ini. Makin bikin dag dig dug”. ”Emm..iya deh”. Aku akan mencuci tangan  dengan sabun, yang ternyata posisi tempat sabun ada di belakang tubuh  Tinah. Aku menengok ke belakang tubuhnya. Rupanya dia baru sadar, lalu  mengambilkan sabun, ”Maaf Pak..ini sabunnya”. Tinah mengulurkan sabun  dengan tersenyum. Sabun yang sedikit basah berpindah dan tangan kami mau tidak mau bersentuhan. ”Makasih ya”, ujarku. Aku mencuci tangan dan mengembalikan sabun padanya. ”Bapak nggak..sekalian mandi”, tanya Tinah. ”Waduh..tawaran apa lagi ini. Tambah gawat”. ”Iya..nanti di rumah”. ”Nggak di sini saja Pak?”. ”Kalo di sini yaa di kamar mandi depan”. ”Di kamar mandi ini saja Pak..”. ”Nggaklah..jangan. Di depan aja. Kalo di sini ya habis kamu mandi”.  ”Maksud saya..sekalian sekarang sama saya. Hitung – hitung Bapak sudah  nolongin saya”. Matanya memohon. Deenngg, sebuah lonceng menggema di  kepala. ”Ini ajakan yang membahayakan, juga menyenangkan”, pikirku.  ”Bapak nggak usah mikir. Saya nggak akan bilang siapa – siapa. Ya  Pak..di sini saja”, dia memahami kekhawatiranku. ”Emm..ya udah kalo kamu yang minta gitu”, jawabku.&lt;br /&gt;Entah mengapa aku merasa canggung saat akan membuka kaosku. Padahal  tidak ada orang lain dan juga sesekali ke pijat plus. Aku buka jam  tanganku dulu, lalu aku keluar dari kamar mandi dan kuletakkan di meja  makan. Posisi Tinah masih tetap di belakang pintu, dengan tangan kanan  menahan pintu agar tetap agak terbuka. Kembali ke kamar mandi, kubuka  kaosku dan kusampirkan di cantolan yang menempel di tembok. ”Pintunya  nggak ditutup aja Tin ?”, tanyaku. Pertanyaanku sesungguhnya tidak  memerlukan jawaban, hanya basa basi. “Nggak usah Pak..kan nggak ada  siapa – siapa”, jawab Tinah. Lalu kubuka jinsku, kusampirkan pula.  Sesaat aku masih ragu melepas kain terakhir penutup tubuhk, cd – ku.  “Bapak nggak nglepas celana dalem ?”, tanyanya. “Heh..ya iya”, kujawab  dengan nyengir. Penisku sebisa mungkin kutahan tidak mengembang, tapi  hanya bisa kutahan mengembang ¼ – nya. Sengaja kutatap matanya saat  melepas cd – ku. Mata Tinah sedikit membesar. Kusampirkan juga cd – ku.  Lalu dengan tenang Tinah menyampirkan handuk biru yang sedari tadi  menutup sebagian tubuhnya. “Duh..pantatnya masih ok. Pinggangnya tidak  berlemak. Sabar ya nak..kita liat situasi dulu”, kataku pada sang penis  sambil kuelus.&lt;br /&gt;Tinah lalu membalikkan badan. Cegluk, suara ludah  yang kutelan. “Uhh..susu yang masih bagus juga. Pentilnya nggak terlalu  besar, areolanya juga, warnanya pas..nggak item banget. Perutnya sedikit  rata dan..hmm..rambut bawahnya hanya sedikit”. Mau tidak mau, penisku  makin mengembang dan itu jelas dilihat Tinah. Kembali sebisa mungkin  kutahan perkembangannya. Tinah lalu menggosok gigi dahulu. Karena aku  tidak membawa sikat gigi, hanya berkumur dengan obat kumur. “Bapak saya  mandiin dulu ya”, kata Tinah. “Terserah kamu”, jawabku sambil tersenyum.  Tinah lalu mengambil segayung air, diguyurkan ke badan dari leher dan  pundak. Mengambil lagi segayung, diguyurkan ke perut dan punggung  ditambah senyum manisnya. Ia lalu meraih sabun, digosokkan ke leher;  pundak; dada dan tangan kananku. Dibasahinya sabun dengan diguyur air  lalu digosokkan ke tangan kiri; perut; penis; bola – bolaku.  “Uhh..gimana bisa nahan penis nggak ngembang”. Bagaimana tidak, saat  menggosok penis dan bola – bolaku sengaja digosok dan di urutnya.  Ditatapnya senjata kebanggaanku, lalu menatapku dan tersenyum. Aku hanya  bisa membalasnya dengan senyum juga. Diambilnya lagi segayung air,  sabun dibasahi dan sisanya diguyurkan ke paha dan kaki lalu digosoknya.  Sabun kemudian diletakkan di pinggir bak mandi, kemudian mengambil  segayung air dan diguyurkan ke badan depanku. Ambil segayung lagi dan  diguyurkan lagi, tak lupa senjataku dibersihkan dari sisa – sisa sabun.  Sedikit diremas oleh Tinah. Kutahan keinginanku untuk membalas  perlakuannya, “biar Tinah yang pegang kendali”.&lt;br /&gt;“Balik badan Pak”,  perintahnya. Air diguyurkan ke punggung dan bagian bawah badanku.  Digosoknya punggung; pantat; lalu paha dan kaki sisi belakang. Bonusnya,  kembali menggosok penis dan bola – bolaku dan meremasnya. “Duh..ni  anak. Bikin senewen..sengaja membuat panas aku“. Kembali air mengguyur  tubuh belakangku, sebanyak 3x. Dibalikkan badanku lalu mengguyur  senjataku, digosok – gosoknya hingga sedikit memerah. Jantungku makin  berdebar. “Sudah selesai Pak“, kata Tinah. “Makasih ya Tin“. “Emm..kamu  mau tak mandiin juga ?“, kepalang basah, kutawarkan permintaan seperti  dia tadi. “Nngg..nggak usah Pak..ngrepoti Bapak“. “Ya nggaklah..jadi  imbang kan“. Langsung kuambil segayung air lalu kuguyur ke tubuh  depannya. Ia hanya menatapku. Kuambil lagi segayung. Lalu sabun yang  tadi tergeletak di pinggir bak mandi kuambil dan aku basahi. Kugosok  leher; pundak; dan kedua tangannya. Kubasahi sabun lagi dan kugosokkan  ke dada; kedua susu dan pentilnya; serta perut. Kutatap matanya saat  kugosok kedua gunungnya yang kumainkan sedikit pentil – pentilnya. Tinah  juga menatapku. Matanya mulai sedikit sayu. 1menit – an kumainkan  pentil –pentilnya, lalu sedikit kuremas susu kirinya. Bibirnya sedikit  membuat huruf o kecil dan “ohh..hhmm“. Kubasahi lagi sabun, dan  kugosokkan ke pinggang; paha dan kedua kakinya. Vagina luar hanya  kusentuh sedikit dengan sabun, takut perih dan iritasi nanti. Itupun  sudah cukup membuat matanya makin meredup. Air segayung lalu kuguyurkan  ke tubuhnya 2 – 3x. Kugosok dan kuremas sedikit keras dua gunungnya.  Sedikit berguncang. Dua tangan Tinah memegang pinggir bak mandi, mulai  erat. Kumainkan lagi pentil – pentilnya.&lt;br /&gt;Aku merundukkan badan dan  kukecup pucuk – pucuk bunganya bergantian. Tak perlu lagi ijin darinya.  Tangan kiriku mengusap – usap lembut luar vaginanya. “Ouuh Paakk..“,  Tinah mulai mendesah. Kukecup bibirnya lembut, “nanti dilanjut lagi“.  Matanya seakan bernada protes, tapi Tinah diam saja. Kubalikkan  tubuhnya, lalu kuguyur punggungnya sekarang. Sabun kugosokkan ke  punggung; pinggang; pantat. Sabun kubasahi lagi lalu kugosokkan ke paha  dan kaki bagian belakang. Aku menyusuri tubuh depannya lagi dari  pinggang belakangnya. Tinah sedikit menggeliat geli. Kutangkupkan dua  tanganku di dua susunya. Aku senang bermain – main di susu yang bagus  atau masih ok. Seluruh belakang lehernya aku cium dan kecup, begitu juga  dua kupingnya dan kubisikkan ”kamu diam saja ya..cup”. ”Geli Paakk..”,  Tinah mendesah lagi. Dua pucuk bunganya makin mengencang dan keras. Aku  menyentil – nyentil, kuputar – putar seperti mencari gelombang radio.  Dua tangan Tinah mencengkeram paha depanku. ”Aahh..hmmppff”, erangnya.  Tangan kananku mengambil segayung air, kuguyur ke tubuh depannya. Kali  ini kuusap – usap vagina luarnya dengan tangan kanan, sedang yang kiri  tetap di susu kanan Tinah.&lt;br /&gt;Pahaku makin dicengkeramnya. Kepalanya  menggeleng ke kiri dan kanan seiring kecupan dan ciumanku di belakang  leher dan daun – daun telinganya. Sesekali aku menyentuh bibir dalamnya.  Terasa telah menghangat dan sedikit basah. ”Ppaakkk..oohhh”. Tubuhnya  mulai menggeliat – geliat. Jari tengah kanan kumasukkan sedikit dan  kusentuhkan pada dinding atas vaginanya, sedang jempol kananku kutekan –  tekankan di lubang kencingnya. ”Aauugghhh Ppaakkk..eemmmppfff”. Kuku –  kuku jemari Tinah terasa menggores dua paha depanku. ”Kenapa  Tinah..hmm..kamu sendiri yang memulai kan”, bisikku. Tangan kiriku  meraih kepalanya dan kupalingkan ke kanan, dan kutahan lalu kucium  dengan nada 2 kecup 1 masukkan lidah. Tinah terkejut, matanya sedikit  membesar tapi kemudian ia menikmatinya. Ganti tangan kananku melakukan  hal yang sama. Tinah hanya bisa mengeluarkan suara yang tertahan  ”nngg..emmppfftt..nnngggg”, begitu berulang. Vagina dalamnya makin  hangat dan basah. Secara tiba – tiba kuhentikan lalu kubalikkan badannya  menghadapku. Kemudian aku sandarkan tubuhnya di bak mandi. Aku kemudian  berjongkok dan mulai mengecupi vaginanya. ”Jjanggann Ppakk..jorok..”,  dengan dua tangannya menahan laju kepalaku. Kutatap matanya dan  ”sssttt..”, jari telunjuk kanan kuletakkan di bibirnya. Dua tangannya  kusandingkan di samping kiri dan kanan tubuhnya.&lt;br /&gt;Kukecup kecil,  sekali dua kali. Kemudian lidahku mulai menjulur di pintu kenikmatan  kami. Mataku kuarahkan menatapnya. Tinah agak malu rupanya, tetapi ada  sedikit senyum di sana. Lidahku makin intens menyerang vagina luar dan  dalamnya. ”Ssuuddaahh Pppaakk..aaaddduuuhh..oohhhh”, disertai geliat  tubuh yang makin menjadi. Karena tak tahan dengan seranganku, dua  tangannya meremas dan sedikit menarik rambut dan kepalalu. Cairan  lavanya makin keluar. Dua tanganku mendekap erat buah pantatnya. Jari  tengah kiriku sesekali kumasukkan ke vagina dari belakang lalu  kesentuhkan dan kutekan sedikit ke anusnya. ”Aammppuuunnn  Pppaakkk..oouuuggghh..eeemmmpppfffs&lt;br /&gt;ssuudddaahhh..ooohhhh”, matanya  agak membeliak ke atas dan kepala serta rambutku diremasnya kuat. Lava  kepuasan dirinya mengalir deras, rasanya gurih sedikit manis. Kudekap  erat Tinah dengan kepalaku di vaginanya dan pantatnya kuremas – remas.  Kepalaku tetap diusap –usap oleh Tinah.&lt;br /&gt;Ia menarik kepalaku dan  menciumnya ganas. Lambat laun Tinah dapat belajar dariku. Tangan  kanannya meremas dan menarik – narik penisku. ”Panjang ya Pak”, tanya  Tinah. ”Biasa kok Tin..pingin ya..”, godaku. ”Aahh Bapak..”, jawabnya  dengan memainkan bola – bolaku. Tinah merundukkan tubuhnya lalu tangan  kirinya memegang penis dan menciumnya. Mungkin ia belum pernah meng –  oral suaminya dulu sebab penisku hanya dicium – cium dan diremas –  remas. ”Kamu mau ngemut burungku Tin..kayak ngemut permen lolly ? Tapi  kalo belum pernah ya nggak usah..nggak pa – pa”. Tinah menatapku dan  kubelai rambutnya. Dengan wajah ragu didekatkannya penisku di bibirnya.  Tinah mulai membuka mulut, sedikit demi sedikit penisku memasuki  mulutnya. Tinah menatapku lagi, meminta penjelasan langkah selanjutnya.  ”Sekarang..kamu maju mundurkan dengan dipegang tanganmu.  Yaa..gitu..oohh..hhmm”. Rupanya muridku cepat mengerti penjelasan  gurunya. Rambut dan kepalanya kubelai dan kuremas – remas.  ”Lalu..lidahmu kamu puter – puter di kepala penis atau di lubang kencing  yang bergaris panjang ituuu..yyyahhhh..sssuuudddaahh pppiiinnnttteeerrr  kkkaaammuu Tttiinnnn”.&lt;br /&gt;Kuangkat kepalanya dari penisku dan kami  berciuman dengan panas. Saling meremas susu; pantat dan kelamin masing –  masing. Lalu kubalikkan lagi tubuhnya menghadap bak mandi. Dua  tangannya kuletakkan di pinggir bak mandi. Kembali aku bermain – main di  gunung Tinah. Penisku yang telah panas dan mengacung sekali kudekatkan  ke vaginanya. Kukecup – kecup pundak dan leher belakangnya. Ikat  rambutnya aku lepas sehingga dirinya terlihat makin seksi kala  menggeliat – geliat dan rambutnya tergerai ke sana kemari. Aku geser –  geserkan penis di pintu surgawinya, sengaja aku mempermainkan rangsangan  pada Tinah. ”Oohh..Ppaakk..mmaassuukkkiinn..Pppaakkk”, pintanya. ”Kamu  mau burungku kumasukkin..hmm.. ?”. ”Iyyyaa..Pppaakkk..aaayyyoo  Pppaakk..”, rintihnya makin kencang. Kumasukkan penis pelan – pelan.  ”Eemmppff..”, erangnya. Lalu kuhentakkan pelan hingga penisku terasa  menyentuh dinding belakang. ”Ooouuggghh..Pppaakkkk..mentok Pppaakk”. Aku  menggerakkan tubuh pelan – pelan, kunikmati jepitan dinding –  dindingnya yang masih kuat. Dua tanganku tak henti bermain di dadanya.  Kumainkan irama di vaginanya dengan hitungan 1 – 2 pelan 3 kuhentakkan  dalam – dalam. Lalu tangan kananku meraih kepalanya seperti tadi dan  kucium panas bibirnya. Dinding vagina Tinah makin hangat dan banjir  sepertinya. Dua tangannya mencengkeram erat pinggir bak mandi.&lt;br /&gt;Sekarang tanpa hitungan, kumasuk keluarkan penis cepat dan kuat. ”Oohh..&lt;br /&gt;oohh…hhmmppffftt..”, erang Tinah berulang. Sedang aku sedikit menggeram  dan ”oouugghhh..hhmmppff..mpekmu enaknya Tttiinn..”. ”Bbuurrruunnggg  Bbbaapppakk jjjuugggaaa”. Jarak pinggangku dan pantat Tinah makin rapat.  Tangan kanan kuusap – usapkan di vaginanya. Dalam kamar mandi hanya ada  suara tetes air satu – satu serta desah, bunyi beradunya paha dan  pantat dan erangan kami. ”Pppaaakkk..sssaaayyyaa mmaaauu..ooohhh..”.  ”Tttuunnggguu Tttiiinnn..aaakkkuuu jjjuuggggaa..Di dalam apa di  llluuaarrr”, tanyaku. ”Dddaa&lt;br /&gt;lllammm aajjjaaa  Pppaakkkk..oobbaattnyaa mmassihh aaddaa..”, jawab Tinah. Mendengar itu  serangan makin kufokuskan. Segala yang ada di tubuhnya aku remas. Dua  tangan Tinah tak tahan di pinggir bak mandi dan mencengkeram paha serta  pantatku. Bibirku dicarinya lalu ”hhhmmmpppfffttt..”. Pantatku diremas  kuat – kuat. Bibirnya dilepas dariku dan ”ooouuggghhh..”, desah Tinah  panjang. Lava yang hangat terasa mengaliri penisku yang masih bekerja.  Kepalanya tertunduk menghadap air di bak mandi. Kudekap erat tubuh  depannya. Kukecup dan kugigit leher belakangnya. Lalu tangan kiriku  meraih kepalanya dan kucium dalam – dalam. Dengan satu hentakan dalam  kumuntahkan magma berkali – kali. ”Ooouugghhh Tttiinnaahhh..hhhmmm..”.  kepalaku tertunduk di pundaknya dengan tangan kiri di susu sedang yang  kanan di vaginanya.&lt;br /&gt;Lama kami berposisi seperti itu. ”Makasih ya  Tin..kamu baik sekali. Enak banget tubuhmu”, kataku dengan membalikkan  badannya dan kucium mesra bibirnya. Penis kumasukkan lagi, masih ingin  berlama – lama di hangatnya vagina Tinah. ”Saya yang terima kasih Pak.  Sudah lama saya pingin tapi sama orang nggak kenal kan nggak mungkin  Pak. Burung Bapak pas di mpek saya”, Tinah menjawab dan mencium bibirku  pula. ”Mpekmu masih kuat nyengkeramnya..dan panas”. Kubelai – belai  kepalanya, ”kok bisa kamu pingin ngajak main sama aku ? Malah aku yang  takut kamu laporin”. Sambil mengusap – usap punggungku, ”Tadi waktu saya  bersihin mainan adik, saya liat gambar di komputer. Terus waktu Bapak  kencing tadi kan lupa nutup pintu..keliatan burung Bapak yang agak gede  pas keluar dari celana”. ”Oo gitu..nakal ya kamu. Bener kamu masih  nyimpen obatnya ?”, sambil kucubit pipinya. ”Masih kok Pak..sisa yang  dulu”, jawab Tinah. Makin lama terasa penisku yang mengecil. Kucium  dalam – dalam lagi bibirnya, ”sekarang..mandi yang beneran”. ”Heeh..iya  Pak”, Tinah menjawab sambil tersenyum manis. Ia lalu memelukku erat. Aku  membalasnya dengan memeluk erat dan mengusap – usap punggung serta  kepalanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1411556838748479078-4548298399925359427?l=janda-kesepian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/feeds/4548298399925359427/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cerita-dewasa-pembantu-yang-lugu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/4548298399925359427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/4548298399925359427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cerita-dewasa-pembantu-yang-lugu.html' title='Cerita Dewasa Pembantu Yang Lugu'/><author><name>Tante Kesepian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14713038125543777221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/-FZxK7b8lVNc/ThmHlk6Uv2I/AAAAAAAAAAY/ioSmfPbY4Yw/s220/248197_1629217110192_1829537763_1083242_4655990_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1411556838748479078.post-66526993840136946</id><published>2011-07-15T07:20:00.001-07:00</published><updated>2011-07-15T07:20:42.180-07:00</updated><title type='text'>Cerita Berawal Dari Tante Rissa.</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; Kenapa judul &lt;strong&gt;cerita&lt;/strong&gt; kali ini adalah “berawal dari tante rissa? ya dari sini lah awal &lt;strong&gt;cerita ku mengenal banyak tante girang&lt;/strong&gt;, &lt;strong&gt;tante rissa &lt;/strong&gt;yang akhirnya memberi jalan hingga aku banyak memiliki &lt;strong&gt;koleksi tante girang&lt;/strong&gt;. berikut &lt;a href="http://www.myinfo-net.com/category/kumpulan-cerita-dewasa-cerita-panas-dan-cerita-mesum" target="_blank"&gt;&lt;strong&gt;cerita dewasa&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt; selengkapnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelumnya  perkenalkan namaku Rio. Sampai saat ini aku masih bekerja di salah satu  perusahaan IT di Jakarta. Aku juga punya minat yang cukup tinggi dalam  urusan seks. Pengalaman seks aku yang pertama kualami dengan salah satu  teman &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD1"&gt;chat&lt;/span&gt;-ku. Sejak saat itu,  aku mulai ketagihan. Biasanya aku berhubungan seks dengan wanita-wanita  yang kurang lebih sebaya denganku. Kali ini aku akan cerita pengalaman  seks pertamaku dengan wanita yang beda umurnya cukup jauh denganku.  Awalnya dari chatting. Suatu kali entah kenapa aku bosan dengan nick  yang biasa aku pakai. Aku pun mencoba sebuah nick menarik perhatian.  Nick yang menyiratkan fisik tubuhku, tapi tidak vulgar. Dari sekian  banyak nick yang query aku, aku tertarik pada sebuah nick yang cukup  menggoda Jnd_37_Jkt.&lt;span id="more-1001"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku  pikir pemilik nick ini pasti seorang janda berumur 37 tahun yang  tinggal di Jakarta. Aku membalas querynya. ‘hi juga, asl pls..’ balasku.  ‘kan di nick udah’ ‘oh iya, tapi Jnd apa tuh?’ tanyaku pura-pura bego.  ‘Jendral ha3x. gak &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD7"&gt;ding&lt;/span&gt;, janda  kok’ aku tersenyum melihat kelakarnya. ‘ooo.. ic’ jawabku. ‘asl u dong’  tanya nick itu. ‘aku lebih muda gpp nih?’ aku bertanya balik. ‘gpp,  justru yg muda lebih asik ’ aku tertawa dalam hati. ‘ok, 24 m jkt’  jawabku. ‘hihihi.. 24 sih lagi seger2nya tuh ’ hmm.. mulai menggoda nih.  Kami pun terlibat obrolan yang mengasyikkan. Sekitar setengah jam aku chat  dengannya hingga akhirnya kami bertukar nomer telepon. Aku baru saja  tiba di rumah ketika tiba-tiba ponselku berbunyi. Hmm.. nomer siapa ini.  Aku langsung mengangkat. “Halo..” sapaku. “Rio ya? Udah pulang?” tanya  suara di ujung sana yang ternyata suara seorang wanita. “Iya, siapa ya?”  tanyaku penasaran. “Hai…” wanita itu menyebut nick yang kugunakan tadi  siang. “Tante Rissa ya?”aku mencoba menebak. Terdengar tawa di ujung sana. Betul, Tante  Rissa yang tadi siang menggunakan nick Jnd_37_Jkt. Kami pun langsung  menyambung obrolan tadi siang. Dari obrolan kami yang akrab aku tahu  bahwa Tante Rissa sebetulnya masih menikah. Tante Rissa jarang sekali  bisa merasakan kehangatan suaminya karena kesibukan keduanya yang  bertolak belakang. Akibatnya wanita itu sering melepas kesepian dengan  gigolo-gigolo simpanannya. Malam itu kami saling bertukar cerita, dan  ujung-ujungnya kami pun janjian ketemu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tante Rissa mengajakku ketemu di &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD8"&gt;Blok&lt;/span&gt; M &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD11"&gt;Plaza&lt;/span&gt;. Semula aku menolak karena di Blok M cukup ramai, apalagi hari Sabtu. Tapi Tante  Rissa beralasan bahwa di situ tempat yang paling aman karena  kerabat-kerabatnya jarang sekali ke daerah tersebut. Akhirnya aku ok  saja. Kami pun janjian bertemu Sabtu depan. Hampir setengah jam aku  menunggu di Pizza Hut sambil mataku mencari-cari wanita berkulit putih  dan berambut coklat sepunggung dengan tinggi sekitar 170 cm dan berat 58  kg yang mengenakan kemeja putih tanpa lengan dan celana &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD10"&gt;jeans&lt;/span&gt;  ketat sebetis. Spaghettiku sudah tinggal separuhnya dan mulai dingin.  Aku baru saja akan menyuapnya lagi ketika tiba-tiba salah seorang  pelayan Pizza Hut menghampiriku dan memberikan secarik kertas. Dia  menggeleng ketika aku tanya dari siapa kertas tersebut. Penuh penasaran  aku membukanya. ‘CARI SIAPHAAA…? I’M &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD5"&gt;BEHIND&lt;/span&gt; &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD4"&gt;YOU MY&lt;/span&gt;  BOY’ aku terkejut dan langsung menoleh ke belakangku. Kira-kira 2 meja  di belakangku, aku melihat satu meja yang ditempati 2 orang wanita.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu dari wanita itu melambai ke arahku sambil tersenyum. Aku memperhatikannya dengan cermat. Wanita itu &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD6"&gt;persis&lt;/span&gt; sekali dengan ciri yang disebutkan Tante  Rissa saat di telepon beberapa hari lalu. Itu pasti dia!! Tapi yang  satu lagi siapa ya? Tanpa pikir panjang aku menghampiri meja tersebut,  dan wanita yang melambaikan tangan padaku langsung berdiri menyambutku.  “Halo sayang..” sambut wanita yang ternyata memang Tante Rissa itu seraya mencium kedua pipiku. Aku membalasnya dengan mesra. “Tante iseng banget sih.. udah nunggu dari tadi juga, untung nggak pulang.” aku pura-pura merajuk. Tante  Rissa tersenyum sambil mengacak-acak rambutku. “Eeh.. nggak takut rugi  kalo pulang nih? Ada yang mau kenalan sama kamu tuh..” cetusnya sambil  melirik ke wanita yang ada di sebelahnya. Kami pun berkenalan. Tante Emma, wanita yang dimaksud ternyata adalah tetangga Tante  Rissa. Dari obrolan kami, aku tahu kalau mereka bernasib sama dalam  urusan rumah tangga, dan seringkali hunting bareng mencari gigolo-gigolo  yang siap memuaskan nafsu mereka. “Gila, Tante pikir nick kamu itu cuma boongan doang..” &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD9"&gt;cetus&lt;/span&gt; Tante Rissa sedikit kagum pada tubuhku. Sebetulnya tubuhku tidak atletis seperti tubuh-tubuh idaman wanita.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mungkin  dengan tinggi badanku yang 182 cm dan berat sekitar 78 kg aku jadi  terlihat tinggi besar. “Iya nih Yo, gara-gara cerita kamu waktu di  telepon, Emma jadi kepengen ketemu juga sama kamu.” kata Tante Rissa. Aku mengernyitkan kening. “Cerita? Wah, Tante pake cerita-cerita segala sih sama Tante  Emma. Kan jadi…” “Siapa yang cerita, lha wong kamu sendiri yang cerita  sama kita..hihihi.” aku semakin tidak mengerti dan menatap Tante Rissa penuh tanya. Wanita itu tersenyum. “Gini lho sayang, waktu kamu telepon kemaren itu Emma juga ada di rumah Tante, jadi kita berdua asyik deh denger cerita kamu yang hot itu hahaha..” aku langsung mencubit pinggang Tante Rissa gemas. Ternyata sejak awal mereka sudah berniat ngerjain aku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya kami bertiga langsung cabut ke rumah Tante Rissa yang sedang sepi. Sampai di rumah Tante Rissa kami bertiga langsung menuju ke kamar tidur. Aku baru saja ingin menghempaskan tubuhku di ranjang ketika Tante  Emma memeluk tubuhku dari belakang dan menciumi leherku. “Enak aja kamu  dateng-dateng mau istirahat.. pemanasan dulu ah hihihi..” celetuk Tante  Emma. Dari belakang tubuhku, jemari lentik wanita itu masuk dari sisi  kiri-kananku dan langsung melepas kancing kemejaku satu demi satu.  Sementara Tante Rissa dari depan merangkul leherku dan mengecup bibirku. “Mmhhh.. ayo Yo, kita pengen coba permainan kamu… hhmmmmmhhh…” Tante Rissa melumat bibirku dengan bibir tipisnya yang tersapu lipstik &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD12"&gt;warne&lt;/span&gt; merah muda. Ahh.. lembut sekali bibirnya. Aku mencoba mengimbanginya, lidahku menjelajahi mulut Tante Rissa. Sementara Tante Emma baru saja berhasil melepaskan kemeja yang membalut tubuhku. Tante Rissa langsung menghentikan ciumannya dan lidahnya mulai menjelajah leher, dada dan perutku. Di belakang Tante Emma memandikan punggungku dengan lidah dan air liurnya. Gairahku mulai naik. Tante  Rissa semakin turun ke bawah dan bibirnya sampai ke batas celanaku.  Dengan cekatan jemarinya yang lentik mencopot kancing celana jeansku dan  melorotkannya ke bawah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian  dengan liar lidahnya membasahi celana dalam yang membungkus batang  penisku. lidahnya membasahi celana dalam yang membungkus batang penisku.  Aku tidak menyadari sejak kapan Tante Emma melepas kaus ketatnya,  tiba-tiba saja aku merasakan ada dua gumpalan lembut yang hangat  menempel di punggungku. Aku menoleh ke belakang dan mendapati Tante Emma  sedang menggesek-gesekkan payudaranya yang bulat dan montok di  punggungku. Kedua bibir sexynya yang berlapis lipstik merah &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD2"&gt;bata&lt;/span&gt;  terbuka seakang mengundang bibirku untuk melumatnya. “Mmhh… sslllppp…  mmmm….” tanpa pikir panjang aku langsung melumat bibir sexy itu. Kedua  tangan Tante Emma yang lembut menjelajahi dadaku yang telah basah oleh air liur Tante Rissa. Di bawah sana Tante Rissa telah berhasil melucuti celana dalamku, hingga batang penisku yang berukuran biasa saja itu terlihat jelas menantang. Tante  Rissa menggenggam batangnya dengan tangan kirinya, sementara kepala  penisku diusap-usap dengan jemari tangan kanannya yang lembut sambil  sesekali dijilati. Ssshh.. nikmat sekali. Tante Emma mengajakku berbaring di ranjang agar kami bisa leluasa bercumbu. Aku dan Tante  Emma pun berbaring di ranjang dengan setengah kakiku masih menjulur ke  lantai. Sambil berciuman, kedua tanganku aktif meremas-remas payudara Tante Emma yang montok.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tante  Emma memelukku erat-erat. Bibir kami tak henti-hentinya saling melumat.  Tante Rissa semakin asyik dengan batang penisku yang mulai mengeras.  Dijelajahinya setiap centi penisku dengan lidah dan bibirnya. Ughh..  sampai akhirnya penisku amblas di mulutnya yang hangat dan basah. Kepala  Tante Rissa naik-turun seiring kenikmatan yang diberikannya lewat  mulut. Sementara kedua tangannya menjelajahi pinggangku. Bosan dengan  bibir Tante Emma, lidahku mulai menjalar ke leher dan telinga. Aku  mengulum telinga wanita itu yang putih bersih. Tante Emma sampai meremas  rambutku karena keasyikkan. Aku terus menjelajahi tubuhnya dengan  lidahku, sampai akhirnya aku mulai melumat kedua payudara dan putingnya.  “Ssshh..oohhh…Riooo..terussss Yoo…” tubuh Tante Emma mulai  menggelinjang menahan kenikmatan yang kuberikan. Aku tidak peduli.  Lidahku semakin liar menjilati dan mengulum putting susunya yang  runcing. Kadang aku menggigitnya dengan gemas. Tante Emma memeluk  kepalaku rapat ke payudaranya. Huuff.. hampir sesak nafas aku dibuatnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tanpa  aku sadari, Tante Rissa sudah melucuti pakaiannya sendiri hingga  telanjang bulat. Wanita itu kelihatan gemas sekali dengan penisku.  Padahal ukurannya biasa saja. Dibanding gigolo-gigolo simpanannya pasti  penisku tidak ada apa-apanya. Tapi Tante Rissa bernafsu sekali menjilat,  mengulum dan mengisap penisku. Hingga akhirnya wanita itu mulai tidak  tahan dan tiba-tiba sudah berdiri mengangkangi tubuhku. Tante Rissa  berdiri dengan lututnya dan mulai merendahkan badannya. Sebelah  tangannya menggenggam batang penisku yang memang sudah keras dan basah  oleh air liurnya. Tante Emma yang mengetahui hal itu langsung mengambil  alih, tangannya menggenggam batang penisku yang semula digenggam Tante  Rissa. Sementara kini kedua tangan Tante Rissa yang lembut bertopang di  atas dadaku. Perlahan-lahan tubuh Tante Rissa semakin turun, dan aku  mulai merasakan bibir kemaluannya menyentuh ujung penisku. Hhh… kepala  penisku mulai masuk sebagian ke dalam vagina Tante Rissa yang sedikit  basah, dan… bleeesssss!!! Amblas sudah penisku di dalam liang kenikmatan  itu. Tubuh Tante Rissa naik-turun seiring kenikmatan yang kami nikmati  bersama. Sementara Tante Emma langsung menyodorkan selangkangannya di  wajahku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lidahku langsung sigap  melumat klitoris Tante Emma yang mulai basah. Posisi Tante Emma  berhadapan dengan Tante Rissa, sehingga mereka berdua menindihku sambil  berciuman. Aku tak bisa melihat karena wajahku tertutup kemaluan Tante  Emma, tapi dari suara mereka aku tahu betul bahwa mereka tengah  berciuman dengan penuh gairah. Tak lama kemudian aku mulai merasa  dinding vagina Tante Rissa mulai berdenyut-denyut. Tubuh wanita itu  mulai menggelinjang tak karuan menahan rasa nikmat. Tante Emma kini  tidak mencumbu bibir Tante Rissa lagi, tapi menunduk ke arah penisku dan  vagina Tante Rissa yang sedang asyik menyatu. Tante Emma menjilati  kemaluan kami bergantian. Akkhh.. semakin nikmat saja rasanya. “Ssshhh…  Riiiooo…. aaahhhhh…” Tante Rissa mencapai klimaksnya. Penisku banjir  oleh lendir kenikmatan yang mengalir dari dalam vaginanya. Ayunan  tubuhnya semakin pelan. Kemudian wanita itu mencabut penisku dari  vaginanya dan memberi tempat untukku dan Tante Emma melanjutkan  permainan. Tante Emma rupanya menginginkan posisi lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wanita  itu mengambil posisi nungging di atas ranjang. Dengan gairah yang masih  penuh, aku menghampiri liang kemaluan yang menantang itu. Perlahan aku  arahkan penisku yang semakin keras ke dalam vagina Tante Emma. Slllpp…  bbleeesss… Vagina  6Tante Emma yang basah betul-betul menelan penisku.  Pantatku maju-mundur memberikan kenikmatan untuk Tante Emma. Sementara  kedua tanganku asyik meremas kedua payudaranya yang bulat dan montok  itu. “Aakhh.. Yoo.. sshhh.. sshhh…. ooohhhh….” Tante Emma merintih  menahan rasa nikmat yang kuberikan. Hmmm… liang kemaluan Tante Emma  betul-betul mencengkeram penisku. Nikmat sekali rasanya. Tadinya kupikir  ibu-ibu seperti mereka liang vaginanya sudah lebar, tapi Tante Emma dan  Tante Rissa kok masih sempit ya. Tubuh Tante Emma mulai  menggeliat-geliat. Wanita itu menjatuhkan tubuhnya hingga kami berdua  melakukannya dengan posisi menyamping. Kemudian tubuh kami berguling  hingga tubuh Tante Emma kini berada di atas tubuhku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian  wanita itu bangkit tanpa melepas vaginanya dari penisku. Lantas Tante  Emma berputar, aahhhh….aku merasa penisku dipelintir di dalam vagina  Tante Emma, nikmat sekali. Akhirnya aku ‘terjebak’ dengan posisi woman  on top. Tante Emma tidak menaik-turunkan tubuhnya tapi memutar  pinggulnya. Uugghhh.. gila, enak sekali. Aku sampai mengejang menahan  rasa nikmat. Tubuhku pun ikut bangkit untuk memeluk tubuh montok Tante  Emma. Bibirku melumat kedua putting payudaranya untuk menambah  birahinya. “Sshh… Riiooo… aakkhh..” Tante Emma mengerang menahan  nikmatnya. Tante Emma mendorong tubuhku hingga terebah, dan wanita itu  kembali memutar tubuhnya membelakangi aku. Kemudian Tante Emma itu  kembali merundukkan tubuhnya tanpa melepas penisku dari dalam vaginanya.  Otomatis tubuhku mesti bangkit lagi, dan kami kembali dalam posisi  doggie style. Ugghhh… pantatku kembali mengayunkan rasa nikmat di vagina  Tante Emma.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiba-tiba dari arah  belakang aku merasakan sesosok tubuh yang mulus merapati punggungku.  Akkhh.. Tante Rissa yang sudah kembali bergairah memelukku dari  belakang. Hhhgghhh.. birahiku semakin naik ke ubun-ubun. Tubuhku  menggelinjang di pelukan Tante Rissa. Tanpa sadar ayunan pantatku  semakin cepat. Aku merasa tubuh Tante Emma juga bergoyang menahan rasa  nikmat. “Sshhh…. aaaaaahhhh… Riiiooo….. bentar lagi nih…” Tante Emma  mendesah. Aku berusaha bertahan untuk menunjukkan keperkasaanku. Tapi  gangguan Tante Rissa yang menjilati telinga dan tengkukku membuatku tak  kuasa menahan birahi. “Aaaahh… Yooo..” Tante Emma mencapai klimaks. Aku  mencoba bertahan, namun rembesan lendir dari dalam vagina Tante Emma  yang membasahi penisku membuat tubuhku tak kuasa menahan nikmat.  Crrooottt.. ccrrott… crooot.. ccroottt.. ccrroott… sekitar lima kali  penisku menyemburkan sperma kuat-kuat ke dalam vagina Tante Emma. Kedua  tanganku meremas pinggang Tante Emma. Sementara dari belakang Tante  Rissa mendekap tubuhku erat-erat. Itu untuk pertama kalinya aku berbagi  kenikmatan birahi dengan wanita yang jauh lebih tua dariku. Hari itu  kami bersenang-senang dua kali lagi. Sorenya aku terpaksa harus  meninggalkan rumah Tante Rissa, karena anaknya sudah pulang. Tapi Tante  Emma mengajakku untuk bermalam di rumahnya. Dan malam itu aku dan Tante  Emma bersenang-senang sampai pagi. Ternyata Tante Emma memiliki banyak  sekali sex toy di rumahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku  betul-betul enjoy malam itu karena Tante Emma memperkenalkanku dengan  banyak variasi permainan seks. Sejak saat itu aku sering melayani nafsu  birahi mereka mereka. Kadang berdua, kadang bertiga. Namun sepeser pun  aku menolak dibayar, karena aku melakukannya atas dasar suka dan fun  saja. Dari Tante Rissa aku mendapat beberapa kenalan wanita teman-teman  kantornya yang juga kesepian, dan kadang aku juga diminta melayani nafsu  mereka. Kalau dari Tante Emma, aku dikenalkan pada adik iparnya yang  baru berumur 32 tahun, namanya Leni. Tante Leni belum menikah dan masih  virgin. Namun wanita ini cukup nakal dalam urusan seks. Lucunya aku  sering diminta Tante Leni untuk memuaskan hasratnya tapi hanya sebatas  petting dan oral.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikian cerita perkenalan ku dengan beberapa tante, dan terjadi permainan seks seru antara aku dan para tante girang tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1411556838748479078-66526993840136946?l=janda-kesepian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/feeds/66526993840136946/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cerita-berawal-dari-tante-rissa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/66526993840136946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/66526993840136946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cerita-berawal-dari-tante-rissa.html' title='Cerita Berawal Dari Tante Rissa.'/><author><name>Tante Kesepian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14713038125543777221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/-FZxK7b8lVNc/ThmHlk6Uv2I/AAAAAAAAAAY/ioSmfPbY4Yw/s220/248197_1629217110192_1829537763_1083242_4655990_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1411556838748479078.post-1711036540999376415</id><published>2011-07-15T07:18:00.001-07:00</published><updated>2011-07-15T07:18:18.936-07:00</updated><title type='text'>Cerita Dewasa Mbak suli Wanita Setengah baya.</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;a href="http://www.myinfo-net.com/category/kumpulan-cerita-dewasa-cerita-panas-dan-cerita-mesum" target="_blank"&gt;&lt;strong&gt;Cerita dewasa&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;.  Siang itu aku agak cepat pulang kuliah, bukan karena malas ikut kuliah  yang masih ada, tetapi karena kakiku sakit (mungkin terkilir) dan ada  bagian yang membiru sedikit. lagi-lagi karena main sepak bola yang  kurang hati-hati, dengan teman sekampus tadi pagi. Dengan naik motor,  aku ingin secepatnya pulang dan memberi obat (minyak urut), terus  istirahat di rumah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;15 menit kemudian  aku sudah tiba di rumah, dan agak sepi kalau jam segini, karena semua  pada kerja dan kuliah atau sekolah. Hanya ada pembantu, yang usianya  sekitar 35 tahun, biasa dipanggil Mbak Suli. Tapi jangan kaget lho..,  badannya terawat dan masih kencang, walaupun kulitnya agak hitam (hitam  manislah menurutku). Agak kaget juga aku, setelah dibukakan pintu,  kulihat dia mengenakan baju kaos yang agak ketat dan rok putih yang  selutut. Tetapi tonjolan di dadanya itu, membuat darahku berdesir cepat.&lt;span id="more-987"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Kok pulangnya cepat, Mas..?” katanya menyapa.&lt;br /&gt;Aku memang dipanggil Mas olehnya, singkatan dari Dimas.&lt;br /&gt;“Iya Mbak, kakiku agak sakit, tadi jatuh waktu main sepak bola..” kataku membalas.&lt;br /&gt;Spontan matanya melirik ke kakiku dan berkata, “Coba Mbak lihat, dia  pun menarik celana panjangku agak ke atas, “Sakit nggak..?” tambahnya  sambil agak menekan bagian yang membiru dan mulai berjangkok.&lt;br /&gt;“Lumayan juga sih..” kataku ssdikit memelas sambil melirik bagian betisnya yang mulus.&lt;br /&gt;Setelah aku berganti pakaian menjadi celana pendek, dia membalur kakiku  dengan minyak urut. Saat itu dia duduk di depanku dan kulihat pahanya  karena roknya tersingkap. Karena posisiku yang yang duduk dan kaki agak  ditekuk, dia tidak tahu bahwa kejantananku sudah mulai bangkit. Dia pun  mengurut-ngurut dan memijit bagian kakiku yang sakit. Mataku juga tidak  lepas dari dadanya yang menonjol sebesar mangga.&lt;br /&gt;Dengan perlahan,  kuberanikan memegang pahanya di bagian yang tersingkap. Dia agak kaget  dan berkata, “Mas, kamu mulai nakal, ya..?” ucapnya sambil melirikku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Nggak pa-pa kan..? Cuma dikit kok..!” balasku seadanya.&lt;br /&gt;Lama kelamaan tanganku mulai bergerak lebih ke atas dan sampai di pangkal pahanya.&lt;br /&gt;“Jangan nakal lho, ntar ada yang lihat..!” katanya mencoba memindahkan tanganku dari pahanya.&lt;br /&gt;“Nggak ada orang kok Mbak, cuma kita berdua kok..!” ucapku terus membujuknya.&lt;br /&gt;Dia masih mengurut kakiku dan kucoba untuk menampakkan celana dalamku lewat celah celana pendekku.&lt;br /&gt;Dengan keberanian yang menggebu, aku berkata, “Boleh kulihat yang di balik roknya Mbak..?” kataku menggoda lagi.&lt;br /&gt;“Jangan Mas, Mbak malu..” katanya sedikit ragu.&lt;br /&gt;“Ayo dong Mbak, sekali aja..!” ucapku sedikit membujuk.&lt;br /&gt;Mula-mula dia ragu, dan akhirnya dia berbicara, “Jangan bilang siapapun ya..?” katanya sambil mengedipkan mata.&lt;br /&gt;Kujawab, “Aku janji deh, ini menjadi rahasia kita aja..”&lt;br /&gt;Perlahan dilepaskannya roknya, dan wow.., terlihatlah pahanya yang  mulus dengan celana dalam merah muda. Agak lama kupandangi, karena itu  benar-benar pemandangan yang indah, dan kejantananku mulai membengkak di  celanaku. Perlahan kupegang celana dalamnya, dan kudekatkan wajahku ke  arah celana dalamnya. Wow.., baunya wangi sekali, mungkin dia baru mandi  tadi.&lt;br /&gt;“Sudah cukup kan..?” katanya sambil menjauhkan wajahku dari pahanya dan mencoba memakai roknya lagi.&lt;br /&gt;Tetapi hal itu dengan cepat kucegah, “Ntar dulu Mbak, saya pingin lihat di balik celana itu, boleh ya..?” kataku membujuk.&lt;br /&gt;“Yee.., sudah dikasih hati malah minta jantung..!” ucapnya sedikit menyindirku.&lt;br /&gt;“Mbak tau nggak, jantungku debar-debar nih.., dan aku terangsang..” kataku mencoba menyatakan bahwa aku benar-benar terangsang.&lt;br /&gt;Sambil bercanda dia menjawab, “Masak gitu aja terangsang, Mbak nggak  percaya, kamu pasti cuma iseng, mau mempermainkan Mbak, ya..?” katanya  membalas ucapanku.&lt;br /&gt;“Kalau nggak percaya, coba lihat nih..!” kataku sambil menurunkan celana pendekku.&lt;br /&gt;Dia agak kaget karena celana dalamku seperti penuh dan menonjol besar di bagian penisku.&lt;br /&gt;“Bener juga, kamu nggak boong.., kamu terangsang ya..?” katanya melirikku nakal sambil tersemyum.&lt;br /&gt;Agak lama dia melihatnya, kemudian mengelus dan mengusap-usap, dan mendekatkan wajahnya ke dekat celana dalamku.&lt;br /&gt;“Sekarang kita sama-sama buka, gimana Mbak..?” kataku memberi tawaran gila (he-he-he).&lt;br /&gt;Mungkin karena sudah terangsang dan sangat ingin melihat penisku,  akhirnya dia mengangguk. Perlahan dia menurunkan celanaku, dan tampaklah  kejantananku berdiri tegak dan siaga.&lt;br /&gt;“Wow.., hmm.., punyamu lebih  besar dari yang Mbak bayangkan, tapi Mbak suka yang besar seperti ini.”  katanya sambil mengelus, menyentuh kepala penisku dengan jarinya dan  kemudian mengocoknya.&lt;br /&gt;“Aahh.., ouch.., ouch..” aku mengerang nikmat, sementara dia terus mengocok sampai penisku terlihat memanjang maksimal.&lt;br /&gt;Mungkin dia sudah tidak tahan, dia mulai mengulum dan meghisap penisku.&lt;br /&gt;“Ouch.., ouch.., ah.. ah.., nikmat sekali..!” aku mendesis kenikmatan, sementara tanganku sudah membuka celana dalamnya.&lt;br /&gt;Dan wow.., benar-benar pemandangan yang indah, bulu-bulu halus di  sekitar vaginanya yang kemerahan sangat merangsang birahiku. Jariku  menyentuh dan menggesek bibir vaginanya.&lt;br /&gt;“Oh.., ahh.., ahh.., terus Mas, gesekin terus..! Ahh.., ahh..!” suaranya mendesah-desah.&lt;br /&gt;Kudekatkan wajahku ke vaginanya, menciuminya dan menjilatnya. Celahnya  mulai agak basah, mungkin dia sudah terangsang hebat, sementara  kemaluanku terus dikulumnya, bahkan sekarang lebih dahsyat sampai ke  pangkalnya. Aku merasakan hangat mulutnya, dan kemaluanku seperti panas  sekali dan mau mengeluarkan sesuatu. Tanpa dapat kutahan, spermaku  muncrat di mulutnya untuk pertama kali.&lt;br /&gt;“Ohh.., ahh.., kamu udah  keluar Mas.., ahh.., enakk.., gurih..!” katanya sambil menjilat sperma  yang keluar dari mulutnya, sementara lidahku terus bergerilia di celah  vaginanya, bahkan lidahku berusaha masuk lebih ke dalam dan terus  menyeruak di seluruh dinding vaginanya.&lt;br /&gt;“Ouch.., ahh.., ahh.., lebih dalam, Mas..!” pintanya sambil mendesis-desis.&lt;br /&gt;Aku mendengar dia mendesis dan menyerocos tidak karuan, dan mulai  mengocok kemaluanku lagi sehingga membesar kembali. Hanya dalam hitungan  menit, punyaku sudah membesar lagi dan mencapai ukuran yang maksimal.&lt;br /&gt;“Sekarang saya masukin ke vagina Mbak aja, oke..?” kataku sudah tidak sabaran.&lt;br /&gt;“Ehe.., ya Mas, Mbak juga sudah nggak tahan nich..!” katanya sambil  membuka kedua pahanya lebar-lebar, sehingga vaginanya tampak membelah  dan merekah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Oouh.. ss.., darahku berdesir semakin cepat melihat vagina yang merekah seperti itu.&lt;br /&gt;Sambil memegang kemaluanku yang tegang, kuarahkan ke lubang tersebut.  Sesaat kepala penisku kugesekkan ke bibir vaginanya, kemudian dengan  sedikit ditekan, dan, “Bless..!” masuk seluruhnya ke dalam liang  vaginanya.&lt;br /&gt;“Ouh.., och.., ahh.., terus Mas, lebih dalam..! Ahh.., ahh..!” desisnya mengikuti gerakan masuknya batang kejantananku.&lt;br /&gt;Aku pun semakin bersemangat menggenjotnya dan memaju-mundurkan  kemaluanku di dalam vaginanya. Sementara tanganku tidak lepas memegangi  puting payudaranya yang mengencang.&lt;br /&gt;“Terus, terus Mas, enak.., nikmatt.., ah.., ah..!” ucapannya sudah terdengar tidak karuan.&lt;br /&gt;Sekitar 10 menit dengan posisi tersebut, aku mengeluarkan kemaluanku yang masih menegang.&lt;br /&gt;“Mbak, sekarang kita rubah posisi ya..? Pasti lebih nikmat..!” kataku ingin mencoba gaya lain.&lt;br /&gt;“Posisinya gimana Mas..?” dia bertanya balik.&lt;br /&gt;“Mbak menungging saja, kakinya diangkat sebelah dan letakkan di meja,  dan Mbak membelakangi saya..!” saranku memberi penjelasan, dia menurut  saja.&lt;br /&gt;Aku tertawa dalam hati (soalnya ini seperti anjing pipis,  he-he-he). Dia sudah mengambil posisi seperti itu dan aku dapat melihat  celah vaginanya mengintip dari belakang. Dengan memegang kemaluanku yang  tegang, kuarahkan ke celah itu. Dengan sedikit tekanan, kepala penisku  masuk, dan masuknya terasa lebih sempit dari yang tadi. Sengaja tidak  kumasukkan seluruhnya dan kutanya kepadanya, “Gimana..? Lebih enak  kan..?” kataku.&lt;br /&gt;“Ehe.., ahh.., lebih enak dari yang tadi, ahh.., oh.., enak.., ahh..!” suaranya mendesah lagi.&lt;br /&gt;“Ini belum seluruhnya lo Mbak, baru sebagian..!” aku mencoba menggodanya lagi.&lt;br /&gt;“Masukin semua dong, Mas..! Biar terasa lebih enak lagi..!” pintanya.&lt;br /&gt;Dengan menekan lebih kuat, maka kemaluanku masuk seluruhnya. Dan oh.., betapa nikmatnya, serasa berada di awang-awang.&lt;br /&gt;“Ah.., oh.., aah.., nikmat sekali, tekan lebih kuat Mas.., lebih dalam, ahh, ahh..!”&lt;br /&gt;Sesekali dia menggoyang pinggulnya, dan ohh.., benar-benar luar biasa  goyangan pinggulnya, punyaku seperti ditarik dan diurut-urut di dalam  vaginanya.&lt;br /&gt;“Oh.., ah.., aku tak ingin berhenti capat-cepat, goyangin terus Mbak..!” kataku.&lt;br /&gt;Sekitar 10 menit aku memaju-mundurkan kemaluanku ke vaginanya, rasanya aku sudah berada di puncak dan mau memuntahkan lahar.&lt;br /&gt;“Mbak, aku sudah mau keluar nich..!” kataku.&lt;br /&gt;Dia membalas, “Aku juga mau keluar nich. Kita keluar sama-sama ya..?” pintanya.&lt;br /&gt;Dengan menggenjot lebih kuat agar cepat sampai ke puncak kenikmatan,  maka kumulai menekan lagi lebih cepat. Dan akhirnya, “Ouc.., ah.., ah..”  dengan erangan panjang, aku memuntahkan spermakau di vaginanya.&lt;br /&gt;Bersamaan dengan itu Mbak juga mengerang panjang, “Ouh.., ouc.., ah.., ah.., nikmat.. ah..”&lt;br /&gt;Sementara di vaginanya aku merasakan punyaku disemburi cairan vaginanya, terasa begitu hangat.&lt;br /&gt;Perlahan kutarik punyaku keluar, terlihat sudah mulai mengecil. Kami tergolek di tempat tidur dan saling berpandangan.&lt;br /&gt;“Mbak.., nggak menyesal kan..?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Ah.. nggak, kamu bandel dan bisa memuaskan Mbak.” dia membalasku.&lt;br /&gt;“Tapi saya khawatir Mbak, soalnya tadi keluar di dalam.” tanyaku sedikit khawatir.&lt;br /&gt;“Nggak pa-pa, Mbak tidak dalam masa subur kok, Mbak tidak akan hamil..!” jelasnya.&lt;br /&gt;Wajahku sedikit lega setelah mendengar perkataanya.&lt;br /&gt;Dengan sedikit menggoda aku berkata, “Aku suka melihat wanita  menggunakan celana dalam putih atau merah muda (karena dia memang banyak  punya celana dalam putih dan merah muda).”&lt;br /&gt;“Idih..! Kamu suka mengintip Mbak ya..?” dia bertanya balik.&lt;br /&gt;“Kadanga-kadang aja, pas Mbak lagi tidur atau mandi..” kataku menggoda nakal.&lt;br /&gt;“Kamu nakal sekali..!” katanya sambil mencoba mencubitku.&lt;br /&gt;“Tapi Mbak suka kan..?” godaku lagi.&lt;br /&gt;Dia hanya tersenyum tersipu-sipu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah  kejadian itu, aku merasa ketagihan dengan Mbak Suli. Aku tidak tahu  apakah dia ketagihan juga. Sering kali di waktu malam aku menyelinap ke  kamarnya yang sengaja tidakdikuncinya, lalu kami pun bergumul di situ  sampai kelelahan dan aku pun sering tertidur di situ. Tapi sebelum subuh  aku sudah balik ke kamarku, maksudnya biar tidak ketahuan. Lihat juga &lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.myinfo-net.com/category/kumpulan-cerita-dewasa-cerita-panas-dan-cerita-mesum" target="_blank"&gt;cerita seks dewasa&lt;/a&gt; &lt;/strong&gt;kami yang lain di link &lt;strong&gt;cerita dewasa &lt;/strong&gt;ini, selamat menikmati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;http://ceritadewasa.modelperawan.info/stw/mbak-suli-wanita-setengah-baya.html&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1411556838748479078-1711036540999376415?l=janda-kesepian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/feeds/1711036540999376415/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cerita-dewasa-mbak-suli-wanita-setengah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/1711036540999376415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/1711036540999376415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cerita-dewasa-mbak-suli-wanita-setengah.html' title='Cerita Dewasa Mbak suli Wanita Setengah baya.'/><author><name>Tante Kesepian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14713038125543777221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/-FZxK7b8lVNc/ThmHlk6Uv2I/AAAAAAAAAAY/ioSmfPbY4Yw/s220/248197_1629217110192_1829537763_1083242_4655990_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1411556838748479078.post-4517020388210960289</id><published>2011-07-12T19:47:00.000-07:00</published><updated>2011-07-12T19:47:05.686-07:00</updated><title type='text'>Jhon dengan seketaris baru</title><content type='html'>&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://rumahseks.blogspot.com/2008/10/sekretaris-pribadi.html"&gt;By : Om bob&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;&lt;div class="post-header-line-1"&gt; &lt;span class="post-comment-link" style="float: right;"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-author vcard"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-icons"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" height="40"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td style="padding-top: 0px;"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Frumahseks.blogspot.com%2F2008%2F10%2Fsekretaris-pribadi.html&amp;amp;t=Rumah%20Seks%20Indonesia%3A%20Sekretaris%20pribadi%20-%20Cerita%20seks%2C%20cerita%20panas%2C%20cerita%2017tahun%20dan%20artikel%20seks%20terlengkap&amp;amp;src=sp" name="fb_share" style="text-decoration: none;" type="button_count"&gt;&lt;span class="fb_share_size_Small "&gt;&lt;span class="FBConnectButton FBConnectButton_Small" style="cursor: pointer;"&gt;&lt;span class="FBConnectButton_Text"&gt;Share&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fb_share_count_nub_right "&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fb_share_count  fb_share_count_right"&gt;&lt;span class="fb_share_count_inner"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 9px 0pt 0pt 10px;"&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding-top: 15px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Selepas sekolah aku kuliah di akademi sekertaris. Aku pisah dengan  keluarga dan tinggal sendiri. Tak jarang rasa sepi terasa saat jauh dari  keluarga. Untunglah aku memiliki teman akrab yang dapat menghilangkan  rasa sepi. Namanya Selly ia teman kampusku dan kebetulan kami satu kost.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selly  memang supel. Ia memiliki banyak teman dan kenalan. Sering ia  memperkenalkan aku dengan teman-temannya. Tak jarang teman prianya  mencoba untuk berpacaran denganku. Katanya sih aku cantik dan memiliki  penampilan yang begitulah. Akhirnya aku berpacaran dengan kenalan Selly.  Namanya Daniel. Ia sangat gigih untuk meluluhkan hatiku. Bisa dibilang  temanku Selly memiliki pergaulan yang bebas. Memang ia memiliki banyak  pacar dan tak jarang mereka menginap di kamar Selly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang  tempat kostku bagus dan bebas. Dan terkadang pacarku sering pulang  malam. Tapi kami hanya mengobrol dan tidak melakukan apa-apa. Mungkin,  karena Daniel cara berpacarannya jauh, terkadang ia mencoba untuk  menaklukan tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru kali aku menerima pria sebagai pacarku.  Awalnya Daniel mencoba untuk mencium bibirku. Tapi aku menghindar dan  menolaknya. Tapi karena usahanya yang gigih akhirnya bibir ini  kuberikan. Hampir setiap bertemu ia melahap bibirku. Seakan tiada  pertemuan tanpa berciuman. Tahap demi tahap usahanya berhasil membuatku  memberikan tubuhku. Mulai dari bibir, dadaku dan kepolosan tubuhku yang  tanpa sehelai pakaian. Kecuali keperawananku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering Daniel  meminta keperawananku. Tapi kutolak, kuanggap sudah semua kuberi.  Kecuali satu ini. Setiap bertemu tubuhku selalu polos, karena Daniel  selalu melucuti pakaianku. Awalnya aku merasa canggung. Awalnya aku  hanya kasihan, mungkin karena kelembutan Daniel aku malah menyukai hal  ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memiliki komputer di kamar kostku. Sering Daniel  membawakan film. Tapi lama-lama aku diajak nonton film XX. Awalnya aku  risih, karena merasa lihat tubuh sendiri. Aku jijik melihat  adegan-adegan itu. Tapi karena Daniel memberikan kelembutan disaat kami  menonton, perlahan aku suka. Kuanggap sebagai pelajaran. Beberapa lama  kemudian aku mempraktekkannya. Aku mencontoh beberapa adegan dan aku  menyukainya. Sampai kuberikan liangku, tapi aku tetap perawan karena  hanya liang belakangku yang kuberikan. karena kasihan terhadap Daniel  yang menginginkan bersetubuh denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya aku agak risih dan  aneh. Tapi rasa nikmat yang kurasakan malah membuatku ketagihan.  Sampai-sampai aku beronani saat kusendiri. Makin diasah rasanya aku  makin butuh. Sampai kurobek sendiri selaput daraku dengan jari-jariku.  Daniel tidak tahu hal ini. Kurasakan kenikmatan yang berbeda disaat  liang vaginaku dimasuki sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat malam minggu, Daniel dan  aku bercumbu seperti biasanya. Sampai kami benar-benar terangsang dan  sodomi kami lakukan. Aku menikmatinya, entah Daniel. Beberapa kali  kurasakan semburan Daniel di liang anusku. Sampai-sampai liangku sangat  licin. Akhirnya aku kelelahan dan kulihat Daniel ke kamar mandi. Sesaat  kuterlelap. Beberapa lama kuterlelap. Sesaat kutersadar dan kurasakan  kakiku mengangkang lebar. Terasa sentuhan yang lembut merangsang daerah  sensitifku. Dengan reflek, dada dan daguku terangkat tinggi. Ah,  birahiku mengalir di dalam darahku. Sesaat nafasku berburu, kumendesah.  Kemudian kurasakan tubuhku dipeluk. Kurasakan bibir vaginaku tersentuh  sesuatu. Perlahan suatu benda memasuki liang vaginaku. Sekejap kutahan  nafas dan kurasakan nikmat seiring benda yang memasuki liangku.  "Ooouuhh," terucap seiring liangku tertancap dalam. Mataku tak dapat  kubuka lebar karena kunikmati kejadian ini. Perlahan terlihat sosok  Daniel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan Daniel mengeluar-masukkan miliknya perlahan.  Mengapa kurasakan kelembutan dan kenikmatan dari sentuhannya. Beberapa  lama kurasakan semburan di liangku. Aahh, rasanya, membuat rasa yang..  Sesaat kemudian kurasakan puncakku. Kudekap erat Daniel dan sesaat  tubuhku menegang. Setelah itu kubenar-benar tersadar dan rasa bingung,  sedih, kecewa dan senang bercampur aduk di hatiku. Rasa malu tersimpan  di hatiku. Harga diriku sesaat hilang bersama persetubuhan itu. Beberapa  kali Daniel menyetubuhiku. Tapi rasa klimaks yang kurasakan setiap  berhubungan, membuatku ketagihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku lulus kuliah. Dan  Aku menjadi sekertaris. Bosku baik. Ia sudah menikah. Kurasakan orangnya  lembut. Entah mengapa, lambat laun aku menyukainya. Perasaan sama  kurasakan dari sikapnya. Kulihat ia rajin datang. Kami sering bersama  dan kami sering mengobrol di dalam ruangannya. Awalnya kami berbincang.  Akhirnya kami saling terbuka dan membicarakan tentang hal yang pribadi.  Sesaat kami bertatapan. Rasa getaran yang kuat mengalir di tubuhku di  saat dekat dengannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Mungkin karena rokku yang pendek membuat  ia terangsang. Beberapa kali tangannya menyentuh pahaku. Awalnya aku  ingin menolaknya. Tapi apa salahnya, maka kubiarkan. Karena sikapku ini  Pak Rian semakin sering memegang pahaku. Tak jarang ia mengelus-elus dan  bertahap menyusup ke selangkanganku. Sebenarnya aku ingin menepis  perbuatannya. Mungkin karena aku menyukai, sentuhannya maka kubiarkan.  Tampaknya ia merasa dapat lampu hijau dariku. Tangannya awalnya meraba  pahaku dan akhirnya merembet ke selangkanganku, aku bingung haru berbuat  apa. Aku hanya bisa diam, kemudian ia mengangkat rokku, merangkulku.  Bibirnya menciumi kupingku, leher dan bibirku. Aku bingung harus  bagaimana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari berikutnya ia melakukan hal ini terus. Suatu  saat ia mencumbuku, kurasakan tangannya perlahan mengelus dari pahaku,  pinggul, perut dan naik ke dada. Sesaat kami terdiam. Rasa campur aduk  di hatiku. Serasa aku ingin memarahinya. Tapi aku tak dapat. Ia  atasanku, dan sebetulnya aku menyukai hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kuterdiam  ia semakin menjadi. Dadaku ia raba-raba lalu diremasnya. "Dadamu empuk  ya, besar loh," bisik bosku. Kurasakan di dadaku mengalir rangsangan.  Putingku terasa mengeras, nyilu dan nikmat. Rasanya kusuka. Kutak  sanggup bergerak karena birahiku muncul. Beberapa lama kurasakan  tangannya menikmati dadaku. Kemudian bibirku juga ia nikmati. Kurasakan  bibirku dilahap dengan nafsunya. Beberapa lama mulai kurasakan  kelembutannya. Kubalas kecupan bibirnya, lidahnya dan hisapan terhadap  air liurku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa lama kurasakan tanganku mulai sanggup  bergerak. Perlahan kugerakkan dan kuhampiri pipinya. Lalu pipinya  tersentuh tanganku dan kuelus-elus sebagai tanda kumenikmatinya.  Kurasakan kemejaku keluar dari rokku. Ternyata Pak Rian mengangkatnya.  Tangannya kurasakan menyusup dari perutku. Kurasakan sentuhan tangannya  membuai perut lalu naik mendekap braku. Terbuai kulit dadaku. Beberapa  lama kemudian tangannya menelusuri tali BH-ku dan akhirnya sampai  dikaitan BH-ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan tangannya mengelus punggungku sesaat.  Lalu kurasakan kaitan bra-ku lepas. Pak Rian melepaskannya. Kurasakan  jemarinya berjalan meraba punggunku dan akhirnya mendekap buah dadaku.  "Tanpa bra lebih besar, lebih terasa," bisik Pak Rian. Kurasakan tubuhku  memasrah. Jemarinya memainkan putingku. Rasanya nyilu dan nikmat.  Sekilas wajahku ke samping dan tertunduk. Perlahan kuhisap dan kugigit  lembut bibir bawahku. Dadaku terangkat dengan reflek, seakan kusodorkan  ke Pak Rian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan tangan Pak Rian keluar dan tak menyusup  lagi. Bibirku ia kecup lagi. Perlahan tangannya kurasakan menyusup di  celah lengan kemejaku. Tali bra-ku kurasakan ditariknya keluar sampai ke  ujung jemariku tanganku. Sesaat kemudian taliku yang satunya juga ia  lepaskan, kini tiada yang menahan bra-ku. Kemudian tangannya menyusup ke  dalam kemejaku lagi. Penyangga buah dadaku kurasakan turun dan lepas  keluar ditarik tangannya. Sesaat kurasakan putingku menyentuh langsung  kemejaku. Lalu tangannya meremas-remas kemejaku yang menutupi langsung  buah dadaku. Kemudian kurasakan putingku ia gelitik dengan lembut. Aahh,  nikmat rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat terdengar dering telpon. Kami terhenti  dan Pak Rian segera mengangkatnya. Sesaat terlihat kedua titik dadaku  oleh mataku. "Kamu temenin aku nanti ya!" sahut Pak Rian kepadaku saat  berbincang di telepon. Aku rasa aku harus memakai bra-ku lagi. Tidak  enak bila terlihat karyawan lain. Sesaat kulepaskan kancingku satu  persatu dan kulepaskan kemejaku sambil membelakangi Pak Rian. Sesaat  kurasakan tubuhku didekap dari belakang. "Badan kamu bagus," sambil  tangannya meraba dan meremas buah dadaku lagi. Telingaku ia cumbu.  Kemudian ia ajak lagi aku ke tempat duduk. Lalu ia duduk dan kedua  tanganku ditarik sehingga aku mendudukinya secara berhadapan. Rokku  terangkat dan celana dalamku terlihat jelas. Mulutnya segera melahap  dadaku. Salah satu tangannya memelukku dan satunya lagi menikmati dadaku  yang tersisa. Mataku terpejam sambil menikmati sentuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bberapa  lama ia menikmati buah dadaku. Ada teleon berbunyi. "Uah dulu, kita  berangkat ya," ucapnya setelah beberapa lama melahap tubuhku. Aku segera  memakai dan merapikan pakaianku. Ia memintaku menemaninya rapat di  pantai utara Jakarta. Setelah itu kami menyempatkan berbincang sambil  melihat matahari terbenam di ujung laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan sore selesai  dan mendung perlahan menutupi langit. Angin perlahan berhembus kencang  dan gerimis turun. Akhirnya kami bergegas masuk kemobil. Perlahan hujan  turun. Suasana di luar terlihat gelap. Rasa tenang aku rasakan di dalam  mobil. Setelah lama mengobrol di mobil. Kulihat di sekitar mobil banyak  yang berhenti parkir dan kadang ada yang bergoyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Pak Rian  kulihat menatapku. Lalu ia pindah ke tempat dudukku. Bibirnya segera  melahap bibirku. Aku tak mau kalah dan kami bersaing. Kurasakan buah  dadaku diraba tangannya, lalu diremas-remas dengan lembut. Sesaat  kemudian kancing bajuku kurasakan dilepas satu-persatu, rasanya tali  bra-ku juga dilepas. Dadaku ia telajangi. Perlahan bibirnya turun dari  bibir, leher, pundak, sesaat senderan kursiku ia rebahkan dan kemudian  buah dadaku ia lahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daguku terangkat dan dadaku membusung ke  mulutnya. Kurasakan nikmat, terkadang wajahku kuhadapkan ke kanan atau  ke kiri sambil kugigit lembut bibir bawahku. Kurasakan pahaku ia raba  dan kemudian ke celana dalamku. Beberapa lama kemudian kurasakan celana  dalamku ia tarik dan lepaskan. Rokku juga tak ketinggalan. Kurasakan  hembusan AC mobil membuai tubuhku bersama jemari Pak Rian yang  meraba-raba hampir seluruh tubuhku dengan kehangatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah  dada dan bibirku ia gilir. Kurasakan tangannya turun dari perut ke  tonjolan sensitifku. Lalu ia mainkan dan perlahan jarinya meraba bibir  vaginaku yang sudah basah. Sesaat kurasakan liang vaginaku ia masuki  dengan jarinya. "Ooouuhh," ucapku sesaat. Kurasakan jarinya keluar-masuk  di liangku. Beberapa lama kurasakan tubuhnya menindih tubuhku.  Kurasakan ia membuka celananya. Kakiku ia buat melebar, lalu kurasakan  bibir vaginaku tersentuh miliknya, sesaat liangku ia tancap sampai dalam  dengan mudah. "Oouuhh," ucapku sesaat lagi. Kurasa aku sudah basah.  Tanpa tahapan ia langsung mengeluar-masukkan miliknya dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutaksanggup  menahan rasa nikmat. Desahan demi desahan akhirnya terlepas dari  mulutku. Tubuhku menjadi pasrah menikmati sentuhannya. Rasa nikmat  membuatku cepat mencapai puncak. Beberapa lama kemudian kurasakan  miliknya menyembur liang vaginaku. "Ooouuhh.. aahh.." terlepas dari  mulutku seiring menikmati semburannya yang terasa hangat di liangku.  Akhirnya kami istirahat sesaat. Mungkin karena suasana yang nikmat, kami  akhirnya mengulangi beberapa kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokannya ia menjadikan aku  merangkap sekretaris pribadinya. Ia meminta aku tinggal di apartermen  barunya. Kami semakin sering berhubungan. Mungkin hampir setiap hari.  Aku juga membantunya memperlicin kerjsama dengan klien usahanya. Dari  situ aku banyak mengenal orang-orang tertentu. Dan kunikmati petualangan  ini. Mungkin karena aku menyukainya, aku bersedia jadi istri mudanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1411556838748479078-4517020388210960289?l=janda-kesepian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/feeds/4517020388210960289/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/jhon-dengan-seketaris-baru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/4517020388210960289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/4517020388210960289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/jhon-dengan-seketaris-baru.html' title='Jhon dengan seketaris baru'/><author><name>Tante Kesepian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14713038125543777221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/-FZxK7b8lVNc/ThmHlk6Uv2I/AAAAAAAAAAY/ioSmfPbY4Yw/s220/248197_1629217110192_1829537763_1083242_4655990_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1411556838748479078.post-8115258587347759949</id><published>2011-07-12T19:45:00.002-07:00</published><updated>2011-07-12T19:45:57.295-07:00</updated><title type='text'>Mbak ati yang sexy</title><content type='html'>&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://rumahseks.blogspot.com/2008/10/mbak-ati.html"&gt;By : Om Bob&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;&lt;div class="post-header-line-1"&gt; &lt;span class="post-comment-link" style="float: right;"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-author vcard"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-icons"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" height="40"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td style="padding-top: 0px;"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Frumahseks.blogspot.com%2F2008%2F10%2Fmbak-ati.html&amp;amp;t=Rumah%20Seks%20Indonesia%3A%20Mbak%20Ati%20-%20Cerita%20seks%2C%20cerita%20panas%2C%20cerita%2017tahun%20dan%20artikel%20seks%20terlengkap&amp;amp;src=sp" name="fb_share" style="text-decoration: none;" type="button_count"&gt;&lt;span class="fb_share_size_Small "&gt;&lt;span class="FBConnectButton FBConnectButton_Small" style="cursor: pointer;"&gt;&lt;span class="FBConnectButton_Text"&gt;Share&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fb_share_count_nub_right "&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fb_share_count  fb_share_count_right"&gt;&lt;span class="fb_share_count_inner"&gt;0&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 9px 0pt 0pt 10px;"&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding-top: 15px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Pertama-tama perkenalkan nama saya Harnowo, berasal dari sebuah kota J  di Jawa Tengah. Sekarang ini saya bekerja di sebuah perusahaan di  Jakarta. Adapun kisah ini terjadi kurang lebih 6 tahun yang lalu saat  saya masih kuliah tingkat akhir di kota yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana  kebiasaan kota-kota di Jawa Tengah dimana masyarakatnya hidup saling  membantu, demikian juga dengan keluarga saya. Sebagai salah seorang yang  memiliki kedudukan relatif tinggi di kantor-nya, bapak saya memiliki  beberapa anak buah, yang pada saat ada acara-acara keluarga seperti  syukuran, arisan, dll datang ke rumah untuk membantu tanpa diminta  sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa anak buah bapak saya yang sering  berkunjung itu ada seseorang yang sering saya perhatikan, sebutlah  namanya Mbak Ati yang berusia kurang lebih 8 tahun diatas saya. Orangnya  biasa-biasa saja, tidak terlalu cantik bahkan, tetapi menurut saya  memiliki sex appeal yang tinggi. Perawakannya, menurut istilah Jawa  lencir, artinya badan agak kurus namun tinggi semampai dengan buah dada  tidak begitu besar tetapi mengkal. Dari beberapa kedatangan ke rumah  saya itulah saya semakin akrab dengan Mbak Ati, yang untungnya juga  sangat supel untuk bergaul dengan siapa saja, mungkin juga karena saya  anak boss-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai informasi, Mbak Ati berasal dari kota B  yang berjarak 50 km dari kota saya, sehingga di kota J itu dia ngekos  dan setiap akhir minggu harus bolak-balik untuk menjenguk suami dan  anaknya yang terpaksa ditinggal di kota B. Adapun suaminya bekerja di  sebuah perusahaan ekspedisi, dan di kota B suami dan anak Mbak Ati  tinggal bersama dengan orang tua Mbak Ati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian antara saya  dengan Mbak Ati berawal dari kedatangan Mbak Ati bersama salah seorang  teman kantornya, yang terus terang saya lupa namanya ke rumah. Hari dan  tanggal-nya juga saya lupa, cuma yang saya ingat adalah hari itu adalah  selang beberapa hari setelah lebaran. Pada siang itu saya sedang  sendirian berada di rumah, dimana saudara-saudara dan orang tua saya  sedang bepergian. Maklumlah saat itu saya sedang melakukan penulisan  skripsi sehingga banyak waktu di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bapak-Ibu ada Mas" tanya Mbak Ati&lt;br /&gt;"Enggak  ada Mbak" jawab saya, sambil menerangkan bahwa kedua orang tua saya  sedang pergi semenjak pagi, sehingga mungkin siang ini sudah pulang.&lt;br /&gt;"Apa mau ditunggu?" tawar saya kepada mereka.&lt;br /&gt;Mereka lalu mengangguk setuju dengan asumsi orang tua saya akan pulang +/- 1 jam lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian  mereka masuk dan duduk lesehan di ruang keluarga rumah saya. Sebagai  seorang tuan rumah yang baik, saya tinggal mereka sebenatar untuk  membuatkan minuman dan menyuguhkan makanan ringan. Setelah itu kami  ngobrol ngalor-ngidul sambil nonton TV yang berada di ruangan tsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang  15 menit kemudian teman Mbak Ati pamit untuk ke belakang sebentar,  sehingga tinggallah kami berdua. Sebagai seseorang laki-laki yang udah  lama memperhatikan dan ada kesempatan berdua dengan Mbak Ati, saya  keluarkanlah segala kenekatan saya. Sampai sekarang saya selalu  tersenyum sendiri mengingat hal tsb. Saya dekati Mbak Ati dengan  deg-degan.&lt;br /&gt;"Mbak?" tanya saya,&lt;br /&gt;"Apa?" jawab Mbak Ati&lt;br /&gt;terus diam sebentar, setelah itu ..&lt;br /&gt;"Boleh cium enggak?" kata saya tiba-tiba,&lt;br /&gt;saat itu Mbak Ati diam aja, ya udah saya anggap berarti boleh.&lt;br /&gt;Kemudian saya cium pipinya kanan kiri berulang kali.&lt;br /&gt;Mbak Ati cuman berkata "ati-ati kalau kelihatan temen lho, khan gak enak".&lt;br /&gt;Demi  kehati-hatian pula saya lalu ke belakang untuk memantau aktivitas temen  Mbak Ati. Setelah merasa aman, karena temen itu buang air besar maka  saya kembali lagi ke ruang keluarga.&lt;br /&gt;"Aman kok Mbak" terang saya sambil menjelaskan keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian  saya ciumin lagi pipinya sekali lagi, setelah itu saya tingkatkan  mencium bibirnya. Seperti biasa, pertama-tama ada perlawanan dari Mbak  Ati mungkin karena kaget. Namun demikian setelah itu bibir dan lidah  kami saling berpagutan. Yang saya ingat waktu itu adalah lipstik yang  dikenakan Mbak Ati nempel di bibir saya, sehingga saya harus  membersihkan dengan kaos saya hahahaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil mengungkapkan  kekaguman saya akan bentuk tubuhnya yang lencir, tidak lupa tangan saya  kemudian menjelajahi buah dadanya dari luar. Ukurannya tidak begitu  besar, mungkin 34A, namun masih mengkal. Tidak puas dengan itu, tangan  kanan kemudian saya masukkan ke dalam BH-nya sambil memilin-milin  putingnya. Karena ini pengalaman pertama, memang rasanya sulit untuk  dilukiskan. Pokoknya benar-benar baru memegang sesuatu yang empuk dan  kenyal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat kami harus berati-hati agar tidak ketahuan  teman-nya Mbak Ati, maka saya memutuskan untuk menghentikan serangan.  Saya anggap hal tsb. cukup sebagai awalan, yang penting Mbak Ati enggak  menolak kalau saya cium dan pegang buah dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menunggu  selama 1 jam, dimana kedua orang tua saya juga belum kembali, maka Mbak  Ati dan temannya memutuskan untuk pulang sambil berpesan agar  menyampaikan kepada ortu bahwa mereka berdua tadi telah datang  berkunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa waktu setelah kejadian itu, Mbak Ati  masih sering berkunjung ke rumah saya untuk sekedar membantu acara  keluarga atau kantor, maupun sekedar main-main. Oh iya Mbak Ati memiliki  hobi fitnes di sebuah tempat yang berjarak 200 meter dari rumah saya,  sehingga setelah selesai sering main ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa  bulan kemudian baru ada kejadian yang kurang lebih sama dengan kejadian  diatas. Hal itu dimulai dengan hampir berakhirnya masa berlaku SIM saya.  Mengingat ada saudara Mbak Ati yang bekerja di kepolisian, maka pada  saat mengurus perpanjangan SIM, saya meminta bantuan Mbak Ati. Dan Mbak  Ati-pun menyetujuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa urusan yang berkaitan dengan  administrasi telah diselesaikan oleh saudara-nya Mbak Ati, dimana saya  hanya perlu datang untuk pengambilan foto saja. Karena saya belum kenal  dengan saudara-nya itu, saya datang bersama dengan Mbak Ati dengan  terlebih dahulu saya jemput dia dengan mobil ke kantornya. Setelah foto,  Mbak Ati meminta bantuan saya untuk mengantar dia ke suatu tempat yang  lumayan jauh untuk suatu urusan yang penting, mumpung ada mobil katanya.  Adapun SIM yang hampir jadi nanti akan diantarkan oleh dia sendiri ke  rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah kesempatan lagi nih" pikir saya agak nekat lagi.  Kemudian saya ajak ngobrol mengenai kejadian yang telah kami lakukan  beberapa bulan sebelumnya. Dia mengatakan enggak apa-apa. Jawaban lain  yang saya peroleh malah tidak saya duga, dimana dia mengatakan memiliki  beberapa koleksi majalah porno. Tidak saya sia-siakan tawaran itu,  kemudian kami ke kos Mbak Ati terlebih dahulu mengambil majalah tsb.  Didalam mobil sambil menyetir saya melihat-lihat majalah tsb. Mbak Ati  melihat sambil senyum-senyum. Namun karena saya pikir melihat  majalah-nya dapat dilakukan di rumah saja, maka sebaiknya saya lebih  memanfaatkan kesempatan berdua yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga tangan kiri  saya mulai saya tempelkan ke paha Mbak Ati. Karena tidak ada penolakan,  maka saya teruskan sampai daerah pangkal pahanya. Yang saya inget waktu  itu Mbak Ati mengenakan 2 buah celana dalam secara bersamaan. Sehingga  serangan saya agak tersendat. Setelah dijelaskan, bahwa dia memakai 2  CD, maka dengan leluasa tangan saya dapat menyentuh daerah  kewanitaannya. Selama perjalanan tangan kiri saya banyak berkutat di  daerah tsb. sehingga semakin lama semakin basah. Kadang-kadang saya  tarik untuk sekedar ganti persneling atau mencium bau daeah kewanitaan.  Woow seperti ini ya baunya vagina. Rasanya kayak nano-nano, ramai campur  aduk.&lt;br /&gt;Setelah selesai urusannya, Mbak Ati saya antar kembali ke kantornya. Suatu pengalaman baru telah bertambah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam  harinya, Mbak Ati datang ke rumah saya mengantarkan SIM yang telah  jadi, sesuai dengan janjinya pada siang tadi. Selang beberapa waktu  setelah Mbak Ati datang, saya juga tidak mengerti mengapa semua serba  kebetulan, kedua orang tua saya akan pergi ke acara kondangan. Sehingga  yang ada dirumah tinggal saya, Mbak Ati dan seorang adik saya yang masih  kecil. Meneruskan acara siang tadi, setelah orang tua saya pergi, Mbak  Ati saya tarik ke dalam kamar saya. Pada saat itu adik saya sedang  belajar di kamarnya. Dengan sedikit protes, namun tidak saya hiraukan,  kami kemudian berciuman bibir dengan hebat. Teknik tarik menarik lidah  diperkenalkan oleh Mbak Ati kepada saya. Rasanya benar-benar sangat  mengasyikkan.&lt;br /&gt;Sambil melakukan ciuman lidah, tangan saya bergerilya  ke sekitar buah dada yang tiada bosan-bosannya saya pegang dan kemudian  juga sekitar daerah selangkangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa menit  kemudian, tanpa pernah ada kata-kata yang keluar, saya lepaskan seluruh  pakaian yang menempel pada tubuh Mbak Ati. Benar-benar suatu pemandangan  yang sangat indah. Yang menjadi perhatian utama saya adalah bentuk  vagina-nya. Benar-benar mengejutkan, tanpa ada bulu yang menempel  sedikitpun. Waktu saya tanya, dia menjawab semenjak kecil memang tidak  tumbuh bulu sedikitpun di daerah vaginanya. Karena penasaran saya teliti  detail daerah vagina-nya. Setelah puas baru saya ciumin bagian  dalemnya. Mbak Ati cuman merintih-rintih namun tidak bersuara. Baunya  benar-benar kayak nano-nano, sulit untuk digambarkan. Saya yakin para  pembaca pernah mengalaminya sendiri. Namun untuk memperoleh yang vaginya  tanpa bulu sedikitpun, saya pikir itu adalah pengalaman yang langka.  Setelah puas menciumi vaginanya, saya meminta Mbak Ati untuk melakukan  oral terhahap kemaluan saya. karena itu adalah pengalaman pertama  rasanya benar-benar sangat mengasyikkan. Sehingga dalam hitungan menit  pertahanan saya jebol. Kejadian yang tidak saya duga adalah Mbak Ati  melahap semua air mani saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat karena Mbak Ati belum puas  banget, sedangkan saya sudah lemas, maka saya kemudian menciumi lagi  daerah vagina Mbak Ati yang sangat antik tsb. Kurang lebih 20 menit saya  ciumin dan akhirnya dengan lamat-lamat setelah Mbak Ati mengucapkan  "Ahh" saya akhiri oral sex tsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadar bahwa kami tidak sendirian  di rumah, maka untuk sementara kami cukupkan acara pada malam itu sambil  saling berbisik untuk melakukan hal-hal yang lebih asyik pada  kesempatan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah pengalaman saya.  Mungkin bagi temen-temen tidak ada istimewanya, apalagi saya  menuliskannya tanpa desikripsi "oh uh" dengan jelas. Namun ya begitulah  pengalaman saya yang pertama dengan seorang wanita, asyiknya menciumin  vagina yang tidak berbulu. Bagi temen-temen yang ingin berkenalan dan  memberikan komentar mengenai tulisan ini dapat melayangkan email kepada  saya. Dan bagi cewek-cewek yang ingin dioral saja juga saya tunggu  emailnya, dijamin lama deh. Terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1411556838748479078-8115258587347759949?l=janda-kesepian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/feeds/8115258587347759949/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/mbak-ati-yang-sexy.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/8115258587347759949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/8115258587347759949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/mbak-ati-yang-sexy.html' title='Mbak ati yang sexy'/><author><name>Tante Kesepian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14713038125543777221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/-FZxK7b8lVNc/ThmHlk6Uv2I/AAAAAAAAAAY/ioSmfPbY4Yw/s220/248197_1629217110192_1829537763_1083242_4655990_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1411556838748479078.post-1768652254700985991</id><published>2011-07-12T19:45:00.000-07:00</published><updated>2011-07-12T19:45:01.796-07:00</updated><title type='text'>Major Lagi Ngintip ...................</title><content type='html'>&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://rumahseks.blogspot.com/2008/10/bonus-mengintip.html"&gt;By : Om bob&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;&lt;div class="post-header-line-1"&gt; &lt;span class="post-comment-link" style="float: right;"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-author vcard"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-icons"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" height="40"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td style="padding-top: 0px;"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Frumahseks.blogspot.com%2F2008%2F10%2Fbonus-mengintip.html&amp;amp;t=Rumah%20Seks%20Indonesia%3A%20Bonus%20mengintip%20-%20Cerita%20seks%2C%20cerita%20panas%2C%20cerita%2017tahun%20dan%20artikel%20seks%20terlengkap&amp;amp;src=sp" name="fb_share" style="text-decoration: none;" type="button_count"&gt;&lt;span class="fb_share_size_Small "&gt;&lt;span class="FBConnectButton FBConnectButton_Small" style="cursor: pointer;"&gt;&lt;span class="FBConnectButton_Text"&gt;Share&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fb_share_count_nub_right "&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fb_share_count  fb_share_count_right"&gt;&lt;span class="fb_share_count_inner"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 9px 0pt 0pt 10px;"&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding-top: 15px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Aku Andy. Beberapa waktu lalu aku pernah bercerita tentang nenek Elsa  yang cantik (istri dari adik kakekku). Setelah membuat affair dengan  nenekku, aku juga merasakan kenikmatan adik dan sepupu nenek. Salah  satunya dengan Tante Wine, usianya 38 tahun. Sekarang aku mau berbagi  cerita nyata tentang affairku dengan Tante Wine ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak  tinggal dirumah nenek, aku bener-bener dimanja soal sex, juga soal  duit. Sampai suatu ketika rumah nenek kedatangan tamu dari Manado,  namanya Tante Wine. Menurut nenek Tante Wine ini tinggalnya di desa jadi  agak kolot gitu. Tapi pas pertama dikenalkan, aku tidak melihat wajah  desa dari Tante Wine. Raut muka yang cantik (nggak berbeda jauh dengan  nenek Elsa) dengan postur yang semampai lagipula putih bersih membuat  orang tidak mengira kalau Tante Wine adalah wanita desa. Satu-satunya  yang bisa meyakinkan kalau Tante Wine orang desa adalah logat bahasanya  yang bener-bener medok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun langsung akrab dengan Tante Wine  karena orangnya lucu dan suka humor. Bahkan aku sering ngeledek karena  dialeknya yang ngampung itu. Wajahnya keliatan agak Indo dengan tinggi  kutaksir 162 cm. Pinggangnya langsing, lebih langsing dari nenek Elsa,  dan yang bikin pikiran kacau adalah buah dadanya yang lumayan gede. Aku  nggak tau persis ukurannya tapi cukup besar untuk menyembul dari balik  daster.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran kotorku mulai bermain dan mengira-ngira. Apakah  Tante Wine haus sex seperti kakaknya? Kalau kakaknya mau kenapa adiknya  nggak dicoba? Akan merupakan sebuah pengalaman sex yang seru kalo aku  bisa menidurinya. Pikiran-pikiran seperti itu berkecamuk dibenak  kotorku. Apalagi dengan bisanya aku tidur dengan nenekku, (dan banyak  wanita STW) rasanya semua wanita yang umurnya diatas 35 kuanggap akan  lebih mudah ditiduri, hanya dengan sedikit pujian dan rayuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirumah,  nenek Elsa sudah beberapa kali wanti-wanti padaku jangan sampe aku  perlakukan Tante Wine sama sepertinya, rupanya Elsa cemburu karena  ngeliat kemingkinan itu ada. Sampai suatu ketika nenek sedang pergi  dengan kakek ke Surabaya selama dua hari. Sehari sebelum berangkat aku  sempat melampiaskan nafsuku bersama Elsa di sebuah motel deket rumah,  biar aman. Disana sekali lagi nenek Elsa wanti-wanti. Aku mengiyakan,  aku bersusaha meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah nenek dan kakek berangkat aku  mulai menyusun rencana. Dirumah tinggal aku, Tante Wine dan seorang  pembantu. Hari pertama niatku belom berhasil. Bebeapa kali aku menggoda  Tante Wine dengan cerita-cerita menjuurus porno tapi Tante nggak  bergeming. Saking nggak tahan nafsu ingin menyetubuhi Tante Wine,  malamnya aku coba mengintip saat dia mandi. Dibelakang kamar mandi aku  meletakkan kursi dan berencana mengintip dari lubang ventilasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari  mulai malam ketika Tante Wine masuk kamar mandi, aku memutar kebelakang  dan mulai melihat aktifitas seorang wanita cantik didalam kamar mandi.  Perlahan kulihat Tante Wine menanggalkan daster merah jambunya dan  menggantungkan di gantungan. Ups! Ternyata Tante Wine tidak memakai  apa-apa lagi dibalik daster tadi. Putih mulus yang kuidam0idamkan kini  terhampar jelas dibalik lubang fentilasi. Pertama Tante Wine membasuk  wajahnya. Sejenak dia bengong dan tiba-tiba tangannya mengelus-elus  lehernya, lama. Perlahan tangan itu mulai merambah buah dadanya yang  besar. Aku berdebar, lututku gemetaran melihat adegan sensual didalam  kamar mandi. Jemari Tante Wine menjeljah setiap jengkal tubuhnya yang  indah dan berhenti diselangkangannya. Badan Tante Wine bergetar dan  dengan mata mengatup dia sedikit mengerang ohh! Dan tubuhnya kelihatan  melemas. Dia orgasme. Begitu cepatkah? Karena Mr. Happy-ku juga sudah  menggeliat-geliat, aku menuntaskan nafsuku dibelakang kamar mandi dengan  mata masih memandang ke dalam. Nggak sadar aku juga mengerang dan  spermaku terbang jauh melayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa detik aku  memejamkan mata menahan sensasi kenikmatan. Ketika kubuka mata, wajah  cantik Tante Wine sedang mendongak menatapku. Wah ketahuan nih. Belum  sempat aku bereaksi ingin kabur, dari dalam kamar mandi Tante Wine  memanggilku lirih.&lt;br /&gt;"Andy, nggak baik mengintip," kata tante Wine.&lt;br /&gt;"Ma ma maafin," jawabku gagap.&lt;br /&gt;"Nggak  apa-apa, dari pada disitu mendingan..," kata Tante Wine lagi sambil  tangannya melambai dan menunjuk arah ke dalam kamar mandi.&lt;br /&gt;Aku paham  maksudnya, dia memintaku masuk kedalam. Tanpa hitungan ketiga aku  langsung loncat dan berlari memutar kedalam rumah dan sekejab aku sudah  stand by di depan pintu kamar mandi. Smataku sedikit melongok sekeliling  takut ketahuan pembantu. Hampir bersamaan pintu kamar mandi terbuka dan  aku bergegas masuk. Kulihat Tante Wine melilitkan handuk ditubuhnya.  Tapi karena handuknya agak kecil maka paha mulusnya jelas terlihat,  putih dan sangat menggairahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu pake ngitip aku segala," ujar Tante Wine.&lt;br /&gt;"Aku kan nggak enak kalo mau ngomong langsung, bisa-bisa aku di tampar, hahaha," balasku.&lt;br /&gt;Tante  Wine memandangku tajam dan dia kemudian menerkam mulutku. Dengan  busanya dia mencumbuku. Bibir, leher, tengkuk dan dadaku nggak lepas  dari sapuan lidah dan bibirnya. Melihat aksi ini nggak ada rasa kalo  Tante Wine tuh orang desa. Ternyata keahlian nge-sex itu tak memandang  desa atau kota ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali sentak kutarik handuknya dan wow!  Pemandangan indah yang tadi masih jauh dari jangkauan kini bener-bener  dekat, bahkat menempel ditubuhku. Dalam posisi masih berdiri kemudian  Tante Wine membungkuk dan melahap Mr. happy yang sudah tegak kembali.  Lama aku dihisapnya, nikat sekali rasanya. Tante Wine lebih rakus dari  nenek Elsa. Atau mungkin disinilah letak 'kampungan'nya, liar dan buas.  Bebrapa detik kemudian setelah puas mengisapku, tante Wine mengambil  duduk dibibir bak mandi dan menarik wajahku. Kutau maksudnya. Segera  kusibakkan rambut indah diselangkangannya dan bibir merah labia mayora  menantangku untuk dijilat. Jilatanku kemudian membuat Tante Wine  menggelepar. Erangan demi erangan keluar dari mulut Tante Wine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Andi kamu hebat, pantesan si Elsa puas selalu," cerocos Tante Wine.&lt;br /&gt;"Emangnya Tante Wine tau?" jawabku disela aktifitas menjilat.&lt;br /&gt;"Ya nenekmu itu cerita. Dan sebelum ke Surabaya dia wanti-wanti jangan menggodaku, dia cemburu tuh," balas Tante Wine.&lt;br /&gt;Ups, rupanya rahasiaku sudah terbongkar. Kuangkat wajahku, lidahku menjalar menyapu setiap jengkal kulit putih mulus Tante Wine.&lt;br /&gt;"Sedari  awal aku sudah tau kamu mengintip, tapi kubiarkan saja, bahkan  kusengaja aja tadi pura-pura orgasme untuk memancingmu, padahal sih aku  belum keluar tadi, heheh kamu tertipu ya, tapi Ndy, sekarang masukin  yuk, aku bener-bener nggak tahan mau keluar," kata Tante Wine lagi.&lt;br /&gt;Aku sedikit malu juga ketahuan mengintip tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih  dalam posisi jongkok di bibir bak mandi, kuarahkan Mr. happy ke  vaginanya. Tante Wine mengerang dan merem melek setiap kuenjot dengan  batang kemaluanku yang sudah besar dan memerah. Lama kami bertarung  dalam posisi ini, sesekali dia menarik tubuhku biar lebih dalam. Setelah  puas dengan sensasi ini kami coba ganti posisi. Kali ini dalam posisi  dua-duanya berdiri, kaki kanannya diangkat dan diletakkan diatas toilet.  Agak sedikit menyamping kuarahkan Mr. Happy ke vaginanya. Dengan posisi  ini kerasa banget gigitan vaginanya ketiga kuenjot keluar masuk. Kami  berpelukan dan berciuman sementara Mr. Happy masih tetep aktif keluar  masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas dengan gaya itu kami coba mengganti posisi. Kali ini  doggie style. Sambil membungkuk, tante Wine menopangkan tangan di bak  mandi dan dari belakangnya kumasukkan kemaluanku. Uhh terasa nikmatnya  karena batang Mr. Happy seakan dijepit dengan daging yang kenyal.  Kutepuk tepuk pantatnya yang mulus dan berisi. Tante Wine mendesis-desis  seperti kepedesan. Lama kami mengeksplorasi gaya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  beberapa menit kemudian Tante Wine memintaku untuk tiduran di lantai  kamar mandi. Walaupun agak enggan, kulakuin juga maunya, tapi aku tidak  bener-bener tiduran karena punggungku kusenderkan didinding sementara  kakiku selonjoran. Dan dalam posisi begitu aku disergapnya dengan kaki  mengangkangi tubuhku. Dan perlahan tangan kanannya memegang Mr. Happy,  sedikit dikocoknya dan diarahkan ke vagina yang sudah membengkak.  Sedetik kemudian dia sudah naik turun diatas tubuhku. Rupanya Tante Wine  sangat menikmati posisi ini. Buktinya matanya terpejam dan desisannya  menguat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama kubiarkan dia menikmati gaya ini. Sesekali kucium  bibirnya dan kumainkan pentil buah dadanya. Dia mengerang nikmat. Dan  sejenak tiba-tiba raut mukanya berubah rona.&lt;br /&gt;Dia meringis, mengerang dan berteriak.&lt;br /&gt;"Ndy, aku mau nyampe nih, oh, oh, oh, ah, ah nikmatnya," erangnya.&lt;br /&gt;Tangannya meraih tubuhku dan aku dipeluknya erat. Tubuhnya menggeliat-geliat panas sekali.&lt;br /&gt;"Ohh," ditingkah erangan itu, kemudian tubuhnya melemah dipangkuanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  hatiku curang juga nih Tante, masak aku dibiarkan tidak tuntas. Masih  dalam posisi lemas, tubuhnya kutelentangkan di lantai kamar mandi tanpa  mencabut mr happy dari vaginanya. Dan perlahan mulai kuenjot lagi. Dia  mengerang lagi mendapatkan sensasi susulan. Uh tante Wine memang  dahsyat, baru sebentar lunglai sekarang sudah galak lagi. Pinggulnya  sudah bisa mengikuti alur irama goyanganku. Lama kami menikmati alunan  irama seperti itu, kini giliranku mau sampai.&lt;br /&gt;"Tante aku mau keluarin ya", kataku menahan gejolak, bergetar suaraku.&lt;br /&gt;"Sama-sama ya Ndy, aku mau lagi nih, ayo, yok keluarin, yok, ahh".&lt;br /&gt;Dibalik  erangannya, akupun melolong seperti megap-megap. Sejurus kemudian kami  sudah berpelukan lemas dilantai kamar mandi. Persetan dengan lantai ini,  bersih atau nggak, emangnya gue pikirin. Kayaknya aku tertidur sejenak  dan ketika sadar aku segera mengangkat tubuh Tante Wine dan kamipun  mandi bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai mandi, kami bingung gimana harus keluar  dari kamar mandi. Takut Bi Ijah tau. Kubiarkan Tante Wine yang keluar  duluan, setelah aman aku menyusul kemudian. Namun bukannya kami kekamar  masing-masing, Tante Wine langsung menysul ke kamarku setelah mengenakan  daster. Aku yang masih telanjang di kamarku langsung disergapnya lagi.  Dan kami melanjutkan babak babak berikutnya. Malam itu kami habiskan  dengan penuh nafsu membara. Kuhitung ada sekitar 7 kali kami keluar  bersama. Aku sendiri heran kenapa aku bisa orgasme sebanyak itu.  Walaupun di ronde-ronde terakhir spermaku sudah tidak keluar lagi, tapi  rasa puas karena multi orgasme tetap jadi sensasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 2 hari  nenek Elsa di Surabaya, aku habiskan segala kemampuan sexualku dengan  Tante Wine. Sejak kejadian itu masih ada sebulan tante Wine tinggal  dirumah nenek Elsa. Selama itu pula aku kucing-kucingan bermain cinta.  Aku harus melayani nenek Elsa dan juga bermain cinta dengan Tante Wine.  Semua pengalaman itu nyata kualami. Aku nggak merasa capek harus  melayani dua wanita STW yang dua-duanya punya nafsu tinggi karena aku  juga menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1411556838748479078-1768652254700985991?l=janda-kesepian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/feeds/1768652254700985991/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/major-lagi-ngintip.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/1768652254700985991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/1768652254700985991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/major-lagi-ngintip.html' title='Major Lagi Ngintip ...................'/><author><name>Tante Kesepian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14713038125543777221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/-FZxK7b8lVNc/ThmHlk6Uv2I/AAAAAAAAAAY/ioSmfPbY4Yw/s220/248197_1629217110192_1829537763_1083242_4655990_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1411556838748479078.post-8097117027412488494</id><published>2011-07-12T19:42:00.000-07:00</published><updated>2011-07-12T19:42:31.337-07:00</updated><title type='text'>Warung langganan</title><content type='html'>&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://rumahseks.blogspot.com/2008/09/warung-langganan.html"&gt;By : ombob&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;&lt;div class="post-header-line-1"&gt; &lt;span class="post-comment-link" style="float: right;"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-author vcard"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-icons"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" height="40"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td style="padding-top: 0px;"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Frumahseks.blogspot.com%2F2008%2F09%2Fwarung-langganan.html&amp;amp;t=Rumah%20Seks%20Indonesia%3A%20Warung%20langganan%20-%20Cerita%20seks%2C%20cerita%20panas%2C%20cerita%2017tahun%20dan%20artikel%20seks%20terlengkap&amp;amp;src=sp" name="fb_share" style="text-decoration: none;" type="button_count"&gt;&lt;span class="fb_share_size_Small "&gt;&lt;span class="FBConnectButton FBConnectButton_Small" style="cursor: pointer;"&gt;&lt;span class="FBConnectButton_Text"&gt;Share&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fb_share_count_nub_right "&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fb_share_count  fb_share_count_right"&gt;&lt;span class="fb_share_count_inner"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 9px 0pt 0pt 10px;"&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding-top: 15px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Namaku Otong (bukan nama sebenarnya), aku bekerja di sebuah  perusahaan cukup terkenal di Jawa Barat, di sebuah kota yang sejuk, dan  saya tinggal (kost) di daerah perkampungan yang dekat dengan kantor. Di  daerah tersebut terkenal dengan gadis-gadisnya yang cantik &amp;amp; manis.  Aku dan teman-teman kost setiap pulang kantor selalu menyempatkan diri  untuk menggoda cewek-cewek yang sering lewat di depan kost. Di sebelah  kostku ada sebuah warung kecil tapi lengkap, lengkap dalam artian untuk  kebutuhan sehari-hari, dari mulai sabun, sandal, gula, lombok, roti,  permen, dsb itu ada semua. Aku sudah langganan dengan warung sebelah.  Kadang kalau sedang tidak membawa uang atau saat belanja uangnya kurang  aku sudah tidak sungkan-sungkan untuk hutang. Warung itu milik Ibu Ita  (tapi aku memanggilnya Tante Ita), seorang janda cerai beranak satu yang  tahun ini baru masuk TK nol kecil. Warung Tante Ita buka pagi-pagi  sekitar jam lima, terus tutupnya juga sekitar jam sembilan malam. Warung  itu ditungguin oleh Tante Ita sendiri dan keponakannya yang SMA, Krisna  namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasanya, sepulang kantor aku mandi, pakai  sarung terus sudah stand by di depan TV, sambil ngobrol bersama  teman-teman kost. Aku bawa segelas kopi hangat, plus singkong goreng,  tapi rasanya ada yang kurang.., apa ya..?, Oh ya rokok, tapi setelah aku  lihat jam dinding sudah menunjukkan jam 9 kurang 10 menit (malam), aku  jadi ragu, apa warung Tante Ita masih buka ya..?, Ah.., aku coba saja  kali-kali saja masih buka. Oh, ternyata warung Tante Ita belum tutup,  tapi kok sepi.., "Mana yang jualan", batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tante.., Tante.., Dik Krisna.., Dik Krisna", lho kok kosong, warung ditinggal sepi seperti ini, kali saja lupa nutup warung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah kucoba panggil sekali lagi, "Permisi.., Tante Ita?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh ya.., tungguu", Ada suara dari dalam. Wah jadi deh beli rokok akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang  keluar ternyata Tante Ita, hanya menggunakan handuk yang dililitkan di  dada, jalan tergesa-gesa ke warung sambil mengucek-ngucek rambutnya yang  kelihatannya baru selesai mandi juga habis keramas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh.., maaf Tante, Saya mau mengganggu nich.., Saya mo beli rokok gudang garam inter, lho Dik Krisna mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"O..,  Krisna sedang dibawa ama kakeknya.., katanya kangen ama cucu.., maaf ya  Mas Otong Tante pake' pakaian kayak gini.. baru habis mandi sich".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak  apa-apa kok Tante, sekilas mataku melihat badan yang lain yang tidak  terbungkus handuk.., putih mulus, seperti masih gadis-gadis, baru kali  ini aku lihat sebagian besar tubuh Tante Ita, soalnya biasanya Tante Ita  selalu pakai baju kebaya. Dan lagi aku baru sadar dengan hanya handuk  yang dililitkan di atas dadanya berarti Tante Ita tidak memakai BH.  Pikiran kotorku mulai kumat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam gini kok belum tutup Tante..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya Mas Otong, ini juga Tante mau tutup, tapi mo pake' pakaian dulu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh  biar Saya bantu ya Tante, sementara Tante berpakaian", kataku. Masuklah  aku ke dalam warung, lalu menutup warung dengan rangkaian papan-papan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah  ngerepoti Mas Otong kata Tante Ita.., sini biar Tante ikut bantu juga".  Warung sudah tertutup, kini aku pulang lewat belakang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Trimakasih lho Mas Otong..?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sama-sama.."kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tante saya lewat belakang saja".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat  aku dan Tante Ita berpapasan di jalan antara rak-rak dagangan, badanku  menubruk tante, tanpa diduga handuk penutup yang ujung handuk dilepit di  dadanya terlepas, dan Tante Ita terlihat hanya mengenakan celana dalam  merah muda saja. Tante Ita menjerit sambil secara reflek memelukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas  Otong.., tolong ambil handuk yang jatuh terus lilitkan di badan Tante",  kata tante dengan muka merah padam. Aku jongkok mengambil handuk tante  yang jatuh, saat tanganku mengambil handuk, kini di depanku persis ada  pemandangan yang sangat indah, celana dalam merah muda, dengan  background hitam rambut-rambut halus di sekitar vaginanya yang tercium  harum. Kemudian aku cepat-cepat berdiri sambil membalut tubuh tante  dengan handuk yang jatuh tadi. Tapi ketika aku mau melilitkan handuk  tanpa kusadari burungku yang sudah bangun sejak tadi menyentuh tante.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas Otong.., burungnya bangun ya..?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya Tante.., ah jadi malu Saya.., habis Saya lihat Tante seperti ini mana harum lagi, jadi nafsu Saya Tante..".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah tidak apa-apa kok Mas Otong itu wajar..".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh ngomong-ngomong Mas Otong kapan mo nikah..?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah belum terpikir Tante..".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yah..,  kalau mo' nikah harus siap lahir batin lho.., jangan kaya' mantan suami  Tante.., tidak bertanggung jawab kepada keluarga.., nah akibatnya  sekarang Tante harus bersetatus janda. Gini tidak enaknya jadi janda,  malu.., tapi ada yang lebih menyiksa Mas Otong.. kebutuhan batin..".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh ya Tante.., terus gimana caranya Tante memenuhi kebutuhan itu..", tanyaku usil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yah.., Tante tahan-tahan saja..".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasihan..,  batinku.., andaikan.., andaikan.., aku diijinkan biar memenuhi  kebutuhan batin Tante Ita.., ough.., pikiranku tambah usil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu bentuk sarungku sudah berubah, agak kembung, rupanya tante juga memperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas Otong burungnya masih bangun ya..?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cuma megangguk saja, terus sangat di luar dugaanku, tiba-tiba Tante Ita meraba burungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wow besar juga burungmu, Mas Otong.., burungnya sudah pernah ketemu sarangnya belom..?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belum..!!",  jawabku bohong sambil terus diraba turun naik, aku mulai merasakan  kenikmatan yang sudah lama tidak pernah kurasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas..,  boleh dong Tante ngeliatin burungmu bentarr saja..?", belum sempat aku  menjawab, Tante Ita sudah menarik sarungku, praktis tinggal celana  dalamku yang tertinggal plus kaos oblong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh.., sampe' keluar gini Mas..?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya  emang kalau burungku lagi bangun panjangnya suka melewati celana dalam,  Aku sendiri tidak tahu persis berapa panjang burungku..?", kataku  sambil terus menikmati kocokan tangan Tante Ita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah..,  Tante yakin, yang nanti jadi istri Mas Otong pasti bakal seneng dapet  suami kaya Mas Otong..", kata tante sambil terus mengocok burungku.  Oughh.., nikmat sekali dikocok tante dengan tangannya yang halus kecil  putih itu. Aku tanpa sadar terus mendesah nikmat, tanpa aku tahu, Tante  Ita sudah melepaskan lagi handuk yang kulilitkan tadi, itu aku tahu  karena burungku ternyata sudah digosok-gosokan diantara buah dadanya  yang tidak terlalu besar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ough.., Tante.., nikmat  Tante.., ough..", desahku sambil bersandar memegangi dinding rak  dagangan, kali ini tante memasukkan burungku ke bibirnya yang kecil,  dengan buasnya dia keluar-masukkan burungku di mulutnya sambil  sekali-kali menyedot.., ough.., seperti terbang rasanya. Kadang-kadang  juga dia sedot habis buah salak yang dua itu.., ough.., sesshh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  kaget, tiba-tiba tante menghentikan kegiatannya, dia pegangi burungku  sambil berjalan ke meja dagangan yang agak ke sudut, Tante Ita naik  sambil nungging di atas meja membelakangiku, sebongkah pantat terpampang  jelas di depanku kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas Otong.., berbuatlah sesukamu.., cepet Mas.., cepet..!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa  basa-basi lagi aku tarik celana dalamnya selutut.., woow.., pemandangan  begini indah, vagina dengan bulu halus yang tidak terlalu banyak. Aku  jadi tidak percaya kalau Tante Ita sudah punya anak, aku langsung saja  mejilat vaginanya, harum, dan ada lendir asin yang begitu banyak keluar  dari vaginanya. Aku lahap rakus vagina tante, aku mainkan lidahku di  clitorisnya, sesekali aku masukkan lidahku ke lubang vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ough Mas.., ough..", desah tante sambil memegangi susunya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terus  Mas.., Maas..", aku semakin keranjingan, terlebih lagi waktu aku  masukkan lidahku ke dalam vaginanya, ada rasa hangat dan denyut-denyut  kecil semakin membuatku gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Tante Ita membalikkan badannya telentang di atas meja dengan kedua paha ditekuk ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo  Mas Otong.., Tante sudah tidak tahan.., mana burungmu Mas.. burungmu  sudah pengin ke sarangnya.., wowww.., Mas Otong.., burung Mas Otong  kalau bangun dongak ke atas ya..?". Aku hampir tidak dengar komentar  Tante Ita soal burungku, aku melihat pemandangan demikian menantang,  vagina dengan sedikit rambut lembut, dibasahi cairan harum asin demikian  terlihat mengkilat, aku langsung tancapkan burungku dibibir vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aughh..", teriak tante.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa Tante..?", tanyaku kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Udahlah Mas.., teruskan.., teruskan..", aku masukkan kepala burungku di vaginanya, sempit sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tante.., sempit sekali Tante.?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak apa-apa Mas.., terus saja.., soalnya sudah lama sich Tante tidak ginian.., ntar juga nikmat..".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah..,  aku paksakan sedikit demi sedikit.., baru setengah dari burungku  amblas.., Tante Ita sudah seperti cacing kepanasan gelepar ke sana ke  mari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Augh.., Mas.., ouh.., Mas.., nikmat Mas.., terus Mas.., oughh..".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu  juga aku.., walaupun burungku masuk ke vaginanya cuma setengah, tapi  sedotannya oughh luar biasa.., nikmat sekali. Semakin lama gerakanku  semakin cepat. Kali ini burungku sudah amblas dimakan vagina Tante Ita.  Keringat mulai membasahi badanku dan badan Tante Ita. Tiba-tiba tante  terduduk sambil memelukku, mencakarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oughh Mas.., ough.., luar biasa.., oughh.., Mas Otong..", katanya sambil merem-melek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kayaknya ini yang namanya orgasme.., ough..", burungku tetap di vagina Tante Ita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas  Otong sudah mau keluar ya..?". Aku menggeleng. Kemudian Tante Ita  telentang kembali, aku seperti kesetanan menggerakkan badaku maju  mundur, aku melirik susunya yang bergelantungan karena gerakanku, aku  menunduk dan kucium putingnya yang coklat kemerahan. Tante Ita semakin  mendesah, "Ough.., Mas..", tiba-tiba Tante Ita memelukku sedikit agak  mencakar punggungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oughh Mas.., aku keluar lagi..",  kemudian dari kewanitaannya aku rasakan semakin licin dan semakin besar,  tapi denyutannya semakin terasa, aku dibuat terbang rasanya. Ach  rasanya aku sudah mau keluar, sambil terus goyang kutanya Tante Ita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tante.., Aku keluarin dimana Tante..?, di dalam boleh nggak..?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terrsseerraah..",  desah Tante Ita. Ough.., aku percepat gerakanku, burungku berdenyut  keras, ada sesuatu yang akan dimuntahkan oleh burungku. Akhirnya semua  terasa enteng, badanku serasa terbang, ada kenikmatan yang sangat luar  biasa. Akhirnya spermaku aku muntahkan dalam vagina Tante Ita, masih aku  gerakkan badanku rupanya kali ini Tante Ita orgasme kembali, dia gigit  dadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas Otong.., Mas Otong.., hebat Kamu Mas".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali kenakan celana dalam serta sarungku. Tante Ita masih tetap telanjang telentang di atas meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas  Otong.., kalau mau beli rokok lagi yah.., jam-jam begini saja ya.., nah  kalau sudah tutup digedor saja.., tidak apa-apa.., malah kalau tidak  digedor Tante jadi marah..", kata tante menggodaku sambil memainkan  puting dan clitorisnya yang masih nampak bengkak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tante  ingin Mas Otong sering bantuin Tante tutup warung", kata tante sambil  tersenyum genit. Lalu aku pulang.., baru terasa lemas sakali badanku,  tapi itu tidak berarti sama sekali dibandingkan kenikmatan yang baru  kudapat. Keesokan harinya ketika aku hendak berangkat ke kantor, saat di  depan warung Tante Ita, aku di panggil tante.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rokoknya  sudah habis ya.., ntar malem beli lagi ya..?", katanya penuh  pengharapan, padahal pembeli sedang banyak-banyaknya, tapi mereka tidak  tahu apa maksud perkataan Tante Ita tadi, akupun pergi ke kantor dengan  sejuta ingatan kejadian kemarin malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1411556838748479078-8097117027412488494?l=janda-kesepian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/feeds/8097117027412488494/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/warung-langganan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/8097117027412488494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/8097117027412488494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/warung-langganan.html' title='Warung langganan'/><author><name>Tante Kesepian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14713038125543777221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/-FZxK7b8lVNc/ThmHlk6Uv2I/AAAAAAAAAAY/ioSmfPbY4Yw/s220/248197_1629217110192_1829537763_1083242_4655990_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1411556838748479078.post-616416125442783374</id><published>2011-07-12T19:41:00.000-07:00</published><updated>2011-07-12T19:41:19.331-07:00</updated><title type='text'>Wanita berkeringat</title><content type='html'>&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://rumahseks.blogspot.com/2008/09/wanita-berkeringat.html"&gt;By : ombob&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;&lt;div class="post-header-line-1"&gt; &lt;span class="post-comment-link" style="float: right;"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-author vcard"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-icons"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" height="40"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td style="padding-top: 0px;"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Frumahseks.blogspot.com%2F2008%2F09%2Fwanita-berkeringat.html&amp;amp;t=Rumah%20Seks%20Indonesia%3A%20Wanita%20berkeringat%20-%20Cerita%20seks%2C%20cerita%20panas%2C%20cerita%2017tahun%20dan%20artikel%20seks%20terlengkap&amp;amp;src=sp" name="fb_share" style="text-decoration: none;" type="button_count"&gt;&lt;span class="fb_share_size_Small "&gt;&lt;span class="FBConnectButton FBConnectButton_Small" style="cursor: pointer;"&gt;&lt;span class="FBConnectButton_Text"&gt;Share&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fb_share_count_nub_right "&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fb_share_count  fb_share_count_right"&gt;&lt;span class="fb_share_count_inner"&gt;7&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 9px 0pt 0pt 10px;"&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding-top: 15px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Jakarta yang panas membuatku kegerahan di atas angkot. Kantorku tidak  lama lagi kelihatan di kelokan depan, kurang lebih 100 meter lagi.  Tetapi aku masih betah di atas mobil ini. Angin menerobos dari jendela.  Masih ada waktu bebas dua jam. Kerjaan hari ini sudah kugarap semalam.  Daripada suntuk diam di rumah, tadi malam aku menyelesaikan kerjaan yang  masih menumpuk. Kerjaan yang menumpuk sama merangsangnya dengan seorang  wanita dewasa yang keringatan di lehernya, yang aroma tubuhnya tercium.  Aroma asli seorang wanita. Baunya memang agak lain, tetapi mampu  membuat seorang bujang menerawang hingga jauh ke alam yang belum pernah  ia rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dik.., jangan dibuka lebar. Saya bisa masuk angin." kata seorang wanita setengah baya di depanku pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersentak. Masih melongo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu jendelanya dirapetin dikit..," katanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini..?" kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya  ampun, aku membayangkan suara itu berbisik di telingaku di atas ranjang  yang putih. Keringatnya meleleh seperti yang kulihat sekarang. Napasnya  tersengal. Seperti kulihat ketika ia baru naik tadi, setelah mengejar  angkot ini sekadar untuk dapat secuil tempat duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih," ujarnya ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  sebetulnya ingin ada sesuatu yang bisa diomongkan lagi, sehingga tidak  perlu curi-curi pandang melirik lehernya, dadanya yang terbuka cukup  lebar sehingga terlihat garis bukitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya juga tidak suka angin kencang-kencang. Tapi saya gerah." meloncat begitu saja kata-kata itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  belum pernah berani bicara begini, di angkot dengan seorang wanita,  separuh baya lagi. Kalau kini aku berani pasti karena dadanya terbuka,  pasti karena peluhnya yang membasahi leher, pasti karena aku terlalu  terbuai lamunan. Ia malah melengos. Sial. Lalu asyik membuka tabloid.  Sial. Aku tidak dapat lagi memandanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kantorku sudah  terlewat. Aku masih di atas angkot. Perempuan paruh baya itu pun masih  duduk di depanku. Masih menutupi diri dengan tabloid. Tidak lama wanita  itu mengetuk langit-langit mobil. Sopir menepikan kendaraan persis di  depan sebuah salon. Aku perhatikan ia sejak bangkit hingga turun. Mobil  bergerak pelan, aku masih melihat ke arahnya, untuk memastikan ke mana  arah wanita yang berkeringat di lehernya itu. Ia tersenyum. Menantang  dengan mata genit sambil mendekati pintu salon. Ia kerja di sana? Atau  mau gunting? Creambath? Atau apalah? Matanya dikerlingkan, bersamaan  masuknya mobil lain di belakang angkot. Sial. Dadaku tiba-tiba  berdegup-degup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bang, Bang kiri Bang..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua penumpang menoleh ke arahku. Apakah suaraku mengganggu ketenangan mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek," sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat. Satu dua, satu dua.  Yes.., akhirnya. Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Apa katanya  nanti? Apa yang aku harus bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya  apa? Mendadak jari tanganku dingin semua. Wajahku merah padam. Lho,  salon kan tempat umum. Semua orang bebas masuk asal punya uang. Bodoh  amat. Come on lets go! Langkahku semangat lagi. Pintu salon kubuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat siang Mas," kata seorang penjaga salon, "Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Massage, boleh." ujarku sekenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  dibimbing ke sebuah ruangan. Ada sekat-sekat, tidak tertutup  sepenuhnya. Tetapi sejak tadi aku tidak melihat wanita yang lehernya  berkeringat yang tadi mengerlingkan mata ke arahku. Ke mana ia? Atau  jangan-jangan ia tidak masuk ke salon ini, hanya pura-pura masuk. Ah.  Shit! Aku tertipu. Tapi tidak apa-apa toh tipuan ini membimbingku ke  'alam' lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu aku paling anti masuk salon. Kalau potong  rambut ya masuk ke tukang pangkas di pasar. Ah.., wanita yang lehernya  berkeringat itu begitu besar mengubah keberanianku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buka bajunya, celananya juga," ujar wanita tadi manja menggoda, "Nih pake celana ini..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  disodorkan celana pantai tapi lebih pendek lagi. Bahannya tipis, tapi  baunya harum. Garis setrikaannya masih terlihat. Aku menurut saja.  Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok. Ada dipan kecil  panjangnya dua meter, lebarnya hanya muat tubuhku dan lebih sedikit.  Wanita muda itu sudah keluar sejak melempar celana pijit. Aku tiduran  sambil baca majalah yang tergeletak di rak samping tempat tidur kecil  itu. Sekenanya saja kubuka halaman majalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tunggu ya..!" ujar wanita tadi dari jauh, lalu pergi ke balik ruangan ke meja depan ketika ia menerima kedatanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbak Wien.., udah ada pasien tuh," ujarnya dari ruang sebelah. Aku jelas mendengarnya dari sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali  ruangan sepi. Hanya suara kebetan majalah yang kubuka cepat yang  terdengar selebihnya musik lembut yang mengalun dari speaker yang  ditanam di langit-langit ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah sepatu hak tinggi  terdengar, pletak-pletok-pletok. Makin lama makin jelas. Dadaku mulai  berdegup lagi. Wajahku mulai panas. Jari tangan mulai dingin. Aku makin  membenamkan wajah di atas tulisan majalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Halo..!" suara  itu mengagetkanku. Hah..? Suara itu lagi. Suara yang kukenal, itu kan  suara yang meminta aku menutup kaca angkot. Dadaku berguncang. Haruskah  kujawab sapaan itu? Oh.., aku hanya dapat menunduk, melihat kakinya yang  bergerak ke sana ke mari di ruangan sempit itu. Betisnya mulus  ditumbuhi bulu-bulu halus. Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot.  Hitam. Aku tidak ingat motifnya, hanya ingat warnanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau dipijat atau mau baca," ujarnya ramah mengambil majalah dari hadapanku, "Ayo tengkurep..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya  mulai mengoleskan cream ke atas punggungku. Aku tersetrum. Tangannya  halus. Dingin. Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di atas  kulit punggung. Lalu pijitan turun ke bawah. Ia menurunkan sedikit tali  kolor sehingga pinggulku tersentuh. Ia menekan-nekan agak kuat. Aku  meringis menahan sensasasi yang waow..! Kini ia pindah ke paha, agak  berani ia masuk sedikit ke selangkangan. Aku meringis merasai sentuhan  kulit jarinya. Tapi belum begitu lama ia pindah ke betis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Balik badannya..!" pintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  membalikkan badanku. Lalu ia mengolesi dadaku dengan cream. Pijitan  turun ke perut. Aku tidak berani menatap wajahnya. Aku memandang ke arah  lain mengindari adu tatap. Ia tidak bercerita apa-apa. Aku pun segan  memulai cerita. Dipijat seperti ini lebih nikmat diam meresapi remasan,  sentuhan kulitnya. Bagiku itu sudah jauh lebih nikmat daripada  bercerita. Dari perut turun ke paha. Ah.., selangkanganku disentuh lagi,  diremas, lalu ia menjamah betisku, dan selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berlalu ke  ruangan sebelah setelah membereskan cream. Aku hanya ditinggali handuk  kecil hangat. Kuusap sisa cream. Dan kubuka celana pantai. Astaga. Ada  cairan putih di celana dalamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kantor, aku masih  terbayang-bayang wanita yang di lehernya ada keringat. Masih terasa  tangannya di punggung, dada, perut, paha. Aku tidak tahan. Esoknya, dari  rumah kuitung-itung waktu. Agar kejadian kemarin terulang. Jam berapa  aku berangkat. Jam berapa harus sampai di Ciledug, jam berapa harus naik  angkot yang penuh gelora itu. Ah sial. Aku terlambat setengah jam.  Padahal, wajah wanita setengah baya yang di lehernya ada keringat sudah  terbayang. Ini gara-gara ibuku menyuruh pergi ke rumah Tante Wanti.  Bayar arisan. Tidak apalah hari ini tidak ketemu. Toh masih ada hari  esok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bergegas naik angkot yang melintas. Toh, si setengah  baya itu pasti sudah lebih dulu tiba di salonnya. Aku duduk di  belakang, tempat favorit. Jendela kubuka. Mobil melaju. Angin menerobos  kencang hingga seseorang yang membaca tabloid menutupi wajahnya  terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas Tut.." hah..? suara itu lagi, suara wanita  setengah baya yang kali ini karena mendung tidak lagi ada keringat di  lehernya. Ia tidak melanjutkan kalimatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum. Ia tidak membalas tapi lebih ramah. Tidak pasang wajah perangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kayak kemarinlah..," ujarnya sambil mengangkat tabloid menutupi wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu  kebetulankah ini? Keberuntungankah? Atau kesialan, karena ia masih  mengangkat tabloid menutupi wajah? Aku kira aku sudah terlambat untuk  bisa satu angkot dengannya. Atau jangan-jangan ia juga disuruh ibunya  bayar arisan. Aku menyesal mengutuk ibu ketika pergi. Paling tidak ada  untungnya juga ibu menyuruh bayar arisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbak Wien..," gumamku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu  tidak ya kutegur? Lalu ngomong apa? Lha wong Mbak Wien menutupi  wajahnya begitu. Itu artinya ia tidak mau diganggu. Mbak Wien sudah  turun. Aku masih termangu. Turun tidak, turun tidak, aku hitung kancing.  Dari atas: Turun. Ke bawah: Tidak. Ke bawah lagi: Turun. Ke bawah lagi:  Tidak. Ke bawah lagi: Turun. Ke bawah lagi: Tidak. Ke bawah lagi: Hah  habis kancingku habis. Mengapa kancing baju cuma tujuh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah,  aku ada ide: toh masih ada kancing di bagian lengan, kalau belum cukup  kancing Bapak-bapak di sebelahku juga bisa. Begini saja daripada  repot-repot. Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing  bajuku: Tujuh. Sekarang hitung penumpang angkot dan supir. Penumpang  lima lalu supir, jadi enam kali tujuh, 42 hore aku turun. Tapi eh..,  seorang penumpang pakai kaos oblong, mati aku. Ah masa bodo. Pokoknya  turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kiri Bang..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu menuju salon.  Alamak.., jauhnya. Aku lupa kelamaan menghitung kancing. Ya tidak  apa-apa, hitung-hitung olahraga. Hap. Hap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau pijit lagi..?" ujar suara wanita muda yang kemarin menuntunku menuju ruang pijat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu  aku menuju ruang yang kemarin. Sekarang sudah lebih lancar. Aku tahu di  mana ruangannya. Tidak perlu diantar. Wanita muda itu mengikuti di  belakang. Kemudian menyerahkan celana pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbak Wien, pasien menunggu," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah  lagi, ah tidak aku harus bicara padanya. Bicara apa? Ah apa saja. Masak  tidak ada yang bisa dibicarakan. Suara pletak-pletok mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo tengkurap..!" kata wanita setengah baya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tengkurap. Ia memulai pijitan. Kali ini lebih bertenaga dan aku memang benar-benar pegal, sehingga terbuai pijitannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Telentang..!" katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuputuskan  untuk berani menatap wajahnya. Paling tidak aku dapat melihat leher  yang basah keringat karena kepayahan memijat. Ia cukup lama bermain-main  di perut. Sesekali tangannya nakal menelusup ke bagian tepi celana  dalam. Tapi belum tersentuh kepala juniorku. Sekali. Kedua kali ia  memasukkan jari tangannya. Ia menyenggol kepala juniorku. Ia masih  dingin tanpa ekspresi. Lalu pindah ke pangkal paha. Ah mengapa begitu  cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarinya mengelus tiap mili pahaku. Si Junior sudah  mengeras. Betul-betul keras. Aku masih penasaran, ia seperti tanpa  ekspresi. Tetapi eh.., diam-diam ia mencuri pandang ke arah juniorku.  Lama sekali ia memijati pangkal pahaku. Seakan sengaja memainkan Si  Junior. Ketika Si Junior melemah ia seperti tahu bagaimana  menghidupkannya, memijat tepat di bagian pangkal paha. Lalu ia memijat  lutut. Si Junior melemah. Lalu ia kembali memijat pangkal pahaku. Ah  sialan. Aku dipermainkan seperti anak bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai dipijat ia  tidak meninggalkan aku. Tapi mengelap dengan handuk hangat sisa-sisa  cream pijit yang masih menempel di tubuhku. Aku duduk di tepi dipan. Ia  membersihkan punggungku dengan handuk hangat. Ketika menjangkau pantatku  ia agak mendekat. Bau tubuhnya tercium. Bau tubuh wanita setengah baya  yang yang meleleh oleh keringat. Aku pertegas bahwa aku mengendus  kuat-kuat aroma itu. Ia tersenyum ramah. Eh bisa juga wanita setengah  baya ini ramah kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia membersihkan pahaku sebelah  kiri, ke pangkal paha. Junior berdenyut-denyut. Sengaja kuperlihatkan  agar ia dapat melihatnya. Di balik kain tipis, celana pantai ini ia  sebetulnya bisa melihat arah turun naik Si Junior. Kini pindah ke paha  sebelah kanan. Ia tepat berada di tengah-tengah. Aku tidak menjepit  tubuhnya. Tapi kakiku saja yang seperti memagari tubuhnya. Aku  membayangkan dapat menjepitnya di sini. Tetapi, bayangan itu terganggu.  Terganggu wanita muda yang di ruang sebelah yang kadang-kadang tanpa  tujuan jelas bolak-balik ke ruang pijat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari jarak yang  begitu dekat ini, aku jelas melihat wajahnya. Tidak terlalu ayu.  Hidungnya tidak mancung tetapi juga tidak pesek. Bibirnya sedang tidak  terlalu sensual. Nafasnya tercium hidungku. Ah segar. Payudara itu dari  jarak yang cukup dekat jelas membayang. Cukuplah kalau tanganku  menyergapnya. Ia terus mengelap pahaku. Dari jarak yang dekat ini hawa  panas tubuhnya terasa. Tapi ia dingin sekali. Membuatku tidak berani.  Ciut. Si Junior tiba-tiba juga ikut-ikutan ciut. Tetapi, aku harus  berani. Toh ia sudah seperti pasrah berada di dekapan kakiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  harus, harus, harus..! Apakah perlu menhitung kancing. Aku tidak  berpakaian kini. Lagi pula percuma, tadi saja di angkot aku kalah lawan  kancing. Aku harus memulai. Lihatlah, masak ia begitu berani tadi  menyentuh kepala Junior saat memijat perut. Ah, kini ia malah berlutut  seperti menunggu satu kata saja dariku. Ia berlutut mengelap paha bagian  belakang. Kaki kusandarkan di tembok yang membuat ia bebas berlama-lama  membersihkan bagian belakang pahaku. Mulutnya persis di depan Junior  hanya beberapa jari. Inilah kesempatan itu. Kesempatan tidak akan datang  dua kali. Ayo. Tunggu apa lagi. Ayo cepat ia hampir selesai  membersihkan belakang paha. Ayo..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih diam saja. Sampai  ia selesai mengelap bagian belakang pahaku dan berdiri. Ah bodoh.  Benarkan kesempatan itu lewat. Ia sudah membereskan peralatan pijat.  Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas. Betulkan, ia tidak  akan datang begitu saja. Badannya berbalik lalu melangkah. Pletak,  pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Makin lama suara sepatu itu  seperti mengutukku bukan berbunyi pletak pelok lagi, tapi bodoh, bodoh,  bodoh sampai suara itu hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya mendengus. Membuang  napas. Sudahlah. Masih ada esok. Tetapi tidak lama, suara pletak-pletok  terdengar semakin nyaring. Dari iramanya bukan sedang berjalan. Tetapi  berlari. Bodoh, bodoh, bodoh. Eh.., kesempatan, kesempatan, kesempatan.  Aku masih mematung. Duduk di tepi dipan. Kaki disandarkan di dinding. Ia  tersenyum melihatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf Mas, sapu tangan saya ketinggalan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mencari-cari. Di mana? Aku masih mematung. Kulihat di bawahku ada kain, ya seperti saputangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu kali Mbak," kataku datar dan tanpa tekanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia  berjongkok persis di depanku, seperti ketika ia membersihkan paha  bagian bawah. Ini kesempatan kedua. Tidak akan hadir kesempatan ketiga.  Lihatlah ia tadi begitu teliti membenahi semua perlatannya. Apalagi yang  dapat tertinggal? Mungkin sapu tangan ini saja suatu kealpaan. Ya,  seseorang toh dapat saja lupa pada sesuatu, juga pada sapu tangan.  Karena itulah, tidak akan hadir kesempatan ketiga. Ayo..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbak.., pahaku masih sakit nih..!" kataku memelas, ya sebagai alasan juga mengapa aku masih bertahan duduk di tepi dipan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berjongkok mengambil sapu tangan. Lalu memegang pahaku, "Yang mana..?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yes..! Aku berhasil. "Ini..," kutunjuk pangkal pahaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Besok saja Sayang..!" ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia hanya mengelus tanpa tenaga. Tapi ia masih berjongkok di bawahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang ini atau yang itu..?" katanya menggoda, menunjuk Juniorku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darahku mendesir. Juniorku tegang seperti mainan anak-anak yang dituip melembung. Keras sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan cuma ditunjuk dong, dipegang boleh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia  berdiri. Lalu menyentuh Junior dengan sisi luar jari tangannya. Yes.  Aku bisa dapatkan ia, wanita setengah baya yang meleleh keringatnya di  angkot karena kepanasan. Ia menyentuhnya. Kali ini dengan telapak  tangan. Tapi masih terhalang kain celana. Hangatnya, biar begitu, tetap  terasa. Aku menggelepar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sst..! Jangan di sini..!" katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini  ia tidak malu-malu lagi menyelinapkan jemarinya ke dalam celana  dalamku. Lalu dikocok-kocok sebentar. Aku memegang teteknya. Bibirku  melumat bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan di sini Sayang..!" katanya manja lalu melepaskan sergapanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih sepi ini..!" kataku makin berani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku merangkulnya lagi, menyiuminya lagi. Ia menikmati, tangannya mengocok Junior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Besar ya..?" ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  makin bersemangat, makin membara, makin terbakar. Wanita setengah baya  itu merenggangkan bibirnya, ia terengah-engah, ia menikmati dengan mata  terpejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbak Wien telepon..," suara wanita muda dari ruang sebelah menyalak, seperti bel dalam pertarungan tinju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngapaian sih di situ..?" katanya lagi seperti iri pada Wien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengambil pakaianku. Baru saja aku memasang ikat pinggang, Wien menghampiriku sambil berkata, "Telepon aku ya..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia  menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yang disobek sekenanya.  Pasti terburu-buru. Aku langsung memasukkan ke saku baju tanpa  mencermati nomor-nomornya. Nampak ada perubahan besar pada Wien. Ia  tidak lagi dingin dan ketus. Kalau saja, tidak keburu wanita yang  menjaga telepon datang, ia sudah melumat Si Junior. Lihat saja ia sudah  separuh berlutut mengarah pada Junior. Untung ada tissue yang tercecer,  sehingga ada alasan buat Wien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengambil tissue itu, sambil  mendengar kabar gembira dari wanita yang menunggu telepon. Ia hanya  menampakkan diri separuh badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbak Wien.., aku mau makan dulu. Jagain sebentar ya..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya itulah kabar gembira, karena Wien lalu mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah  mengunci salon, Wien kembali ke tempatku. Hari itu memang masih pagi,  baru pukul 11.00 siang, belum ada yang datang, baru aku saja. Aku  menanti dengan debaran jantung yang membuncah-buncah. Wien datang. Kami  seperti tidak ingin membuang waktu, melepas pakaian masing-masing lalu  memulai pergumulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wien menjilatiku dari ujung rambut sampai  ujung kaki. Aku menikmati kelincahan lidah wanita setengah baya yang  tahu di mana titik-titik yang harus dituju. Aku terpejam menahan air  mani yang sudah di ujung. Bergantian Wien kini telentang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pijit saya Mas..!" katanya melenguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kujilati payudaranya, ia melenguh. Lalu vaginanya, basah sekali. Ia membuncah ketika aku melumat klitorisnya. Lalu mengangkang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku sudah tak tahan, ayo dong..!" ujarnya merajuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kusorongkan Junior menuju vaginanya, ia melenguh lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah..  Sudah tiga tahun, benda ini tak kurasakan Sayang. Aku hanya main dengan  tangan. Kadang-kadang ketimun. Jangan dimasukkan dulu Sayang, aku belum  siap. Ya sekarang..!" pintanya penuh manja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi mendadak bunyi telepon di ruang depan berdering. Kring..! Aku mengurungkan niatku. Kring..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbak Wien, telepon." kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Aku mengikutinya. Sambil menjawab telepon di kursi ia menunggingkan pantatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya sekarang Sayang..!" katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Halo..?" katanya sedikit terengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh ya. Ya nggak apa-apa," katanya menjawab telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa Mbak..?" kataku sambil menancapkan Junior amblas seluruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Si Nina, yang tadi. Dia mau pulang dulu ngeliat orang tuanya sakit katanya sih begitu," kata Wien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa lama menyodoknya, "Terus dong Yang. Auhh aku mau keluar ah.., Yang tolloong..!" dia mendesah keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia bangkit dan pergi secepatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang.., cepat-cepat berkemas. Sebantar lagi Mbak Mona yang punya salon ini datang, biasanya jam segini dia datang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku langsung beres-beres dan pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1411556838748479078-616416125442783374?l=janda-kesepian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/feeds/616416125442783374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/wanita-berkeringat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/616416125442783374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/616416125442783374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/wanita-berkeringat.html' title='Wanita berkeringat'/><author><name>Tante Kesepian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14713038125543777221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/-FZxK7b8lVNc/ThmHlk6Uv2I/AAAAAAAAAAY/ioSmfPbY4Yw/s220/248197_1629217110192_1829537763_1083242_4655990_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1411556838748479078.post-1033731377502866059</id><published>2011-07-12T19:40:00.000-07:00</published><updated>2011-07-12T19:40:19.411-07:00</updated><title type='text'>Tetangga  baru yang sexy</title><content type='html'>&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://rumahseks.blogspot.com/2008/09/tetangga-baruku_21.html"&gt;By : Ombob&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;&lt;div class="post-header-line-1"&gt; &lt;span class="post-comment-link" style="float: right;"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-author vcard"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-icons"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" height="40"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td style="padding-top: 0px;"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Frumahseks.blogspot.com%2F2008%2F09%2Ftetangga-baruku_21.html&amp;amp;t=Rumah%20Seks%20Indonesia%3A%20Tetangga%20baruku%20-%20Cerita%20seks%2C%20cerita%20panas%2C%20cerita%2017tahun%20dan%20artikel%20seks%20terlengkap&amp;amp;src=sp" name="fb_share" style="text-decoration: none;" type="button_count"&gt;&lt;span class="fb_share_size_Small "&gt;&lt;span class="FBConnectButton FBConnectButton_Small" style="cursor: pointer;"&gt;&lt;span class="FBConnectButton_Text"&gt;Share&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fb_share_count_nub_right "&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fb_share_count  fb_share_count_right"&gt;&lt;span class="fb_share_count_inner"&gt;8&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 9px 0pt 0pt 10px;"&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding-top: 15px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Panggil saja aku Ade, panggilan sehari-hari meski aku bukan anak  bontot. Aku murid SMU kelas 3. Aku tinggal di sebuah perumahan di  Jakarta. Daerahnya mirip-mirip di PI deh, tapi bukan perumahan "or-kay"  kok. Sekitar beberapa bulan lalu, rumah kontrakan kosong di sebelah kiri  rumahku ditempati oleh keluarga baru. Awalnya mereka jarang kelihatan,  namun sekitardua minggu kemudian mereka sudah cepat akrab dengan  tetangga?tetangga sekitar. Ternyata penghuninya seorang wanita dengan  perkiraanku umurnya baru 30-an, anak perempuannya dan seorang PRT. Nama  lengkapnya aku tidak tahu, namun nama panggilannya Tante Yana. Anaknya  bernama Anita, sepantaran denganku, siswi SMU kelas 3. Ternyata Tante  Yana adalah janda seorang bulekalau tidak salah, asal Perancis. Sikapnya  friendly, gampang diajak ngobrol. Tapi, yang paling utama adalah  penampilannya yang "mengundang". Rambutnya ikal di bawah telinga.  Kulitnya coklat muda. Bodinya tidak langsing tapi kalau dilihat terus,  malah jadi seksi. Payudaranya juga besar. Taksiranku sekitar 36-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang  membikin mengundang adalah Tante Yana sering memakai baju sleeveless  dengan celana pendek sekitar empat jari dari lutut. Kalau duduk,  celananya nampak sempit oleh pahanya. Wajahnya tidak cantik?cantik amat,  wajah ciri khas Indonesia, tipe yang disuka orang-orang bule. Seperti  bodinya, wajahnya juga kalau diperhatikan, apalagi kalau bajunya agak  "terbuka", malah jadi muka?muka ranjang gitu deh. Dari cara  berpakaiannya aku mengira kalau Tante Yana ituhypersex. Kalau Anita,  kebalikan ibunya. Wajahnya cantik Indo, dan kulitnya putih. Rambutnya  hitam kecoklatan, belah pinggir sebahu. Meski buah dadanya tidak terlalu  besar, kecocokan pakaiannya justru membuat Anita jadi seksi. Nampaknya  aku terserang sindrom tetangga sebelah nih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhari-hari  berlalu, nafsuku terhadap Tante Yana semakin bergolak sehingga aku  sering nekat ngumpet di balik semak-semak, onani sambil melihati Tante  Yana kalau sedang di luar rumah. Tapi terhadap Anita, nafsuku hanya  sedikit, itu juga karena kecantikannya dan kulit putihnya. Nafsu besarku  kadang-kadang membuatku ingin menunjukkan batangku di depan Tante Yana  dan onani didepan dia. Pernah sesekali kujalankan niatku itu, namun pas  Tante Yana lewat, buru-buru kututup "anu"-ku dengan baju, karena takut  tiba-tiba Tante Yana melapor sama ortu. Tapi, kenyataannya berbeda.  Tante Yana justru menyapaku, (dan kusapa balik sambil menutupi  kemaluanku), dan pas di depan pagar rumahnya, ia tersenyum sinis yang  menjurus ke senyuman nakal. "Ehem.. hmm.." dengan sorotan mata nakal  pula. Sejenak aku terbengong dan menelan ludah, serta malah tambahnafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian,  pada suatu waktu, kuingat sekali itu hari Rabu. Saat aku pulang kuliah  dan mau membuka pagar rumah, Tante Yana memanggilku dengan lembut, "De,  sini dulu.. Tante bikinin makanan nih buat papa-mamamu." Langsung saja  kujawab, "Ooh, iya Tante.." Nafasku langsung memburu, dan dag dig dug.  Setengah batinku takut dan ragu-ragu, dan setengahnya lagi justru  menyuruh supaya "mengajak" Tante Yana. Tante Yana memakai baju  sleeveless hijau muda, dan celana pendek hijau muda juga. Setelah masuk  ke ruang tamunya, ternyata Tante Yana hanya sendirian, katanya  pembantunya lagi belanja. Keadaan tersebut membuatku semakin dag dig  dug. Tiba-tiba tante memanggilku dari arah dapur, "De, sini nih..  makanannya." Memang benar sih, ada beberapa piring makanan di atas baki  sudah Tante Yana susun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku mau mengangkat bakinya,  tiba-tiba tangan kanan Tante Yana mengelus pinggangku sementara tangan  kirinya mengelus punggungku. Tante Yana lalu merapatkan wajahnya di  pipiku sambil berkata, "De, mm.. kamu.. nakal juga yah ternyata.."  Dengan tergagap-gagap aku berbicara, "Emm.. ee.. nakal gimana sih  Tante?" Jantungku tambah cepat berdegup. "Hmm hmm.. pura-pura nggak  inget yah? Kamu nakal.. ngeluarin titit, udah gitu ngocok-ngocok.."Tante  Yana meneruskan bicaranya sambil meraba-raba pipi dekat bibirku. Kontan  saja aku tambah gagap plus kaget karena Tante Yana ternyata  mengetahuinya. Itulah sebabnya dia tersenyum sinis dan nakal waktu itu.  Aku tambah gagap, "Eeehh? Eee.. itu.." Tante Yana langsung memotong  sambil berbisik sambil terus mengelus pipiku dan bahkan pantatku. "Kamu  mau yah sama Tante? Hmm?" Tanpa banyak omong-omong lagi, tante langsung  mencium ujung bibir kananku dengan sedikit sentuhan ujung lidahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata  benar perkiraanku, Tante Yana hypersex. Aku tidak mau kalah, kubalas  segeraciumannya ke bibir tebal seksinya itu. Lalu kusenderkan diriku di  tembok sebelah wastafel dan kuangkat pahanya ke pinggangku. Ciuman Tante  Yana sangat erotis dan bertempo cepat. Kurasakan bibirku dan sebagian  pipiku basah karena dijilati oleh Tante Yana. Pahanya yang tadi kuangkat  kini menggesek-gesek pinggangku. Akibat erotisnya ciuman Tante Yana,  nafsuku menjadi bertambah. Kumasukkan kedua tanganku ke balik bajunya di  punggungnya seperti memeluk, dan kuelusi punggungnya. Saat kuelus  punggungnya, Tante Yana mendongakkan kepalanya dan terengah. Sesekali  tanganku mengenai tali BH-nya yang kemudian terlepas akibat gesekan  tanganku. Kemudian Tante Yana mencabut bibirnya dari bibirku, menyudahi  ciuman dan mengajakkuuntuk ke kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami buru-buru ke  kamarnya karena sangat bernafsu. Aku sampai tidak memperhatikan bentuk  dan isi kamarnya, langsung direbah oleh Tante Yana dan meneruskan  ciuman. Posisi Tante Yana adalah posisi senggama kesukaanku yaitu  nungging. Ciumannya benar-benar erotis. Kumasukkan tanganku ke celananya  dan aku langsung mengelus belahan pantatnya yang hampir mengenai  belahan vaginanya. Tante Yana yang hyper itu langsung melucuti kaosku  dengan agak cepat. Tapi setelah itu ada adegan baru yang belum pernah  kulihat baik di film semi ataupun di BF manapun. Tante Yana meludahi  dada abdomen-ku dan menjilatinya kembali. Sesekali aku merasa seperti  ngilu ketikalidah Tante Yana mengenai pusarku. Ketika aku mencoba  mengangkat kepalaku, kulihat bagian leher kaos tante Yana kendor,  sehingga buah dadanya yang bergoyang-goyang terlihat jelas. Kemudian  kupegang pinggangnya dan kupindahkan posisinya ke bawahku. Lalu,  kulucuti kaosnya serta beha nya, kulanjutkan menghisapi puting  payudaranya. Nampak Tante Yana kembali mendongakkan kepalanya dan  terengah sesekali memanggil namaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil terus menghisap dan  menjilati payudaranya, kulepas celana panjangku dan celana dalamku dan  kubuang ke lantai. Ternyata pas kupegang "anu"-ku, sudah ereksi dengan  level maksimum. Sangat keras dan ketika kukocok-kocok sesekali mengenai  dan menggesek urat-uratnya. Tante Yana pun melepas celana-celananya dan  mengelusi bulu-bulu dan lubang vaginanya. Ia juga meraup sedikit mani  dari vaginanya dan memasukkan jari-jari tersebut ke mulutku. Aku  langsung menurunkan kepalaku dan menjilati daerah "bawah" Tante Yana.  Rasanya agak seperti asin-asinditambah lagi adanya cairan yang keluar  dari lubang "anu"-nya Tante Yana. Tapi tetap saja aku menikmatinya. Di  tengah enaknya menjilat-jilati, ada suara seperti pintu terbuka namun  terdengarnya tidak begitu jelas. Aku takut ketahuan oleh pembantunya  atau Anita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak aku berhenti dan ngomong sama Tante Yana,  "Eh.. Tante.." Ternyata tante justru meneruskan "adegan" dan berkata,  "Ehh.. bukan siapa-siapa.. egghh.." sambil mendesah. Posisiku kini di  bawah lagi dan sekarang Tante Yana sedang menghisap "lollypop".  Ereksikusemakin maksimum ketika bibir dan lidah Tante Yana menyentuh  bagian-bagian batangku. Tante Yanamengulangi adegan meludahi kembali.  Ujung penisku diludahi dan sekujurnya dijilati perlahan. Bayangkan,  bagaimana ereksiku tidak tambah maksimum?? Tak lama, Tante Yana yang  tadinya nungging, ganti posisi berlutut di atas pinggangku. Tante Yana  bermaksud melakukan senggama. Aku sempat kaget dan bengong melihat Tante  Yana dengan perlahan memegang dan mengarahkan penisku ke lubangnya  layaknya film BF saja. Tapi setelah ujungnya masuk ke liang senggama,  kembali aku seperti ngilu terutama di bagian pinggang dan selangkanganku  dimana kejadian itusemakin menambah nafsuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante mulai  menggoyangkan tubuhnya dengan arah atas-bawah awalnya dengan perlahan.  Aku merasa sangat nikmat meskipun Tante Yana sudah tidak virgin. Di  dalam liang itu, aku merasa adacairan hangat di sekujur batang  kemaluanku. Sambil kugoyangkan juga badanku, kuelus pinggangnya dan  sesekali buah dadanya kuremas-remas. Tante Yana juga mengelus-elus dada  dan pinggangku sambil terus bergoyang dan melihatiku dengan tersenyum.  Mungkin karena nafsu yang besar, Tante Yana bergoyang sangat cepat tak  beraturan entah itu maju-mundur atau atas bawah. Sampai-sampai sesekali  aku mendengar suara "Ngik ngik ngik" dari kaki ranjangnya. Akibat  bergoyang sangat cepat, tubuh Tante Yana berkeringat. Segera kuelus  badannya yang berkeringat dan kujilatitanganku yang penuh keringat dia  itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu posisinya berganti lagi, jadinya aku bersandar di  ujung ranjang, dan Tante Yana menduduki pahaku. Jadinya, aku bisa mudah  menciumi dada dan payudaranya. Juga kujilati tubuhnya yang masih sedikit  berkeringat itu, lalu aku menggesekkan tubuhku yang juga sedikit  berkeringat kedada Tante Yana. Tidak kupikirkan waktu itu kalau yang  kujilati adalah keringat karena nafsu yang terlalu meledak. Tak lama,  aku merasa akan ejakulasi. "Ehh.. Tante.. uu.. udaahh.." Belum sempat  aku menyelesaikan kata-kataku, Tante Yana sudah setengah berdiri dan  nungging di depanku. Tante Yana mengelus-elus dan mengocok penisku, dan  mulutnya sudah ternganga dan lidahnya menjulur siap menerima semprotan  spermaku. Karena kocokan Tante Yana, aku jadi ejakulasi. "Crit..  crroott.. crroott.." ternyata semprotan spermaku kuhitung sampai sekitar  tujuh kali dimana setiap kencrotan itu mengeluarkan sperma yang putih,  kental dan banyak. Sesekali jangkauan kencrotannya panjang, dan mengenai  rambut Tante Yana. Mungkin ada juga yang jatuh ke sprei. Persis sekali  film BF.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat wajah Tante Yana sudah penuh sperma putih  kental milikku. Tante Yana yang memanghyper, meraup spermaku baik dari  wajahnya ataupun dari sisa di sekujur batangku, dan memasukkan ke  mulutnya. Setelah itu, aku merasa sangat lemas. Staminaku terkuras oleh  Tante Yana. Aku langsung rebahan sambil memeluk Tante Yana sementara  penisku masih tegak namuntidak sekeras tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar seminggu  berlalu setelah ML sama Tante Yana. Siang itu aku sedang ada di rumah  hanya bersama pembantu (orang tuaku pulangnya sore atau malam, adikku  juga sedang sekolah). Sekitar jam satu-an, aku yang sedang duduk di  kursi malas teras, melihat Tante Yana mau pergi entah kemana dengan  mobilnya. Kulihat Anita menutup pagar dan ia tidak melihatku. Sekitar 10  menitkemudian, telepon rumahku berdering. Saat kuangkat, ternyata Anita  yang menelepon. Nada suaranya agak ketus, menyuruhku ke rumahnya.  Katanya ada yang ingin diomongin. Di ruang tamunya, aku duduk berhadapan  sama Anita. Wajahnya tidak seperti biasanya, terlihat jutek, judes, dan  sebagainya. Berhubung dia seperti itu, aku jadi salah tingkah dan  bingung mau ngomong apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama Anita mulai bicara duluan dengan nada ketus kembali,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"De, gue mau tanya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hah? Nanya apaan?" Aku kaget dan agak dag dig dug.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Loe waktu minggu lalu ngapain sama nyokap gue?" Dia nanya langsung tanpa basa-basi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ehh.. minggu lalu? Kapan? Ngapain emangnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pura-pura tidak tahu dan takutnya dia mau melaporkan ke orang tuaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aalahh..  loe nggak usah belagak bego deh.. Emangnya gue nggak tau? Gue baru  pulang sekolah, gue liat sendiri pake mata kepala gue.. gue intip dari  pintu, loe lagi make nyokap gue!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika aku langsung  kaget, bengong, dan tidak tahu lagi mau ngapain, badan sudah seperti  mati rasa. Batinku berkata, "Mati gue.. bisa-bisa gue diusir dari rumah  nih.. nama baik ortu gue bisa jatoh.. mati deh gue."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anita pun masih meneruskan omongannya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Loe napsu sama nyokap gue??"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anita  kemudian berdiri sambil tolak pinggang. Matanya menatap sangat tajam.  Aku cuma bisa diam, bengong tidak bisa ngomong apa-apa. Keringat di  leher mengucur. Anita menghampiriku yang hanya duduk diam kaku beku  perlahan masih dengan tolak pinggang dan tatapan tajam. Pipiku sudah  siap menerima tamparan ataupun tonjokan namun untuk hal dia akan  melaporkannya ke orang tuaku dan aku diusir tidak bisa aku pecahkan.  Tapi, sekali lagi kenyataan sangat berbeda. Anita yang memakai kaos  terusan yang mirip daster itu, justru membuka ikatan di punggungnya dan  membukakaosnya. Ternyata ia tidak mengenakan beha dan celana dalam. Jadi  di depanku adalah Anita yang bugil. Takutku kini hilang namun bingungku  semakin bertambah. "Kalo gitu, loe mau juga kan sama gue?" Anita  langsung mendekatkan bibir seksi-nya ke bibirku. Celana pendekku nampak  kencang di bagian "anu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini yang kurasakan bukan ciuman  erotis seperti ciuman Tante Yana, namun ciuman Anita yang lembut dan  romantis. Betapa nikmatnya ciuman dari Anita. Aku langsung memeluknya  lembut. Tubuh putihnya benar-benar mulus. Bulu vaginanya sekilas kulihat  coklat gelap. Sesegera mungkin kulepas celana-celanaku dan Anita  membuka kaosku. Lumayan lama Anita menciumiku dengan posisimembungkuk.  Kukocok-kocok penis besarku itu sedikit-sedikit. Aku langsung  membisikkannya, "Nit, kita ke kamarmu yuk..!" Anita menjawab, "Ayoo..  biarlebih nyaman." Anita kurebahkan di ranjangnya setelah kugendong dari  ruang tamu. Seperti ciuman tadi, kali ini suasananya lebih lembut,  romantis dan perlahan. Anita sesekali menciumi dan agak menggigit daun  telingaku ketika aku sedang mencumbu lehernya. Anita juga sesekali  mencengkeram lenganku dan punggungku. Kaki kanannya diangkat hingga ke  pinggangku dan kadang dia gesek-gesekkan. Dalam pikiranku, mungkin kali  ini ejakulasiku tidak selama seperti sama Tante Yana akibat terbawa  romantisnya suasana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini aku bisa tahu bahwa Anita itu  tipe orang romantis dan lembut. Tapi tetap saja nafsunya besar. Malah  dia langsung mengarahkan dan menusukkan penisku ke liang senggamanya  tanpa adegan-adegan lain. Berhubung Anita masih virgin, memasukkannya  tidak mudah. Butuh sedikit dorongan dan tahan sakit termasuk aku juga.  Wajah Anita nampak menahan sakit. Gigi atasnya menggigit bibir bawahnya  dan matanya terpejam keras persis seperti keasaman makan buah mangga  atau jambu yang asem. Tak lama, "Aaahh.. aa.. aahh.." Anita berteriak  lumayan keras, aku takutnya terdengar sampai keluar. Selaput perawannya  sudah tertembus. Aku mencoba menggoyangkan maju-mundur di dalam liang  yang masih sempit itu. Tapi, aku merasa sangat enak sekali senggama di  liang perawan. Anita juga ikutan goyang maju-mundur sambil meraba-raba  dadaku dan mencium bibirku. Ternyata benar perkiraanku. Sedikit lagi aku  akan ejakulasi. Mungkin hanya sekitar 6 menit. Meski begitu, keringatku  pun tetap mengucur. Begitupun Anita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan agak menahan  ejakulasi, gantian kurebahkan Anita, kukeluarkan penisku lalu kukocokdi  atas dadanya. Mungkin akibat masih sempit dan rapatnya selaput dara  Anita, batang penisku jadi lebih mudah tergesek sehingga lebih cepat  pula ejakulasinya. Ditambah pula dalam seminggu tersebut aku tidak  onani, nonton BF, atau sebagainya. Kemudian, "Crit.. crit.. crott.."  kembali kujatuhkan spermaku di tubuh orang untuk kedua kalinya.  Kusemprotkan spermaku di dada dan payudaranya Anita. Kali ini  kencrotannya lebih sedikit, namun spermanya lebih kental. Bahkan ada  yang sampai mengenai leher dan dagunya. Anita yang baru pertamakali  melihat sperma lelaki, mencoba ingin tahu bagaimana rasanya menelan  sperma. Anita meraup sedikit dengan agakcanggung dan ekspresi wajahnya  sedikit menggambarkan orang jijik, dan lalu menjilatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus,  Anita berkata dengan lugu, "Emm.. ee.. De.. kalo 'itu' gimana sih  rasanya?" sambil menunjuk ke kejantananku yang masih berdiri tegak dan  kencang. "Eh.. hmm hmm.. cobain aja sendiri.." sambil tersenyum ia  memegang batang kemaluanku perlahan dan agak canggung. Tak lama, ia  mulai memompa mulutnya perlahan malu-malu karena baru pertama kali.  Mungkin ia sekalian membersihkan sisa spermaku yang masih menetes di  sekujur batangku itu. Kulihat sekilas di lubang vaginanya, ada noda  darah yang segera kubersihkan dengan tissue dan lap. Setelah selesai,  aku yang sedang kehabisan stamina, terkulai loyo di ranjang Anita,  sementara Anita juga rebahan di samping. Kami sama-sama puas, terutama  aku yang puas menggarap ibu dan anaknya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1411556838748479078-1033731377502866059?l=janda-kesepian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/feeds/1033731377502866059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/tetangga-baru-yang-sexy.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/1033731377502866059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/1033731377502866059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/tetangga-baru-yang-sexy.html' title='Tetangga  baru yang sexy'/><author><name>Tante Kesepian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14713038125543777221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/-FZxK7b8lVNc/ThmHlk6Uv2I/AAAAAAAAAAY/ioSmfPbY4Yw/s220/248197_1629217110192_1829537763_1083242_4655990_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1411556838748479078.post-5622039212452720463</id><published>2011-07-12T19:38:00.001-07:00</published><updated>2011-07-12T19:38:52.516-07:00</updated><title type='text'>Tante Linda mengandung anakku</title><content type='html'>&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://rumahseks.blogspot.com/2008/09/tante-linda-mengandung-anakku_21.html"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;&lt;div class="post-header-line-1"&gt; &lt;span class="post-comment-link" style="float: right;"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-author vcard"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-icons"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" height="40"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td style="padding-top: 0px;"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Frumahseks.blogspot.com%2F2008%2F09%2Ftante-linda-mengandung-anakku_21.html&amp;amp;t=Rumah%20Seks%20Indonesia%3A%20Tante%20Linda%20mengandung%20anakku%20-%20Cerita%20seks%2C%20cerita%20panas%2C%20cerita%2017tahun%20dan%20artikel%20seks%20terlengkap&amp;amp;src=sp" name="fb_share" style="text-decoration: none;" type="button_count"&gt;&lt;span class="fb_share_size_Small "&gt;&lt;span class="FBConnectButton FBConnectButton_Small" style="cursor: pointer;"&gt;&lt;span class="FBConnectButton_Text"&gt;Share&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fb_share_count_nub_right "&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fb_share_count  fb_share_count_right"&gt;&lt;span class="fb_share_count_inner"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 9px 0pt 0pt 10px;"&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding-top: 15px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Disini saya akan mengulas sedikit mengenai pengalaman pribadi saya  sendiri, dan hal ini masih menghantui saya sampai cerita ini saya muat.  Okey deh, saya perkenalkan diri dulu. Nama saya Bojach, atau biasa  dipanggil Jach, tinggi badan 180 cm dengan kulit putih bersih, maklum  peranakan atau istilahnya indo. Latar belakang keluarga saya adalah dari  keluarga miskin, dimana saya sebagai anak sulung yang dapat dikatakan  lain dari adik-adik saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ayah saya asli orang  Indonesia dan ibu juga, tapi dari cerita yang saya dapatkan dari  kelurga, bahwa ibu saya pernah kerja di USA atau di Houston sebagai  pembantu rumah tangga. Waktu itu ada pamilik yang tinggal di Huston  memerlukan seorang pembantu untuk mengurusi anaknya. Pendek cerita ibu  saya sudah 2 tahun di Huston mendapat masalah, dimana dia pernah  diperkosa sama orang Bule di sana, dan karena sudah trauma dengan  kejadian yang menimpanya, maka dia minta pulang ke Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya  di Indonesia dia langsung mendapatkan jodoh, yaitu ayah saya sekarang,  dan ternyata ibu saya telah hamil dengan orang Bule yang pernah  memperkosanya. Itulah pendek cerita mengenai latar belakang saya, kenapa  saya jadi keturunan indo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okey sorry terlalu panjang  pendahuluannya, kita langsung saja ke ceritanya. Kejadian ini bermula  dimana saya memiliki pacar yang sangat cemburu dan sayang sama saya,  maka saya dianjurkan mengontrak rumah di rumah tantenya yang tentunya  berdekatan dengan rumahnya. Saya bekerja di salah satu perusahaan Asing  yang berkecimpung di Akuntan Public yang terkenal dan ternama, maka saya  mendapatkan uang yang secukupnya untuk membiayai adik saya 5 orang yang  sedang kuliah di Jakarta. Dan untung saja 3 orang masuk UI dan 2 orang  masuk IPB, maka dengan mudah saya bayar uang semesterannya. Sedangkan  saya sendiri hanya membutuhkan uang makan dan ongkos, dimana saya  tinggal di kawasan Bogor yang terkenal dengan hujannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah  dua tahun saya mengontrak di rumah yang sampai sekarang juga masih saya  tempati, terjadilah kejadian ini. Dimana waktu itu kelima adik saya  pulang kampung karena liburan panjang ke Kalimantan, sedangkan saya yang  kerja tidak dapat pulang kampung dengan mereka, maka tinggallah saya  seorang diri di Jakarta. Waktu itu tepat hari Sabtu, dimana Om Boyke  atau suami Tante Linda ini biasanya kerja pada hari Sabtu, maklum dia  adalah pegawai swasta dan sering juga ke lapangan dimana dia bekerja di  perminyakan di lepas pantai. Jadi waktu itu Om Boyke ke lapangan dan  tinggallah Tante Linda sendirian di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Linda telah  menikah, tetapi sudah lama tidak mendapatkan anak hampir sudah 8 tahun,  dan hal itu menjadi pertanyaan siapa yang salah, Tante Linda apa Om  Boyke. Okey waktu itu tepatnya malam Sabtu hujan di Bogor begitu  derasnya yang dapat menggoda diri untuk bermalas-malas. Secara otomatis  saya langsung masuk kamar tidur dan langsung tergeletak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Tante Linda memanggil, "Jach... Jach... Jach... tolong dong..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyahut panggilannya, "Ada apaan Tante..?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini lho.. rumah Tante bocor, tolong dong diperbaiki..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu  saya ambil inisiatif mencarikan plastik untuk dipakai sementara supaya  hujannya tidak terlalu deras masuk rumah. 10 menitan saya  mengerjakannya, setelah itu telah teratasi kebocoran rumah Tante  Linda.Kemudian saya merapikan pakaian saya dan sambil duduk di kursi  ruang makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus Tante Linda menawarkan saya minum kopi, "Nih.., biar hangat..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena saya basah kuyup semua waktu memperbaiki atap rumahnya yang bocor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jawab, "Okelah boleh juga, tapi saya ganti baju dulu ke rumah.." sambil saya melangkah ke rumah samping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengontrak rumah petak Tante Linda persis di samping rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak  berapa lama saya kembali ke rumah Tante Linda dengan mengenakan celana  pendek tanpa celana dalam. Sejenak saya terhenyak menyaksikan  pemandangan di depan mata, rupanya disaat saya pergi mandi dan ganti  baju tadi, Tante Linda juga rupanya mandi dan telah ganti baju tidur  yang seksi dan sangat menggiurkan. Tapi saya berusaha membuang pikiran  kotor dari otak saya. Tante Linda menawarkan saya duduk sambil melangkah  ke dapur mengambilkan kopi kesenangan saya. Selang beberapa lama, Tante  Linda sudah kembali dengan secngkir kopi di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu  Tante Linda meletakkan gelas ke meja persis di depan saya, tidak  sengaja terlihat belahan buah dada yang begitu sangat menggiurkan, dan  dapat merangsang saya seketika. Entah setan apa yang telah hinggap pada  diri saya. Untuk menghindarkan yang tidak-tidak, maka dengan cepat saya  berusaha secepat mungkin membuang jauh-jauh pikiran kotor yang sedang  melanda diri saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Linda memulai pembicaraan, "Giman Jach..? Udah hilang dinginnya, sorry ya kamu udah saya reporin beresin genteng Tante."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah...  nggak apa-apa lagi Tante, namanya juga tetangga, apalagi saya kan  ngontrak di rumah Tante, dan kebetulan Om tidak ada jadi apa salahnya  menolong orang yang memerlukan pertolongan kita." kata saya mencoba  memberikan penjelasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Omong-omong Jach, adik-adik kamu pada kemana semua..? Biasanya kan udah pada pulag kuliah jam segini,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rupanya Tante Linda tidak tau ya, kan tadi siang khan udah pada berangkat ke Kalimantan berlibur 2 bulan di sana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh... jadi kamu sendiri dong di rumah..?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya Tante.." jawab saya dengan santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus saya tanya, "Tante juga sendiri ya..? Biasanya ada si Mbok.., dimana Tante?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu  dia Jach, dia tadi sore minta pulang ke Bandung lihat cucunya baru  lahir, jadi dia minta ijin 1 minggu. Kebetulan Om kamu tidak di rumah,  jadi tidak terlalu repot. Saya kasih aja dia pulang ke rumah anaknya di  Bandung." jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lihat jam dinding menunjukkan sudah  jam 23.00 wib malam, tapi rasa ngantuk belum juga ada. Saya lihat Tante  Linda sudah mulai menguap, tapi saya tidak hiraukan karena kebetulan  Film di televisi pada saat itu lagi seru, dan tumben-tumbennya malam  Sabtu enak siarannya, biasanya juga tidak. Tante Linda tidak kedengaran  lagi suaranya, dan rupanya dia sudah ketiduran di sofa dengan kondisi  pada saat itu dia tepat satu sofa dengan saya persis di samping saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah setengah jam lebih kurang Tante Linda ketiduran, waktu itu sudah menunjukkan pukul 23.35.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduh gimana ini, saya mau pulang tapi Tante Linda sedang ketiduran, mau pamitan gimana ya..?" kata saya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba  saya melihat pemandangan yang tidak pernah saya lihat. Dimana Tante  Linda dengan posisi mengangkat kaki ke sofa sebelah dan agak selonjoran  sedang ketiduran, dengan otomatis dasternya tersikap dan terlihat warna  celananya yang krem dengan godaan yang ada di depan mata. Hal ini  membuat iman saya sedikit goyang, tapi biar begitu saya tetap berusaha  menenangkan pikiran saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, dari pada saya semakin  lama disini semaking tidak terkendali, lebih baik saya bangunkan Tante  Linda biar saya permisi pulang. Akhirnya saya beranikan diri untuk  membangunkan Tante Linda untuk pulang. Dengan sedikit grogi saya pegang  pundaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tan... Tan..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bermalas-malas  Tante Linda mulai terbangun. Karena saya dengan posisi duduk persis di  sampingnya, otomatis Tante Linda menyandar ke bahu saya. Dengan perasaan  yang sangat kikuk, tidak ada lagi yang dapat saya lakukan. Dengan usaha  sekali lagi saya bangunkan Tante Linda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tan... Tan..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun sudah dengan mengelus tangannya, Tante Linda bukannya bangun, bahkan sekarang tangannya tepat di atas paha saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduh gimana ini..?" gumam saya dalam hati, "Gimana nantinya ini..?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah  setan apa yang telah hinggap, akhirnya tanpa disadari saya sudah berani  membelai rambutnya dan mengelus bahunya. Belum puas dengan bahunya,  dengan sedikit hati-hati saya elus badannya dari belakang dengan sedikit  menyenggol buah dadanya. Aduh.., adik saya langsung lancang depan.  Dengan tegangan tinggi, nafsu sudah kepalang naik, dan dengan sedikit  keberanian yang tinggi, saya dekatkan bibir saya ke bibirnya. Tercium  sejenak bau harum mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-pelan saya tempelkan dengan  gemetaran bibir saya, tapi anehnya Tante Linda tidak bereaksi apa-apa,  entah menolak atau menerima. Dengan sedikit keberanian lagi, saya  julurkan lidah ke dalam mulutnya. Dengan sedikit mendesah, Tante Linda  mengagetkan saya. Dia terbangun, tapi entah kenapa bukannya saya  ketakutan malah keluar pujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tante Linda cantik udah ngantuk ya..? Mmuahhh..!" saya kecup bibirnya dengan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa saya sadari, saya sudah memegang buah dadanya pada ciuman ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante  Linda membalas ciuman saya dengan lembut. Dia sudah pakar soal  bagaimana cara ciuman yang nikmat, yaitu dengan merangkul leher saya dia  menciumi langit-langit mulut saya. 10 menit kami saling berciuman, dan  sekarang saya sudah mengelus-elus buah dadanya yang sekal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ahk...  ahk..!" dengan sedikit tergesa-gesa Tante Linda sudah menarik celana  saya yang tanpa celana dalam, dan dengan cepat dia menciumi kepala penis  saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ahkk... ah..!" nikmatnya tidak tergambarkan, "Ahkkk..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya  pun tidak mau kalah, saya singkapkan dasternya yang tipis ke atas.  Alangkah terkejutnya saya, rupanya Tante Linda sudah tidak mengenakan  apa-apa lagi di balik dasternya. Dengan agak agresif saya ciumi gunung  vaginanya, terus mencari klistorisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akh... akh... hus..!" desahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Linda sudah terangsang, terlihat dari vaginanya yang membasah. Saya harus membangkitkan nafsu saya lebih tinggi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30  menit sudah kami pemanasan, dan sekarang kami sudah berbugil ria tanpa  sehelai benang pun yang lengket di badan kami. Tanpa saya perintah,  Tante Linda merenggangkan pahanya lebar-lebar, dan langsung saya ambil  posisi berjongkok tepat dekat kemaluannya. Dengan sedikit gemetaran,  saya arahkan batang kemaluan saya dengan mengelus-elus di bibir  vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akh... husss... ahk..!" sedikit demi sedikit sudah masuk kepala penis saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akh... akh..!" dengan sedikit dorongan, "Bless... sss..!" masuk semuanya batang kejantanan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah  saya diamkan semenit, secara langsung Tante Linda menggoyang-goyang  pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Tanpa diperintah lagi, saya  maju-mundurkan batang kemaluan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akh... uh... terus  Sayang.., kenapa tidak dari dulu kamu puasin Tante..? Akh... blesset...  plup... kcok... ckock... plup... blesset.. akh.. aduh Tante mau keluar  nih..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tunggu Tante, saya juga udah mau datang..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sedikit hentakan, saya maju-mundurkan kembali batang kemaluan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah  15 menit kami saling berlomba ke bukit kenikmatan, kepala penis saya  sudah mulai terasa gatal, dan Tante Linda teriak, "Akh..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan kami meledak, "Crot... crot... crot..!" begitu banyak mani saya muncrat di dalam kandungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan saya langsung lemas, kami terkulai di karpet ruang tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante  Linda kemudian mengajak saya ke kamar tamu. Sesampainya disana Tante  Linda langsung mengemut batang kemaluan saya, entah kenapa penis saya  belum mati dari tegangnya sehabis mencapai klimaks tadi. Langsung Tante  Linda mengakanginya, mengarahkan kepala penis saya ke bibir vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akh... husss..!" seperti kepedasan Tante Linda dengan liarnya menggoyang-goyangkan pinggulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Blesset... crup... crup... clup... cloppp..!" suara kemaluannya ketika dimasuki berulang-ulang dengan penis saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30 menit kami saling mengadu, entah sudah berapa kali Tante Linda orgasme. Tiba saatnya lahar panas mau keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Crot..,  crot..!" meskipun sudah memuncratkan lahar panas, tidak lepas-lepasnya  Tante Linda masih menggoyang pantatnya dengan teriakan kencang, "Akh..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian  Tante tertidur di dada saya, kami menikmati sisa-sisa kenikmatan dengan  batang kejantanan saya masih berada di dalam vaginanya dengan posisi  miring karena pegal. Dengan posisi dia di atas, seakan-akan Tante Linda  tidak mau melepaskan penis saya dari dalam vaginanya. Begitulah malam  itu kami habiskan sampai 3 kali bersetubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 5 pagi saya  ngumpat-umpat masuk ke rumah saya di sebelah, dan tertidur akibat  kelelahan satu malam kerja berat. Begitulah kami melakukan hampir setiap  malam sampai Om itu pulang dari kerjanya. Dan sepulangnya adik saya  dari Kalimantan, kami tidak dapat lagi dengan leluasa bercinta.  Begitulah kami hanya melakukan satu kali. Dalam dua hari itu pun kami  lakukan dengan menyelinap ke dapurnya. Kebetulan dapurnya yang ada  jendela itu berketepatan dengan kamar mandi kami di rumah sebelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3  bulan kemudian Tante Linda hamil dan sangat senang. Semua keluarganya  memestakan anak yang mereka tunggu-tunggu 8 1/2 tahun. Tapi entah  kenapa, Tante Linda tidak pernah mengatakan apa-apa mengenai  kadungannya, dan kami masih melakukan kebutuhan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1411556838748479078-5622039212452720463?l=janda-kesepian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/feeds/5622039212452720463/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/tante-linda-mengandung-anakku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/5622039212452720463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/5622039212452720463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/tante-linda-mengandung-anakku.html' title='Tante Linda mengandung anakku'/><author><name>Tante Kesepian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14713038125543777221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/-FZxK7b8lVNc/ThmHlk6Uv2I/AAAAAAAAAAY/ioSmfPbY4Yw/s220/248197_1629217110192_1829537763_1083242_4655990_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1411556838748479078.post-3421904368945001987</id><published>2011-07-12T01:32:00.001-07:00</published><updated>2011-07-12T01:32:53.577-07:00</updated><title type='text'>Cerita Seks Dewasa - Ngentot Gadis Sampul</title><content type='html'>&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;a class="feeda" href="http://ceritadewasadi.blogspot.com/2009/09/cerita-seks-dewasa-ngentot-gadis-sampul.html" rel="nofollow" title="Cerita Seks Dewasa - Ngentot Gadis Sampul"&gt;&lt;span class="bigtitle"&gt;Cerita Seks Dewasa - Ngentot Gadis Sampul&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/td&gt;&lt;td align="right" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;October 3rd, 2009&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;div class="content"&gt;&lt;div class="KonaBody"&gt;&lt;div class="post-body entry-content"&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class="entry"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cerita Sex xxx ngentot dengan  cewek bispak gadis sampul. Siang itu panas sekali ketika aku melangkah  keluar dari kampus menuju ke mobilku di tempat parkir. Segera kupacu  pulang mobilku, tapi sebelumnya mampir dulu beli es dawet di kios di  pinggir jalan menuju arah rumahku. Setelah sampai rumah dan kumasukkan  mobil ke garasi, segera kuganti baju dengan seragam kebesaran, yaitu  kaos kutang dengan celana kolor. Kucuci tangan dan muka, kemudian  kuhampiri meja makan dan mulai menyantap makan siang lalu ditutup dengan  minum es dawet yang kubeli tadi, uaaaah… enak sekali… jadi terasa segar  tubuh ini karena es itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah cuci piring, kemudian aku duduk  di sofa, di ruang tengah sambil nonton MTV, lama kelamaan bosan juga.  Habis di rumah tidak ada siapa-siapa, adikku belum pulang, orang tua  juga masih nanti sore. Pembantu tidak punya. Akhirnya aku melangkah  masuk ke kamar dan kuhidupkan kipas angin, kuraih majalah hiburan yang  kemarin baru kubeli. Kubolak-balik halaman demi halaman, dan akhirnya  aku terhanyut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba bel pintu berbunyi, aku segera beranjak  ke depan untuk membuka pintu. Sesosok makhluk cantik berambut panjang  berdiri di sana. Sekilas kulihat wajahnya, sepertinya aku pernah lihat  dan begitu familiar sekali, tapi siapa ya..?&lt;br /&gt;“Cari siapa Mbak..?” tanyaku membuka pembicaraan.&lt;br /&gt;“Ehm… bener ini Jl. Garuda no.20, Mas..?” tanya cewek itu.&lt;br /&gt;“Ya bener disini, tapi Mbak siapa ya..? dan mau ketemu dengan siapa..?” tanyaku lagi.&lt;br /&gt;“Maaf  Mas, kenalkan… nama saya Rika. Saya dapat alamat ini dari temen saya.  Mas yang namanya Adi ya..?” sambil cewek itu mengulurkan tangan untuk  bersalaman.&lt;br /&gt;Segera kusambut, aduuuh… halus sekali tanganya.&lt;br /&gt;“Eng… iya, emangnya temen Mbak siapa ya..? kok bisa tau alamat sini..?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Anu Mas, saya dapat alamat ini dari Bimo, yang katanya temennya Mas Adi waktu SMA dulu…” jelas cewek itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas aku teringat kembali temanku, Bimo, yang dulu sering main kemana-mana sama aku.&lt;br /&gt;“Oooh… jadi Mbak Rika ini temennya Bimo, ayo silahkan masuk… maaf tadi saya interogasi dulu.”&lt;br /&gt;Setelah  kami berdua duduk di ruang tamu baru aku tersadar, ternyata Rika ini  memang dahsyat, benar-benar cantik dan seksi. Dia saat itu memakai mini  skirt dan kaos ketat warna ungu yang membuat dadanya tampak membusung  indah, ditambah wangi tubuhnya dan paha mulus serta betis indahnya yang  putih bersih menantang duduk di hadapanku. Sekilas aku taksir  payudaranya berukuran 34B.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah basa-basi sebentar, Rika  menjelaskan maksud kedatangannya, yaitu ingin tanya-tanya tentang  jurusan Public Relation di fakultas Fisipol tempat aku kuliah. Memang  Rika ini adalah cewek pindahan dari kota lain yang ingin meneruskan di  tempat aku kuliah. Aku sendiri di jurusan advertising, tapi temanku  banyak yang di Public Relation (yang kebanyakan cewek-cewek cakep dan  sering jadi model buat mata kuliah fotografi yang aku ambil), jadi  sedikit banyak aku tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun cepat akrab dan hingga terasa  tidak ada lagi batas di antara kami berdua, aku pun sudah tidak duduk  lagi di hadapannya tapi sudah pindah di sebelah Rika. Sambil bercanda  aku mencuri-curi pandang ke wajah cantiknya, paha mulusnya, betis  indahnya, dan tidak ketinggalan dadanya yang membusung indah yang  sesekali terlihat dari belahan kaos ketatnya yang berleher rendah. Terus  terang saja si kecil di balik celanaku mulai bangun menggeliat,  ditambah wangi tubuhnya yang membuat terangsang birahiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  mengajak Rika untuk pindah ke ruang tengah sambil nonton TV untuk  meneruskan mengobrol. Rika pun tidak menolak dan mengikutiku masuk  setelah aku mengunci pintu depan. Sambil ngemil hidangan kecil dan  minuman yang kubuat, kami melanjutkan ngobrol-ngobrol. Sesekali Rika  mencubit lengan atau pahaku sambil ketawa-ketiwi ketika aku mulai  melancarkan guyonan-guyonan. Tidak lama, adik kecilku di balik celana  tambah tegar berdiri. Aku kemudian usul ke Rika untuk nonton VCD saja.  Setelah Rika setuju, aku masukkan film koleksiku ke dalam player.  Filmnya tentang drama percintaan yang ada beberapa adegan-adegan  ranjang. Kami berdua pun asyik nonton hingga akhirnya sampai ke bagian  adegan ranjang, aku lirik Rika matanya tidak berkedip melihat adegan  itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuberanikan diri untuk merangkul bahu Rika, ternyata dia  diam saja tidak berusaha menghindar. Ketika adegan di TV mulai tampak  semakin hot, Rika mulai gelisah, sesekali kedua paha mulusnya  digerak-gerakkan buka tutup. Wah, gila juga nih cewek, seakan-akan dia  mengundang aku untuk menggumulinya. Aku beranikan diri untuk  mengelus-elus lengannya, kemudian rambutnya yang hitam dan panjang. Rika  tampak menikmati, terbukti dia langsung ngelendot manja ke tubuhku.  Kesempatan itu tidak kusia-siakan, langsung kupeluk tubuh hangatnya dan  kucium pipinya. Rika tidak protes, malah tangannya sekarang diletakkan  di pahaku, dan aku semakin terangsang lalu kuraih dagunya. Kupandang  mata bulat indahnya, sejenak kami berpandangan dan entah siapa yang  memulai tiba-tiba, kami sudah berpagutan mesra. Kulumat bibir bawahnya  yang tebal nan seksi itu dan Rika membalas, tangannya yang satu memeluk  leherku, sedang yang satunya yang tadinya di pahaku sekarang sudah  mengelus-elus yuniorku yang sudah super tegang di balik celanaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidah  kami saling bertautan dan kecupan-kecupan bibir kami menimbulkan bunyi  cepak cepok, yang membuat semakin hot suasana dan seakan tidak mau kalah  dengan adegan ranjang di TV. Tanganku pun tidak mau tinggal diam,  segera kuelus paha mulusnya, Rika pun memberi kesempatan dengan membuka  pahanya lebar-lebar, sehingga tanganku dengan leluasa mengobok-obok paha  dalamnya sampai ke selangkangan. Begitu bolak-balik kuelus dari paha  lalu ke betis kemudian naik lagi ke paha. Sambil terus melumat bibirnya,  tanganku sudah mulai naik ke perutnya kemudian menyusup terus ke  dadanya. Kuremas dengan gemas payudaranya walau masih tertutup kaos,  Rika merintih lirih. Lalu tanganku kumasukkan ke dalam kaosnya dan mulai  meraba-raba mencari BH-nya. Setelah ketemu lalu aku meraih ke dalam BH  dan mulai meremas-remas kembali buah dadanya, kusentuh-sentuh putingnya  dan Rika mendesah. Seiring dengan itu, tangan Rika juga mengocok  yuniorku yang masih tertutup celana dalam, dan mulai dengan ganas  menyusup ke dalam celana dalam meraih yuniorku dan kembali mengocok dan  mengelus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang sudah mulai terbakar birahi, kemudian  melepaskan kaos Rika dan BH-nya hingga sekarang nampak jelas payudaranya  yang berukuran 34B semakin mengembang karena rangsangan birahi.&lt;br /&gt;Langsung  aku caplok buah dadanya dengan mulutku, kujilat-jilat putingnya dan  Rika mendesis-desis keenakan, “Sssh… aaauuh… Mass Adiii… ehhh… ssshhh…”  sambil tangannya mendekap kepalaku, meremas-remas rambutku dan  membenamkannya ke payudaranya lebih dalam.&lt;br /&gt;Kutarik kepalaku dan  kubisikkan ke telinga Rika, “Rika sayang, kita pindah ke kamarku aja  yuuk..! Aman kok nggak ada siapa-siapa di rumah ini selain kita berdua…”&lt;br /&gt;Rika  mengangguk, lalu segera kupeluk dan kugendong dia menuju ke kamar.  Posisi gendongnya yaitu kaki Rika memeluk pinggangku, tangannya memeluk  leherku dan payudaranya menekan keras di dadaku, sedangkan tanganku  memegang pantatnya sehingga yuniorku sekarang sudah menempel di  selangkangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan menuju kamar, kami terus  saling berciuman. Sesampainya di kamar, kurebahkan tubuhnya di tempat  tidur, Rika tidak mau melepaskan pelukan kakinya di pinggangku malahan  sekarang mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya.&lt;br /&gt;“Sayang… sabar dong.., lepas dulu dong rok sama celana kamu…” kataku.&lt;br /&gt;“Oke Mas… tapi Mas juga harus lepas baju sama celana Mas, biar adil..!” rajuk Rika.&lt;br /&gt;Setelah  kulepas baju dan celanaku hingga telanjang bulat dan yuniorku sudah  mengacung keras tegak ke atas, Rika yang juga sudah telanjang bulat  kembali merebahkan diri sambil mengangkangkan pahanya lebar-lebar,  hingga kelihatan bibir vaginanya yang merah jambu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun  segera menindihnya, tapi tidak buru-buru memasukkan yuniorku ke  vaginanya, kembali aku kecup bibirnya dan kucaplok dan jilat-jilat  payudara serta putingnya. Jilatanku turun ke perut terus ke paha  mulusnya kemudian ke betis indahnya naik lagi ke paha dalamnya hingga  sampai ke selangkangannya.&lt;br /&gt;“Auuww… Mas Adiiii… ehhmm… shhh… enaaaakkk  Masss…” ceracau Rika sambil kepalanya menggeleng-geleng tidak karuan  dan tangannya mencengkeram sprei ketika aku mulai menjilati bibir  vaginanya, terus ke dalam memeknya dan di klitorisnya.&lt;br /&gt;Dengan penuh  nafsu, terus kujilati hingga akhirnya tubuh Rika menegang, pahanya  mengempit kepalaku, tangannya menjambak rambutku dan Rika berteriak  tertahan. Ternyata dia telah mencapai orgasme pertamanya, dan terus  kujilati cairan yang keluar dari lubang kenikmatannya sampai habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  bangun dan melihat Rika yang masih tampak terengah-engah dan memejamkan  mata menghayati orgasmenya barusan. Kukecup bibirnya, dan Rika  membalas, lalu aku menarik tangannya untuk mengocok penisku. Aku  rebahkan tubuhku dan Rika pun mengerti kemauanku, lalu dia bangkit  menuju ke selangkanganku dan mulai mengemut penisku.&lt;br /&gt;“Oooh… Rik… kamu pinter banget sih Rik…” aku memuji permainannya.&lt;br /&gt;Kira-kira  setengah jam Rika mengemut penisku. Mulutnya dan lidahnya seakan-akan  memijat-mijat batang penisku, bibirnya yang seksi kelihatan semakin  seksi melumati batang dan kepala penisku. Dihisapnya kuat-kuat ketika  Rika menarik kepalanya sepanjang batang penis menuju kepala penisku  membuatku semakin merem-melek keenakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bosan, aku  kemudian menarik tubuh Rika dan merebahkannya kembali ke tempat tidur,  lalu kuambil posisi untuk menindihnya. Rika membuka lebar-lebar  selangkangannya, kugesek-gesekkan dulu penisku di bibir vaginanya, lalu  segera kumasukkan penisku ke dalam lubang senggamanya.&lt;br /&gt;“Aduuh Mas…  sakiiit… pelan-pelan aja doong… ahhh…” aku pun memperlambat masuknya  penisku, sambil terus sedikit-sedikit mendorongnya masuk diimbangi  dengan gerakan pinggul Rika.&lt;br /&gt;Terlihat sudut mata Rika basah oleh air  matanya akibat menahan sakit. Sampai akhirnya, “Bleeesss…” masuklah  semua batang penisku ke dalam liang senggama Rika.&lt;br /&gt;“Rika sayang, punya kamu sempit banget sih..? Tapi enak lho..!” Rika cuma tersenyum manja.&lt;br /&gt;“Mas juga, punya Mas besar gitu maunya cari yang sempit-sempit, sakit kaan..!” rajuk Rika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  ketawa dan mengecup bibirnya sambil mengusap air matanya di sudut mata  Rika sambil merasakan enaknya himpitan kemaluan Rika yang sempit ini.  Setelah beberapa saat, aku mulai menggerakkan penisku maju mundur dengan  pelan-pelan.&lt;br /&gt;“Aaah… uuuhhh… oooww… shhh… ehhmmm…” desah Rika sambil tangannya memeluk erat bahuku.&lt;br /&gt;“Masih sakit Sayaaang..?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Nggak Mas… sedikiiitt… auuoohhh… shhh… enn.. ennnaakk.. Mas… aahh…” jawab Rika.&lt;br /&gt;Mendengar  itu, aku pun mempercepat gerakanku, Rika mengimbangi dengan goyangan  pinggulnya yang dahsyat memutar ke kiri dan ke kanan, depan belakang,  atas bawah. Aku hanya bisa merem melek sambil terus memompa, merasakan  enaknya goyangan Rika. Tidak lama setelah itu, kurasakan denyutan  teratur di dinding vagina Rika, kupercepat goyanganku dan kubenamkan  dalam-dalam penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanganku terus meremas-remas payudaranya.  Dan tubuh Rika kembali menegang, “Aaah… Masss Adiiii… teruuus Maass…  jangan berentiii… oooh… Maasss… aaahhh… akuuuu mauuu keluaaar… aaawww…”&lt;br /&gt;Dan, “Cret… cret… crettt…” kurasakan cairan hangat menyemprot dari dalam liang senggama Rika membasahi penisku.&lt;br /&gt;Kaki  Rika pun memeluk pinggangku dan menarik pinggulku supaya lebih dalam  masuknya penisku ke dalam lubang kenikmatannya. Ketika denyutan-denyutan  di dinding vagina Rika masih terasa dan tubuh Rika menghentak-hentak,  aku merasa aku juga sudah mau keluar.&lt;br /&gt;Kupercepat gerakanku dan,  “Aaah… Rikaaa… aku mau keluar Sayaaang…” belum sempat aku menarik  penisku karena kaki Rika masih memeluk erat pinggangku, dan, “Crooot…  crooot… crooott…” aku keluar di dalam kemaluan Rika.&lt;br /&gt;“Aduuhhh enakkknyaaa…”&lt;br /&gt;Dan aku pun lemas menindih tubuh Rika yang masih terus memelukku dan menggoyang-goyangkan pinggulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun bangkit, sedangkan penisku masih di dalam liang senggama Rika dan kukecup lagi bibirnya.&lt;br /&gt;Tiba-tiba, “Greeekkk…” aku dikejutkan oleh suara pintu garasi yang dibuka dan suara motor adikku yang baru pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  pun cepat-cepat bangun dan tersadar. Kulihat sekeliling tempat tidurku,  lho… kok… Rika hilang, kemana tuh cewek..? Kuraba penisku, lho kok aku  masih pake celana dan basah lagi. Kucium baunya, bau khas air mani.  Kulihat di pinggir tempat tidur masih terbuka majalah hiburan khusus  pria yang kubaca tadi. Di halaman 68, di rubrik wajah, kulihat wajah  seorang cewek cantik yang tidak asing lagi yang baru saja kutiduri  barusan, yaitu wajah Rika yang menggunakan swimsuit di pinggir kolam  renang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaaa ampuun… baru aku sadar, pengalaman yang mengenakkan  tadi bersama Rika itu ternyata cuma mimpi toh. Dan Rika yang kutiduri  dalam mimpiku barusan adalah cover girl cantik dan seksi majalah yang  kubaca sebelum aku tertidur tadi, yang di majalah dia mengenakan  swimsuit merah. Aku pun segera beranjak ke kamar mandi membersihkan  diri. Di dalam kamar mandi aku ketawa sendiri dalam hati mengingat-ingat  mimpi enak barusan. Gara-gara menghayal yang tidak-tidak, jadinya mimpi  basah deeh.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="tags"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="post-backlinks post-comment-link"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-icons"&gt; |       &lt;span class="item-action"&gt; &lt;img alt="" class="icon-action" height="13" src="img/icon18_email.gif" width="18" /&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="item-control blog-admin pid-1723988336"&gt; &lt;img alt="" class="icon-action" height="18" src="img/icon18_edit_allbkg.gif" width="18" /&gt; &lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="tags"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img height="1" src="https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5561834709136624347-504677030816736570?l=ceritadewasadi.blogspot.com" width="1" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="margin-left: -4px; margin-top: 1em;"&gt;  &lt;ins style="border: medium none; display: inline-table; height: 90px; margin: 0pt; padding: 0pt; position: relative; visibility: visible; width: 728px;"&gt;&lt;ins id="aswift_2_anchor" style="border: medium none; display: block; height: 90px; margin: 0pt; padding: 0pt; position: relative; visibility: visible; width: 728px;"&gt;&lt;/ins&gt;&lt;/ins&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td nowrap="nowrap"&gt;&lt;h4 style="margin-bottom: 10px; white-space: normal;"&gt;More from &lt;i&gt;Cerita Dewasa 17 tahun&lt;/i&gt;&lt;/h4&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="margin-bottom: 1em;"&gt;&lt;a class="righta" href="http://feedfury.com/feed/69153-cerita-dewasa-17-tahun.html" title="Cerita Dewasa 17 tahun"&gt;100 Most Recent Entries&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 4px;"&gt;&lt;a class="righta3" href="http://misc.feedfury.com/content/38310805-cerita-seks-dewasa-ngentot-gadis-sampul.html#" rel="nofollow"&gt;Cerita Seks Dewasa - Ngentot Gadis Sampul&lt;/a&gt;&lt;span class="fadesmgray"&gt;&amp;nbsp;09&amp;nbsp;Oct&amp;nbsp;3&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 4px;"&gt;&lt;a href="http://misc.feedfury.com/content/38310804-cerita-porno-dengan-keponakan-pembantu.html" rel="nofollow"&gt;Cerita Porno Dengan Keponakan Pembantu&lt;/a&gt;&lt;span class="fadesmgray"&gt;&amp;nbsp;09&amp;nbsp;Oct&amp;nbsp;3&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 4px;"&gt;&lt;a href="http://misc.feedfury.com/content/38310803-cerita-porno-kenikmatan-bersama-dua-pria.html" rel="nofollow"&gt;Cerita Porno - Kenikmatan Bersama Dua Pria&lt;/a&gt;&lt;span class="fadesmgray"&gt;&amp;nbsp;09&amp;nbsp;Oct&amp;nbsp;3&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 4px;"&gt;&lt;a href="http://misc.feedfury.com/content/37778079-perawanku-direnggut-kak-agun.html" rel="nofollow"&gt;Perawanku direnggut Kak Agun&lt;/a&gt;&lt;span class="fadesmgray"&gt;&amp;nbsp;09&amp;nbsp;Jul&amp;nbsp;24&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 4px;"&gt;&lt;a href="http://misc.feedfury.com/content/30589941-darah-perawan-calon-sekretaris-cerita-panas.html" rel="nofollow"&gt;Darah Perawan Calon Sekretaris - Cerita Panas&lt;/a&gt;&lt;span class="fadesmgray"&gt;&amp;nbsp;09&amp;nbsp;Mar&amp;nbsp;18&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 4px;"&gt;&lt;a href="http://misc.feedfury.com/content/30226246-hanni-keturunan-chinese-cerita-dewasa.html" rel="nofollow"&gt;Hanni keturunan chinese - Cerita Dewasa&lt;/a&gt;&lt;span class="fadesmgray"&gt;&amp;nbsp;09&amp;nbsp;Mar&amp;nbsp;11&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 4px;"&gt;&lt;a href="http://misc.feedfury.com/content/29817488-nafsu-ganas-si-janda-arab-cerita-panas.html" rel="nofollow"&gt;Nafsu Ganas si Janda Arab : Cerita Panas&lt;/a&gt;&lt;span class="fadesmgray"&gt;&amp;nbsp;09&amp;nbsp;Mar&amp;nbsp;3&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 4px;"&gt;&lt;a href="http://misc.feedfury.com/content/29567093-seks-pertama-si-rima-cerita-dewasa.html" rel="nofollow"&gt;Seks Pertama si Rima : Cerita Dewasa&lt;/a&gt;&lt;span class="fadesmgray"&gt;&amp;nbsp;09&amp;nbsp;Feb&amp;nbsp;26&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 4px;"&gt;&lt;a href="http://misc.feedfury.com/content/29472826-ngentot-cewek-amoy-cerita-seru.html" rel="nofollow"&gt;Ngentot Cewek Amoy : Cerita Seru&lt;/a&gt;&lt;span class="fadesmgray"&gt;&amp;nbsp;09&amp;nbsp;Feb&amp;nbsp;25&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 4px;"&gt;&lt;a href="http://misc.feedfury.com/content/29384311-kutaklukkan-ibu-mertuaku-cerita-mesum.html" rel="nofollow"&gt;Kutaklukkan Ibu Mertuaku - Cerita Mesum&lt;/a&gt;&lt;span class="fadesmgray"&gt;&amp;nbsp;09&amp;nbsp;Feb&amp;nbsp;24&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 4px;"&gt;&lt;a href="http://misc.feedfury.com/content/29309466-ketua-rt-itu-ternyata-cerita-dewasa.html" rel="nofollow"&gt;Ketua RT itu ternyata .... Cerita Dewasa&lt;/a&gt;&lt;span class="fadesmgray"&gt;&amp;nbsp;09&amp;nbsp;Feb&amp;nbsp;23&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 4px;"&gt;&lt;a href="http://misc.feedfury.com/content/29184051-perkasanya-kontol-teman-suamiku-cerita-seru.html" rel="nofollow"&gt;Perkasanya Kontol Teman Suamiku : Cerita Seru&lt;/a&gt;&lt;span class="fadesmgray"&gt;&amp;nbsp;09&amp;nbsp;Feb&amp;nbsp;21&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 4px;"&gt;&lt;a href="http://misc.feedfury.com/content/29108923-bayar-hutang-dengan-tubuh-istri-cerita-panas.html" rel="nofollow"&gt;Bayar Hutang Dengan Tubuh Istri : Cerita Panas&lt;/a&gt;&lt;span class="fadesmgray"&gt;&amp;nbsp;09&amp;nbsp;Feb&amp;nbsp;20&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 4px;"&gt;&lt;a href="http://misc.feedfury.com/content/29034108-istriku-mengandung-anak-siapa.html" rel="nofollow"&gt;Istriku Mengandung anak siapa ?&lt;/a&gt;&lt;span class="fadesmgray"&gt;&amp;nbsp;09&amp;nbsp;Feb&amp;nbsp;19&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 4px;"&gt;&lt;a href="http://misc.feedfury.com/content/28808579-hadiah-ngentot-2-memek-chinese-cerita-dewasa.html" rel="nofollow"&gt;Hadiah Ngentot 2 Memek Chinese - Cerita Dewasa&lt;/a&gt;&lt;span class="fadesmgray"&gt;&amp;nbsp;09&amp;nbsp;Feb&amp;nbsp;16&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 4px;"&gt;&lt;a href="http://misc.feedfury.com/content/28589805-aku-diperkosa-kuli-bangunan-cerita-dewasa-17-tahun.html" rel="nofollow"&gt;Aku Diperkosa Kuli Bangunan : Cerita Dewasa 17 Tahun&lt;/a&gt;&lt;span class="fadesmgray"&gt;&amp;nbsp;09&amp;nbsp;Feb&amp;nbsp;12&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 4px;"&gt;&lt;a href="http://misc.feedfury.com/content/28473918-cerita-dewasa-ika-teman-kelasku-yang-binal.html" rel="nofollow"&gt;Cerita Dewasa : Ika Teman Kelasku yang Binal&lt;/a&gt;&lt;span class="fadesmgray"&gt;&amp;nbsp;09&amp;nbsp;Feb&amp;nbsp;11&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 4px;"&gt;&lt;a href="http://misc.feedfury.com/content/28473917-cerita-dewasa-17-tahun-salon-plus.html" rel="nofollow"&gt;Cerita Dewasa 17 Tahun : Salon plus&lt;/a&gt;&lt;span class="fadesmgray"&gt;&amp;nbsp;09&amp;nbsp;Feb&amp;nbsp;11&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 4px;"&gt;&lt;a href="http://misc.feedfury.com/content/28473916-cerita-dewasa-sekalian-saja-4-wanita.html" rel="nofollow"&gt;Cerita Dewasa : Sekalian saja 4 Wanita&lt;/a&gt;&lt;span class="fadesmgray"&gt;&amp;nbsp;09&amp;nbsp;Feb&amp;nbsp;11&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 4px;"&gt;&lt;a href="http://misc.feedfury.com/content/28473915-cerita-dewasa-17-tahun-puas-kukerjai-si-udin.html" rel="nofollow"&gt;Cerita Dewasa 17 Tahun : Puas Kukerjai si Udin&lt;/a&gt;&lt;span class="fadesmgray"&gt;&amp;nbsp;09&amp;nbsp;Feb&amp;nbsp;11&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 4px;"&gt;&lt;a href="http://misc.feedfury.com/content/28473914-cerita-dewasa-17-tahun-alibi-bercinta.html" rel="nofollow"&gt;Cerita Dewasa 17 Tahun : Alibi Bercinta&lt;/a&gt;&lt;span class="fadesmgray"&gt;&amp;nbsp;09&amp;nbsp;Feb&amp;nbsp;11&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1411556838748479078-3421904368945001987?l=janda-kesepian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/feeds/3421904368945001987/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cerita-seks-dewasa-ngentot-gadis-sampul.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/3421904368945001987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/3421904368945001987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cerita-seks-dewasa-ngentot-gadis-sampul.html' title='Cerita Seks Dewasa - Ngentot Gadis Sampul'/><author><name>Tante Kesepian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14713038125543777221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/-FZxK7b8lVNc/ThmHlk6Uv2I/AAAAAAAAAAY/ioSmfPbY4Yw/s220/248197_1629217110192_1829537763_1083242_4655990_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1411556838748479078.post-4534438248659229053</id><published>2011-07-12T01:31:00.001-07:00</published><updated>2011-07-12T01:31:55.979-07:00</updated><title type='text'>Cerita Porno Dengan Keponakan Pembantu</title><content type='html'>&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td align="right" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;October 3rd, 2009&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;div class="content"&gt;&lt;div class="KonaBody"&gt;&lt;div class="post-body entry-content"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://ceritadewasadi.blogspot.com/" rel="nofollow"&gt;Cerita Porno&lt;/a&gt; ini mayan juga broo .....&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kisah ini kembali terulang ketika  keluarga gw membutuhkan seorang pembantu lagi. Kebetulan saat itu mbak  Dian menganjurkan agar keponakannya Rini yang bekerja disini, membantu  keluarga ini. Mungkin menurut ortu gw dari pada susah susah cari kesana  kesini, gak pa pa lah menerima tawaran Dian ini. Lagian dia juga sudah  cukup lama berkerja pada keluarga ini. Mungkin malah menjadi pembantu  kepercayaan keluarga kami ini.&lt;br /&gt;Akhirnya ortu menyetujui atas  penawaran ini dan mengijinkan keponakannya untuk datang ke Jakarta dan  tinggal bersama dalam keluarga ini.&lt;br /&gt;Didalam pikiran gw gak ada hal  yang akan menarik perhatian gw kalau melihat keponakannya. “Paling  paling anaknya hitam, gendut, trus jorok. Mendingan sama bibinya aja  lebih enak kemutannya.” Pikir gw dalam hati.&lt;br /&gt;Sebelum kedatangan  keponakannya yang bernama Rini, hampir setiap malam kalau anggota  keluarga gw sudah tidur lelap. Maka pelan pelan gw ke kamar belakang  yang memang di sediakan keluarga untuk kamar tidur pembantu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pelan  pelan namun pasti gw buka pintu kamarnya, yang memang gw tahu mbak Dian  gak pernah kunci pintu kamarnya semenjak kejadian itu. Ternyata mbak  Dian tidur dengan kaki mengangkang seperti wanita yang ingin melahirkan.  Bagaimanapun juga setiap gw liat selangkangannya yang di halus gak di  tumbuhi sehelai rambutpun juga. Bentuknya gemuk montok, dengan sedikit  daging kecil yang sering disebut klitoris sedikit mencuat antara belahan  vagina yang montok mengiurkan kejantanan gw. Perlahan lahan gw usap  permukaan vagina mbak Dian yang montok itu, sekali kali gw sisipin jari  tengah gw tepat ditengah vaginanya dan gw gesek gesekan hingga terkadang  menyentuh klitorisnya. Desahan demi desahan akhirnya menyadarkan mbak  Dian dari tidurnya yang lelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“mmmm....sssshh.....oooohh,  Donn... kok gak bangun mbak sih. Padahal mbak dari tadi tungguin kamu,  sampai mbak ketiduran.” Ucap mbak Dian sama gw setelah sadar bahwa  vaginanya disodok sodok jari nakal gw. Tapi mbak Dian gak mau kalah,  tanpa diminta mbak Dian tahu apa yang gw paling suka.&lt;br /&gt;Dengan sigap  dia menurunkan celana pendek serta celana dalam gue hingga dengkul,  karena kejantanan gw sudah mengeras dan menegang dari tadi.&lt;br /&gt;Mbak Dian langsung mengenggam batang kejantanan gw yang paling ia kagumi semenjak kejadian waktu itu.&lt;br /&gt;Dijilat  jilat dengan sangat lembut kepala kejantanan gw, seakan memanjakan  kejantanan gw yang nantinya akan memberikan kenikmatan yang sebentar  lagi ia rasakan. Tak sesenti pun kejantanan gw yang gak tersapu oleh  lidahnya yang mahir itu. Dikemut kemut kantong pelir gw dengan gemasnya  yang terkadang menimbulkan bunyi bunyi “plok.. plok”. Mbak Dian pun gak  sungkan sungkan menjilat lubang dubur gw. Kenikmatan yang mbak Dian  berikan sangat diluar perkiraan gw malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak....uuuh. enak  banget mbak. Trus mbak nikmatin kont*l saya mbak.” Guyam gw yang udah  dilanda kenikmatan yang sekarang menjalar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin ganas mbak  Dian menghisap kont*l gw yang masuk keluar mulutnya, ke kanan kiri sisi  mulutnya yang mengesek susunan giginya. Kenikmatan yang terasa sangat  gak bisa gw ceritain, ngilu. Hingga akhirnya pangkal unjung kont*l gw  terasa ingin keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak... Donny mau keluar nih...” sambil gw  tahan kont*l gw didalam mulutnya, akhirnya gw muncratin semua sperma  didalam mulut mungil mbak Dian yang berbibir tipis itu.&lt;br /&gt;“Croot...  croot... Ohhh... nikmat banget mbak mulut mbak ini, gak kalah sama mem*k  mbak Dian. Namun kali ini mbak Dian tanpa ada penolakan, menerima  muncratan sperma gw didalam mulutnya. Menelan habis sperma yang ada  didalam mulutnya hingga tak tersisa. Membersihkan sisa sperma yang  meleleh dari lubang kencing gw. Tak tersisa setetespun sperma yang  menempel di batang kont*l gw. Bagaikan wanita yang kehausan di tengah  padang gurun sahara, mbak Dian menyapu seluruh batang kont*l gw yang  teralirkan sperma yang sempat meleleh keluar dari lubang kencing gw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu  dengan lemas aku menindih tubuhnya dan berguling ke sisinya. Merebahkan  tubuh gw yang sudah lunglai itu dalam kenikmatan yang baru tadi gue  rasakan.&lt;br /&gt;“Donn... mem*k mbak blom dapet jatah... mbak masih pengen  nih, nikmatin sodokan punya kamu yang berurat panjang besar membengkak  itu menyanggah di dalam mem*k mbak....” pinta mbak Dian sambil memelas.  Mengharapkan agar gw mau memberikannya kenikmatan yang pernah ia rasakan  sebelumnya.&lt;br /&gt;“Tenang aja mbak... mbak pasti dapat kenikmatan yang  lebih dari pada sebelumnya, karena punya saya lagi lemes, jadi sekarang  mbak isep lagi. Terserak mbak pokoknya bikin adik saya yang perkasa ini  bangun kembali. Oke.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa kembali menjawab perintah gw. Dengan  cekatan layaknya budak seks. Mbak Dian menambil posisi kepalanya tepat  di atas kont*l gw, kembali mbak Dian menghisap hisap. Berharap  keperkasaan gw bangun kembali. Segala upaya ia lakukan, tak luput juga  rambut halus yang tumbuh mengelilingi batang kont*l gw itu dia hisap  hingga basah lembab oleh air ludahnya.&lt;br /&gt;Memang gw akuin kemahiran  pembantu gw yang satu ini hebat sekali dalam memanjakan kont*l gw  didalam mulutnya yang seksi ini. Alhasil kejantanan gw kembali mencuat  dan mengeras untuk siap bertempur kembali.&lt;br /&gt;Lalu gw juga gak mau lama  lama seperti ini. Gw juga mau merasakan kembali kont*l gw ini menerobos  masuk ke dalam mem*knya yang montok gemuk itu. Mengaduk ngaduk isi  mem*knya.&lt;br /&gt;Gw memberi aba aba untuk memulai ke tahap yang mbak Dian  paling suka. Dengan posisi women on top, mbak Dian mengenggam batang  kont*l gue. Menuntun menyentuh mem*knya yang dari setadi sudah basah.  kont*l gw di gesek gesek terlebih dahulu di bibir permukaan mem*knya.  Menyentuh, mengesek dan membelah bibir mem*knya yang mengemaskan.  Perlahan kont*l gw menerobos bibir mem*knya yang montok itu. Perlahan  lahan kont*l gw seluruhnya terbenam didalam liang kenikmatannya.  Goyangan pinggulnya mbak dian membuat gw nikmat banget. Semakin lama  semakin membara pinggul yang dihiasi bongkahan pantat semok itu  bergoyang mempermainkan kont*l gw yang terbenam didalam mem*knya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“uh...  Donn. Punya kamu perkasa banget sih. Nikmat banget....” dengan mimik  muka yang merem melek menikmati hujaman kont*l gw ke dalam liang  senggamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“mem*k mbak Dian juga gak kalah enaknya. Bisa pijit pijit punya saya... mem*k mbak di apain sih... kok enak banget.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ih...  mau tahu aja. Gak penting diapain. Yang penting kenikmatan yang  diberikan sama mem*k mbak sama kamu Donn....” sahut mbak Dian sambil  mencubit pentil tetek gw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Donn... ooohh.... Donn.... mbak  mmmmauu kluuuuaaarr... ooohh.” Ujar mbak Dian sambil mendahakkan  kepalanya ke atas, berteriak karena mencapai puncak dari kenikmatannya.  Dengan lunglai mbak Dian ambruk merebahkan tubunya yang telanjang tepat  di atas badan gw. Untung saja posisi kamar mbak Dian jauh dari kamar  kamar saudara dan ortu gw. Takutnya teriakan tadi membangunkan mereka  dan menangkap basah persetubuhan antara pembantu dengan anak majikannya.  Gak kebayang deh jadinya kayak apa.&lt;br /&gt;Lalu karena gw belum mencapai  kenikmatan ini, maka dengan menyuruh mbak Dian mengangkatkan pantatnya  sedikit tanpa harus mengeluarkan batang kont*l gw dari dalam liang  kenikmatannya. Masih dengan posisi women on top. Kembali kini gue yang  menyodok nyodok mem*knya dengan bringas. Sekarang gw gak perduli suara  yang keluar dari mulut mbak Dian dalam setiap sodokan demi sodokan yang  gw hantam kedalam mem*knya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Donn.... kamu kuat banget  Donn... aaah... uuuhhh... ssshhhh.... ooohhh...” erangan demi erangan  keluar silih berganti bersama dengan keringat yang semakin mengucur di  sekujur badan gw dan mbak Dian.&lt;br /&gt;“Truuuus... Donn... sodok trusss  mem*k mbak Doooonn. Jangan perduliin hantam truuuss.” Erangan mbak Dian  yang memerintah semakin membuat darah muda gw semakin panas membara.  Sekaligus semakin membuat gw terangsang.&lt;br /&gt;“Suka saya ent*t yah mbak... kont*l saya enak’kan... hhmmm.” Tanya gw memancing birahinya untuk semakin meningkat lagi.&lt;br /&gt;“hhhhhmmmm...  suka....sssshhh... banget Donn. Suka banget.” Kembali erangannya yang  tertahan itu terdengar bersama dengan nafasnya yang menderu dera karena  nafsu birahinya kembali memuncak.&lt;br /&gt;“Bilang kalau mbak Dian adalah budak seks Donny.” Perintah gw.&lt;br /&gt;“Mbak budak seks kamu Donn, mbak rela meskipun kamu perkosa waktu itu.... Ohhhh... nikmatnya kont*l kamu ini Donn.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin  kencang kont*l gw ent*tin mem*knya mbak Dian. Mungkin seusai  pertempuran ranjang ini mem*knya mbak Dian lecet lecet karena sodokan  kont*l gw yang tak henti hentinya memberikan ruang untuk istirahat.&lt;br /&gt;Merasa  sebentar lagi akan keluar, maka gw balikkan posisi tubuh mbak Dian  dibawah tanpa harus mengeluarkan kont*l yang sudah tertanam rapi didalam  mem*knya. Gw peluk dia trus gw balikin tubuhnya kembali ke posisi  normal orang melakukan hubungan badan.&lt;br /&gt;Gw buka lebar lebar  selangkangan mbak Dian dan kembali memompa mem*k mbak Dian. Terdengar  suara suara yang terjadi karena beradunya dua kelamin berlainan jenis.  “plok... plok...” semakin kencang terdengar dan semakin cepat daya  sodokan yang gw hantam ke dalam liang vaginanya. Terasa sekali bila  dalam posisi seperti ini, kont*l gw seperti menyentuh hingga rahimnya.  Setiap di ujung hujangan yang gw berikan. Maka erangan mbak Dian yang  tertahan itu mengeras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saatnya terasa kembali denyut  denyutan yang semula gw rasakan, namun kali ini denyut itu semakin  hebat. Seakan telah di ujung helm surga gw. Gw tahan gak mau permainan  ini cepat cepat usai. Setiap mau mencapai puncaknya. Gw pendam dalam  dalam kont*l gw di dalam lubang senggamanya mbak Dian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba tiba rasa nikmat ini semakin.... ooohhh....ssshhhh...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img height="1" src="https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5561834709136624347-5668997090986383102?l=ceritadewasadi.blogspot.com" width="1" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1411556838748479078-4534438248659229053?l=janda-kesepian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/feeds/4534438248659229053/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cerita-porno-dengan-keponakan-pembantu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/4534438248659229053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/4534438248659229053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cerita-porno-dengan-keponakan-pembantu.html' title='Cerita Porno Dengan Keponakan Pembantu'/><author><name>Tante Kesepian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14713038125543777221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/-FZxK7b8lVNc/ThmHlk6Uv2I/AAAAAAAAAAY/ioSmfPbY4Yw/s220/248197_1629217110192_1829537763_1083242_4655990_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1411556838748479078.post-7567475381489823217</id><published>2011-07-12T01:30:00.001-07:00</published><updated>2011-07-12T01:30:56.000-07:00</updated><title type='text'>Cerita Porno - Kenikmatan Bersama Dua Pria</title><content type='html'>&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;b&gt;&lt;a class="feeda" href="http://ceritadewasadi.blogspot.com/2009/09/cerita-porno-kenikmatan-bersama-dua.html" rel="nofollow" title="Cerita Porno - Kenikmatan Bersama Dua Pria"&gt;&lt;span class="bigtitle"&gt;Cerita Porno - Kenikmatan Bersama Dua Pria&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; &lt;/td&gt;&lt;td align="right" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;October 3rd, 2009&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;div class="content"&gt;&lt;div class="KonaBody"&gt;Aku  adalah gadis berusia 19 tahun. kawan-kawan mengatakan aku cantik,  tinggi 170, kulit putih dengan rambut lurus sebahu. Aku termasuk populer  diantara kawan-kawan, pokoknya \'gaul abis\'. Namun demikian aku masih  mampu menjaga kesucianku sampai.. Suatu saat aku dan enam orang kawan  Susi (19), Andra (20), Kelvin (22), Vito (22), Toni (23) dan Andri (20).  menghabiskan liburan dengan menginap di villa keluarga Andri di Puncak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susi  walaupun tidak terlalu tinggi (160) memiliki tubuh padat dengan kulit  putih, sangat sexy apalagi dengan ukuran payudara 36b-nya, Susi telah  berpacaran cukup lama dengan Kelvin. Diantara kami bertiga Andra yang  paling cantik, tubuhnya sangat proporsi tidak heran kalau sang pacar,  Vito, sangat tergila-gila dengannya. Sementara aku, Andri dan Toni masih  \'jomblo\'. Andri yang berdarah India sebenarnya suka sama aku, dia  lumayan ganteng hanya saja bulu-bulu dadanya yang lebat terkadang  membuat aku ngeri, karenanya aku hanya menganggap dia tidak lebih dari  sekedar teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara ke Puncak kami mulai dengan \'hang-out\'  disalah satu kafe terkenal di kota kami. Larut malam baru tiba di Puncak  dan langsung menyerbu kamar tidur, kami semua tidur dikamar lantai  atas. Udara dingin membuatku terbangun dan menyadari hanya Susi yang ada  sementara Andra entah kemana. Rasa haus membuatku beranjak menuju dapur  untuk mengambil minum. Sewaktu melewati kamar belakang dilantai bawah,  telingaku menangkap suara orang yang sedang bercakap-cakap. Kuintip dari  celah pintu yang tidak tertutup rapat, ternyata Vito dan Andra. Niat  menegur mereka aku urungkan, karena kulihat mereka sedang berciuman,  awalnya kecupan-kecupan lembut yang kemudian berubah menjadi  lumatan-lumatan. Keingintahuan akan kelanjutan adegan itu menahan  langkahku menuju dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan ciuman itu bertambah \'panas\'  mereka saling memagut dan berguling-gulingan, lidah Vito menjalar bagai  bagai ular ketelinga dan leher sementara tangannya menyusup kedalam  t-shirt meremas-remas payudara yang menyebabkan Andra mendesah-desah,  suaranya desahannya terdengar sangat sensual. Disibakkannya t-shirt  Andra dan lidahnya menjalar dan meliuk-liuk di putingnya, menghisap dan  meremas-remas payudara Andra. Setelah itu tangannya mulai merayap  kebawah, mengelus-elus bagian sensitif yang tertutup g-string. Vito  berusaha membuka penutup terakhir itu, tapi sepertinya Andra keberatan.  Lamat-lamat kudengan pembicaraan mereka.&lt;br /&gt;"Jangan To" tolak Andra.&lt;br /&gt;"Kenapa sayang" tanya Vito.&lt;br /&gt;"Aku belum pernah.. gituan"&lt;br /&gt;"Makanya dicoba sayang" bujuk Vito.&lt;br /&gt;"Takut To" Andra beralasan.&lt;br /&gt;"Ngga apa-apa kok" lanjut Vito membujuk&lt;br /&gt;"Tapi To"&lt;br /&gt;"Gini deh", potong Vito, "Aku cium aja, kalau kamu ngga suka kita berhenti"&lt;br /&gt;"Janji ya To" sahut Andra ingin meyakinkan.&lt;br /&gt;"Janji" Vito meyakinkan Andra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vito  tidak membuang-buang waktu, ia membuka t-shirt dan celana pendeknya dan  kembali menikmati bukit kenikmatan Andra yang indah itu, perlahan  mulutnya merayap makin kebawah.. kebawah.. dan kebawah. Ia  mengecup-ngecup gundukan diantara paha sekaligus menarik turun g-string  Andra. Dengan hati-hati Vito membuka kedua paha Andra dan mulai mengecup  kewanitaannya disertai jilatan-jilatan. Tubuh Andra bergetar merasakan  lidah Vito.&lt;br /&gt;"Agghh.. To.. oohh.. enakk.. Too"&lt;br /&gt;Mendengar desahan  Andra, Vito semakin menjadi-jadi, ia bahkan menghisap-hisap kewanitaan  Andra dan meremas-remas payudaranya dengan liar. Hentakan-hentakan  birahi sepertinya telah menguasai Andra, tubuhnya menggelinjang keras  disertai desahan dan erangan yang tidak berkeputusan, tangannya  mengusap-usap dan menarik-narik rambut Vito, seakan tidak ingin  melepaskan kenikmatan yang ia rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andra semakin membuka  lebar kedua kakinya agar memudahkan mulut Vito melahap kewanitaannya.  Kepalanya mengeleng kekiri-kekanan, tangannya menggapai-gapai, semua  yang diraih dicengramnya kuat-kuat. Andra sudah tenggelam dan setiap  detik belalu semakin dalam ia menuju ke dasar lautan birahi. Vito tahu  persis apa yang harus dilakukan selanjutnya, ia membuka CDnya dan  merangkak naik keatas tubuh Andra. Mereka bergumul dalam ketelanjangan  yang berbalut birahi. Sesekali Vito di atas sesekali dibawah disertai  gerakan erotis pinggulnya, Andra tidak tinggal diam ia melakukan juga  yang sama. Kemaluan mereka saling beradu, menggesek, dan menekan-nekan.  Melihat itu semua membuat degup jantung berdetak kencang dan  bagian-bagian sensitif di tubuhku mengeras.. Aku mulai terjangkit virus  birahi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vito kemudian mengangkat tubuhnya yang ditopang  satu tangan, sementara tangan lain memegang kejantannya. Vito  mengarahkan kejantanannya keselah-selah paha Anggie. "Jangan To, katanya  cuma cium aja" sergah Andra.&lt;br /&gt;"Rileks An" bujuk Vito, sambil mengosok-gosok ujung penisnya di kewanitaan Andra.&lt;br /&gt;"Tapi.. To.. oohh.. aahh" protes Andra tenggelam dalam desahannya sendiri.&lt;br /&gt;"Nikmatin aja An"&lt;br /&gt;"Ehh.. akkhh.. mpphh" Andra semakin mendesah&lt;br /&gt;"Gitu An.. rileks.. nanti lebih enak lagi"&lt;br /&gt;"He eh To.. eesshh"&lt;br /&gt;"Enak An..?"&lt;br /&gt;"Ehh.. enaakk To"&lt;br /&gt;Aku  benar-benar ternganga dibuatnya. Seumur hidup belum pernah aku melihat  milik pria yang sebenarnya, apalagi adegan \'live\' seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada lagi protes apalagi penolakan hanya desahan kenikmatan Andra yang terdengar.&lt;br /&gt;"Aku masukin ya An" pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban.&lt;br /&gt;Vito langsung menekan pinggulnya, ujung kejantanannya tenggelam dalam kewanitaan Andra.&lt;br /&gt;"Aakhh.. To.. eengghh" erang Andra cukup keras, membuat bulu-bulu ditubuhku meremang mendengarnya.&lt;br /&gt;Vito  lebih merunduk lagi dengan sikut menahan badan, perlahan pinggulnya  bergerak turun naik serta mulutnya dengan rakus melumat payudara Andra.&lt;br /&gt;"Teruss.. Too.. enak banget.. ohh.. isep yang kerass sayangg" Andra meracau.&lt;br /&gt;"Aku suka sekali payudara kamu An.. mmhh"&lt;br /&gt;"Aku juga suka kamu isep To.. ahh" Andra menyorongkan dadanya membuat Vito bertambah mudah melumatnya.&lt;br /&gt;Bukan  hanya Andra yang terayun-ayun gelombang birahi, aku yang melihat semua  itu turut hanyut dibuatnya. Tanpa sadar aku mulai meremas-remas payudara  dan memainkan putingku sendiri, membuat mataku terpejam-pejam merasakan  nikmatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vito tahu Andra sudah pada situasi \'point of no  return\', ia merebahkan badannya menindih Andra dan memeluknya seraya  melumat mulut, leher dan telinga Andra dan.. kulihat Vito menekan  pinggulnya, dapat kubayangkan bagaimana kejantanannya melesak masuk ke  dalam rongga kenikmatan Andra.&lt;br /&gt;"Auuwww.. To.. sakiitt" jerit Andra.&lt;br /&gt;"Stop.. stop To"&lt;br /&gt;"Rileks An.. supaya enak nanti" bujuk Vito, sambil terus menekan lebih dalam lagi.&lt;br /&gt;"Sakit To.. pleasee.. jangan diterusin"&lt;br /&gt;Terlambat..  seluruh kejantanan Vito telah terbenam di dalam rongga kenikmatan  Andra. Beberapa saat Vito tidak bergerak, ia mengecup-ngecup leher,  pundak dan akhirnya payudara Andra kembali jadi bulan-bulanan lidah dan  mulutnya. Perlakuan Vito membuat birahi Andra terusik kembali, ia mulai  melenguh dan mendesah-desah, lama kelamaan semakin menjadi-jadi. Bagian  belakang tubuh Vito yang mulai dari punggung, pinggang sampai buah  pantatnya tak luput dari remasan-remasan tangan Andra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vito  memahami sekali keadaan Andra, pinggulnya mulai digerakan memutar  perlahan sekali tapi mulutnya bertambah ganas melahap gundukan daging  Andra yang dihiasi puting kecil kemerah-merahan.&lt;br /&gt;"Uhh.. ohh.. To" desah kenikmatan Andra, kakinya dibuka lebih melebar lagi.&lt;br /&gt;Vito tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dipercepat ritme gerakan pinggulnya.&lt;br /&gt;"Agghh..  ohh.. terus Too" Andra meracau merasakan kejantanan Vito yang  berputar-putar di kewanitaannya, kepalanya tengadah dengan mata  terpejam, pinggulnya turut bergoyang. Merasakan gerakannya mendapat  respon Vito tidak ragu lagi untuk menarik-memasukan batang kemaluannya.&lt;br /&gt;"Aaauugghh.. sshh.. Too.. ohh.. Too" Andra tak kuasa lagi menahan luapan kenikmatan yang keluar begitu saya dari mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinggul  Vito yang turun naik dan kaki Andra yang terbuka lebar membuat darahku  berdesir, menimbulkan denyut-denyut di bagian sensitifku, kumasukan  tangan kiri kebalik celana pendek dan CD. Tubuhku bergetar begitu  jari-jemariku meraba-raba kewanitaanku.&lt;br /&gt;"Ssshh.. sshh" desisku  tertahan manakala jari tengahku menyentuh bibir kemaluanku yang sudah  basah, sesaat \'life show\' Vito dan Andra terlupakan. Kesadaranku  kembali begitu mendengar pekikan Andra.&lt;br /&gt;"Adduuhh.. Too.. nikmat sekalii" Andra terbuai dalam birahinya yang menggebu-gebu.&lt;br /&gt;"Nikmati An.. nikmati sepuas-puasnya"&lt;br /&gt;"Ssshh.. ahh.. ohh.. ennaak Too"&lt;br /&gt;"Punya kamu enaakk sekalii An.. uugghh"&lt;br /&gt;"Ohh..  Too.. aku sayang kamu.. sshh" desah Andra seraya memeluk, pujian Vito  rupanya membuat Andra lebih agresif, pantatnya bergoyang mengikuti irama  hentakan-hentakan turun-naik pantat Vito.&lt;br /&gt;"Enaak An.. terus goyang.. uhh.. eenngghh" merasakan goyangan Andra Vito semakin mempercepat hujaman-hujaman kejantanannya.&lt;br /&gt;"Ahh.. aahh.. Too.. teruss.. sayaang" pekik Andra.&lt;br /&gt;Semakin liar keduanya bergumul, keringat kenikmatan membanjir menyelimuti tubuh mereka.&lt;br /&gt;"Too.. tekan sayangg.. uuhh.. aku mau ke.. kelu.. aarrghh" erang Andra.&lt;br /&gt;Vito  menekan pantatnya dalam-dalam dan tubuh keduanya pun mengejang. Gema  erangan kenikmatan mereka memenuhi seantero kamar dan kemudian  keduanya.. terkulai lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikamar aku gelisah mengingat-ingat  kejadian yang baru saja kulihat, bayang-bayang Vito menyetubuhi Andra  begitu menguasai pikiranku. Tak kuasa aku menahan tanganku untuk kembali  mengusap-usap seluruh bagian sensitif di tubuhku namun keberadaan Susi  sangat mengganggu, menjelang ayam berkokok barulah mataku terpejam.  Dalam mimpi adegan itu muncul kembali hanya saja bukan Andra yang sedang  disetubuhi Vito tetapi diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 10.00 pagi harinya kami  jalan-jalan menghirup udara puncak, sekalian membeli makanan dan cemilan  sementara Susi dan Kelvin menunggu villa. Belum lagi 15 menit  meninggalkan villa perutku tiba-tiba mulas, aku mencoba untuk bertahan,  tidak berhasil, bergegas aku kembali ke villa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai dari kamar  mandi aku mencari Susi dan Kelvin, rupanya mereka sedang di ruang TV  dalam keadaan.. bugil. Lagi-lagi aku mendapat suguhan \'live show\' yang  spektakuler. Tubuh Susi setengah melonjor di sofa dengan kaki menapak  kelantai, Kelvin berlutut dilantai dengan badan berada diantara kedua  kaki Susi, Mulutnya mengulum-ngulum kewanitaan Susi, tak lama kemudian  Kelvin meletakan kedua tungkai kaki Susi dibahunya dan kembali menyantap  \'segitiga venus\' yang semakin terpampang dimukanya. Tak ayal lagi  Susi berkelojotan diperlakukan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ssshh.. sshh.. aahh" desis Susi.&lt;br /&gt;"Oohh.. Kel.. nikmat sekalii.. sayang"&lt;br /&gt;"Gigit.. Kel.. pleasee.. gigitt"&lt;br /&gt;"Auuwww.. pelan sayang gigitnyaa"&lt;br /&gt;Melengkapi  kenikmatan yang sedang melanda dirinya satu tangan Susi mencengkram  kepala Kelvin, tangan lainnya meremas-remas payudara 36b-nya sendiri  serta memilin putingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian mereka berganti  posisi, Susi yang berlutut di lantai, mulutnya mengulum kejantanan  Kelvin, kepalanya turun naik, tangannya mengocok-ngocok batang  kenikmatan itu, sekali-kali dijilatnya bagai menikmati es krim. Setiap  gerakan kepala Susi sepertinya memberikan sensasi yang luar biasa bagi  Kelvin.&lt;br /&gt;"Aaahh.. aauugghh.. teruss sayangg" desah Kelvin.&lt;br /&gt;"Ohh.. sayangg.. enakk sekalii"&lt;br /&gt;Suara desahan dan erangan membuat Susi tambah bernafsu melumat kejantanan Kelvin.&lt;br /&gt;"Ohh.. Susii.. ngga tahann.. masukin sayangg" pinta Kelvin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susi  menyudahi lumatannya dan beranjak keatas, berlutut disofa dengan  pinggul Kelvin berada diantara pahanya, tangannya menggapai batang  kenikmatan Kelvin, diarahkan kemulut kewanitaannya dan dibenamkan.  "Aaagghh" keduanya melenguh panjang merasakan kenikmatan gesekan pada  bagian sensitif mereka masing-masing. Dengan kedua tangan berpangku pada  pahanya Susi mulai menggerakan pinggulnya mundur maju, karuan saja  Kelvin mengeliat-geliat merasakan batangnya diurut-urut oleh kewanitaan  Susi. Sebaliknya, milik Kelvin yang menegang keras dirasakan oleh Susi  mengoyak-ngoyak dinding dan lorong kenikmatannya. Suara desahan, desisan  dan lenguhan saling bersaut manakala kedua insan itu sedang dirasuk  kenikmatan duniawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tontonan itu membuat aku tidak dapat menahan  keinginanku untuk meraba-raba2 sekujur tubuhku, rasa gatal begitu  merasuk kedalam kemaluanku. Kutinggalkan \'live show\' bergegas menuju  kamar, kulampiaskan birahiku dengan mengesek-gesekan bantal di  kewanitaanku. Merasa tidak puas kusingkap rok miniku, kuselipkan  tanganku kedalam CD-ku membelai-belai bulu-bulu tipis di permukaan  kewanitaanku dan.. akhirnya menyentuh klitorisku.&lt;br /&gt;"Aaahh.. sshh..  eehh" desahku merasakan nikmatnya elusan-elusanku sendiri, jariku  merayap tak terkendali ke bibir kemaluanku, membuka belahannya dan  bermain-main ditempat yang mulai basah dengan cairan pelancar, manakala  kenikmatan semakin membalut diriku tiba-tiba pintu terbuka.. Susi! masih  dengan pakaian kusut menerobos masuk, untung aku masih memeluk bantal,  sehingga kegiatan tanganku tidak terlihat olehnya.&lt;br /&gt;"Ehh Ver.. kok ada disini, bukannya tadi ikut yang lain?" sapa Susi terkejut.&lt;br /&gt;"Iya Si.. balik lagi.. perut mules"&lt;br /&gt;"Aku suruh Kelvin beli obat ya"&lt;br /&gt;"Ngga usah Si.. udah baikan kok"&lt;br /&gt;"Yakin Ver?"&lt;br /&gt;"Iya  ngga apa-apa kok" jawabku meyakinkan Susi yang kemudian kembali ke  ruang tengah setelah mengambil yang dibutuhkannya. Sirna sudah birahiku  karena rasa kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam harinya selesai makan kami semua  berkumpul diruang tengah, Andri langsung memutar VCD X-2. Adegan demi  adegan di film mempengaruhi kami, terutama kawan-kawan pria, mereka  kelihatan gelisah. Film masih setengah main Susi dan Kelvin menghilang,  tak lama kemudian disusul oleh Andra dan Vito. Tinggal aku, Toni dan  Andri, kami duduk dilantai bersandar pada sofa, aku di tengah. Melihat  adegan film yang bertambah panas membuat birahiku terusik. Rasa gatal  menyeruak dikewanitaanku mengelitik sekujur tubuh dan setiap detik  berlalu semakin memuncak saja, aku jadi salah tingkah. Toni yang pertama  melihat kegelisahanku.&lt;br /&gt;"Kenapa Ver, gelisah banget horny ya" tegurnya bercanda.&lt;br /&gt;"Ngga lagi, ngaco kamu Ton" sanggahku.&lt;br /&gt;"Kalau horny bilang aja Ver.. hehehe.. kan ada kita-kita" Andri menimpali.&lt;br /&gt;"Rese\' nih berdua, nonton aja tuh" sanggahku lagi menahan malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toni  tidak begitu saja menerima sanggahanku, diantara kami ia paling tinggi  jam terbangnya sudah tentu ia tahu persis apa yang sedang aku rasakan.  Toni tidak menyia-nyiakannya, bahuku dipeluknya seperti biasa ia  lakukan, seakan tanpa tendensi apa-apa.&lt;br /&gt;"Santai Ver, kalau horny enjoy aja, gak usah malu.. itu artinya kamu normal" bisik Toni sambil meremas pundakku.&lt;br /&gt;Remasan  dan terpaan nafas Toni saat berbisik menyebabkan semua bulu-bulu di  tubuhku meremang, tanpa terasa tanganku meremas ujung rok. Toni menarik  tanganku meletakan dipahanya ditekan sambil diremasnya, tak ayal lagi  tanganku jadi meremas pahanya.&lt;br /&gt;"Remas aja paha aku Ver daripada rok" bisik Toni lagi.&lt;br /&gt;Kalau  sedang bercanda jangankan paha, pantatnya yang \'geboy\' saja kadang  aku remas tanpa rasa apapun, kali ini merasakan paha Toni dalam  remasanku membuat darahku berdesir keras.&lt;br /&gt;"Ngga usah malu Ver, santai aja" lanjutnya lagi.&lt;br /&gt;Entah  karena bujukannya atau aku sendiri yang menginginkan, tidak jelas, yang  pasti tanganku tidak beranjak dari pahanya dan setiap ada adegan yang  \'wow\' kuremas pahanya. Merasa mendapat angin, Toni melepaskan  rangkulannya dan memindahkan tangannya di atas pahaku, awalnya masih  dekat dengkul lama kelamaan makin naik, setiap gerakan tangannya  membuatku merinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bagaimana mulainya tanpa kusadari  tangan Toni sudah berada dipaha dalamku, tangannya mengelus-elus dengan  halus, ingin menepis, tapi, rasa geli-geli enak yang timbul begitu  kuatnya, membuatku membiarkan kenakalan tangan Toni yang semakin  menjadi-jadi.&lt;br /&gt;"Ver gue suka deh liat leher sama pundak kamu" bisik Toni seraya mengecup pundakku.&lt;br /&gt;Aku yang sudah terbuai elusannya karuan saja tambah menjadi-jadi dengan kecupannya itu.&lt;br /&gt;"Jangan Ton" namun aku berusaha menolak.&lt;br /&gt;"Kenapa  Ver, cuma pundak aja kan" tanpa perduli penolakanku Toni tetap saja  mengecup, bahkan semakin naik keleher, disini aku tidak lagi berusaha  \'jaim\'.&lt;br /&gt;"Ton.. ahh" desahku tak tertahan lagi.&lt;br /&gt;"Enjoy aja Ver" bisik Toni lagi, sambil mengecup dan menjilat daun telingaku.&lt;br /&gt;"Ohh  Ton" aku sudah tidak mampu lagi menahan, semua rasa yang terpendam  sejak melihat \'live show\' dan film, perlahan merayapi lagi tubuhku.&lt;br /&gt;Aku  hanya mampu tengadah merasakan kenikmatan mulut Toni di leher dan  telingaku. Andri yang sedari tadi asik nonton melihatku seperti itu  tidak tinggal diam, ia pun mulai turut melakukan hal yang sama. Pundak,  leher dan telinga sebelah kiriku jadi sasaran mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat  aku sudah pasrah mereka semakin agresif. Tangan Toni semakin naik hingga  akhirnya menyentuh kewanitaanku yang masih terbalut CD. Elusan-elusan  di kewanitaanku, remasan Andri di payudaraku dan kehangatan mulut mereka  dileherku membuat magma birahiku menggelegak sejadi-jadinya.&lt;br /&gt;"Agghh.. Tonn.. Drii.. ohh.. sshh" desahanku bertambah keras.&lt;br /&gt;Andri  menyingkap tang-top dan braku bukit kenyal 34b-ku menyembul, langsung  dilahapnya dengan rakus. Toni juga beraksi memasukan tangannya kedalam  CD meraba-raba kewanitaanku yang sudah basah oleh cairan pelicin. Aku  jadi tak terkendali dengan serangan mereka tubuhku bergelinjang keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emmhh.. aahh.. ohh.. aagghh" desahanku berganti menjadi erangan-erangan.&lt;br /&gt;Mereka  melucuti seluruh penutup tubuhku, tubuh polosku dibaringkan dilantai  beralas karpet dan mereka pun kembali menjarahnya. Andri melumat bibirku  dengan bernafsu lidahnya menerobos kedalam rongga mulutku, lidah kami  saling beraut, mengait dan menghisap dengan liarnya. Sementara Toni  menjilat-jilat pahaku lama kelamaan semakin naik.. naik.. dan akhirnya  sampai di kewanitaanku, lidahnya bergerak-gerak liar di klitorisku,  bersamaan dengan itu Andri pun sudah melumat payudaraku, putingku yang  kemerah-merahan jadi bulan-bulanan bibir dan lidahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperlakukan  seperti itu membuatku kehilangan kesadaran, tubuhku bagai terbang  diawang- awang, terlena dibawah kenikmatan hisapan-hisapan mereka.  Bahkan aku mulai berani punggung Andri kuremas-remas, kujambak rambutnya  dan merengek-rengek meminta mereka untuk tidak berhenti melakukannya.&lt;br /&gt;"Aaahh.. Tonn.. Drii.. teruss.. sshh.. enakk sekalii"&lt;br /&gt;"Nikmatin Ver.. nanti bakal lebih lagi" bisik Andri seraya menjilat dalam-dalam telingaku.&lt;br /&gt;Mendengar  kata \'lebih lagi\' aku seperti tersihir, menjadi hiperaktif pinggul  kuangkat-angkat, ingin Toni melakukan lebih dari sekedar menjilat, ia  memahami, disantapnya kewanitaanku dengan menyedot-nyedot gundukan  daging yang semakin basah oleh ludahnya dan cairanku. Tidak berapa lama  kemudian aku merasakan kenikmatan itu semakin memuncak, tubuhku  menegang, kupeluk Andri-yang sedang menikmati puting susu-dengan  kuatnya.&lt;br /&gt;"Aaagghh.. Tonn.. Drii.. akuu.. oohh" jeritku keras, dan  merasakan hentak-hentakan kenikmatan didalam kewanitaanku. Tubuhku  melemas.. lungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toni dan Andri menyudahi \'hidangan\'  pembukanya, dibiarkan tubuhku beristirahat dalam kepolosan, sambil  memejamkan mata kuingat-ingat apa yang baru saja kualami. Permainan  Andri di payudara dan Toni di kewanitaanku yang menyebarkan kenikmatan  yang belum pernah kualami sebelumnya, dan hal itu telah kembali  menimbulkan getar-getar birahi diseluruh tubuhku. Aku semakin tenggelam  saja dalam bayang-bayang yang menghanyutkan, dan tiba-tiba kurasakan  hembusan nafas ditelingaku dan rasa tidak asing lagi.. hangat basah..  Ahh.. bibir dan lidah Andri mulai lagi, tapi kali ini tubuhku seperti di  gelitiki ribuan semut, ternyata Andri sudah polos dan bulu-bulu lebat  di tangan dan dadanya menggelitiki tubuhku. Begitupun Toni sudah bugil,  ia membuka kedua pahaku lebar-lebar dengan kepala sudah berada  diantaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku terpejam, aku sadar betul apa yang akan  terjadi, kali ini mereka akan menjadikan tubuhku sebagai \'hidangan\'  utama. Ada rasa kuatir dan takut tapi juga menantikan kelanjutannya  dengan berdebar. Begitu kurasakan mulut Toni yang berpengalaman mulai  beraksi.. hilang sudah rasa kekuatiran dan ketakutanku. Gairahku bangkit  merasakan lidah Toni menjalar dibibir kemaluanku, ditambah lagi Andri  yang dengan lahapnya menghisap-hisap putingku membuat tubuhku  mengeliat-geliat merasakan geli dan nikmat dikedua titik sensitif  tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaahh.. Tonn.. Drii.. nngghh.. aaghh" rintihku tak tertahankan lagi.&lt;br /&gt;Toni  kemudian mengganjal pinggulku dengan bantal sofa sehingga pantatku  menjadi terangkat, lalu kembali lidahnya bermain dikemaluanku. Kali ini  ujung lidahnya sampai masuk kedalam liang kenikmatanku, bergerak-gerak  liar diantara kemaluan dan anus, seluruh tubuhku bagai tersengat aliran  listrik aku hilang kendali. Aku merintih, mendesah bahkan menjerit-jerit  merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Lalu kurasakan sesuatu yang  hangat keras berada dibibirku.. kejantanan Andri! Aku  mengeleng-gelengkan kepala menolak keinginannya, tapi Andri tidak  menggubrisnya ia malah manahan kepalaku dengan tangannya agar tidak  bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jilat.. Ver" perintahnya tegas.&lt;br /&gt;Aku tidak lagi bisa menolak, kujilat batangnya yang besar dan sudah keras membatu itu, Andri mendesah-desah merasakan jilatanku.&lt;br /&gt;"Aaahh.. Verr.. jilat terus.. nngghh" desah Andri.&lt;br /&gt;"Jilat kepalanya Ver" aku menuruti permintaannya yang tak mungkin kutolak.&lt;br /&gt;Lama  kelamaan aku mulai terbiasa dan dapat merasakan juga enaknya  menjilat-jilat batang penis itu, lidahku berputar dikepala kemaluannya  membuat Andri mendesis desis.&lt;br /&gt;"Ssshh.. nikmat sekali Verr.. isep sayangg.. isep" pintanya diselah-selah desisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  tak tahu harus berbuat bagaimana, kuikuti saja apa yg pernah kulihat di  film, kepala kejantanannya pertama-tama kumasukan kedalam mulut, Andri  meringis.&lt;br /&gt;"Jangan pake gigi Ver.. isep aja" protesnya, kucoba lagi, kali ini Andri mendesis nikmat.&lt;br /&gt;"Ya.. gitu sayang.. sshh.. enak.. Ver"&lt;br /&gt;Melihat  Andri saat itu membuatku turut larut dalam kenikmatannya, apalagi  ketika sebagian kejantanannya melesak masuk menyentuh langit-langit  mulutku, belum lagi kenakalan lidah Toni yang tiada henti-hentinya  menggerayangi setiap sudut kemaluanku. Aku semakin terombang-ambing  dalam gelombang samudra birahi yang melanda tubuhku, aku bahkan tidak  malu lagi mengocok-ngocok kejantanan Andri yang separuhnya berada dalam  mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian Andri mempercepat gerakan  pinggulnya dan menekan lebih dalam batang kemaluannya, tanganku tak  mampu menahan laju masuknya kedalam mulutku. Aku menjadi gelagapan, ku  geleng-gelengkan kepalaku hendak melepaskan benda panjang itu tapi malah  berakibat sebaliknya, gelengan kepalaku membuat kemaluannya seperti  dikocok-kocok. Andri bertambah beringas mengeluar-masukan batangnya  dan..&lt;br /&gt;"Aaagghh.. nikmatt.. Verr.. aku.. kkeelluaarr" jerit Andri, air  maninya menyembur-nyembur keras didalam mulutku membuatku tersedak,  sebagian meluncur ke tenggorokanku sebagian lagi tercecer keluar dari  mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sampai terbatuk-batuk dan meludah-ludah membuang  sisa yang masih ada dimulutku. Toni tidak kuhiraukan aku langsung duduk  bersandar menutup dadaku dengan bantal sofa.&lt;br /&gt;"Gila Andri.. kira-kira dong" celetukku sambil bersungut-sungut.&lt;br /&gt;"Sorry Ver.. ngga tahan.. abis isepan kamu enak banget" jawab Andri dengan tersenyum.&lt;br /&gt;"Udah  Ver jangan marah, kamu masih baru nanti lama lama juga bakal suka" sela  Toni seraya mengambilkan aku minum dan membersihkan sisa air mani dari  mulutku.&lt;br /&gt;Toni benar, aku sebenarnya tadi menikmati sekali, apalagi  melihat mimik Andri saat akan keluar hanya saja semburannya yang  membuatku kaget. Toni membujuk dan memelukku dengan lembut sehingga  kekesalanku segera surut. Dikecupnya keningku, hidungku dan bibirku.  Kelembutan perlakuannya membuatku lupa dengan kejadian tadi. Kecupan  dibibir berubah menjadi lumatan-lumatan yang semakin memanas kami pun  saling memagut, lidah Toni menerobos mulutku meliuk-liuk bagai ular, aku  terpancing untuk membalasnya. Ohh.. sungguh luar biasa permainan  lidahnya, leher dan telingaku kembali menjadi sasarannya membuatku sulit  menahan desahan-desahan kenikmatan yang begitu saja meluncur keluar  dari mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toni merebahkan tubuhku kembali dilantai beralas  karpet, kali ini dadaku dilahapnya puting yang satu dihisap-hisap  satunya lagi dipilin-pilin oleh jari-jarinya. Dari dada kiriku tangannya  melesat turun ke kewanitaanku, dielus-elusnya kelentit dan bibir  kemaluanku. Tubuhku langsung mengeliat-geliat merasakan kenakalan  jari-jari Toni.&lt;br /&gt;"Ooohh.. mmppff.. ngghh.. sshh" desisku tak tertahan.&lt;br /&gt;"Teruss.. Tonn.. aakkhh"&lt;br /&gt;Aku  menjadi lebih menggila waktu Toni mulai memainkan lagi lidahnya di  kemaluanku, seakan kurang lengkap kenikmatan yang kurasakan, kedua  tanganku meremas-remas payudaraku sendiri.&lt;br /&gt;"Ssshh.. nikmat Tonn.. mmpphh" desahanku semakin menjadi-jadi.&lt;br /&gt;Tak  lama kemudian Toni merayap naik keatas tubuhku, aku berdebar menanti  apa yang akan terjadi. Toni membuka lebih lebar kedua kakiku, dan  kemudian kurasakan ujung kejantanannya menyentuh mulut kewanitaanku yang  sudah basah oleh cairan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aauugghh.. Tonn.. pelann" jeritku lirih, saat kepala kejantanannya melesak masuk kedalam rongga kemaluanku.&lt;br /&gt;Toni  menghentikan dorongannya, sesaat ia mendiamkan kepala kemaluannya dalam  kehangatan liang kewanitaanku. Kemudian-masih sebatas ujungnya-secara  perlahan ia mulai memundur-majukannya. Sesuatu yang aneh segera saja  menjalar dari gesekan itu keseluruh tubuhku. Rasa geli, enak dan entah  apalagi berbaur ditubuhku membuat pinggulku mengeliat-geliat mengikuti  tusukan-tusukan Toni.&lt;br /&gt;"Ooohh.. Tonn.. sshh.. aahh.. enakk Tonn" desahku lirih.&lt;br /&gt;Aku  benar-benar tenggelam dalam kenikmatan yang luar biasa akibat  gesekan-gesekan di mulut kewanitaanku. Mataku terpejam-pejam kadang  kugigit bibir bawahku seraya mendesis.&lt;br /&gt;"Enak.. Ver" tanya Toni berbisik.&lt;br /&gt;"He ehh Tonn.. oohh enakk.. Tonn.. sshh"&lt;br /&gt;"Nikmatin Ver.. nanti lebih enak lagi" bisiknya lagi.&lt;br /&gt;"Ooohh.. Tonn.. ngghh"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toni  terus mengayunkan pinggulnya turun-naik-tetap sebatas ujung  kejantanannya-dengan ritme yang semakin cepat. Selagi aku terayun-ayun  dalam buaian birahi, tiba-tiba Toni menekan kejantanannya lebih dalam  membelah kewanitaanku.&lt;br /&gt;"Auuhh.. sakitt Tonn" jeritku saat  kejantanannya merobek selaput daraku, rasanya seperti tersayat silet,  Toni menghentikan tekanannya.&lt;br /&gt;"Pertama sedikit sakit Ver.. nanti juga hilang kok sakitnya" bisik Toni seraya menjilat dan menghisap telingaku.&lt;br /&gt;Entah  bujukannya atau karena geliat liar lidahnya, yang pasti aku mulai  merasakan nikmatnya milik Toni yang keras dan hangat didalam rongga  kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toni kemudian menekan lebih dalam lagi, membenamkan  seluruh batang kemaluannya dan mengeluar-masukannya. Gesekan  kejantanannya dirongga kewanitaanku menimbulkan sensasi yang luar biasa!  Setiap tusukan dan tarikannya membuatku menggelepar-gelepar.&lt;br /&gt;"Ssshh.. ohh.. ahh.. enakk Tonn.. empphh" desahku tak tertahan.&lt;br /&gt;"Ohh.. Verr.. enak banget punya kamu.. oohh" puji Toni diantara lenguhannya.&lt;br /&gt;"Agghh.. terus Tonn.. teruss" aku meracau tak karuan merasakan nikmatnya hujaman-hujaman kejantanan Toni di kemaluanku.&lt;br /&gt;Peluh-peluh  birahi mulai menetes membasahi tubuh. Jeritan, desahan dan lenguhan  mewarnai pergumulan kami. Menit demi menit kejantanan Toni menebar  kenikmatan ditubuhku. Magma birahi semakin menggelegak sampai akhirnya  tubuhku tak lagi mampu menahan letupannya.&lt;br /&gt;"Tonii.. oohh.. tekan Tonn.. agghh.. nikmat sekali Tonn" jeritan dan erangan panjang terlepas dari mulutku.&lt;br /&gt;Tubuhku  mengejang, kupeluk Toni erat-erat, magma birahiku meledak, mengeluarkan  cairan kenikmatan yang membanjiri relung-relung kewanitaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku  terkulai lemas, tapi itu tidak berlangsung lama. Beberapa menit  kemudian Toni mulai lagi memacu gairahku, hisapan dan remasan didadaku  serta pinggulnya yang berputar kembali membangkitkan birahiku. Lagi-lagi  tubuhku dibuat mengelepar-gelepar terayun dalam kenikmatan duniawi.  Tubuhku dibolak-balik bagai daging panggang, setiap posisi memberikan  sensasi yang berbeda. Entah berapa kali kewanitaanku berdenyut-denyut  mencapai klimaks tapi Toni sepertinya belum ingin berhenti menjarah  tubuhku. Selagi posisiku di atas Toni, Andri yang sedari tadi hanya  menonton serta merta menghampiri kami, dengan berlutut ia memelukku dari  belakang. Leherku dipagutnya seraya kedua tangannya memainkan buah  dadaku. Apalagi ketika tangannya mulai bermain-main diklitorisku  membuatku menjadi tambah meradang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutengadahkan kepalaku  bersandar pada pundak Andri, mulutku yang tak henti-hentinya  mengeluarkan desahan dan lenguhan langsung dilumatnya. Pagutan Andri  kubalas, kami saling melumat, menghisap dan bertukar lidah. Pinggulku  semakin bergoyang berputar, mundur dan maju dengan liarnya. Aku begitu  menginginkan kejantanan Toni mengaduk-aduk seluruh isi rongga  kewanitaanku yang meminta lebih dan lebih lagi.&lt;br /&gt;"Aaargghh.. Verr.. enak banget.. terus Ver.. goyang terus" erang Toni.&lt;br /&gt;Erangan  Toni membuat gejolak birahiku semakin menjadi-jadi, kuremas buah dadaku  sendiri yang ditinggalkan tangan Andri.. Ohh aku sungguh menikmati  semua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andri yang merasa kurang puas meminta merubah posisi.  Toni duduk disofa dengan kaki menjulur dilantai, Akupun merangkak kearah  batang kemaluannya.&lt;br /&gt;"Isep Ver" pinta Toni, segera kulumat kejantanannya dengan rakus.&lt;br /&gt;"Ooohh.. enak Ver.. isep terus"&lt;br /&gt;Bersamaan  dengan itu kurasakan Andri menggesek-gesek bibir kemaluanku dengan  kepala kejantanannya. Tubuhku bergetar hebat, saat batang kemaluan  Andri-yang satu setengah kali lebih besar dari milik Toni-dengan  perlahan menyeruak menembus bibir kemaluanku dan terbenam didalamnya.  Tusukan-tusukan kejantanan Andri serasa membakar tubuh, birahiku kembali  menggeliat keras. Aku menjadi sangat binal merasakan sensasi erotis dua  batang kejantanan didalam tubuhku. Batang kemaluan Toni kulumat dengan  sangat bernafsu. Kesadaranku hilang sudah naluriku yang menuntun  melakukan semua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Verr.. terus Verr.. gue ngga tahan lagi.. Aaarrgghh" erang Toni.&lt;br /&gt;Aku  tahu Toni akan segera menumpahkan cairan kenikmatannya dimulutku, aku  lebih siap kali ini. Selang berapa saat kurasakan semburan-semburan  hangat sperma Toni.&lt;br /&gt;"Aaagghh.. nikmat banget Verr.. isep teruss..  telan Verr" jerit Toni, lagi-lagi naluriku menuntun agar aku mengikuti  permintaan Toni, kuhisap kejantananya yang menyemburkan cairan hangat  dan.. kutelan cairan itu. Aneh! Entah karena rasanya, atau sensasi  sexual karena melihat Toni yang mencapai klimaks, yang pasti aku sangat  menyukai cairan itu. Kulumat terus itu hingga tetes terakhir dan benda  keras itu mengecil.. lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toni beranjak meninggalkan aku dan  Andri, sepeninggal Toni aku merasa ada yang kurang. Ahh.. ternyata  dikerjai dua pria jauh lebih mengasikkan buatku. Namun hujaman-hujaman  kemaluan Andri yang begitu bernafsu dalam posisi \'doggy\' dapat  membuatku kembali merintih-rintih. Apalagi ditambah dengan elusan-elusan  Ibu jarinya dianusku. Bukan hanya itu, setelah diludahi Andri bahkan  memasukan Ibu jarinya ke lubang anusku. Sodokan-sodokan dikewanitaanku  dan Ibu jarinya dilubang anus membuatku mengerang-erang.&lt;br /&gt;"Ssshh.. engghh.. yang keras Drii.. mmpphh"&lt;br /&gt;"Enak banget Drii.. aahh.. oohh"&lt;br /&gt;Mendengar  eranganku Andri tambah bersemangat menggedor kedua lubangku, Ibu  jarinya kurasakan tambah dalam menembus anusku, membuatku tambah lupa  daratan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang asiknya menikmati, Andri mencabut kejantanan dan Ibu jarinya.&lt;br /&gt;"Andrii.. kenapa dicabutt" protesku.&lt;br /&gt;"Masukin lagi Dri.. pleasee" pintaku menghiba.&lt;br /&gt;Sebagai  jawaban aku hanya merasakan ludah Andri berceceran di lubang anusku,  tapi kali ini lebih banyak. Aku masih belum mengerti apa yang akan  dilakukannya. Saat Andi mulai menggosok kepala penisnya dilubang anus  baru aku sadar apa yang akan dilakukannya.&lt;br /&gt;"Andrii.. pleasee.. jangan disitu" aku menghiba meminta Andri jangan melakukannya.&lt;br /&gt;Andri  tidak menggubris, tetap saja digosok-gosokannya, ada rasa geli-geli  enak kala ia melakukan hal itu. Dibantu dengan sodokan jarinya  dikemaluanku hilang sudah protesku. Tiba-tiba kurasakan kepala  kemaluannya sudah menembus anusku. Perlahan namun pasti, sedikit demi  sedikit batang kenikmatannya membelah anusku dan tenggelam habis  didalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduhh sakitt Drii.. akhh..!" keluhku pasrah karena rasanya mustahil menghentikan Andri.&lt;br /&gt;"Rileks  Ver.. seperti tadi, nanti juga hilang sakitnya" bujuknya seraya mencium  punggung dan satu tangannya lagi mengelus-elus klitorisku.&lt;br /&gt;Separuh  tubuhku yang tengkurap disofa sedikit membantuku, dengan begitu  memudahkan aku untuk mencengram dan mengigit bantal sofa untuk  mengurangi rasa sakit. Berangsur-angsur rasa sakit itu hilang, aku  bahkan mulai menyukai batang keras Andri yang menyodok-nyodok anusku.  Perlahan-lahan perasaan nikmat mulai menjalar disekujur tubuhku.&lt;br /&gt;"Aaahh.. aauuhh.. oohh Drii" erang-erangan birahiku mewarnai setiap sodokan penis Andri yang besar itu.&lt;br /&gt;Andri  dengan buasnya menghentak-hentakan pinggulnya. Semakin keras Andri  menghujamkan kejantananya semakin aku terbuai dalam kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toni  yang sudah pulih dari \'istirahat\'nya tidak ingin hanya menonton, ia  kembali bergabung. Membayangkan akan dijarah lagi oleh mereka menaikan  tensi gairahku. Atas inisiatif Toni kami pindah kekamar tidur, jantungku  berdebar-debar menanti permainan mereka. Toni merebahkan diri  terlentang ditempat tidur dengan kepala beralas bantal, tubuhku ditarik  menindihinya. Sambil melumat mulutku-yang segera kubalas dengan  bernafsu-ia membuka lebar kedua pahaku dan langsung menancapkan  kemaluannya kedalam vaginaku. Andri yang berada dibelakang membuka  belahan pantatku dan meludahi lubang anusku. Menyadari apa yang akan  mereka lakukan menimbulkan getaran birahi yang tak terkendali ditubuhku.  Sensasi sexual yang luar bisa hebat kurasakan saat kejantanan mereka  yang keras mengaduk-aduk rongga kewanitaan dan anusku. Hentakan-hentakan  milik mereka dikedua lubangku memberi kenikmatan yang tak terperikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andri  yang sudah lelah berlutut meminta merubah posisi, ia mengambil posisi  tiduran, tubuhku terlentang diatasnya, kejantanannya tetap berada  didalam anusku. Toni langsung membuka lebar-lebar kakiku dan  menghujamkan kejantanannya dikemaluanku yang terpampang menganga. Posisi  ini membuatku semakin menggila, karena bukan hanya kedua lubangku yang  digarap mereka tapi juga payudaraku. Andri dengan mudahnya memagut  leherku dan satu tangannya meremas buah dadaku, Toni melengkapinya  dengan menghisap puting buah dadaku satunya. Aku sudah tidak mampu lagi  menahan deraan kenikmatan demi kenikmatan yang menghantam sekujur  tubuhku. Hantaman-hantaman Toni yang semakin buas dibarengi sodokan  Andri, sungguh tak terperikan rasanya. Hingga akhirnya kurasakan sesuatu  didalam kewanitaanku akan meledak, keliaranku menjadi-jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaagghh.. ouuhh.. Tonn.. Drii.. tekaann" jerit dan erangku tak karuan.&lt;br /&gt;Dan  tak berapa lama kemudian tubuhku serasa melayang, kucengram pinggul  Toni kuat-kuat, kutarik agar batangnya menghujam keras dikemaluanku,  seketika semuanya menjadi gelap pekat. Jeritanku, lenguhan dan erangan  mereka menjadi satu.&lt;br /&gt;"Aduuhh.. Tonn.. Drii.. nikmat sekalii"&lt;br /&gt;"Aaarrghh.. Verr.. enakk bangeett"&lt;br /&gt;Keduanya  menekan dalam-dalam milik mereka, cairan hangat menyembur hampir  bersamaan dikedua lubangku. Tubuhku bergetar keras didera kenikmatan  yang amat sangat dahsyat, tubuhku mengejang berbarengan dengan  hentakan-hentakan dikewanitaanku dan akhirnya kami.. terkulai lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang  malam tak henti-hentinya kami mengayuh kenikmatan demi kenikmatan  sampai akhirnya tubuh kami tidak lagi mampu mendayung. Kami terhempas  kedalam mimpi dengan senyum kepuasan. Dihari-hari berikutnya bukan hanya  Andri dan Toni yang memberikan kepuasan, tapi juga pria-pria lain yang  aku sukai. Tapi aku tidak pernah bisa meraih kenikmatan bila hanya  dengan satu pria.. aku baru akan mencapai kepuasan bila \'dijarah\' oleh  dua atau tiga pria sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1411556838748479078-7567475381489823217?l=janda-kesepian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/feeds/7567475381489823217/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cerita-porno-kenikmatan-bersama-dua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/7567475381489823217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/7567475381489823217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cerita-porno-kenikmatan-bersama-dua.html' title='Cerita Porno - Kenikmatan Bersama Dua Pria'/><author><name>Tante Kesepian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14713038125543777221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/-FZxK7b8lVNc/ThmHlk6Uv2I/AAAAAAAAAAY/ioSmfPbY4Yw/s220/248197_1629217110192_1829537763_1083242_4655990_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1411556838748479078.post-3419506269130286067</id><published>2011-07-10T23:03:00.000-07:00</published><updated>2011-07-10T23:03:01.432-07:00</updated><title type='text'>Kenikmatan saat Bolos Kuliah</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-fareast-language:EN-US;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;h2&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.ceritadewasaseks.org/"&gt;Cerita dewasa&lt;/a&gt; ini dimulai dari sebuah malasnya aku kuliah. Karena bolos kuliah itulah aku dapat menikmati memek mahasiswi bandung yang terkenal enak dan sempit. Kenalkan, namaku Tama. Aku adalah seorang mahasiwa tingkat 3 di sebuah perguruan negeri tinggi di Kota Bandung. Postur tubuhku biasa saja, tinggi 173 cm dengan berat 62 kg, namun karena aku ramah, lumayan pintar, serta lumayan kaya maka aku cukup terkenal di kalangan adik maupun kakak kelas jurusanku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pagi itu aku tergesa – gesa memarkir Honda Accordku di parkiran kampus. Setengah berlari aku menuju ke gedung kuliah yang berada sekitar 400 m dari parkiran tersebut, sambil mataku melirik ke jam tangan Albaku yang telah menunjukkan pukul 8.06. Shit..! Kalau saja tadi malam aku tidak nekat menonton pertandingan bola tim favoritku (Chelsea) sampai pukul 2 larut malam pasti aku tidak akan terlambat seperti ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kalau saja pagi ini bukan Pak Noel yang mengajar, tentu saja aku masih berjalan santai menuju ruang kuliah. Ya, Pak Noel yang berusia sekitar 40 tahunan memang sangat keras dalam urusan disiplin, terlambat sepuluh menit saja pastilah pintu ruangan kuliah akan dikuncinya. Kesempatan “titip absen” pun nyaris tidak ada karena ia hampir selalu mengecek daftar peserta hadir. Parahnya lagi, kehadiran minimal 90% adalah salah satu prasyarat untuk dapat lulus dari mata kuliah ajarannya.”&lt;br /&gt;Tersentak dari lamunanku, ternyata tanpa sadar aku sudah berada di gedung kuliah, namun tidak berarti kesulitanku terhenti sampai disini. Ruanganku berada di lantai 6, sedangkan pintu lift yang sedari tadi kutunggu tak kunjung terbuka.&lt;br /&gt;Mendadak, dari belakang terdengar suara merdu menyapaku. “Hai Tama..!” Akupun menoleh, ternyata yang menyapaku adalah adik angkatanku yang bernama Dwi. “Hai juga” jawabku sambil lalu karena masih dalam keadaan panik. “Kerah baju kamu terlipat tuh” kata Dwi. Sadar, aku lalu membenarkan posisi kerah kemeja putihku serta tak lupa mengecek kerapihan celana jeansku. “Udah, udah rapi kok. Hmm, pasti kamu buru – buru ya?” kata Dwi lagi. “Iya nih, biasa Pak Noel” jawabku. “Mmh” Dwi hanya menggumam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah pintu lift terbuka akupun masuk ke dalam lift. Ternyata Dwi juga melakukan hal yang sama. Didalam lift suasananya sunyi hanya ada kami berdua, mataku iseng memandangi tubuh Dwi. Ternyata hari itu ia tampil sangat cantik. Tubuh putih mulusnya setinggi 167 cm itu dibalut baju kaos Gucci pink yang ketat, memperlihatkan branya yang berwarna hitam menerawang dari balik bajunya. Sepertinya ukuran payudaranya cukup besar, mungkin 34D. Ia juga mengenakan celana blue jeans Prada yang cukup ketat. Rambutnya yang lurus sebahu terurai dengan indahnya. Wangi parfum yang kutebak merupakan merk Kenzo Intense memenuhi udara dalam lift, sekaligus seperti beradu dengan parfum Boss In Motion milikku. Hmm pikirku, pantas saja Dwi sangat diincar oleh seluruh cowo di jurusanku, karena selain ia masih single tubuhnya juga sangat proporsional. Lebih daripada itu prestasi akademiknya juga cukup cemerlang. Namun jujur diriku hanya menganggap Dwi sebagai teman belaka. Mungkin hal itu dikarenakan aku baru saja putus dengan pacarku dengan cara yang kurang baik, sehingga aku masih trauma untuk mencari pacar baru.&lt;br /&gt;Tiba – tiba pintu lift membuka di lantai 4. Dwi turun sambil menyunggingkan senyumnya kepadaku. Akupun membalas senyumannya. Lewat pintu lift yang sedang menutup aku sempat melihat Dwi masuk ke sebuah ruang studio di lantai 4 tersebut. Ruang tersebut memang tersedia bagi siapa saja mahasiwa yang ingin menggunakannya, AC didalamnya dingin dan pada jam pagi seperti ini biasanya keadaannya kosong. Aku juga sering tidur didalam ruangan itu sehabis makan siang, abisnya sofa disana empuk dan enak sih. Hehehe…&lt;br /&gt;Setelah itu lift pun tertutup dan membawaku ke lantai 6, tempat ruang kuliahku berada. Segera setelah sampai di pintu depan ruang kuliahku seharusnya berada, aku tercengang karena disana tertempel pengumuman singkat yang berbunyi “kuliah Pak Noel ditunda sampai jam 12. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. Ttd: Tata Usaha Departemen”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="more-59"&gt;&lt;/span&gt;Sialan, kataku dalam hati. Jujur saja kalau pulang lagi ke kostan aku malas, karena takut tergoda akan melanjutkan tidur kembali. Bingung ingin melakukan apa selagi menunggu, aku tiba – tiba saja teringat akan Dwi. Bermaksud ingin membunuh waktu dengan ngobrol bersamanya, akupun bergegas turun kelantai 4 sambil berharap kalau Dwi masih ada disana.&lt;br /&gt;Sesampainya di lantai 4 ruang studio, aku tidak tahu apa Dwi masih ada didalam atau tidak, karena ruangan itu jendelanya gelap dan ditutupi tirai. Akupun membuka pintu, lalu masuk kedalamnya. Ternyata disana ada Dwi yang sedang duduk disalah satu sofa didepan meja ketik menoleh ke arahku, tersenyum dan bertanya “Hai Tama, ngga jadi kuliah?” “Kuliahnya diundur” jawabku singkat. Iapun kembali asyik mengerjakan sesuatu dengan laptopnya. Aku memandang berkeliling, ternyata ruangan studio selebar 4X5 meter itu kosong, hanya ada suaraku, suara Dwi, dan suara AC yang bekerja. Secara tidak sadar aku mengunci pintu, mungkin karena ingin berduaan aja dengan Dwi. Maklum, namanya juga cowo, huehehe…&lt;br /&gt;Penasaran, aku segera mendekati Dwi. “Hi Dwi, lagi ngapain sendirian disini?” “Oh, ini lagi ngerjain tugas. Abis dihimpunan rame banget sih ,jadi aku ga bisa konsentrasi.” “Eh, kebetulan ada Tama, udah pernah ngambil kuliah ini kan?” Tanya Dwi sambil memperlihatkan tugas di layar laptopnya. Aku mengangguk singkat. “Bisa ajarin Dwi ngga caranya, Dwi dari tadi gak ketemu cara ngerjainnya nih?” pinta Dwi. Akupun segera mengambil tempat duduk disebelahnya, sambil mengajarinya cara pengerjaan tugas tersebut. Daripada aku bengong, pikirku. Mulanya saat kuajari ia belum terlalu mengerti, namun setelah beberapa lama ia segera paham dan tak lama berselang tugasnya pun telah selesai.&lt;br /&gt;“Wah, selesai juga. Ternyata gak begitu susah ya. Makasih banget ya Tama, udah ngerepotin kamu.” Kata Dwi ramah. Iapun menutup laptop Toshibanya dan mengemasnya. “Apa sih yang ngga buat cewe tercantik di jurusan ini” kataku sekedar iseng menggoda. Dwi pun malu bercampur gemas mendengar perkataanku, dan secara tiba – tiba ia berdiri sambil berusaha menggelitiki pinggangku. Aku yang refleksnya memang sudah terlatih dari olahraga karate yang kutekuni selama ini pun dapat menghindar, dan secara tidak sengaja tubuhnya malah kehilangan keseimbangan serta pahanya mendarat menduduki pahaku yang masih duduk. Secara tidak sengaja tangan kanannya yang tadinya ingin menggelitikiku menyentuh kemaluanku. Spontan, adik kecilku pun bangun. “Iih, Tama kok itunya tegang sih?” kata Dwi sambil membenarkan posisi tangannya. “Sori ya” kataku lirih. Kami pun jadi salah tingkah, selama beberapa saat kami hanya saling bertatapan mata sambil ia tetap duduk di pangkuanku.&lt;br /&gt;Melihat mukanya yang cantik, bibirnya yang dipoles lip gloss berwarna pink, serta matanya yang bulat indah membuatku benar – benar menyadari kecantikannya. Ia pun hanya terus menatap dan tersenyum kearahku. Entah siapa yang memulai, tiba – tiba kami sudah saling berciuman mulut. Ternyata ia seorang pencium yang hebat, aku yang sudah berpengalamanpun dibuatnya kewalahan. Harum tubuhnya makin membuatku horny dan membuatku ingin menyetubuhinya.&lt;br /&gt;Seolah mengetahui keinginanku, Dwi pun merubah posisi duduknya sehingga ia duduk di atas pahaku dengan posisi berhadapan, daerah vaginanya yang masih ditutupi oleh celana jenas menekan penisku yang juga masih berada didalam celanaku dengan nikmatnya. Bagian dadanya pun seakan menantang untuk dicium, hanya berjarak 10 cm dari wajahku. Kami berciuman kembali sambil tanganku melingkar kepunggungnya dan memeluknya erat sekali sehingga tonjolan dibalik kaos ketatnya menekan dadaku yang bidang. “mmhh.. mmmhh..” hanya suara itu yang dapat keluar dari bibir kami yang saling beradu.&lt;br /&gt;Puas berciuman, akupun mengangkat tubuh Dwi sampai ia berdiri dan menekankan tubuhnya ke dinding yang ada dibelakangnya. Akupun menciumi bibir dan lehernya, sambil meremas – remas gundukan payudaranya yang terasa padat, hangat, serta memenuhi tanganku. “Aaah, Tama…” Erangannya yang manja makin membuatku bergairah. Kubuka kaos serta branya sehingga Dwi pun sekarang telanjang dada. Akupun terbelalak melihat kecantikan payudaranya. Besar, putih, harum, serta putingnya yang berwarna pink itu terlihat sedikit menegang. “Tama…” katanya sambil menekan kepalaku kearah payudaranya. Akupun tidak menyia – nyiakan kesempatan baik itu. Tangankupun meremas, menjilat, dan mencium kedua belah payudaranya. Kadang bibirku mengulum putting payudaranya. Kadang bongkahan payudaranya kumasukkan sebesar mungkin kedalam mulutku seolah aku ingin menelannya, dan itu membuat badan Dwi menggelinjang. “Aaahh… SShhh…” aku mendongak keatas dan melihat Dwi sedang menutup matanya sambil bibirnya mengeluarkan erangan menikmati permainan bibirku di payudaranya. Seksi sekali dia saat itu. Putingnya makin mengeras menandakan ia semakin bernafsu akan “pekerjaanku” di dadanya.&lt;br /&gt;Puas menyusu, akupun menurunkan ciumanku kearah pusarnya yang ternyata ditindik itu. Lalu ciumanku makin mengalir turun ke arah selangkangannya. Akupun membuka jeansnya, terlihatlah celana dalamnya yang hitam semi transparan itu, namun itu tak cukup untuk menyembunyikan gundukan vaginanya yang begitu gemuk dari pandanganku. Akupun mendekatkan hidungku ke arah vaginanya, tercium wangi khas yang sangat harum. Ternyata Dwi sangat pintar dalam menjaga bagian kewanitaannya itu. Sungguh beruntung diriku dapat merasakan miliknya Dwi.&lt;br /&gt;Akupun mulai menyentuh bagian depan celana dalamnya itu. Basah. Ternyata Dwi memang sudah horny karena servisku. Jujur saja aku merasa deg – degan karena selama ini aku belum pernah melakukan seks dengan kedelapan mantan pacarku, paling hanya sampai taraf oral seks. Jadi ini boleh dibilang pengalaman pertamaku. Dengan ragu – ragu akupun menjilati celana dalamnya yang basah tersebut. “Mmhhh… Ooggghh…” Dwi mengerang menikmati jilatanku. Ternyata rasa cairan kewanitaan Dwi gurih, sedikit asin namun enak menurutku. Setelah beberapa lama menjilati, ternyata cairan kewanitaannya makin banyak meleleh.&lt;br /&gt;“Buka aja celana dalamku” kata Dwi. Mendengar restu tersebut akupun menurunkan celana dalamnya sehingga sekarang Dwi benar – benar bugil, sedangkan aku masih berpakaian lengkap. Benar – benar pemandangan yang indah. Vaginanya terpampang jelas di depan mataku, berwarna pink kecoklatan dengan bibirnya yang masih rapat. Bentuknya pun indah sekali dengan bulunya yang telah dicukur habis secara rapi. Bagai orang kelaparan, akupun segera melahap vaginanya, menjilati bibir vaginanya sambil sesekali menusukkan jari tengah dan jari telunjukku ke dalamnya. Berhasil..! Aku menemukan G-Spotnya dan terus memainkannya. setelah itu Dwi terus menggelinjang, badannya mulai berkeringat seakan tidak menghiraukan dinginnya AC di ruangan ini. “Emmh, please don’t stop” kata Dwi dengan mata terpejam. “OOuucchh…” Rintih Dwi di telingaku sambil matanya berkerjap-kerjap merasakan nikmat yang menjalari tubuhnya.”Ssshhh…Ahhh”, balasku merasakan nikmatnya vagina Dwi yang makin basah. Sambil terus meremas dada besarnya yang mulus, adegan menjilat itu berlangsung selama beberapa menit. Tangannya terus mendorong kepalaku, seolah menginginkanku untuk menjilati vaginanya secara lebih intens. Pahanya yang putih pun tak hentinya menekan kepalaku. Tak lama kemudian, “Uuuhhh.. Dwi mau ke… lu… ar…” seiring erangannya vaginanya pun tiba – tiba membanjiri mulutku mengeluarkan cairan deras yang lebih kental dari sebelumnya, namun terasa lebih gurih dan hangat. Akupun tidak menyia – nyiakannya dan langsung meminumnya sampai habis. “Slruuppp…” suaranya terdengar nyaring di ruangan tersebut. Nafas Dwi terdengar terengah – engah, ia menggigit bibirnya sendiri sambil seluruh tubuhnya mengkilat oleh keringatnya sendiri. Setelah tubuhnya berhenti bergetar dan jepitan pahanya mulai melemah akupun berdiri dan mencium bibirnya, sehingga ia merasakan cairan cintanya sendiri.&lt;br /&gt;“Mmhh, Tama… makasih ya kamu udah bikin Dwi keluar.” “kamu malah belum buka baju sama sekali, curang” kata Dwi. “Gantian sini.” Setelah berkata lalu Dwi mendorong tubuhku sehingga aku duduk diatas sofa. Iapun berjongkok serta melepaskan celana jeans serta celana dalamku. Iapun kaget melihat batang penisku yang berukuran cukup “wah.” Panjangnya sekitar 16 cm dengan diameter 5 cm. kepalanya yang seperti topi baja berwarna merah tersentuh oleh jemari Dwi yang lentik. “Tama, punya kamu gede banget…” setelah berkata maka Dwi langsung mengulum kepala penisku. Rasanya sungguh nikmat sekali. “mmh Dwi kamu nikmat banget…” kataku. Iapun menjelajahi seluruh penjuru penisku dengan bibir dan lidahnya, mulanya lidahnya berjalan menyusuri urat dibawah penisku, lalu bibirnya yang sexy mengulum buah zakarku. “aah… uuhh… ” hanya itu yang dapat kuucapkan. Lalu iapun kembali ke ujung penisku dan berusaha memasukkan penisku sepanjang – panjangnya kedalam mulutnya. Akupun mendorong kepalanya dengan kedua belah tangannya sehingga batang penisku hampir 3/4nya tertelan oleh mulutnya sampai ia terlihat hamper tersedak. Sambil membuka bajuku sendiri aku mengulangi mendorong kepalanya hingga ia seperti menelan penisku sebanyak 5 – 6 kali.&lt;br /&gt;Puas dengan itu ia pun berdiri dan duduk membelakangiku, tangannya membimbing penisku memasuki liang kemaluannya. “Tama sayang, aku masukin ya..” kata Dwi bergairah. Lalu iapun menduduki penisku, mulanya hanya masuk 3/4nya namun lama – lama seluruh batang penisku terbenam ke dalam liang vaginanya. Aah, jadi ini yang mereka katakana kenikmatan bercinta, rasanya memang enak sekali pikirku. Iapun terus menaik – turunkan vaginanya sambil kedua tangannya bertumpu pada dadaku yang bidang. “Pak.. pak… pak.. sruut.. srutt..” bunyi paha kami yang saling beradu ditambah dengan cairan kewanitaannya yang terus mengalir makin menambah sexy suasana itu. Sesekali aku menarik tubuhnya kebelakang, sekedar mencoba untuk menciumi lehernya yang jenjang itu. Lehernya pun menjadi memerah di beberapa tempat terkena cupanganku.&lt;br /&gt;“Dwi, ganti posisi dong” kataku. Lalu Dwi berdiri dan segera kuposisikan dirinya untuk menungging serta tangannya bertumpu pada meja. Dari posisi ini terlihat liang vaginanya yang memerah tampak semakin menggairahkan. Akupun segera memasukkan penisku dari belakang. “aahh, pelan – pelan sayang” kata Dwi. Akupun menggenjot tubuhnya sampai payudaranya berguncang – guncang dengan indahnya. “Aaahhkk…Tama…Ooucchhhkgg..Ermmmhhh” suara Dwi yang mengerang terus, ditambah dengan cairannya yang makin banjir membuatku semakin tidak berdaya menahan pertahanan penisku. “Ooohh…yeahh ! fu*k me like that…uuhh…i’m your bitch now !” erang Dwi liar.&lt;br /&gt;“Aduhh.. aahh.. gila Dwi.. enak banget!” ceracauku sambil merem-melek. “Oohh.. terus Tama.. kocok terus” Dwi terus mendesah dan meremas-remas dadanya sendiri, wajahnya sudah memerah saking terangsangnya. “Yak.. dikit lagi.. aahh.. Tama.. udah mau” Dwi mempercepat iramanya karena merasa sudah hampir klimaks. “Dwi.. Aku juga.. mau keluar.. eerrhh” geramku dengan mempercepat gerakan.&lt;br /&gt;“Enak nggak Tama?” tanyanya lirih kepadaku sambil memalingkan kepalanya kebelakang untuk menatap mataku. “Gila.. enak banget Dwi.. terusin sayang, yang kencang..” Tanganku yang masih bebas kugerakkan kearah payudaranya untuk meremas – remasnya. Sesekali tanganku memutar arah ke bagian belakang untuk meremas pantatnya yang lembut.&lt;br /&gt;“uuhh.. sshh.. Dwi, aku udah ga tahan nih. Keluarin dimana?” tanyaku. “uuhhh.. mmh.. ssshh.. Keluarin didalam aja ya, kita barengan” kata Dwi. Makin lama goyangan penisku makin dalam dan makin cepat.. “Masukin yang dalem dooo…ngg…”, pintanya. Akupun menambah kedalaman tusukan penisku, sampai pada beberapa saat kemudian. “aahh… Tama.. kita keluarin sekarang…” Dwi berkata sambil tiba – tiba cekikan vaginanya pada penisku terasa sangat kuat dan nikmat. Iapun keluar sambil tubuhnya bergetar. Akupun tak mampu membendung sperma pada penisku dan akhirnya kutembakkan beberapa kali ke dalam liang vaginanya. Rasa hangat memenuhi penisku, dan disaat bersamaan akupun memeluk Dwi dengan eratnya dari belakang.&lt;br /&gt;Setelah beberapa lama tubuh kami yang bercucuran keringat menyatu, akhirnya akupun mengeluarkan penisku dari dalam vaginanya. Aku menyodorkan penisku ke wajah Dwi dan ia segera mengulum serta menelan habis sperma yang masih berceceran di batang penisku. Aku menyandarkan tubuhku pada dinding ruang studio dan masih dengan posisi jongkok dihadapanku Lydia tersenyum sambil terus mengocok batang penisku tetapi semakin lama semakin cepat. Nafasku memburu kencang dan jantungku berdegub semakin tak beraturan dibuatnya, walaupun aku sangat sering masturbasi, tapi pengalaman dikocok oleh seorang cewek adalah yang pertama bagiku, apalagi ditambah pemandangan dua susu montok yang ikut bergoyang karena gerakan pemiliknya yang sedang menocok penisku bergantian dengan tangan kiri dan kanannya.&lt;br /&gt;“Dwi.. mau keluar nih..” kataku lirih sambil memejamkan mata meresapi kenikmatan hisapan Dwi. “Bentar, tahan dulu Tama..”jawabnya sambil melepaskan kocokannya. “Loh kok ngga dilanjutin?” tanyaku. Tanpa menjawab pertanyaanku, Dwi mendekatkan dadanya ke arah penisku dan tanpa sempat aku menebak maksudnya, dia menjepit penisku dengan kedua payudaranya yang besar itu. Sensasi luar biasa aku dapatkan dari penisku yang dijepit oleh dua gundukan kembar itu membuatku terkesiap menahan napas.&lt;br /&gt;Sebelum aku sempat bertindak apa-apa, dia kembali mengocok penisku yang terjepit diantara dua susunya yang kini ditahan dengan menggunakan kedua tangannya. Penisku serasa diurut dengan sangat nikmatnya. Terasa kurang licin, Dwi pun melumuri payudaranya dengan liurnya sendiri. “Gila Dwi, kamu ternyata liar banget..” Dwi hanya menjawab dengan sebuah senyuman nakal.&lt;br /&gt;Kali ini seluruh urat-urat dan sendi-sendi di sekujur tubuhku pun turut merasakan kenikmatan yang lebih besar daripada kocokan dengan tangannya tadi. “Enak nggak Tama?” tanyanya lirih kepadaku sambil menatap mataku. “Gila.. Bukan enak lagi.. Tapi enak banget Sayang.. Terus kocok yang kencang..” Tanganku yang masih bebas kugerakkan kearah mulutnya, dan ia langsung mengulum jariku dengan penuh nafsu. “Ahh.. ohh..” desahnya pelan sambil kembali memejamkan matanya. Kocokan serta jepitan susunya yang semakin keras semakin membuatku lupa daratan.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, “aah… Dwi aku mau keluar lagi…” setelah berkata begitu akupun menyemprotkan beberapa tetes spermaku kedalam mulutnya yang langsung ditelan habis oleh Dwi. Iapun lalu menciumku sehingga aku merasakan spermaku sendiri.&lt;br /&gt;Setelah selesai, kami pun berpakaian lagi. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih kepadanya, lalu akupun pulang kekostan setelah mengantarkan Dwi ke kostannya menggunakan mobilku. Dialam mobil ia berkata bahwa ia sangat puas setelah bercinta denganku serta menginginkan untuk mengulanginya kapan – kapan. Akupun segera menyanggupi dan mencium mesra bibirnya. Setelah itu aku mengarahkan mobilku ke kostanku yang berada di daerah Dago. Soal kuliahnya Pak Noel, aku sudah cuek karena hari itu aku mendapatkan anugerah yang tidak terkira, yaitu bisa bercinta dengan Dwi. Koleksi &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1411556838748479078-3419506269130286067?l=janda-kesepian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/feeds/3419506269130286067/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/kenikmatan-saat-bolos-kuliah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/3419506269130286067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/3419506269130286067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/kenikmatan-saat-bolos-kuliah.html' title='Kenikmatan saat Bolos Kuliah'/><author><name>Tante Kesepian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14713038125543777221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/-FZxK7b8lVNc/ThmHlk6Uv2I/AAAAAAAAAAY/ioSmfPbY4Yw/s220/248197_1629217110192_1829537763_1083242_4655990_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1411556838748479078.post-6398949860978888585</id><published>2011-07-10T22:59:00.001-07:00</published><updated>2011-07-10T22:59:47.462-07:00</updated><title type='text'>Cinta Pertama  Yaldi</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-fareast-language:EN-US;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 18pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 18pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;a href="http://www.ceritadewasaseks.org/"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Cerita seks&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; ini berawal dari sebuah kisah romantisku dan kenangan bersama cinta pertamaku. Seperti apa kata pepatah bahwa cinta pertama tak pernah mati, apalagi cinta tersebut tumbuh disaat usia remaja. Kesederhanaan serta keluguan akan berbagai hal dikala itu justru menjadikan sebuah pengalaman masa lalu yang indah dan akan terkenang di dalam lubuk sanubari hati yang indah dan tak terlupakan. Kisah nyata &lt;b&gt;cerita seks&lt;/b&gt; ini kualami dengan seorang gadis yang kukenal dan teman bermain sejak kecil, iya tak terlalu cantik tapi entah kenapa senyum manisnya sampe saat inipun aku menulis sebuah goresan cerita ini, aku tak bisamelupakannyasedikitpun.&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_1iEFtlUhEBQ/TEhkWuj-MBI/AAAAAAAAB50/knNi8cwFQgs/s1600/syn+2421.jpg"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kisah ini terjadi di awal tahun 2000. Saat masih kanak-kanak, kami bermain seperti halnya anak-anak pada umumnya.&lt;br /&gt;“Hoom-pim-pah ..”&lt;br /&gt;“Agus jaga..”. Ia menutup mata di bawah pohon kersen. Kami, anak-anak yang lain, lari mencari tempat persembunyian. Aku lari ke warung Ma’ Ati yang sudah tutup. Ayu lari mengikutiku. .Aku merangkak masuk di bawah meja warung itu, Ayu mengikutiku dari belakang dan jongkok di sebelahku. Ayu dan aku mengintip lewat celah kecil di gedek di bawah meja yang sempit itu mencari kesempatan untuk lari keluar. Entah mengapa, aku selalu merasa senang kalau berada dekatnya. Waktu itu rasanya tidak ingin aku keluar dari tempat persembunyianku. Apakah ini yang namanya “cinta anak-anak”? Aku tak tahu. Yang aku tahu Ayu memang cantik. Aku juga sadar kalau aku juga ganteng (teman-temanku bilang begitu). Hingga kalau kami main pangeran-pangeranan, rasanya cocok kalau aku jadi pangeran, Ayu jadi puteri. Juga dalam permainan lain Ayu cuma mau ikut dalam kelompokku. Teman-temanku sering memasang-masangkan aku dengan dia.&lt;br /&gt;Masa kecil kami memang menyenangkan. Sampai tiba saatnya aku harus berpisah dengan teman-temanku karena harus mengikuti ayahku yang ditugaskan di kota lain. Waktu itu aku masih duduk di kelas empat SD. Sejak itu aku tak pernah dengar kabar apa-apa dari teman-temanku itu, termasuk Ayu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dua belas tahun kemudian.&lt;br /&gt;Aku menghadiri sebuah pesta pengantin. Lagu The Wedding mengalun mengiringi para tamu yang asyik menikmati hidangan prasmanan. Gadis-gadis tampak cantik dengan dandanan dan gaun pesta mereka. Sampai Oom Andi, salah seorang pamanku menepuk pundakku.&lt;br /&gt;“Eh Rik, apa kabar?”&lt;br /&gt;“Oh, baik saja oom.”&lt;br /&gt;“Akan kupertemukan kau dengan seseorang, ayo ikut aku.”&lt;br /&gt;Aku mengikuti oom-ku itu menuju ke seorang gadis yang sedang asyik menikmati ice creamnya. Gadis itu mengenakan gaun pesta berwarna kuning dengan bahu terbuka, cantik sekali dia. Begitu aku melihat dia, aku segera teringat pada seseorang.&lt;br /&gt;“Apakah, apakah dia ..?”&lt;br /&gt;“Benar Rik, dia Ayu.”&lt;br /&gt;“Ayu, ini kuperkenalkan pada temanmu.”&lt;br /&gt;Gadis itu tampak agak terperanjat, tetapi sekalipun terlihat ragu-ragu, tampaknya ia pun mengenaliku.&lt;br /&gt;“Ini Riki, tentu kamu kenal dia,” kata oomku.&lt;br /&gt;Kami bersalaman.&lt;br /&gt;“Wah, sudah gede sekali kamu Ayu.”&lt;br /&gt;“Memangnya suruh kecil terus, memangnya kamu sendiri bagaimana?” katanya sambil tertawa.&lt;br /&gt;Tertawanya dan lesung pipinya itu langsung mengingatkanku pada tertawanya ketika ia kecil. Aku benar-benar terpesona melihat Ayu, aku ingat Ayu kecil memang cantik, tetapi yang ini memang luar biasa. Apakah karena dandanannya? Ah, tidak, sekalipun tidak berdandan aku pasti juga terpesona. Gaun pestanya yang kuning itu memang tidak mewah, tetapi serasi sekali dengan tubuhnya yang semampai. Bahunya terbuka, buah dadanya yang putih menyembul sedikit di atas gaunnya itu membedakannya dengan Ayu kecil yang pernah kukenal.&lt;br /&gt;“Sudah sana ngobrol-ngobrol tentu banyak yang diceritain,” kata oomku seraya meninggalkan kami.&lt;br /&gt;“Tuh ada kursi kosong di situ, yuk duduk di situ,” kataku.&lt;br /&gt;Kamipun berjalan menuju ke kursi itu.&lt;br /&gt;“Bagaimana Ayu, kamu sekarang di mana?”&lt;br /&gt;“Aku sekarang tinggal di Semarang, kamu sendiri di mana?”&lt;br /&gt;“Aku kuliah di Bandung, kamu bagaimana?”&lt;br /&gt;Ia terdiam, menyendok ice creamnya lalu melumat dan menelannya, perlahan ia berkata, “Aku tidak seberuntung kamu Rik, aku sudah bekerja. Aku hanya sampai SMA. Yah keadaan memang mengharuskan aku begitu.”&lt;br /&gt;“Bekerja juga baik Ayu, tiap orang kan punya jalan hidup sendiri-sendiri. Justru perjuangan hidup membuat orang lebih dewasa.”&lt;br /&gt;Kira-kira satu jam kami saling menceritakan pengalaman kami. Waktu itu umurku 22, dia juga (sejak kecil aku sudah tahu umurnya sama dengan umurku). Perasaan yang pernah tumbuh di sanubariku semasa kecil tampaknya mulai bersemi kembali. Rasanya tak bosan-bosan aku memandang wajahnya yang ayu itu. Apakah cinta anak-anak itu mulai digantikan dengan cinta dewasa? Aku tidak tahu. Aku juga tidak tahu apakah ia merasakan hal yang sama. Yang pasti aku merasa simpati padanya. Malam itu sebelum berpisah aku minta alamatnya dan kuberikan alamatku.&lt;br /&gt;Sekembali ke Bandung kusurati dia, dan dia membalasnya. Tak pernah terlambat dia membalas suratku. Hubungan kami makin akrab. Suatu ketika ia menyuratiku akan berkunjung ke Bandung mengantar ibunya untuk suatu urusan dagang. Memang setelah ayahnya pensiun, ibunya melakukan dagang kecil-kecilan. Aku senang sekali atas kedatangan mereka. Kucarikan sebuah hotel yang tak jauh dari rumah indekosku. Hotel itu sederhana tetapi cukup bersih.&lt;br /&gt;Pagi hari aku menjemput mereka di stasiun kereta api dan mengantarnya ke hotel mereka. Sore hari, selesai kuliah, aku ke hotelnya. Kami makan malam menikmati sate yang dijual di pekarangan hotel. Pada malam hari kuajak Ayu berjalan-jalan menikmati udara dingin kotaku. Entah bagaimana mulainya, tahu-tahu kami mulai bergandengan tangan, bahkan kadang-kadang kulingkarkan tanganku di bahunya yang tertutup oleh jaket. Kami berjalan menempuh jarak beberapa kilometer, jarak yang dengan Vespaku saja tidak terbilang dekat. Tetapi anehnya kami merasakan jarak itu dekat sekali. Sekembali di hotel kami masih melanjutkan pecakapan di serambi hotel sampai lewat tengah malam, sementara ibu Ayu sudah mengarungi alam mimpi. Besok sorenya aku ke hotel untuk mengantarkan mereka ke stasiun untuk kembali ke kota mereka. Ketika aku tiba di hotel, ibu Ayu sedang mandi, Ayu sedang mengemasi barang-barang bawaannya. Aku duduk di kursi di kamar itu. Tiba-tiba terbersit di pikiranku untuk memberikan selamat jalan yang sangat pribadi bagi dia. Dengan berdebar aku bangkit dari tempat dudukku berjalan dan berdiri di belakangnya, perlahan kupegang kedua bahunya dari belakang, kubalikkan tubuhnya hingga menghadapku.&lt;br /&gt;“Ayu, bolehkah ..?”&lt;br /&gt;Ia tampak gugup, ia menghindar ketika wajahku mendekati wajahnya. Ia kembali membelakangiku.&lt;br /&gt;“Sorry Ayu, bukan maksudku ..”&lt;br /&gt;Ia diam saja, masih tampak kegugupannya, ia melanjutkan mengemasi barang-barangnya. Terdengar bunyi pintu kamar mandi terbuka, ibu Ayu keluar.&lt;br /&gt;Di stasiun, sebelum masuk ke kereta kusalami ibunya. Ketika aku menyalami Ayu aku berbisik, “Ayu, sorry ya dengan yang tadi.”&lt;br /&gt;Dia hanya tersenyum. Manis sekali senyumnya itu.&lt;br /&gt;“Terimakasih Rik atas waktumu menemani kami.”&lt;br /&gt;Hubungan surat-menyurat kami menjadi makin akrab hingga mencapai tahap serius. Aku sering membuka suratku dengan “Ayuku tersayang”. Kadang-kadang kukirimi dia humor atau kata-kata yang nakal. Dia juga berani membalasnya dengan nakal. Pernah dia menulis begini, “Sekarang di sini udaranya sangat panas Rik, sampai kalau tidur aku cuma pakai celana saja. Tanaman-tanaman perlu disirami (aku juga).”&lt;br /&gt;Membaca surat itu aku tergetar. Kubayangkan ia dalam keadaan seperti yang diceritakannya itu. Kukhayalkan aku berada di dekatnya dan melakukan adegan-adegan romantis dengannya. Aku merasakan ada tetesan keluar dari diriku akibat khayalan itu. Kuoleskan tetesan itu di kertas surat yang kugunakan untuk membalas suratnya. (Barangkali ada aroma, atau entah apa saja, yang membuat ia merasakan apa yang kurasakan waktu itu. Tetapi aku tak pernah cerita pada dia tentang ini.)&lt;br /&gt;Sampai tiba liburan semester, aku mengunjungi dia. Aku tinggal di rumahnya selama empat malam. Inilah pengalamanku selama empat malam itu.&lt;br /&gt;Aku tiba pagi hari. Setelah makan pagi, aku dan dia duduk-duduk di kamar makan. Aku melihat Ayu mengenakan cincin imitasi dengan batu berwarna merah muda di jari manisnya.&lt;br /&gt;“Bagus cincinmu itu. Boleh kulihat?”&lt;br /&gt;Kutarik tangannya mendekat, tetapi aku segera lupa akan cincin itu. Ketika lengannya kugenggam, serasa ada yang mengalir dari tangannya ke tanganku. Jantungku berdebar. Tak kulepas genggamanku, kubawa telapak tanganku ke telapak tangannya. Kumasukkan jari-jariku di sela jari-jarinya. Jari-jarinya yang halus, putih dan lentik berada di antara jari-jariku yang lebih besar dan gelap. Kugenggam dia, dia juga menggenggam. Kuremas-remas jari-jari itu. Dia membiarkannya. Kami berpandangan dengan penuh arti sebelum ia bangkit dengan tersipu-sipu,&lt;br /&gt;“Aku bereskan meja dulu.”&lt;br /&gt;Ia pun membereskan meja makan dan mencuci piring. Setelah itu ia berkemas-kemas untuk pergi bekerja. Siang itu aku tidak kemana-nama, aku beristirahat sambil membaca buku-buku novel yang kubawa.&lt;br /&gt;Sore harinya aku, Ayu dan adiknya menonton film di bioskop. Aku ingat ketika nonton itu aku sempat remas-remasan tangan dengan dia. Setelah pulang nonton kami duduk-duduk di ruang tamu. Saat itu sekitar pukul sembilan. Kami hanya ngobrol-ngobrol biasa karena orang-orang di rumah itu masih belum tidur. Ayu membuat secangkir kopi untukku. Sekitar pukul sepuluh rumah mulai sepi, orang tua dan adik Ayu sudah masuk ke kamar tidur masing-masing. Hanya tinggal aku dan Ayu di ruang tamu. Ia duduk di sofa di sebelah kananku.&lt;br /&gt;Dari obrolan biasa aku mulai berani. Kulingkarkan tanganku dibahunya. Ayu diam saja dan menunduk. Dengan tangan kiriku kutengadahkan wajahnya, kudekatkan kepalaku ke wajahnya, kutarik dia. Berbeda dengan di hotel waktu itu, ia memejamkan matanya membiarkan bibirku menyentuh bibirnya. Kukecup bibirnya. Cuma sebentar. Hening, segala macam pikiran berkecamuk di kepalaku (kukira juga di kepalanya). Aku merasa jantungku berdegup.&lt;br /&gt;Pelan-pelan tangan kananku kulepas dari bahunya, menyusup di antara lengan dan tubuhnya, dan kutaruh jari-jariku di dadanya. Ia membiarkan dadanya kusentuh. Aku melangkah lagi, jari-jariku kuusap-usapkan di situ. Ia membolehkan bahkan menyandarkan badannya di dadaku. Aku mencium semerbak bau rambutnya. Aku pun tidak ragu lagi, kuremas-remas payudaranya. Ia tetap diam dan tampaknya ia menikmatinya.&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat ia menggeser badannya sedikit lalu, seolah tak sengaja, ia menaruh tangannya di pangkuanku, tepat di atas kancing celanaku. Aku tanggap isyarat ini. Kubuka ruitsluiting celanaku, kutarik tangannya masuk ke sela yang sudah terbuka itu. Ia menurut dan ia menyentuh penisku, jari-jarinya yang tadi pasif sekarang mulai aktif. Walaupun masih terhalang oleh celana dalam, ia mengusap-usap di situ. Aku melangkah lebih jauh lagi, tanganku yang berada di dadanya sekarang memasuki dasternya, menyusup di sela-sela BH-nya dan kuremas-remas payudaranya langsung. Payudaranya memang tidak terlalu besar tetapi cukup kenyal dalam remasanku. Dia tak mau kalah, tangannya menyusup masuk ke celana dalamku dan langsung menyentuh penisku lalu mengenggamnya. Bergetar hatiku, baru kali itu penisku disentuh seorang gadis, gairahku melonjak. Dua kali ia menggerakkan genggamannya ke atas ke bawah dan aku tak tahan .. menyemburlah cairanku membasahi jari-jarinya dan celana dalamku. Aku mengeluh dan menyandarkan diriku ke sofa. Ia melepaskan tangannya dari celanaku dan melihat tangannya yang basah.&lt;br /&gt;“Kental ya Rik,” bisiknya.&lt;br /&gt;“Ayu, terlalu cepat ya, ini pengalamanku pertama,” kataku kecewa.&lt;br /&gt;“Aku tahu Rik,” ia memahami.&lt;br /&gt;“Kamu ganti dulu, besok aku cuci yang itu,” lanjutnya.&lt;br /&gt;Ia bangkit ke kamar mandi untuk mencuci tangannya. Aku masuk ke kamar mengganti celana dalamku. Ketika keluar Ayu sudah berada kembali di situ. Kami ngobrol-ngobrol sebentar lalu kami pergi tidur. Aku masuk ke kamarku dan Ayu masuk ke dalam, ke kamarnya.&lt;br /&gt;Malam kedua. Seperti halnya malam pertama, setelah suasana sepi kami memulai dengan berciuman. Kalau kemarin hanya kecup bibir sebentar, kali ini aku mencoba lebih. Mula-mula kukecup bibir bawahnya, lalu bibir atasnya, lalu lidahku masuk. Lidahku dan lidahnya bercanda. Aku mengecap rasa manis dan segar di mulutnya, kurasa ia makan pastiles atau permen pedas sebelumnya. Lalu kami main remas-remasan lagi. Kali itu dia tidak memakai BH hingga lebih mudah bagiku meremas-remas payudaranya. Seperti kemarin tangannya pun meraba-raba penisku. Aku sudah khawatir kalau aku akan cepat keluar seperti kemarin, tetapi rupanya tidak. Aku juga ingin melakukan seperti yang dia lakukan. Tanganku menuju ke bawah, kusingkapkan dasternya, tetapi ketika tanganku menuju ke celananya ia menepisnya. Rupanya ia belum mau sejauh itu. Malam itu kami cuma main remas-remasan saja. Kuremas-remas payudaranya, dan dia membelai-belai penisku sementara bibir kami berkecupan. Akhirnya aku tak tahan juga hingga cairanku menyemprot keluar membasahi tangannya, sama seperti kemarin. Tetapi aku lebih senang karena kami bisa bermain-main lebih lama. Aku merasa ada kemajuan, aku lebih percaya diri.&lt;br /&gt;Malam ketiga. Seperti malam-malam sebelumnya, kami mulai dengan saling berciuman di sofa. Ketika baru mulai babak remas-remasan aku ingat bahwa aku membawa sebuah buku seksologi. Kuambil buku itu dan kutunjukkan pada Ayu. Kubuka pada halaman yang ada gambar alat genital pria. Kujelaskan padanya cara bekerjanya alat itu. Dia mendengarkannya dengan perhatian. Seolah guru biologi aku menunjukkan contohnya, kubuka ruitsluiting celanaku. Kuturunkan celana dalamku hingga penisku menyembul keluar dan kupertontonkan pada Ayu. penisku memang beda dengan yang di gambar, kalau yang di gambar itu lunglai, penisku berdiri tegak. Ayu memperhatikan penisku itu.&lt;br /&gt;“Itu lubangnya ada dua ya?” tanyanya, “Satu untuk kencing, satu lagi untuk ngeluarin?”&lt;br /&gt;“Ah, engga. Cuma ada satu,” kataku sambil tertawa.&lt;br /&gt;Kubuka lubang kecil itu agak lebar untuk menunjukkan bahwa lubangnya memang cuma satu. Ujung itu merah mengkilat basah oleh cairan bening. Kubawa telunjuknya mengusapnya dan ia membiarkan jarinya basah. Kemudian jari-jari lentik itu menyusuri urat-urat di situ dari atas ke bawah.&lt;br /&gt;“Rupanya jelek, tapi kok bisa bikin enak ya,” katanya sambil tertawa.&lt;br /&gt;“Eh, tahunya kalau enak. Memang sudah pernah mencoba?” sahutku.&lt;br /&gt;“Katanya sih,” sahutnya sambil tertawa.&lt;br /&gt;Jemarinya pun memain-mainkan penisku.&lt;br /&gt;“Kalau ini isinya apa?” Candanya sambil memain-mainkan kantung bolaku.&lt;br /&gt;“Biji salak kali,” jawabku sambil tertawa. Ia juga tertawa.&lt;br /&gt;Lalu tangannya menggenggam penisku dan menggosok-gosoknya.&lt;br /&gt;“Jangan keras-keras Ayu. Nanti keluar,” bisikku. Diapun menurut, dia masih menggenggam tetapi tidak menggosok hanya mengusap-usap perlahan.&lt;br /&gt;“Boleh aku lihat punyamu?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Jangan ah,” jawabnya.&lt;br /&gt;“Sebentar saja,” kataku.&lt;br /&gt;Ia pun menurut. Ia membiarkan tanganku menyingkap dasternya dan menurunkan celana dalamnya hingga ke lutut. Aku menelan ludah, baru kali itu aku melihat alat kelamin wanita, sebelumnya aku melihatnya cuma di gambar-gambar. Tanganku pun menuju ke situ. Kuusap-usap rambutnya lalu jariku membuka celah di situ dan kulihat basah di dalamnya.&lt;br /&gt;“Kok basah kuyup begini.”&lt;br /&gt;“Tadi kamu juga.”&lt;br /&gt;Kutengok penisku, sudah kering memang, karena diusap oleh Ayu, tetapi aku melihat di ujungnya mulai membasah lagi. Aku ingat ketika membaca buku seksologiku ada bagian yang namanya “labia majora”, ada “labia minora”, ada “clitoris.” Aku mencoba mencari tahu yang mana itu. Aku mencoba membuka celahnya lebih lebar tetapi ia menepis tanganku.&lt;br /&gt;“Sudah ah, malu,” katanya.&lt;br /&gt;Ia kembali menaikkan celana dalamnya.&lt;br /&gt;“Kamu curang Ayu. penisku sudah kamu lihat dari tadi,” kataku bercanda.&lt;br /&gt;“Kan katamu cuma lihat sebentar.”&lt;br /&gt;Susasana hening. Kupeluk dia. Kembali kami berciuman. Tangannya kembali mengusap-usap penisku. Tanganku juga menyusup ke celana dalamnya (dasternya masih menyingkap). Dia tidak menolak. Kuusap-usap rambut di balik celana dalam itu dan jari-jariku pun menggelitik di situ. Aku merasakan basahnya. Kurebahkan dia di sofa, kutarik celana dalamnya. Tapi Ayu menolak tanganku dan berbisik,&lt;br /&gt;“Di kamar saja Rik.”&lt;br /&gt;Aku sadar, di situ bukan tempat yang tepat.&lt;br /&gt;“Kamu masuk duluan,” katanya.&lt;br /&gt;Akupun masuk ke kamarku melepaskan seluruh pakaianku lalu aku merebahkan diri menunggu Ayu. Setelah beberapa menit Ayu masuk membawa handuk kecil lalu mengunci pintu. Ia menghempaskan diri di sisiku. Aku segera tahu bahwa dia tidak mengenakan celana dalam lagi. Segera kulepas dasternya. Tak ada apa-apa lagi yang menutupi kami. Tanpa basa-basi lagi kami segera berpelukan dan berkecupan dengan ganas. Tangan-tangan kami saling meraih, menyentuh, meremas apa saja untuk bisa saling menggairahkan. Kugigit putingnya. Ia menggelinjang. Ia bangkit dan membalas dengan mengulum penisku. Ganti aku yang menggelinjang. Kami melakukan itu mungkin sepuluh menit. Gairah tak tertahankan lagi.&lt;br /&gt;“Rik, masukkan saja..,” bisiknya memohon.&lt;br /&gt;Ayu merebahkan dirinya telentang. Aku mengambil posisi di atasnya. Kedua pahanya membuka lebar menampung tubuhku, lalu kedua kakinya, seperti juga kedua tangannya, melingkari tubuhku. Ujung penisku mencari-cari lubang punyanya. Setelah ketemu aku dorong sedikit. Ia agak mengerang.&lt;br /&gt;“Pelan-pelan Rik,” bisiknya.&lt;br /&gt;Kudorong penisku pelan-pelan, sekali, dua kali, dan akhirnya tembus. Ia menggelinjang dan mengeluh. Kami berdua merasa di awang-awang. Rasanya bumi ini hanya milik kami berdua. Kami berdua menggerak-gerakkan tubuh kami mencari sentuhan-sentuhan yang paling peka.&lt;br /&gt;Kenikmatan makin meninggi, setelah beberapa saat gerakan tubuhnya makin kencang lalu ia memelukku erat-erat seraya merintih,&lt;br /&gt;“Rik, Rik,..” Aku juga tak tahan dan segera menyusulnya,&lt;br /&gt;“Ayu..” Dia memelukku erat, bibir kami berkecupan ketika benihku menyemprot di dalamnya. Cairanku menyatu dengan cairannya. Selama beberapa menit kami masih dalam posisi itu.&lt;br /&gt;“Rik, aku cuma ingin sama kamu, engga ada yang lain lagi,” katanya.&lt;br /&gt;“Begitu juga aku Ayu, aku sayang kamu,” kataku sambil membelai pipinya. Lalu kukecup bibirnya, mesra dengan segenap perasaanku.&lt;br /&gt;Sekitar setengah jam kami masih berpelukan terbuai oleh pengalaman barusan. Lalu kami bangkit. Aku lap penisku dengan handuk kecil, dan ia pun mengelap vaginanya, aku lihat ada darah di handuk itu. Lalu kami rebah berhadapan dan kami berpelukan lagi dan tak pakai apa-apa. Kami pun tertidur.&lt;br /&gt;Menjelang pagi kurasakan Ayu bangun. Ia akan mengenakan dasternya.&lt;br /&gt;“Aku harus kembali ke kamarku Rik, sudah pagi.”&lt;br /&gt;Tetapi aku menarik tangannya hingga ia kembali rebah di sisiku.&lt;br /&gt;“Masih setengah tiga Ayu, di sini dulu.”&lt;br /&gt;Penisku pun kembali tegang dan keras. Ayu melihatnya.&lt;br /&gt;“Rupanya si kecilmu sudah siap lagi Rik,” candanya.&lt;br /&gt;Ia pun bangkit lalu tubuhnya menindih tubuhku yang rebah telentang. Ia mengecupi leherku kiri dan kanan bertubi-tubi. Akhirnya bibir itu mampir di bibirku. Lidahku dan lidahnya berbelitan, sebentar dalam mulutku, sebentar dalam mulutnya. Lalu ia mengangkat tubuhnya sedikit, mengarahkan lubangnya ke ujung penisku lalu ia mendorongkan tubuhnya ke belakang hingga penisku masuk ke dalamnya sepenuhnya. Ia duduk di perutku. Tanganku meremas-remas payudaranya dan ia menggoyang-goyangkan tubuhnya di atasku. Mula-mula gerakannya tak terlalu cepat tetapi semakin lama ritme gerakannya makin meninggi lalu ia rebah dalam pelukanku, aku mendengar desahnya penuh kenikmatan. Namun aku masih tegar. Ganti ia yang kutelentangkan, aku berada di atasnya, kugerakkan tubuhku. Beberapa saat kemudian kenikmatanpun menjalar di seluruh tubuhku. Malam itu tak banyak kata-kata yang kami ucapkan, tetapi tubuh-tubuh kami telah saling bicara mencurahkan seluruh perasaan kami yang terpendam selama berbulan-bulan. Jam setengah empat sudah, ia mengenakan dasternya mengecup pipiku dan kembali ke kamarnya. Aku pun tertidur dengan rasa bahagia.&lt;br /&gt;Malam keempat. Kami mulai dengan bercium-ciuman sebentar di sofa. Kami tak mau berlama-lama di situ, kami pun masuk kamar. Setelah mengunci pintu ia melepaskan dasternya. Aku juga melepaskan pakaianku. Ternyata di balik daster itu ia mengenakan blouse dan celana mini tipis yang tak terlampau ketat berwarna biru muda. payudaranya tidak terlalu besar tetapi cukup menonjol di balik blousenya itu, putingnya tampak jelas di balik blousenya yang transparan itu dan di celananya aku juga bisa melihat rambutnya menerawang. Aku terpesona melihat Ayu berdiri di depanku dengan pakaian begitu seksi. Rambutnya yang bergerai panjang, tubuhya yang semampai sangat serasi dengan yang dipakainya. Aku duduk terpana di tempat tidur memandangnya. Kalau saja aku bisa memotretnya pasti tiap malam kupandangi foto itu dengan penuh pesona.&lt;br /&gt;“Luar biasa Ayu, cantik sekali kamu. Di mana kamu beli bajumu itu?”&lt;br /&gt;Dia tidak menjawab, hanya tersenyum. Ia menuju tempat tidur dan merebahkan diri. Aku pun rebah di sisinya. Kubelai putingnya di balik blousenya itu. Lalu kuusap celananya dan jari-jariku merasakan kemresak rambut-rambut di baliknya. Lalu kami rebah berhadapan. Kusisipkan penisku melalui sela celana mininya menyentuh vaginanya lalu kudekap dan kucium dia. Beberapa menit kami berciuman. Lalu ia bangkit mengecup dadaku di berbagai tempat.&lt;br /&gt;Kulepas celana mini dan blousenya. Sekarang tak ada apa-apa lagi yang melekat di tubuh kami. Aku duduk dan ia duduk di pangkuanku berhadapan dengan aku. Punya kami saling menempel. penisku berdiri tegak dikelilingi oleh rambut-rambutnya dan rambut-rambutku, hingga penisku tampak seolah-olah punyanya juga. Segera kamipun berdekapan erat, beciuman sambil duduk. Cukup lama kami bercumbu rayu dengan berbagai cara. Seperti malam sebelumnya, malam itu kami melakukan lagi dua kali.&lt;br /&gt;Esoknya aku harus kembali ke kotaku. Hari itu Ayu mengambil cuti seharian ia menemaniku. Sore hari Ayu mengantarku ke stasiun kereta api. Kulihat matanya berkaca-kaca ketika aku menyalami dia.&lt;br /&gt;“Datang lagi ya Rik, malam ini aku akan memimpikanmu,” katanya ketika aku akan menaiki kereta.&lt;br /&gt;Ketika kereta bergerak meninggalkan stasiun aku masih melihat dia melambaikan tangannya sampai ia hilang dari pandanganku.&lt;br /&gt;“Aku pasti datang lagi Ayu,” tanpa sadar kuucapkan kata-kata itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1411556838748479078-6398949860978888585?l=janda-kesepian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/feeds/6398949860978888585/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cinta-pertama-yaldi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/6398949860978888585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/6398949860978888585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cinta-pertama-yaldi.html' title='Cinta Pertama  Yaldi'/><author><name>Tante Kesepian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14713038125543777221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/-FZxK7b8lVNc/ThmHlk6Uv2I/AAAAAAAAAAY/ioSmfPbY4Yw/s220/248197_1629217110192_1829537763_1083242_4655990_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1411556838748479078.post-3004038831961951162</id><published>2011-07-10T05:36:00.000-07:00</published><updated>2011-07-10T05:36:00.248-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="https://www.facebook.com/notes.php?drafts&amp;amp;id=1829537763#%21/profile.php?id=1829537763"&gt;https://www.facebook.com/notes.php?drafts&amp;amp;id=1829537763#!/profile.php?id=1829537763&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1411556838748479078-3004038831961951162?l=janda-kesepian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/feeds/3004038831961951162/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/httpswww.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/3004038831961951162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/3004038831961951162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/httpswww.html' title=''/><author><name>Tante Kesepian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14713038125543777221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/-FZxK7b8lVNc/ThmHlk6Uv2I/AAAAAAAAAAY/ioSmfPbY4Yw/s220/248197_1629217110192_1829537763_1083242_4655990_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1411556838748479078.post-718063535514959377</id><published>2011-07-10T05:23:00.000-07:00</published><updated>2011-07-10T05:23:10.410-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Vr5l10u9nOw/ThmZYgi-nwI/AAAAAAAAAA0/7zWcbDOjrAc/s1600/94844_36.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-Vr5l10u9nOw/ThmZYgi-nwI/AAAAAAAAAA0/7zWcbDOjrAc/s1600/94844_36.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1411556838748479078-718063535514959377?l=janda-kesepian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/feeds/718063535514959377/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/blog-post.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/718063535514959377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/718063535514959377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/blog-post.html' title=''/><author><name>Tante Kesepian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14713038125543777221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/-FZxK7b8lVNc/ThmHlk6Uv2I/AAAAAAAAAAY/ioSmfPbY4Yw/s220/248197_1629217110192_1829537763_1083242_4655990_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Vr5l10u9nOw/ThmZYgi-nwI/AAAAAAAAAA0/7zWcbDOjrAc/s72-c/94844_36.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1411556838748479078.post-2974424796993267556</id><published>2011-07-10T05:15:00.001-07:00</published><updated>2011-07-10T05:15:48.289-07:00</updated><title type='text'>Cerita Dewasa Ngentot sama tante vida yang hot</title><content type='html'>&lt;h2&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Cerita Dewasa seks&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; ini akan menceritakan pengalaman &lt;a href="http://www.ceritadewasaseks.org/"&gt;cerita dewasa seks&lt;/a&gt;  seorang anak kelas 2 smp yang sudah dibelajari sex oleh tantenya  sendiri. Nama tante itu adalah tante vida. Meskipun masih smp tapi sex  dengan tante sepertinya bukanlah hal yang sulit &lt;img alt=":D" class="wp-smiley" src="http://www.ceritadewasaseks.org/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" /&gt;  . Oke langsung saja kita simak pengakuan serta &lt;strong&gt;cerita dewasa&lt;/strong&gt;  berikut ini. Nama saya Dodi. Sekarang saya masih kuliah di Universitas  dan Fakultas paling favorit di Yogyakarta. Saya ingin menceritakan  pengalaman saya pertama kali berkenalan dengan permainan seks yang  mungkin membuat saya sekarang haus akan seks.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Waktu itu saya masih sekolah di salah  satu SMP favorit di Yogyakarta. Hari itu saya sakit sehingga saya tidak  bisa berangkat sekolah, setelah surat ijin saya titipkan ke teman terus  saya pulang. Ketika sampai di rumah Papa dan Mama sudah pergi ke kantor  dan Mama pesan supaya saya istirahat saja di rumah dan Mama sudah  memanggil Tante Vida untuk menjaga saya. Tante Vida waktu itu masih  sekolah di sekolah perawat. Sehabis minum obat, mata saya terasa  mengantuk. Ketika mau terlelap Tante Vida mengetuk kamarku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dia bilang, “Dod, sudah tidur?”&lt;br /&gt;Saya jawab dari dalam, “Belum, tante!”&lt;br /&gt;Tante Vida bertanya, “Kalau belum boleh tante masuk.”&lt;br /&gt;Terus saya bukakan pintu, waktu itu saya sempat kaget juga melihat Tante  Vida. Dia baru saja pulang dari aerobik, masih dengan pakaian senam dia  masuk ke kamar. Walau masih SMP kelas 2 lihat Tante Vida dengan pakaian  gitu merasa keder juga. Payudaranya yang montok seperti tak kuasa  pakaian senam itu menahannya. Kemudian dia duduk di samping. Dia bilang,  “Dod, kamu mau saya ajari permainan nggak Dod?” Tanpa pikir panjang,  saya jawab, “Mau tante, tapi permainan apa lha wong Dodi baru sakit gini  kok!”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tante Vida berkata, “Namanya permainan  kenikmatan, tapi mainnya harus di kamar mandi. Yuk” Sambil Tante Vida  menggandeng tanganku masuk ke kamar mandi saya. Saya sih mau-mau saja.  Kemudian mulai dia melorotkan celana saya sambil berkata, “Wah, burungmu  untuk anak SMP tergolong besar Dod.” Tante Vida terkagum-kagum. Waktu  itu saya cuma cengengesan saja, lha wong hati saya deg-degan sekali  waktu itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terus dia mulai membasahi kemaluan saya  dengan air, kemudian dia beri shampo, terus digosok. Lama-lama saya  merasa kemaluan saya semakin lama semakin keras. Setelah terasa kemudian  dia melucuti pakaiannya satu demi satu. Ya, tuhan ternyata tubuhnya  sintal banget. Payudaranya yang montok, dengan pentil yang tegang,  pantat yang berisi dan sintal kemudian vaginanya yang merah muda dengan  rambut kemaluan yang lebat. Kemudian dia berjongkok, setelah itu dia  mengulum penis saya, dadanya yang montok ikut bergoyang. Dada dan  nafasku semakin memburu. Saya cuma bisa memejamkan mata, aduh nikmatnya  yang namanya permainan seks. Kemudian, saya nggak tahu tiba-tiba saja  naluri saya bergerak. Tangan saya mulai meremas-remas dadanya, sementara  tangan saya yang satu turun mencari liang vaginanya. Kemudian saya  masukkkan jari saya, dia meritih, “Akhh, Dodi!” Saya semakin panas, saya  kulum bibirnya yang ranum, saya nggak peduli lagi. Setelah bibir,  kemudian turun saya ciumi leher dan akhir saya kulum punting susunya.  Dia semakin merintih, “Aakhh, Dodi terus Dod!” Saya nggak tahu berapa  lama kami di kamar mandi, terus tahu-tahu dia sudah di atas saya. “Dodi  sekarang tante kasih akhir permaianan yang manis, ya?” Dia meraih  kemaluan saya yang sudah tegang sekali waktu itu. Kemudian dimasukkan ke  dalam vaginanya. Kami berdua sama-sama merintih, “Akhh! Lagi tante…  lagi tanteee.” Terus dia mulai naik turun, sampai saya merasa ada yang  meletus dari penis saya dan kami sama-sama lemas. Setelah itu kami mandi  bersama-sama. Waktu mandi pun kami sempat mengulangi beberapa kali.&lt;/div&gt;&lt;span id="more-195"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah itu kami berdua sama-sama  ketagihan. Kami bermain mulai dari kamar saya, pernah di sebuah hotel di  kaliurang malah pernah cuma di dalam mobil. Rata-rata dalam satu minggu  kami bisa 2-3 kali bermain dan pasti berakhir dengan kepuasan karena  Tante Vida pintar membuat variasi permainan sehingga kami tidak bosan.  Setelah Tante Vida menikah saya jadi kesepian. Kadang kalau baru  kepingin saya cuma bisa dengan pacar saya, Nanda. Untung kami sama-sama  tegangan tinggi, tapi dari segi kepuasan saya kurang puas mungkin karena  saya sudah jadi peliharaan tante-tante atau mungkin Tante Vida yang  begitu mahirnya sehingga bisa mengimbangi apa yang saya mau. Nah, buat  cewek-cewek atau tante-tante bermukim di Yogya yang sama-sama tegangan  tinggi, kapan-kapan kita bisa saling berkenalan dan berhubungan. Mungkin  kita bisa bermain seperti Tante Vida&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1411556838748479078-2974424796993267556?l=janda-kesepian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/feeds/2974424796993267556/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cerita-dewasa-ngentot-sama-tante-vida.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/2974424796993267556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1411556838748479078/posts/default/2974424796993267556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://janda-kesepian.blogspot.com/2011/07/cerita-dewasa-ngentot-sama-tante-vida.html' title='Cerita Dewasa Ngentot sama tante vida yang hot'/><author><name>Tante Kesepian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14713038125543777221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/-FZxK7b8lVNc/ThmHlk6Uv2I/AAAAAAAAAAY/ioSmfPbY4Yw/s220/248197_1629217110192_1829537763_1083242_4655990_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1411556838748479078.post-3576795500569645845</id><published>2011-07-10T05:08:00.000-07:00</published><updated>2011-07-10T05:08:10.260-07:00</updated><title type='text'>Kisah Bang Major ML pertama kali dengan tukang pijit</title><content type='html'>&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt;v\:* {behavior:url(#default#VML);}o\:* {behavior:url(#default#VML);}w\:* {behavior:url(#default#VML);}.shape {behavior:url(#default#VML);}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves&gt;false&lt;/w:TrackMoves&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;h2&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;h2&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;By &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;: om bob&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.ceritadewasaseks.org/"&gt;Cerita Seks&lt;/a&gt; ini terjadi karena saat hari itu aku sendirian dirumah tanpa seorangpun. Mama, papa dan kakakku cewek sedang pergi kerumah nenek yang katanya sakit. Iseng-iseng karena aq sendirian dirumah akhirnya aq memilih untuk melihat film bokep.&lt;/div&gt;&lt;span&gt;&lt;img alt="http://2.bp.blogspot.com/_1iEFtlUhEBQ/TFdYhuha2HI/AAAAAAAAB6k/xWbTJ8Ct7Ag/s320/cerita+seks.jpg" border="0" height="320" src="file:///D:/DOCUME%7E1/HARHER%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.jpg" width="240" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Begitu aku nyalain di layar TV terpampang sepasang bule yang sedang saling mencumbu. Pertama mereka saling berciuman, kemudian satu persatu pakaian yang melekat mereka lepas. Si cowok mulai menciumi leher ceweknya, kemudian turun ke payudara. Si cewek tampak menggeliat menahan nafsu yang membara. Sesaat kemudian si cowok mejilati vaginanya terutama di bagian klitorisnya. Si cewek merintih-rintih keenakan. Selanjutnya gantian si cewek yang mengulum penis si cowok yang sudah ereksi. Setelah beberapa saat sepertinya mereka tak tahan lagi, lalu si cowok memasukkan penisnya ke vagina cewek bule tadi dan langsung disodok-sodokin dengan gencar. Sejurus kemudian mereka berdua orgasme. Si cowok langsung mencabut rudalnya dari vagina kemudian mengocoknya di depan wajah ceweknya sampai keluar spermanya yang banyak banget, si cewek tampak menyambutnya dengan penuh gairah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku sendiri selama menonton tanpa sadar bajuku sudah nggak karuan. Kaos aku angkat sampai diatas tetek, kemudian braku yang kebetulan pengaitnya di depan aku lepas. Kuelus-elus sendiri tetekku sambil sesekali kuremas, uhh.. enak banget. Apalagi kalo kena putingnya woww!!&lt;br /&gt;Celana pendekku aku pelorotin sampe dengkul, lalu tanganku masuk ke balik celana dalam dan langsung menggosok-gosok klitorisku. Sensasinya luar biasa!!&lt;br /&gt;Makin lama aku semakin gencar melakukan masturbasi, rintihanku semakin keras. Tanganku semakin cepat menggosok klitoris sementara yang satunya sibuk emremas-remas toketku sendiri. Dan,&lt;br /&gt;“Oohh.. oohh..”&lt;br /&gt;Aku mencapai orgasme yang luar biasa. Aku tergeletak lemas di karpet.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="more-7"&gt;&lt;/span&gt;Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Tentu saja aku gelagapan benerin pakaianku yang terbuka disana-sini. Abis itu aku matiin vCD player tanpa ngeluarin discnya.&lt;br /&gt;“Gawat!” pikirku.&lt;br /&gt;“Siapa ya? Jangan-jangan pa-ma! Ngapain mereka balik lagi?”.&lt;br /&gt;Buru-buru aku buka pintu, ternyata di depan pintu berdiri seorang cowok keren. Rupanya Mas Andi pacar Mbak Sari dari Bandung.&lt;br /&gt;“Halo Ulfa sayang, Mbak Sarinya ada?”&lt;br /&gt;“Wah baru tadi pagi ke Jakarta. Emang nggak telpon Mas Andi dulu?”&lt;br /&gt;“Waduh nggak tuh. Gimana nih mo ngasi surprise malah kaget sendiri.”&lt;br /&gt;“Telpon aja HP-nya Mas, kali aja mau balik” usulku sekenanya.&lt;br /&gt;Padahal aku berharap sebaliknya, soalnya terus terang aku diem-diem aku juga naksir Mas Andi. Mas Andi menyetujui usulku. Ternyata Mbak Sari cuman ngomong supaya nginep dulu, besok baru balik ke Bandung, sekalian ketemu disana. Hura! Hatiku bersorak, berarti ada kesempatan nih.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku mempersilakan Mas Andi mandi. Setelah mandi kami makan malam bareng. Aku perhatiin tampang dan bodi Mas Andi yang keren, kubayangkan Mas Andi sedang telanjang sambil memperlihatkan “tongkat kastinya”. Nggak sulit untuk ngebayangin karena aku kan pernah ngintip Mas Andi ama Mbak Sari lagi ml. Rasanya aku pengen banget ngerasain penis masuk ke vaginaku, abis keliatannya enak banget tuh.&lt;br /&gt;“Ada apa Ulfa, Kok ngelamun, mikirin pacar ya?” tanyanya tiba-tiba.&lt;br /&gt;“Ah, enggak Mas, Ulfa bobo dulu ya ngantuk nih!” ujarku salting.&lt;br /&gt;“Mas Andi nonton TV aja nggak papa kan?”&lt;br /&gt;“Nggak papa kok, kalo ngantuk tidur aja duluan!”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku beranjak masuk kamar. Setelah menutup kintu kamar aku bercermin. Bajuku juga kulepas semua. Wajahku cantik manis, kulitku sawo matang tapi bersih dan mulus. Tinggi 165 cm. Badanku sintal dan kencang karena aku rajin senam dan berenang, apalagi ditunjang toketku yang 36B membuatku tampak sexy. Jembutku tumbuh lebat menghiasi vaginaku yang indah. Aku tersenyum sendiri kemudian memakai kaos yang longgar dan tipis sehingga meninjolkan kedua puting susuku, bahkan jembutku tampak menerawang. Aku merebahkan diriku di atas kasur dan mencoba memejamkan mata, tapi entah kenapa aku susah sekali tidur. Sampai kemudian aku mendengar suara rintihan dari ruang tengah. Aneh! Suara siapa malam-malam begini? Astaga! Aku baru inget, itu pasti suara dari vCD porno yang lupa aku keluarin tadi, apa Mas Andi menyetelnya? Penasaran, akupun bangkit kemudian perlahan-lahan keluar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesampainya di ruang tengah, deg!! Aku melihat pemandangan yang mendebarkan, Mas Andi di depan TV sedang menonton bokep sambil ngeluarin penisnya dan mengelusnya sendiri. Wah.. batangnya tampak kekar banget.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku berpura-pura batuk kemudian dengan tampang seolah-olah mengantuk aku mendekati Mas Andi. Mas Andi tampak kaget mendengar batukku lalu cepat-cepat memasukkan penisnya ke dalam kolornya lagi, tapi kolornya nggak bisa menyembunyikan tonjolan tongkatnya itu.&lt;br /&gt;“Eh, Ulfa anu, eh belum tidur ya?”&lt;br /&gt;Mas Andi tampak salting, kemudian dia hendak mematikan vCD player.”&lt;br /&gt;Iya nih Mas, gerah eh nggak usah dimatiin, nonton berdua aja yuk!” ujarku sambil menggeliat sehingga menonjolkan pepaya bangkokku.&lt;br /&gt;“Oh iya deh.”&lt;br /&gt;Kamipun lalu duduk di karpet sambil menonton. Aku mengambil posisi bersila sehingga bawukku mengintip keluar dengan indahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Mas, gimana sih rasanya bersetubuh?” tanyaku tiba-tiba.&lt;br /&gt;“Eh kok tau-tau nanya gitu sih?”&lt;br /&gt;Mas Andi agak kaget mendengar pertanyaanku, soalnya saat itu matanya asyik mencuri pandang ke arah selakanganku. Aku semakin memanaskan aksiku, sengaja kakiku kubuka lebih lebar sehingga vaginaku semakin terlihat jelas.&lt;br /&gt;“Alaa nggak usah gitu! Aku kan pernah ngintip Mas sama Mbak Sari lagi gituan.. nggak papa kok, rahasia terjaga!”&lt;br /&gt;“Oya? He he he yaa.. enak sih.”&lt;br /&gt;Mas Andi tersipu mendengar ledekanku.&lt;br /&gt;Akupun melanjutkan, “Mas, vaginaku sama punya Mbak Sari lebih indah mana?” tanyaku sambil mengangkat kaosku dan mengangkangkan kakiku lebar-lebar so bawukkupun terpampang jelas.&lt;br /&gt;“Ehh glek bagusan punyamu.”&lt;br /&gt;“Terus kalo toketnya montokan mana?” kali ini aku mencopot kaosku sehingga payudara dan tubuhku yang montok itu telanjang tanpa sehelai benang yang menutupi.&lt;br /&gt;“Aaanu.. lebih montok dan kencengan tetekmu!”&lt;br /&gt;Mas Andi tampak melotot menyaksikan bodiku yang sexy. Hal itu malah membuat aku semakin terangsang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sekarang giliran aku liat punya Mas Andi!”&lt;br /&gt;Karena sudah sangat bernafsu aku menerkam Mas Andi. Kucopoti seluruh pakaiannya sehingga dia bugil. Aku terpesona melihat tubuh bugil Mas Andi dari dekat. Badannya agak langsing tapi sexy. penisnya sudah mengacung tegar membuat jantungku berdebar cepat. Entah kenapa, kalo dulu ngebayangin bentuk burung cowok aja rasanya jijik tapi ternyata sekarang malah membuat darahku berdesir.&lt;br /&gt;“Wah gede banget! Aku isep ya Mas!”&lt;br /&gt;Tanpa menunggu persetujuannya aku langsung mengocok, menjilat dan mengulum batang kemaluannya yang gede dan panjang itu seperti yang aku tonton di BF.&lt;br /&gt;“Slurp Slurp Slurpmmh! Slurp Slurp Slurp mmh.”&lt;br /&gt;Ternyata nikmat sekali mengisap penis. Aku jepit penisnya dengan kedua susuku kemudian aku gosok-gosokin, hmm nikmat banget! Mas Andi akhirnya tak kuat menahan nafsu. Didorongnya tubuh sintalku hingga terlentang lalu diterkamnya aku dengan ciuman-ciuman ganasnya. Tangannya tidak tinggal diam ikut bekerja meremas-remas kelapa gadingku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ahh mmh.. yesh uuh.. enak mas”&lt;br /&gt;Aku benar-benar merasakan sensasi luar biasa. Sesaat kemudian mulutnya menjilati kedua putingku sambil sesekali diisap dengan kuat.&lt;br /&gt;“Auwh geli nikmat aah ouw!”&lt;br /&gt;Aku menggelinjang kegelian tapi tanganku justru menekan-nekan kepalanya agar lebih kuat lagi mengisap pentilku. Sejurus kemudian lidahnya turun ke vaginaku. Tangannya menyibakkan jembutku yang rimbun itu lalu membuka vaginaku lebar-lebar sehingga klitorisku menonjol keluar kemudian dijilatinya dengan rakus sambil sesekali menggigit kecil atau dihisap dengan kuat.&lt;br /&gt;“Yesh.. uuhh.. enak mas.. terus!” jeritku.&lt;br /&gt;“Slurp Slurp, vaginamu gurih banget Ulfa mmh”.&lt;br /&gt;Mas Andi terus menjilati vaginaku sampai akhirnya aku nggak tahan lagi.&lt;br /&gt;“Mas.. ayo.. masukin penismu.. aku nggak tahan..”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mas Andi lalu mengambil posisi 1/2 duduk, diacungkannya penisnya dengan gagah ke arah lubang vaginaku. Aku mengangkangkan kakiku lebar-lebar siap menerima serangan rudalnya. Pelan-pelan dimasukkannya batang rudal itu ke dalam vaginaku.&lt;br /&gt;“Aauw sakit Mas pelan-pelan akh..”&lt;br /&gt;Walaupun sudah basah, tapi vaginaku masih sangat sempit karena aku masih perawan.&lt;br /&gt;“Au.. sakit”&lt;br /&gt;Mas Andi tampak merem menahan nikmat, tentu saja dibandingkan Mbak Sari tempikku jauh lebih menggigit. Lalu dengan satu sentakan kuat sang rudal berhasil menancapkan diri di lubang kenikmatanku sampai menyentuh dasarnya.&lt;br /&gt;“Au.. sakit..”&lt;br /&gt;Aku melonjakkan pantatku karena kesakitan. Kurasakan darah hangat mengalir di pahaku, persetan! Sudah kepalang tanggung, aku ingin ngerasain nikmatnya bercinta. Sesaat kemudian Mas Andi memompa pantatnya maju mundur.&lt;br /&gt;“Jrebb! Jrebb! Jrubb! Crubb!”&lt;br /&gt;“Aakh! Aakh! Auw!”&lt;br /&gt;Aku menjerit-jerit kesakitan, tapi lama-lama rasa perih itu berubah menjadi nikmat yang luar biasa. vaginaku serasa dibongkar oleh tongkat kasti yang kekar itu.&lt;br /&gt;“Ooh.. lebih keras, lebih cepat”&lt;br /&gt;Jerit kesakitanku berubah menjadi jerit kenikmatan. Keringat kami bercucuran menambah semangat gelora birahi kami.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tapi Mas Andi malah mencabut penisnya dan tersenyum padaku. Aku jadi nggak sabar lalu bangkit dan mendorongnya hingga telentang. Kakiku kukangkangkan tepat di atas penisnya, dengan birahi yang memuncak kutancapkan batang bazooka itu ke dalam bawukku,&lt;br /&gt;“Jrebb.. Ooh..” aku menjerit keenakan, lalu dengan semangat 45 aku menaik turunkan pantatku sambil sesekali aku goyangkan pinggulku.&lt;br /&gt;“Ouwh.. enak banget tempikmu nggigit banget sayang.. penisku serasa diperas”&lt;br /&gt;“Uggh.. yes.. uuh.. auwww.. penismu juga hebaat, bawukku serasa dibor”&lt;br /&gt;Aku menghujamkan pantatku berkali-kali dengan irama sangat cepat. Aku merasa semakin melayang. Bagaikan kesetanan aku menjerit-jerit seperti kesurupan. Akhirnya setelah setengah jam kami bergumul, aku merasa seluruh sel tubuhku berkumpul menjadi satu dan dan&lt;br /&gt;“Aah mau orgasme Mas..”&lt;br /&gt;Aku memeluk erat-erat tubuh atletisnya sampai Mas Andi merasa sesak karena desakan susuku yang montok itu.&lt;br /&gt;“Kamu sudah sayang? OK sekarang giliran aku!”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku mencabut vaginaku lalu Mas Andi duduk di sofa sambil mememerkan ‘tiang listriknya’. Aku bersimpuh dihadapannya dengan lututku sebagai tumpuan. Kuraih penis besar itu, kukocok dengan lembut. Kujilati dengan sangat telaten. Makin lama makin cepat sambil sesekali aku isap dengan kuat.&lt;br /&gt;“Crupp.. slurp.. mmh..”&lt;br /&gt;“Oh yes.. kocok yang kuat sayang!”&lt;br /&gt;Mas Andi mengerang-erang keenakan, tangannya meremas-remas rambutku dan kedua bola basket yang menggantung di dadaku. Aku semakin bernafsu mengulum. Menjilati dan mengocok penisnya.&lt;br /&gt;“Crupp crupp slurp!”&lt;br /&gt;“Ooh yes.. terus sayang yes.. aku hampir keluar sayang!”&lt;br /&gt;Ak
